[Imelda’s Stories] Dear Imelda (1)

Emma Debora

 

Imelda sahabatku tersayang,

Maafkan aku baru sempat membalas suratmu. Seminggu setelah aku menelponmu yang singkat itu karena terputus-putus oleh tangisan Priyanka, atau tepatnya sebulan setelah surat keduamu aku terima.

Aku senang engkau langsung sibuk dengan aktivitas rutin harian. Tak ada jeda sama sekali ya? Iya, kamu adalah satu-satunya temanku yang sudah 5 tahun tak suka lagi bekerja dari pagi sampai sore setiap hari. Padahal dulu kamu akan senewen kalau sehari tak masuk kantor.

Faktor U, Mel. Setelah 40, apalagi 50, orang-orang biasanya akan memilih bekerja di belakang layar dan sudah sulit bekerja dengan orang lain. Kebanyakan mereka akan bekerja dengan jam kerja sefleksibel mungkin. Seperti teman-temannya Bang Pusaka yang punya usaha kerajinan batik itu. Mereka para perempuan seperti kita, akhirnya melepaskan jam kerja nine to fivenya, lalu merintis usaha baru.

Tapi kalau aku tidak. Aku ingin tetap ngantor rutin, dari pagi sampai sore. Sampai usia pensiun nanti. Karena ada Priyanka, aku jadi banyak di rumah. Mas Joko melarangku bekerja kalau Priyanka belum 5 tahun. See? Aku tidak sanggup menolak permintaan papanya Priyanka. 

Aku kadang cemburu padamu Mel. Betapa merdekanya hidupmu. Lebih-lebih saat kamu single. Kupikir, aku juga akan hidup merdeka sepertimu. Eh, ternyata kawin juga. Justru kamulah yang seingatku ingin punya sebuah keluarga, eh malah nggak kawin-kawin hahaha.

Tapi yang paling membuatku terkejut adalah, kamu mengajar anak-anak. Bagaimana bisa kamu tersesat begitu, sayang? Apa kamu tidak senewen menghadapi krucil-krucil yang banyak gerak begitu? Aku kenal betul dirimu. Tidak suka dengan anak kecil. Aku juga masih ingat ibumu pernah bilang kalau kamu satu-satunya anak perempuan yang tidak bisa mengasuh anak kecil, apalagi bayi. Meski beberapa teman kita menyebutmu sedikit keibuan, tetapi aku tahu kamu bukan perempuan yang ditakdirkan untuk luwes dengan anak-anak.

Jadi, pikirku, angin apa yang membuatmu kejeblos di sekolah dasar sebagai guru? O ya, kamu sudah cerita. Kamu ditawari Merry, dan kamu menerima dulu sebagai uji coba. Padahal Mel, tak usah pake uji coba-uji coba segala. Kalau kita tahu bahwa dunia kita bukan di situ, tolak saja. 

Tapi barangkali kamu sungkan menolak. Atau ada faktor lain yang membuatmu ingin mencoba dulu? Aku tunggu ceritamu deh soal ini:-).

Tapi aku lebih sreg melihatmu bekerja di bidang yang kamu sukai. Atau apalah itu namanya. Sebelum berangkat ke kotamu itu, kita pernah berjam-jam mengobrol tentang apa yang akan kamu lakukan. Bahwa kamu akan memasuki dunia yang sama sekali baru. Tentang hasratmu untuk merintis hal-hal baru, dan tentang rencanamu untuk meluangkan waktu untuk menulis.

Tapi tidak ada sama sekali rencanamu untuk berhubungan dengan anak-anak.

Kalau kamu menghabiskan waktu 6 jam selama 5 hari di sekolah, wajar saja kamu tidak punya energi lagi untuk memikirkan hal lain. Segeralah wujudkan niatmu. 

Betul bahwa anak-anak perlu diperhatikan dan didampingi, baik di sekolah maupun di rumah. Tetapi, ada orang-orang yang capable untuk itu. Kamu pernah cerita kan, bagaimana sakitnya kepalamu mendengar teriakan demi teriakan yang dilontarkan justru oleh guru-guru itu kepada murid-muridnya? Bagaimana anak-anak itu tidak akan berteriak juga satu sama lain, bahkan kepada gurunya?

Kamu kemarin curhat, betapa jengkelnya ketika mendengar murid-murid di kelasmu berbicara dengan nada tinggi. Padahal itu terjadi di ruangan yang kecil. Lalu kamu menegur anak-anak itu, “Mengapa harus berteriak, Nak? Ibu dengar kok kalau kalian berbicara tanpa berteriak.” Lalu anak-anak itu malu, dan salah satu di antara mereka menggoda kamu. ‘Maaf ya bu, kami suka lupa kalau Ibu tidak tuli, hahaha.”

Itulah anak-anak zaman now, kelewat ekspresif dan sa’ suka-sukanya memosisikan diri mereka setara dengan kita. Sebel ya :-p

Apa kamu sudah survey ke semua sekolah, betulkah anak-anak SD itu memang naturnya suka berteriak? Aku tidak yakin, Mel. Seorang guru harus mau capek sedikit untuk menghampiri anak muridnya kalau ingin memanggil si anak. Bukan berteriak dan tetap duduk dari kursinya.

