SHAKUNTALA (3)

Syanti

 

Artikel sebelumnya:

SHAKUNTALA (1)

SHAKUNTALA (2)

 

Di rumah besar keluarga Nadesen, banyak peraturan, seperti wanita yang sudah menikah harus mengenakan sari, bahkan sebelumnya tidur juga harus pakai sari tidak boleh pakai baju tidur. Shakuntala yang biasanya mengenakan sari, hanya pada acara tertentu…. Di rumah mertuanya, mengerjakan tugas rumah tangga sehari-hari seperti memasak, mencuci pakaian dan sebagainya harus bersari ria, membuat Shakuntala kurang bebas bergerak karena belum terbiasa. Kadang dalam sehari ia harus berganti sari, beberapa kali karena kotor waktu memasak atau basah waktu mencuci pakaian.

Walaupun di rumah ada pembantu, tetapi pekerjaan mereka hanya untuk bersih-bersih rumah, masak memasak dilakukan oleh mereka sendiri.
Setiap keluarga harus mencuci pakaian sendiri di sumur belakang rumah, karena di rumah itu tidak mempunyai mesin cuci. Mereka menganggap sebagai pemborosan.

Kedua kakak iparnya setelah selesai memasak, pergi ke toko suaminya, membantu di toko sambil membawa makan siang untuk suaminya. Kakak yang tertua mempunyai toko pakaian seperti sari, salwar khames dan textile dari India. Sedangkan kakak yang kedua bersama ayahnya mengelola kebun kelapa dan membuka toko untuk menampung hasil pertanian dari petani kecil dan kemudian menjual ke kota.
Biasanya setelah anak-anak mereka pulang dari sekolah, mereka juga pulang ke rumah, untuk mengurus anak-anak mereka.

Shakuntala setiap hari membantu ibu mertuanya untuk membuat makanan kecil, untuk semua anggota keluarga. Mereka adalah keluarga besar jadi memerlukan makanan dalam jumlah besar, kalau harus beli di luar tentunya lebih mahal. Selain itu keluarga mereka vegetarian, mereka lebih suka membuat sendiri makanan untuk mereka.

Kadang Shakuntala mengantarkan ibu mertuanya belanja ke pasar atau ke Hindu temple untuk melakukan puja. Kadang mereka menjahit bersama, ibu mertuanya suka dengan hasil jahitan Shakuntala.

Shakuntala yang berasal dari keluarga kecil dan sudah modern. Keadaan itu sering membuatnya kocar kacir . Walaupun ibunya dan Padma ama, sudah memberi tahu dan mengajarkan bagaimana tradisi mereka dan bagaimana harus menyesuaikan diri.

Di antara kedua istri kakak iparnya Savitri dan Manodja sering terjadi persaingan untuk menarik perhatian mertuanya. Shakuntala sejak kecil tidak suka bersaing dan selalu mengalah, membuat dia selalu berada di pihak yang salah, sehingga sering menjadi sasaran kemarahan ibu mertuanya.

Shakuntala berusaha untuk menyesuaikan diri dan berusaha untuk tidak mengeluh. Melihat semua itu Ravi sering merasa kasihan pada Shakuntala dan berusaha membantunya… Lambat laun Ravi mulai mencintai Shakuntala.

“Shaku….!”

Teriak ibu Ravi. Memanggil Shakuntala yang belum datang untuk holly basil puja. Savitri dan Manodja sudah menunggu.

Sementara Shakuntala masih terbaring di tempat tidur. Kepalanya sangat sakit dan seluruh tubuhnya terasa nyeri…. Ravi terbangun karena mendengar suara ibunya yang memanggil Shakuntala. Merasa terkejut melihat Shakuntala yang belum bangun. Biasanya Shakuntala selalu bangun lebih dulu dan sudah bersiap-siap untuk melakukan puja.

“Shaku… Shaku!”

Panggil Ravi, sambil menggoyangkan tubuh Shakuntala.

Shakuntala membuka matanya, berusaha untuk bangun, tetapi ia tidak kuat menahan rasa sakit. Melihat keadaan Shakuntala, Ravi menyuruh Shakuntala untuk tidur lagi.

