MEREKA MEMILIH ATEISME

Chandra Sasadara

 

Berdirinya Asosiasi Ateisme di Istambul pada awal 2014 menggedor jantung Turki sebagai negara yang dihuni 95% muslim. Satu dekade terakhir penganut ateisme melonjak tiga kali lipat di negara itu. Konda, lembaga jajak pendapat menyebut 55% penganut Islam taat di Turki turun menjadi 51%. Apa yang membuat mereka memilih ateisme?


.
Ahli teologi Turki, Cemil Kilic, seperti dikutip dalam artikel di laman dw.com tertanggal 10 Januri 2019 menyabutkan bahwa perkembangan itu tidak bisa dilepaskan dari corak pemerintahan Erdogan selama 16 tahun terakhhir yang cenderung menggunakan agama untuk melegitimasi kebijakan politik. Kilic menyebut di Turki semakin banyak orang yang menolak interpretasi Islam yang dipaksakan oleh instansi pemerintah dan organisasi negara. Banyak yang tidak senang agama dipaksakan menjadi satu bentuk resmi yang dilegitimasi pemerintah. “Itu sebabnya jumlah warga yang menjadi ateis semakin banyak,” katanya. Ahmaet Balyemez, seorang warga yang menganut ateisme menyebut bahwa “Terjadi koersi–pemaksaan hekendak–atas nama agama di sini.”
.
BBC News Indonesia 11 Mei 2018 menyebut bahwa sejumlah pelajar madrasah di Konya, kota paling konservatif di Turki mulai menganut deisme—kepercayaan yang menyebut bahwa Tuhan mencipta tapi tidak campur tangan di dunia. Layla seorang mahasiswi penganut deisme mengatakan “Saat berjalan ke pasar, saya mencopot kerudung dan tidak mengenakannya lagi. Ayah saya tidak tahu saya penganut deisme,” katanya. Para penganut deisme dan ateisme secara diam-diam seperti Layla sangat banyak. Merve, seorang guru agama SD di Turki mengatakan dia diam-diam menganut ateisme dan tetap menggunakan jilbab. Pertanyaannya, apakah gejala “bercerai” dengan agama hanya terjadi di Turki? Tidak!
.
Hasil survei Dar Al Ifta di Mesir tentang warga Arab yang menyebut diri sebagai ateis sungguh mengejutkan. Mengutip hasil survei itu, Prof. Sumanto al Qurtubi menyebut ada ribuan orang Arab yang mengidentifikasi diri sebagai ateis dan tersebar di seantero Timur Tengah: Mesir, Maroko, Tunisia, Irak, Saudi, Yordania, Suriah, Sudan, Libya, Yaman, bahkan di Iran. Negeri para mullah itu, seperti dilaporkan Statistical Center of Iran tahun 2011 bahwa ada ratusan ribu warganya (sekitar 0,3 persen dari total penduduk Iran) yang mengasosiasikan diri sebagai non-agama. Kaum ateis di negara itu bahkan memiliki jaringan kelompok ateis.
.
Apa yang mendorong mereka memilih menjadi ateis? Menurut Prof Sumanto, dalah satunya adalah pengalaman-pengalaman traumatik: menyaksikan kekerasan, kekejaman, terorisme, diskriminasi, intimidasi, dan lain-lain yang dilakukan oleh sejumlah kelompok ekstremis agama. Bagaimana dengan di Indonesia? Sebalas dua belas!
.
Artikel di laman dw.com tertanggal 11 Juli 2018 memuat kesaksian mahasiswi bernama Luna Atmowijoyo–mungkin nama samaran, yang diam-diam meninggalkan agama padahal selumnya dia termasuk perempuan yang tak mau bersalaman dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Awalnya perempuan yang pernah menjadi aktivis partai Islam itu terganggu dengan larangan mengucapkan hari raya agama lain dan perlakuan diskriminatif terhadap kaum LGBT, belakangan dia mulai mempertanyakan keberadaan Tuhan, sampai pada simpulan bahwa Tuhan tidak ada.
.
Kecenderungan maraknya penganut ateisme dan deisme di Turki, Iran, negara-negara Arab, dan Indonesia bisa dikatakan sebagai bentuk perlawanan terhadap praktik formalisme agama dalam bernegara, pemaksaan berkeyakinan, dan praktik buruk yang mengatasnamakan agama. Mereka, yang kemudian memilih ateisme dan deisme adalah orang-orang yang dulu membayangkan bahwa agama yang diyakininya penuh welas asih kepada sesama dan menebarkan kasih sayang, ketika mereka mendapati praktik agama sebatas alat politik dan pembener tindakan kekerasan terhadap sesama, mereka menolak, pada titik paling ekstrime mereka diam-diam mempertanyakan keberadaan Tuhan.
.
Apa yang bisa kita lakukan, para penganut agama? Tiga hal ini bisa dicoba! Pertama, jangan jadikan agama sebagai alat politik. Kedua, sebarkan agama dengan cara santun tanpa paksaan. Ketiga, jadikan kasih sayang sebagai praktik dan wujud beragama sehari-hari. Semoga dengan begitu, anak-cucumu bisa terhindar dari ateisme dan deisme, kecuali kalian menghendaki sebaliknya.
——————————————-

Gambar Keira Knightley, salah satu artis penganut ateisme

 

 

3 Comments to "MEREKA MEMILIH ATEISME"

  1. Syanti  24 February, 2019 at 08:49

    Budha itu bukan agama tetapi ajaran Budhism. Dan diajaran Budhism tidak mengakui adanya Tuhan.
    Jadi berarti mereka atheist kah?

  2. jhony lubis  16 February, 2019 at 20:00

    pertanyaannya saat mrk tinggalkan Islam, logikanya mereka bisa memilih agama lainnya (Kristen, Khatolik, Hindu, Budha dll) kenapa malah mrk tidak memilih salah satunya…? apakah krn sifat nya semua agama sama dgn persepsi negatif mrk yang keluar dari agama… kata lain apa semua agama sifatnya hampir sama 11-12? hehehehe….pening kali ucok bah…..

  3. Sumonggo  10 February, 2019 at 09:44

    Sekularisme Turki di persimpangan jalan. Akankah militer tergoda melakukan kudeta?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.