Onze Minutos

Dewi Aichi – Brazil

 

Reading is sexy. Demikian caption foto yang saya unggah di IG. Sebuah foto yang saya unggah dengan memegang sebuah novel karya Paulo Coelho yang berjudul Onze Minutos (Sebelas Menit).

Ini adalah satu buku dari Paulo Coelho yang sangat jelas dalam mendeskripsikan dalam hubungan persetubuhan antara pria dan wanita. Oleh karena itu, saya memperingatkan bagi anda yang belum berumur..katakanlah…25 tahun keatas mungkin ya, jangan coba-coba deh baca buku ini hehe…sebab isi novelnya sangat vulgar tapi dikemas dengan bahasa yang sangat indah oleh autornya. Kita semua tahu bahwa Paulo Coelho tak pernah gagal membuat sebuah tulisan yang membuat pembaca takjub, kalimat-kalimat ajaib selalu tercipta dari tangan Paulo Coelho.

Tapi percayalah, bahwa meski buku ini menurut beberapa teman saya adalah karya Paulo yang paling vulgar, namun tidak mengunakan bahasa ala-ala stensilan yang justru membuat ilfil. Ini macam filsafat yang alurnya sangat lembut, menyentuh pada kehidupan sosial. Pengerjaan oleh autor yang tidak buru-buru.

Isi novel kebanyakan menceritakan kehidupan Maria yang bermimpi menjadi seorang istri, menemukan pria yang ia cintai dan bisa memberikan kehidupan yang lebih baik, impian sejak ia masih remaja, ketika  masih hidup di dalam serba kekurangan. Namun seperti yang saya katakan di atas, Paulo begitu gamblang dalam mendeskripsikan adegan persetubuhan secara mendetail, satu per satu, bagaikan buku manual produk elektronik hehehe…

Tetapi di sini pembaca akan mendapatkan banyak sekali wawasan baru tentang seks, apalagi Paulo terlahir sebagai orang Brasil, di mana Brasil merupakan negara liberal geral yang dalam urusan seks sangat terbuka dan normal untuk diperbincangkan. Seperti pada awal buku ini yang menceritakan bagaimana pengalaman Maria pertama kali berciuman, lalu cerita kepada teman-teman sekolahnya. Dan teman-temannya yang lebih berpengalaman mengajarinya agar saat berciuman, Maria harus membuka mulutnya, agar pasangan bisa memasukkan lidahnya ke mulut  Maria. Begitulah tingkat keterbukaan Brasil dalam soal seks…tidak tabu sama sekali.

Maka saat membaca lembar demi lembar, terpaksa pikiran kita masuk ke dalam imajinasi yang liar, dimana Paulo sangat genius. Saat membaca itulah, kita seakan-akan sedang dalam peran tersebut. Paulo membuka habis soal seks.

Sinopsis

Maria adalah gadis remaja yang hidup di wilayah pedesaan di Brasil. Jauh dari gemerlap kota yang serba ada, mall, butik, hotel, restoran, pantai. Maria tidak mengenal semua itu. Maria gadis desa yang lugu, punya cita-cita yang tinggi. Ketika tumbuh semakin dewasa, Maria bekerja di sebuah toko, gadis ranum cantik itu menarik hati majikan yang ingin menjadikan Maria sebagai istrinya. Tetapi Maria menolak.

Maria, dengan gaji sebagai penjaga toko, ingin mengenal Rio de Janeiro. Maka dari itu, Maria memutuskan untuk pergi ke Rio, mengenal Copacabana, melihat kota, merasakan indahnya pantai yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dari sinilah awal kisah Maria hingga bisa ke  Swiss. Kehidupan yang jauh di luar dugaan Maria.

Maria, suatu hari bertemu dengan orang asing yang sangat tertarik oleh kecantikannya. Orang asing itu mengajak Maria untuk berpesta dengannya. Entah kenapa, tak ada rasa ragu, Maria memenuhi permintaan orang asing itu. Maria dibelikan baju, dan sepatu. Dalam kesempatan itulah  orang asing membawa penterjemah, menjelaskan kepada Maria untuk membawanya ke Swiss, untuk bekerja sebagai artis dan model. Tentu saja dengan kepolosannya dan belum punya pengalaman dengan dunia luar, Maria senang sekali dengan tawaran itu. Tanpa berpikir lagi, Maria berangkat ke Swiss.

Semua di luar harapannya. Ternyata Maria dipekerjakan di sebuah club malam sebagai pelacur. Batinnya bergejolak antara menentang pekerjaan itu dan kebutuhan. Oleh majikannya yang bernama Milan, Maria dididik menjadi pelacur professional. Bagai buah simalakama, pilihan yang sangat sulit. Begitulah Maria terjebak, semua harus dijalani. Pelacur adalah di luar dugaan, di luar kuasanya.