Hmmm, ya, mungkin kamu akan menjawab, “Iya, itu bisa saja dilakukan oleh guru-guru yang mengajar di sekolah swasta modern, yang menggaji gurunya cukup tinggi. Tapi kalau si guru itu adalah guru tidak tetap yang hanya menerima 1 juta per-bulannya (ada juga yang setengahnya dari itu) tapi dengan beban kerja yang sama besarnya dengan guru tetap bergaji 10x lipatnya? Tidak ada energi lagi untuk berlelah-lelah memperlakukan anak-anak didiknya dengan sopan dan lembut. Maka ditempuhlah cara praktis. Berteriak :-)

Semoga kamu sukses merealisasikan rencana-rencanamu ya? Aku prihatin deh kamu curhat terus tentang kelelahanmu menghadapi orang-orang yang tidak sefrekuensi. Cukup 2 bulan saja ya Mel kamu melakukan pekerjaan yang melelahkan mental. Aku agak terkejut mendengar kalau kamu sudah tidak punya waktu lagi untuk mengobrol dengan sahabat-sahabatmu.

Apakah karena jatah 5000 kata sudah terpenuhi dari mengajar anak-anak itu, haha. Terakhir kita menelepon, kamu permisi mau tidur dulu karena sedang tidak fokus mengobrol. Padahal kita baru berbincang-bincang 15 menit. Dulu, kalau kita sedang berada di beda kota, kita bisa 3 jam nonstop berbicara. Yah, dulu belum ada Priyanka sih. Tapi sekarangpun, kalau kita mau, kita masih bisa kok mengobrol berjam-jam. 

Jika tidak sedang lelah, ayo kita diskusi lagi tentang anak-anak asuhmu itu. Obrolan tentang bu Wardah yang mengabaikan tugasnya sebagai wali kelas menurutku fenomena menarik. Katamu, status beliau kan masih guru tidak tetap ya? Tapi tentu saja mendapat insentif yang cukup untuk tanggung jawabnya sebagai wali kelas. Kamu kesal karena banyak siswa asuhannya tidak terperhatikan dengan baik.

Jangan kesal dulu Non.

Mungkin saja itu sebagai bentuk protesnya atas penghargaan yang dia peroleh yang tidak sebanding dengan beban kerjanya. Tentu saja dibandingkan dengan penghargaan (baca penghasilan) guru tetap. Aku sudah sebutkan di atas perbandingannya.

Aku tidak mengikuti persis problematika antara posisi guru tetap (misalnya PNS)  dan guru tidak tetap (honorer), khususnya di sekolah-sekolah negeri seperti yang kamu masuki. Tetapi di banyak daerah, status PNS sangat dijunjung tinggi, bukan? Bagi guru yang bukan PNS dan kebetulan bekerja di lingkungan yang sama dengan guru PNS tentu tidak mudah menjalaninya.

Aku salut padamu jika kamu bertahan menjadi guru di sana sambil pada saat yang bersamaan mengetahui “jurang yang lebar” dalam pendapatan dan tanggungjawab. Namun jika kelak kamu berhenti, aku bisa mengerti. Meski di beberapa tempat, aku juga mendengar banyak guru honorer yang tidak mempermasalahkan status mereka karena sudah mendapat pemasukan yang cukup dari pengganti uang transpor dan insentif.

Anyway, teman kita Sofia sudah menikah. Dengan salah satu partner kerjanya di gereja. Kita tidak kenal suaminya, Mel. Banyak lho yang terkejut atas keputusan si Sofie. Kita tahu kan dia pernah mengatakan tidak akan menikah. Ingat tidak  waktu dia ajak kita bertujuh menginap di villa Omnya di Sawangan? Setelah dua malam ngobrol ngalor ngidul sana-sini, setelah perut kita kenyang dan puas main air di danau, barulah dia curhat.

Jangan ketawa Mel. Waktu itu kita begitu terpukau mendengar curhatan dia. Habis, memang curhatnya serius juga sih. Dia mendeklarasikan dirinya bahwa di usia yang sekian itu, dia memutuskan untuk tidak menikah!

Santi kan sempat tanya, kenapa untuk hal pribadi seperti ini pake bikin acara khusus segala. Lalu Sofie menjawab, tujuan dia bercerita cuma satu; supaya teman-teman tidak menjodoh-jodohkan dia dengan siapapun. 

Dan kita amat serius menanggapinya. Tak tahunya, 5 tahun setelah itu dia menikah, hahaha. Kualat nggak sih? Aku tidak sempat datang di pernikahannya waktu itu karena harus ke Bandung. 

Saranku Mel, jangan bikin deklarasi apa-apa tentang rencana pribadimu ya? Nanti kalau gagal kami bisa nggak berhenti tertawa.

Aku sudahi dulu ya suratku. Cepatlah balas dan ceritakanlah hal-hal menarik yang kamu temui di sana. Tak masalah kalau kamu masih malas meneleponku. Aku sudah senang bisa membaca suratmu. Kalau ada yang belum kumengerti, aku bisa membacanya berulang-ulang.

Salam sayang,
Irena

*ini adalah balasan surat Irena kepada Imelda

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.