Nian Gao (年糕)

Hennie Triana Oberst

 

Dulu pada perayaan Imlek kami sering diajak orangtua kami mengunjungi teman baik mereka. Juga selalu kami dikirimi Kue Bakul (sebutan orang Medan untuk Kue Keranjang). Dodol dari tepung ketan yang manis ini kadang saking banyaknya sering kami bagi ke teman atau keluarga lainnya.
.
Saat pertama bermukim di ibukota negeri China, hampir 8 tahun yang lalu, perayaan Tahun Baru ini tak terlewatkan. Tentu Kue Bakul (Nian Gao) ini yang aku cari. Selain sudah lama tak mencicipinya, kue ini mengingatkan masa kecil dulu.
.
Suatu hari aku melihat ada Bazar di sekitar tempat tinggal kami. Akupun mendatangi tempat itu, berjalan sambil mendorong stroller putriku, yang saat itu masih berumur 3 tahunan. Aku ingin tahu barang apa saja yang dijual di sana. Terlihat banyak orang menenteng kemasan kotak berwarna merah. Bentuknya mirip seperti kemasan yang biasa dipakai untuk membawa kue. Dugaanku, itu mungkin Nian Gao yang aku cari. Aku berkeliling dan mendatangi satu per satu lapak yang ada, ternyata tak satupun yang menjualnya. Mau bertanya sepertinya percuma, karena aku tak mengerti bahasa mereka, apalagi membaca tulisan yang ada di lapal mereka. Betul-betul seperti orang yang buta huruf.
.
Penasaran, akhirnya aku bertanya pada Kate, seorang teman chinese yang kebetulan tinggal di gedung yang sama denganku. Kami sering menghabiskan waktu bersama dan kebetulan anak kami seumuran, jadi mereka bisa bermain bersama. Kate akhirnya mengajakku makan di restoran yang berseberangan dengan komplek tempat tinggal kami, ada dua teman chinese lain yang ikut serta untuk menikmati Nian Gao.
.
Ternyata Nian Gao yang disajikan itu bentuknya seperti lontong yang dibuat lonjong dan dipotong pipih, berwarna putih dan dimasak dengan mie dan sayuran. Tentu rasanya tidak manis. Nian Gao di tiap provinsi dan daerah ternyata rasa dan cara memasaknya berbeda. Dan di sini, khususnya kota Beijing, perayaan Imlek itu identik dengan Dumplings (Jiaozi), di samping makanan khusus lainnya.
.
Setelah tinggal di negeri China, baru aku faham bahwa kuliner yang selama ini aku kenal di Indonesia itu bukan berasal dari Beijing, bukan pula dari Shanghai. Untuk lidahku, masakan dari negeri Tirai Bambu yang paling enak itu adalah yang berasal dari Provinsi Yunnan dan Xinjiang. Mungkin karena aku berasal dari Sumatera jadi terbiasa dengan masakan yang kaya akan rempah.

❤️

Selamat Tahun Baru Imlek
Happy Chinese New Year

Year of the Pig
.
Oink Oink 🐷
Germany, 20190204

 

 

8 Comments to "Nian Gao (年糕)"

  1. Hennie Oberst  19 February, 2019 at 04:04

    EA Inakawa, wah asyikk nanti kalau ke Medan bakal dapat kue bakul lagi.
    Salam sukses ya.

  2. EA.Inakawa  18 February, 2019 at 12:11

    Ntar Hennie pulang ke Medan saya siapkan nih Kue Bakul Medan, salam sehat

  3. Hennie Oberst  16 February, 2019 at 15:42

    Tammy, Iya Hunan dan Shicuan juga enak ya. Tapi itulah karena kadang terlalu pedas aku jadi kurang bisa menikmati. Dulu pernah waktu di Beijing diundang makan di restoran Shicuan. Banyak banget makanannya, tapi hampir semua nggak termakan karena tamunya banyakan orang asing.

  4. Hennie Oberst  16 February, 2019 at 15:38

    Mas Sumonggo selamat Tahun Baru Imlek. Nian Gao nya sudah habis disantap hahaha

  5. Hennie Oberst  16 February, 2019 at 15:36

    James, Happy Chinese New Year. Juga untuk semua yang merayakan.

  6. Tammy  16 February, 2019 at 10:29

    Hennie: aku paling suka masakan Sichuan ato Hunan. Suka pedasnya. Yunnan suka juga sih, tp resto Yunnan kan nggak sebanyak Sichuan.

  7. Sumonggo  10 February, 2019 at 09:38

    Selamat merayakan tahun baru Imlek.
    Lho bercerita tentang makanan kok tidak ada foto ilustrasinya? No picture = hoax, ha ha …..

  8. James  9 February, 2019 at 15:14

    HAPPY CHINESE NEW YEAR 2570 whoever celebrate the Chinese New Year

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.