Seperti biasa setiap pagi, ibu mertua akan memanggil ketiga menantu perempuannya untuk melakukan puja holly basil, yaitu pohon sejenis kemangi yang ditanam di pot besar sepecial dengan bentuk khusus terbuat dari batu bata diplaster. Mereka melakukan ritual menyiram pohon tersebut. Mereka percaya bila pohon itu sampai kekeringan atau mati, akan terjadi sesuatu yang buruk pada keluarga mereka.

Pada mulanya Shakuntala, sering datang terlambat karena Shakuntala memerlukan waktu untuk memakai sari, setelah itu Shakuntala selalu bangun lebih pagi, agar tidak terlambat karena setiap kali Shakuntala datang terlambat, kedua kakak iparnya, saling bertukar pandang sambil tersenyum.

Mereka menanti Shakuntala dengan tidak sabar, tetapi kemudian terdengar suara Ravi memberi tahu ibunya, bahwa Shakuntala sakit tidak bisa ikut puja. Mereka kemudian melakukan puja tanpa Shakuntala.

Selesai melakukan puja, ibu Ravi mendatangi Shakuntala di kamarnya. Ia melihat Shakuntala terbaring lemah, dihampirinya Shakuntala dipegang keningnya, terasa panas. Waktu melihat ibu mertuanya, Shakuntala berusaha untuk bangun tetapi ibu mertuanya menyuruh dia berbaring lagi. Mereka memutuskan untuk membawa Shakuntala ke dokter.

Ravi membawa Shakuntala ke dokter, bersama ibunya. Dokter mengatakan kemungkinan Shakuntala hamil, untuk itu harus melakukan test urine. Ternyata hasil test Shakuntala positive hamil mereka sangat bahagia sekali.

Keluarga dokter Ananda sangat senang mendengar berita tersebut, apalagi ini cucu pertama untuk keluarga mereka.

Dalam masa kehamilannya Shakuntala, mengalami morning sickness cukup berat. Hampir setiap hari ia muntah-muntah dan tidak dapat makan. Semua makanan yang dimakan dikeluarkan lagi. Tubuhnya bertambah kurus, dokter mengatakan, kondisi ini akan mempengaruhi pertumbuhan janin bayinya.

Mendengar kondisi Shakuntala yang seperti itu, dokter Ananda meminta ijin pada keluarga Nadesen untuk membawa Shakuntala ke rumahnya di Colombo, sampai melahirkan. Sebetulnya ibu Ravi kurang setuju, tetapi melihat kondisi Shakuntala yang memprihatinkan, akhirnya ia menyetujui.

Ravi mendapat ijin dari kantor tempatnya bekerja untuk menjenguk Shakuntala,setiap ada kesempatan, minimal sebulan sekali. Karena setiap dua kali seminggu ada mobil dari kantor ke Colombo untuk membawa pekerja asing yang keluarganya  menetap di Colombo. Perusahaan juga mempunyai kantor dan beberapa anak perusahaan di sekitar Colombo.

Kondisi Shakuntala menjadi membaik di Colombo, ia senang bisa berkumpul dengan keluarganya dan makan makanan kesukaannya. Padma ama merawatnya dengan penuh kasih sayang. Dan ia bisa bertemu dengan Theruni temannya. Di Trincomale ia tidak mempunyai teman.

Dengan perut yang sudah mulai membesar, Shakuntala bercengkrama dengan Theruni. Sekarang Theruni telah menjadi guru, mengajar di sekolah pemerintah, sedangkan Nimal aya, telah lulus dari Army Academy,  dan sekarang bertugas di Baticaloa.

Rajis yang selalu mencari tahu tentang keadaan Ravi, merasa mempunyai kesempatan untuk menarik perhatian Ravi. Tetapi Ravi selalu menolak secara halus karena ia menghargai Rajis dan tidak mau menyakiti hatinya. Karena ia sudah memutuskan untuk menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluarganya.

Shakuntala melahirkan anak laki-laki, mereka memberi nama Vinod.
Keluarga Nadesen menghendaki agar Shakuntala dan bayinya segera kembali ke Trincomale.

Tetapi beberapa minggu terakhir ini Ravi sibuk sekali, karena banyak mesin yang mengalami kerusakan. Sehingga Ravi harus menunda menjemput Shakuntala dan anaknya.Walaupun Ravi sudah sangat merindukan istri dan anaknya.

