Seksualisme

Rizky Dwinanto

 

Dalam urusan seksual lelaki seluruh penjuru dunia itu simple dan seragam. Lihat betis teman sekantor, lihat belahan dada pramuniaga, bahkan lihat istri menyingkap daster saat nyuci piring sudah bisa membuat tititnya sekresi.

Selanjutnya lelaki itu tinggal cari something yang suitable, diucluk-uclukkan lima menit sudah bisa evakuasi. Puas dan anteng karena hormon parafin dikeluarkan tubuhnya.

Berbeda halnya dengan perempuan. Satu sama lain tak bisa disamakan. Ada perempuan yang kêmêcêr lihat lekuk dada binaragawan, ada yang njenggirat ketakutan, ada pula yang hoék-hoék membayangkan bau keringatnya.

Demikian halnya urusan sensualitas. Kompleks banget. Ada yang suka diciumi pipi tapi gak mau dicium bibir. Ada yang sama sekali gak mau diciumi wajah kalau lelakinya merokok. Ada yang malah merasa lelakinya perkasa kalau bau rokok. Susah pokoknya.

Cara perempuan mendapatkan organda juga tak sama. Ada perempuan yang mendapatkan Big Organda jika gitarisnya dirangsang secara kontinyu saat penetrasi (istilah dalam sepakbola?). Ada yang suka dan membutuhkan durasi lama agar mendapatkan multipel organda. Ada pula perempuan yang suka jika dirangsang habis-habisan baru dipenetrasi. Banyak konfigurasinya

Jangan ditanya tentang sizing titit dan durasi. Ada yang terbelalak ketakutan kalau ukurannya terlalu besar. Ada pula yang tersenyum senang. Ada yang matanya memancarkan bahagia kalau lama. Ada yang merasakan ngilu kalau kelamaan.

Pusing gak? Jadi lelaki seharusnya memahami apa yang perempuan sukai. Jangan semena-mena ikuti film bokep. Pertimbangkan kembali rencana ganti ukuran titit dan pasang baterei energizer.

Alkisah, ada seorang lelaki. Sebenarnya kehidupan seksualnya dengan bininya tak ada masalah. Tapi kamu tahu kan kalau lelaki itu egois namun goblok.

Ceritanya ingin nampak hebat di mata bini. Size titit ok, gak bisa diintervensi. Sebenarnya bisa sih pakai kondom lapis sepuluh. Maka lelaki itu berpikir akan menambah durasi. Nanya kesana kemari disarankan tissue magic.

Aku baca ternyata tissue magic ini adalah tissue basah semacam bius lokal di permukaan kulit. Aku ingat saat tititku disunat 10 tahun yang lalu. Cara bekerjanya adalah mengurangi rangsangan agar tidak cepat evakuasi. Bisa berguna bagi penderita coitus interuptus (evakuasi dini).

Digunakanlah itu barang. Karena lelaki itu minim literasi dia tak baca petunjuk. Dua bungkus dibuka. Kacau, tititnya malah tak bisa berdiri. Tak ada rasa sama sekali. Dua jam dia mencoba membuat tititnya sekresi gagal terus. Akhirnya mereka tidur.

Esoknya dicoba lagi. Belajar dari pengalaman dia buka satu bungkus saja. Berhasil. Tititnya bisa sekresi. Tak perlu lama bercumbu langsung penetrasi. Lima menit ucluk-ucluk tak terasa. Rasa ingin evakuasi tak ada. Rasa geli-geli pun tak ada.

Sepuluh menit berlalu. Bininya merasa ada yang salah. Bininya bertanya, “Mas, aku kok gak merasakan apa-apa ya?”. Dia lalu menukas, “Iya sama. Tidur saja yuk”. Ternyata biusnya mempengaruhi anunya istri. Dan akhirnya mereka memutuskan tidur. Esoknya sisa tissue magicnya dibuang.

Lalu apa pesan moral tulisanku? Tak ada pesan moral kali ini. Aku cuma memenuhi tantangan seorang menulis seksualisme. Dengan segala keterbatasanku. Aku sudah mencoba baca-baca berbagai sumber untuk menambah wawasanku.

 

Note Redaksi:

Rizky Dwinanto, selamat datang dan bergabung. Semoga betah dan kerasan di rumah BALTYRA ini. Terima kasih Dewi Aichi yang mengajak mas Rizky menulis di sini, dengan tulisan pertama yang ucluk-ucluk ini…semoga ramai nanti dikunjungi Lani dan Kang Anoew para ahli…

 

 

18 Comments to "Seksualisme"

  1. Dewi Aichi  5 February, 2019 at 06:49

    Pak Lurah..Lani….ini juga termasuk dengan kb dingkli lho yaaaaaa….

  2. Dewi Aichi  5 February, 2019 at 06:45

    Pak Lurah kenthir hahahhaha..padahal paling paham, huuuuuuuuuuuuu parah tenan ….lha itu udah dijelaskan oleh mba Dewi Antika, apa itu ucluk-ucluk(ngetik sambil ngakak) hahahahaha…

  3. J C  4 February, 2019 at 06:24

    Aku gak mudheng blas artikel ini. Apa itu ucluk-ucluk dsb…nek kucluk aku mudheng, karena ada conto nyata yaitu Nyai Kona, Dewi, Kang Anoew…coba Lani menjelaskan lebih gamblang peruclukan ini dsb…

  4. Lani  4 February, 2019 at 04:38

    Kang Anu suwe ora jamu……..ujug2 mencungul krn ada ucluk2 kkkkk……pasti diundang karo lurahe……utk urun ngobrak-ngabrik disini…….

  5. Dewi Aichi  2 February, 2019 at 19:36

    Copas komentarnya mba Dewi Antika:
    Multiple organda= multiple orgasme
    Sekresi= ereksi
    Coitus int/evakuasi dini= metode KB high risk, not recommended
    Gitaris= klitoris
    Ucluk²= shaking hand or manualized convensional

    *cuma bantu terjemah trit diatas

    hahahhaa..gimana pak Lurah ucluk ucluk nih haha…

  6. anoew  2 February, 2019 at 10:03

    [Quote]ternyata biusnya mengenai anunya istri[/quote]lain kali kalau mau kuat, pakai kratindeng sama timun. Mau dua atau lima jam juga hayuk. Caranya, tanya Josh Chen.

  7. James  2 February, 2019 at 07:03

    makasih ini artikel sederhana tapi nyata, ringan tapi bikin ngakak

  8. Dewi Aichi  2 February, 2019 at 04:29

    Ha hahahaha..Lani..yuk ikutan ucluk ucluk hahahaha..Rizky musti undang Dewi untuk menjelaskan beberapa kosa kata disini tuh haha

  9. Sumonggo  2 February, 2019 at 03:44

    “Jangan semena-mena ikuti film bokep. ”

    Nah, ini nasihat yang bijak …..

  10. lani  2 February, 2019 at 01:50

    Walah dalah……baru saja datang dan jadi member tulisannya kok langsung bikin modiaaaaaaar njenggirat piye iki? Tapi aku yakin sapa dulu gurunya? Dewi Brazil mmg super ediaaaaan binti kenthir………kkkkkk

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.