Surga Tak Selebar Daun Kelor

Faiz Hasiroto

 

Bersesama dengan anak-cucu, tetangga, sanak famili, serta tamu-tamu adalah kenyataan seorang Nenek yang entah dari kapan ia memulai.
Seingatku, pekarangan itu sudah penuh berbaris batang pohon kelor, dari yang sebesar paha orang dewasa hingga yang tigakali lipat tubuh orang dewasa.

Pada masa kanak-kanak hingga remaja aku sudah terbiasa dengan pemandangan orang-orang yang tiap hari berdatangan meminta daun kelor untuk sayur makan mereka.

Bahkan ada juga yang tanpa meminta langsung memetik begitu saja. Mungkin yang memetik tanpa minta ijin itu karena ia merasa dekat dengan nenek secara bertetangga, atau mungkin merasa dekat secara berkerabat dan bersaudara.

Tetapi dalam benak kanakku kala itu ada semacam ketidakterimaan atas ulah sebagian pemetitik yang memetik tanpa ijin itu. Mendapati kenyataan tersebut, nenek kalau kebetulan melihat ulah sebagian orang tak sopan itu hanya menegur: “Jangan sampai pucuknya terpotong, ya… Kasihan nanti yang lain tidak kebagian…”

Tetapi bagiku teguran nenek tersebut tidak serta-merta membuat hatiku lega, apalagi aku suka mengingat cerita nenek itu, yang untuk mendapatkan batang pohon kelor pertamanya, ia menggotong sendiri dari rumah saudaranya yang tempatnya cukup jauh, lalu nenek itu menanamnya di bantu suaminya, serta menyiram setiap hari agar batang pohon kelor muda itu tumbuh dan berdaun.

Bukan karena tak berharga daun-daun kelor itu sehingga hanya cukup di minta oleh orang-orang yang datang, tetapi begitulah harga daun-daun kelor itu dalam transaksi kehidupan desa yang penuh dengan kebersamaan, cintakasih, sahaja, dan gotong royong. Hal yang langka terdapat dalam “sayur-mayur” interaksi di perkotaan.

Beberapa tahun yang lalu, Nenek itu telah meninggal dunia, meninggalkan dunianya, meninggalkan batang-batang pohon daun kelor yang ia tanam dari sejak masa muda dan masa sehatnya.

Namun sampai saat ini daun kelor itu tetap tak sepi dari pemetiknya. Daun-daun kelor itu tetap nampak ranum melambai, bagai kepak-kepak sayap Buroq yang menerbangkannya ke Haribaan Tuhannya. Batang-batang pohon daun kelor itu masih kokoh menjulang, menjadi Sidratul Muntaha yang menyeberangkannya ke Surga.

Demikian aku melihatnya.

 

 

11 Comments to "Surga Tak Selebar Daun Kelor"

  1. Linda Cheang  12 February, 2019 at 13:46

    tapi duniaku kini makin lama makin kayak selebar daun kelor….

    by the way, setiap hari saya minum seduhan bubuk daun kelor, untuk kesehatan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.