Salah satu mesin mengalami kerusakan sangat berat, dari pagi sampai tengah malam mereka berusaha untuk memperbaiki mesin tersebut, Ravi dan teknisi lainnya bekerja dengan keras. Hingga 3:00 dini hari, Ravi merasa begitu lelah, Zaky teman sekamarnya mengatakan akan ke Colombo pagi itu, karena adik perempuannya akan menikah. Sebelum tidur Ravi meminta Zaky untuk mengunci pintu kamar dari luar, karena ia ingin tidur tubuhnya sangat lelah.

Pagi itu Rajis pergi ke rumah Mr Chang, untuk mengantarkan pesanan Mrs Chang, mixture kacang buatan ibunya. Anak Mr Chang di Colombo sangat menyukainya, sebetulnya hari itu Rajis bertugas siang hari, ia datang hanya untuk mengantarkan pesanan Mrs Chang setelah itu akan pulang ke rumah dan kembali lagi pada siang hari.

Dalam perjalanan pulang Rajis bertemu dengan Zaky yang jalan dengan terburu-buru menuju mobil van yang sudah menunggu.

“Hi, selamat pagi!  Bagaimana tadi malam kerja sampai jam berapa?”

Sapa Rajis kepada Zaky.

“Wah sampai dini hari, Ravi masih tidur kecapaian.”

Jawab Zaky sambil meninggalkan Rajis.

Mendengar Ravi masih tidur di kamarnya, Rajis memutar langkahnya, menuju gedung di ujung selatan dekat pantai.

Gedung tersebut adalah guest house. Untuk tamu yang berkunjung ke factory. Ravi dan beberapa pekerja lainnya mendapat kamar di lantai dua gedung itu.

Rajis berhasil menyelinap masuk, tampa sepengetahuan security yang sedang bertugas. Perlahan-lahan Rajis menyusuri koridor mencari kamar tempat Ravi berada. Hanya ada satu kamar yang air condition menyala … Berarti Ravi ada di situ, ketika ia membuka pintu ternyata tidak terkunci. Rupanya karena terburu-buru Zaky lupa mengunci pintu.

Ravi sedang tidur dengan lelap, ia tidak mendengar Rajis yang datang memasuki kamarnya. Tiba-tiba Ravi merasa ada seseorang yang menyentuh dan mencumbunya, ia mengira Shakuntala yang melakukannya. Ravi tersadar ia berada di guest house dan Shakuntala tidak ada di sana, akh hanya mimpi, ia membuka matanya…. Ternyata Rajis dengan aggressive mencumbunya, ia berusaha untuk menolak tetapi terlambat semua terjadi…!

Ravi begitu marah pada dirinya sendiri, mengapa dia begitu lemah. Didorongya tubuh Rajis dengan kasar.

“Kenapa kamu melakukan ini, bagaimana kamu bisa berada di sini? Ayo cepat pergi dari sini atau saya panggil security!”

Ravi berkata dengan marah sambil mengenakan pakaiannya.

Rajis merasa terkejut dengan kemarahan Ravi, ia mengira Ravi akan menyukainya dan akan memeluknya dengan mesra … Rajis mengenakan bajunya perlahan-lahan sambil memandang kepada Ravi, tetapi Ravi mengalihkan pandangannya dan pergi membuka pintu kamar.
Meminta Rajis untuk segera pergi.

Rajis berjalan pulang dengan hati sedih dan kecewa, karena mendapatkan perlakuan yang kasar dari Ravi. Dan dia berjanji, suatu waktu akan membalasnya.

Sejak peristiwa itu, Ravi tidak pernah menjawab sapaan dari Rajis. Ravi menganggap Rajis sebagai wanita yang berakhlak rendah dan telah menjebaknya.Sebagai suami dan ayah, ia merasa bersalah dan berusaha untuk melupakan kejadian itu.

Beberapa bulan kemudian, Ravi sedang bermain dengan anaknya Vinod yang sudah mulai bisa berguling-guling. Sementara Shakuntala sedang membereskan pakaian mereka. Tiba-tiba mereka mendengar  suara laki- laki berteriak sambil menangis.

“Ravi….cepat datang kemari!”

Terdengar suara teriakan ibu Ravi dari lantai bawah.

Mendengar panggilan ibunya, Ravi segera turun ke bawah. Diikuti oleh Shakuntala sambil menggendong Vinod anaknya.

“Lihat orang itu datang mencari kamu, ada apa?” Kata ibu Ravi, sambil menunjuk ke halaman rumah mereka.

