Demi Suara Pengantar Kekuasaan, Foto Caleg Tidak Konsisten dengan Suara Partainya

Jhony Lubis

 

Sebentar lagi jelang Pileg dan Pilpres di Indonesia, dimana semua caleg dan capres sudah mulai kampanye dengan cara mirip marketing promosi mulai dari above the line dengan melalui sarana media cetak nasional dan TV nasional biasanya dilakukan oleh caleg dan capres yang memiliki akses baik sebagai pembicara atau nara sumber diskusi termasuk spanduk dan billboard raksasa di lokasi strategis.

Selain itu juga melalui strategi promosi below the line dengan cara membagi sembako, menyediakan ambulans gratis, memberikan kaos parpol, silahturahmi dengan warga pemilih dan masih banyak lagi cara pendekatan kepada calon pemilih.

Metode promosi caleg, capres dan parpol semakin gencar seiring dekatnya waktu pemilihan dan masyarakat pemilih diharapkan bisa dipengaruhi dengan pendekatan strategi promosi.

Semua strategi sah dan legal krn bersifat persuasive moral untuk memilih dan bukan paksaan yang membuat pemilih kehilangan kebebasannya.

Ada hal yang menarik saya selaku warga yang suka mengamati, mendengar dan membaca informasi dan sedikit akal berpikir untuk melihat fenomena lucu di metode strategi beberapa caleg.

Beberapa waktu lalu saya ingat ada partai yang tidak setuju calegnya untuk melakukan poligami termasuk meminta calegnya mengucapkan hari raya Natal kepada pemeluknya yang menurut ajaran Islam dan ahli agamanya diatur jelas. Maaf saya tidak bahas tentang ajaran Islam, sehingga tidak relevan kalau dikupas karena keterbatasan ilmu saya.

Fenomena yang saya bahas adalah strategi promosinya dimana caleg dari partai tersebut beberapa di antaranya memakai kopiah (peci hitam) dan kerudung di spanduk promosi kampanyenya. Peci dan kerudung berkonotasi pemakainya pemeluk agama Islam walau tidak ada aturannya terkait peci untuk kaum pria, cuma melihat dominan pemakainya, terbukti di Masjid, Musholla termasuk Pesantren banyak dipakai kaum pria, kalau kerudung modern juga tidak ada ketentuannya kecuali hijab yang memang diatur pemakaiannya untuk menutup sebagian dari kepala bagi kaum muslimah (mohon maaf bila kurang tepat karena keterbatasan saya dalam pengetahuan agama Islam).

Dari fenomena tersebut terlihat ambigu sikap calegnya dimana sikap partainya yang tidak setuju dengan ajaran Islam terbukti dari pernyataannya di media public tetapi di pihak lain membutuhkan suara umat Islam untuk mengantarnya ke DPR/DPRD.

Sikap ambigu di atas menurut saya tidak patut dilakukan oleh caleg dari partai yang tidak setuju dengan ajaran Islam, seharusnya dengan rasa bangga dan harga diri tidak perlu menampilkan atribut yang berkonotasi Islam diberbagai spanduknya. Logikanya partai tidak setuju ajaran Islam seharusnya tidak memerlukan suara umat Islam kecuali mau jual harga diri partai dan calegnya demi suara kekuasaan.

Seorang caleg itu harus memiliki harga diri, konsisten dan bangga dengan sikap partainya karena caleg adalah petugas partai… *smile

Termasuk saat kampanye harus ungkapan suara partainya yang tidak setuju dengan beberapa ajaran Islam sehingga tidak membohongi pemilih awam umat Islam.

Saran saja sebaiknya memakai atribut umum saja yang bersifat netral misalnya baju putih, kotak-kotak, jas atau safari silahkan juga kalau mau pakaian superman, batman, gundala, gatot kaca dll asal punya ijin dr pemegang hak ciptanya (baju koko juga konotasi Islam, buktinya banyak terjual jelang Idul Fitri… *smile)

Mari kita belajar tentang marketing promosi, jadi tulisan di atas bukan agama dan bukan politik yah bro n sist …. *LoL

Pemilih cerdas harus paham rekam jejak caleg dan parpol yang akan dipilihnya… *smile

Bila dikasih uang, sembako atau kaos parpol oleh caleg…. Terima saja… tetapi saat coblos pilihan BEBAS semau anda karena anda MERDEKA memilih!!

 

 

4 Comments to "Demi Suara Pengantar Kekuasaan, Foto Caleg Tidak Konsisten dengan Suara Partainya"

  1. jhony Lubisj  3 March, 2019 at 12:09

    Tks bro inakawa ) semoga tdk salah panggil bro…

    Yup demi kekuasaan membuat sering gelap mata… nilai dan norma yang berlaku kadang dianggap tidak penting… semoga diwaktu akan datang lebih baik lagi Indonesia dalam berbagai aspek…

  2. EA.Inakawa  20 February, 2019 at 18:01

    Dari dulu Indonesia sudah demikian Bang Lubis, fenomena nya tetap berlanjut setiap Pesta Demokrasi, baik Ulama & Politikus senior yang naik gelanggang tetap memainkan peran Partainya & ambisi pribadinya, money politik sampai dunia menjelang kiamat nanti TETAP tidak terhapuskan,semua punya kepentingan,dan semuanya berlindung dibalik slogan slogan palsu dan semu. salam sehat

  3. jhony lubis  16 February, 2019 at 19:50

    tks komennya…. yup kita harus melek informasi berkualitas agar cerdas dalam memiih dan bersikap….heheehhe

  4. Lani  12 February, 2019 at 07:46

    Setuju dengan alinea paling akhir……..be smart hahaha……..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.