Tapi, Maria adalah Maria, wanita yang seperti kita semua, bisa jatuh cinta. Pelacur juga boleh jatuh cinta kan? Boleh menghabiskan waktunya di perpustakaan kan? Boleh beribadah kan? Pembaca dihadapkan pada tokoh Maria yang mempunyai banyak sisi kehidupan. Oleh author, Maria juga ditokohkan sebagai seorang yang suka menulis. Sebab di bagian akhir setiap episode, Maria menuliskan curahan hatinya dengan sangat apik.

Maria menjadi seorang pelacur yang berhasil dan cerdas. Kecerdasan dan kecantikannya menjadikan ia menjadi pelacur dengan tarif mahal. Sampai-sampai Milan sang bos itu memberikan Maria seorang “tamu istimewa”, Maria sempat bingung dengan “tamu istimewa” yang diberikan Milan. Sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang pelukis di sebuah cofee shop. Ini menjadi titik balik pergulatan hati Maria, yang mana ia sebagai pelacur professional, dilarang jatuh cinta.

Paulo memang genius, judulnya Onze Minutos (Sebelas Menit), bisa-bisanya Paulo menghitung waktu rata-rata manusia melakukan persetubuhan. Ya….sebelas menit adalah rata-rata manusia melakukan hubungan seks. Sebelas menit adalah waktu yang sangat singkat untuk bercinta, masa sih cuma sebelas menit ya hehe…namun Paulo menciptakan suatu harapan bahwa dalam durasi sebelas menit itulah hendaknya dilakukan dengan cara yang khidmat dan sakral. Novel seks tapi diulas oleh author dengan gaya penulisan yang intelek.

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

13 Comments to "Onze Minutos"

  1. Dewi Aichi  13 February, 2019 at 16:48

    Lani….biasaaaaaaaaaaaaaaa…pak Lurah kan gitu, lari dari tanggung jawab, padahal dia yang semangat ngucapin ucluk-ucluk hahaha..

    James…………11 menit itu pada INTI , sebelum dan sesudahnya kan tidak di hitung hahaha….kayak matematika saja..

    Seks selalu menarik untuk dibahas. Seru, menegangkan, dan mengasyikkan, namun tak jarang pula menyedihkan, dan bahkan menyakitkan. Ditinjau dari sudut pandang manapun juga, baik dari sisi kesehatan, budaya, sosial, ataupun sejarah, terlepas dari penilaian positif maupun negatif…tetap menjadi topik yang menarik.

  2. James  12 February, 2019 at 09:39

    DA, wualah salah ketik nickname lagi aja neh

  3. Perselingkuhan Intelek  12 February, 2019 at 09:37

    DA, gampang kok menjelaskannya 11 menit itu dari nunjuk sampai selesai nunjuknya wk wk wk

    ada yang bisa 1/2 jam loh kalau lagi pikiran senang tenang, no bullshit loh

  4. Lani  12 February, 2019 at 07:44

    Woalah podho kenthire mana yg murid mana yg guru….kkkk……sebelas menit ini super kilat yo dibandingkan dgn Trans Jawa nya Jokowi wakakak….jiaaan ora nyambung blasssssss………

    Lurahe malah minggat Wi………kkkkkk wedi diminta kamu utk membuktikan apakah betul cuma 11 menit opo ora ngos2-an…….mlayuuuuuuuuu……

  5. Dewi Aichi  11 February, 2019 at 22:30

    Linda, waduh sulit nih untuk menejlaskan kepada Linda….yang jelas Linda pasti penasaran hahahaha

  6. Dewi Aichi  11 February, 2019 at 22:30

    mas Sumonggo, buku mana buku…sini kembaliin, ama tetangga masak ngga dikembaliin

  7. Dewi Aichi  11 February, 2019 at 22:29

    pak Lurah kosikkkkkkkkkkkkkkkkkk hahahhaa…kemarin aku sibuk je…tak seretnya Lani dulu

  8. Linda Cheang  10 February, 2019 at 19:39

    Jadi bertanya-tanya, nih.

    11 menit itu dari mana sampai ke mana?

    Ngitungnya bagaimana?

    Hehe

    #pasangemoticonbingung

  9. J C  10 February, 2019 at 18:40

    Iki endi sing resensi malah ngilang…jangan sahut-sahutan di FB lah…di sini saja biar dioosak-asik sisan…

  10. Sumonggo  10 February, 2019 at 09:53

    Wah kalau soal ucluk-ucluk bakal ramai ini. Mungkin Paulo Coelho dulu pernah tetangga-an dengan Enny Arrow … ha ha ….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.