Di halaman rumah berdiri laki-laki setengah baya dan di belakangnya berdiri seorang perempuan. Ia memanggil namanya sambil menangis dan memukul-mukul dadanya.

“Ravi mahatia…..Ravi mahatia, kami hanya orang rendah, masuk ke dalam rumah mahatia saja tidak pantas…. Tetapi kenapa anak perempuan kami dihina seperti ini? “

Kata laki -laki itu sambil menarik perempuan yang berdiri di belakangnya. Ternyata Rajis yang datang bersama ayahnya, penampilannya tak karuan rambutnya acak-acakan,  tidak seperti biasa nya. Rajis menangis terisak-isak.

Melihat itu ibu Ravi ikut keluar, berdiri di sebelah Ravi.

“Ada apa?…apa maksud kamu?”

Tanya ibu Ravi, sambil kemudian memandang kepada Ravi, yang hanya terdiam.

“Nona maafkan, kami tidak bermaksud untuk mengganggu keluarga nona, tetapi anak perempuan kami hamil. Menurut pengakuaannya, Ravi Mahatia yang melakukan.”

Jawab ayah Rajis, sambil menunjuk Rajis. Ravi hanya diam sambil menahan amarah, ia merasa Rajis telah membuat perangkap, untuk menghancurkan hidupnya.

“Betulkah itu?”

Tanya ibu Ravi, kepada Ravi sambil memandang wajah Ravi dengan penuh selidik.

“Tanyakan kepada perempuan itu apa yang sudah dia lakukan.” 

Kata Ravi sambil menahan marah…..lalu diceritakan oleh Ravi, apa yang telah dilakukan oleh Rajis.

Mendengar cerita Ravi, ayah Rajis memukul Rajis sambil berteriak marah kepada Rajis.

“Kenapa kamu melakukan perbuatan yang memalukan…. Oh Dewini!”

Melihat semua itu, ibu Ravi ikut menjadi marah.

“Sudah… sudah stop! Kalau betul dia hamil, nanti kami carikan lelaki yang mau menikah dengan anak perempuanmu, sekarang pergi dari sini!”

Rajis langsung membalikkan badannya berlari keluar, sedangkan ayahnya masih duduk di tanah sambil menangis menyesali dirinya.

Ibu Ravi, masuk kedalam rumah menyuruh pelayannya, untuk memberikan uang pada ayah Rajis dan menyuruhnya pergi.

Shakuntala yang sejak tadi hanya melihat semua kejadian itu, hatinya hancur dan sedih sekali. Tidak kuat menahan tangisnya.

Melihat Shakuntala menangis, membuat Ravi terduduk sambil menundukan kepalanya, perasaan Ravi menjadi campur aduk.
Ibu Ravi datang menghampiri Shakuntala.

“Kenapa kamu harus menangis?  Sebagai istri kamu harus kuat! Jangan kalah, kamu harus bisa mempertahankan keluargamu!”

Kata ibu Ravi kepada Shakuntala.

“Dan kamu harus mengurus keluarga kamu dengan baik, jangan tinggalkan suamimu terlalu lama sendiri….. Karena sering terjadi sesuatu yang di luar perkiraanmu!”

Shakuntala hanya terdiam, mendengar nasehat dari ibu mertuanya.

Malam harinya, keluarga Nadesen berkumpul untuk menyelesaikan problem yang menimpa Ravi. Mereka memutuskan untuk mencarikan suami untuk Rajis dan membiayai mereka sampai  anaknya lahir, dan mereka akan mengambil anak itu, untuk dibesarkan oleh keluarga mereka.

Keesokan harinya, keluarga Nadesen mengirim orang suruhan mereka, ke rumah orang tua Rajis untuk menyampaikan pesan tersebut.

Ayah Rajis menerima keputusan itu, walaupun hatinya tidak setuju. Tetapi Rajis sangat marah dan merasa sangat direndahkan.
Rajis hanya terdiam….tetapi ia mempunya rencana lain.

 

bersambung…

 

 

2 Comments to "SHAKUNTALA (3)"

  1. Syanti  11 February, 2019 at 08:34

    Terima kasih Alvina yang sudah mampir dan membaca tulisan saya.
    Saya menulis untuk melatih daya ingat, terutama untuk tetap ingat bahasa Indonesia.

  2. Alvina VB  7 February, 2019 at 07:13

    Ditunggu lanjutan ceritanya Syanti!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.