Perjalanan Religi (3)

Ninik Atmodipo

 

Artikel sebelumnya:

Perjalanan Religi (1)

Perjalanan Religi (2)

 

Kita Mesti Proaktif

Pro Active bukan berarti kita mengeluh. Kebanyakan orang yang dari perjalanan Hajji atau Umrah jarang yang menuliskan pengalaman. Demikian juga dalam perjalanan religi banyak orang yang gak setuju tapi tidak berani mengeluarkan pendapat.

Pengalaman saya kemarin, ternyata ada beberapa yang berani mengeluarkan pendapat dan complaint. Menurut saya itu hak kita sebagai pembeli produk tour. Kebanyakan juga kadang pihak tour selalu mengandalkan kata2. “Ini perjalanan religi, tolong anda sekalian mengerti”. Istilahnya kalau ada yang gak benar jangan dikritik. Lho kok enak udah bayar mahal-mahal gak mau dikritik!

Udah pernah dengar kan banyak peserta Umrah / Hajji diterlantarkan oleh tournya? Tour-tour banyak yang nakal lho! Jadi kita harus tetap kontrol, apakah jadwalnya meleset dari yang dijanjikan. Apalagi kalau anda membayar mahal. Bisa sesek didada kalau ditipu.

Kemarin itu juga waktu makan siang, ada beberapa ibu keturunan Arab berbisik2 kalau makanan gak enak. Waktu itu kita berada di wilayah Death Sea/Laut mati. Emang bener sih bisik2nya. Sakingnya kelaparan jadi saya telan saja. Selalu makan siang sekitar jam 3 atau 4 sore. Sedangkan makan malam jam 6 sore.

Bisik-bisik gak pernah sampai ke tour leader. Banyak terjadi apa yang kita beli tidak sesuai dengan kenyataannya. Nah ini mesti dicomplaint, jangan biarkan saja. Kalau perlu bikin catatan complaint untuk ditujukan ke perusahaan, supaya mereka memperbaiki tour nya.

Kemarin setelah selesai tour Jerusalem, kami masuk lagi ke Jordan mengunjungi makam2 nabi. Saat itu sudah jam 3 sore, belum dapat jatah makan. Laparnya minta ampun. Mana kata tour leadernya masih ada satu tempat yang harus dikunjungi. Alamak…kita menahan lapar dari jam 7 pagi. Saat itu kita berada di pucuk gunung yang jalannya merayap. Katanya nanti makan siang akan diberi di kardus. Makannya di petilasan nabi Ayoeb. Pemandangan memang bagus tapi bau tai domba yang mana tahan.

Akhirnya kami punya dua usul, pertama dus makan siang dibagi di bus saja, trus makan di bus saja. Mana bisa makan ditemani bau tai. Kedua, kita tak perlu lagi mengunjungi makam/petilasan selanjutnya. Kondisi kita udah kecapaian belum makan, mosok mau diajak jalan lagi. Udah pulangkan kita ke kota Amman. Akhirnya satu bus setuju usul kita. Pulang saja ke kota besar. Istirahat di hotel.

Yang eloknya lagi saat kami di bis menunggu kedatangan team catering. Semua sudah kelaparan. Bis menghadang di perempatan jalan pegunungan, menyetop team catering. Saya terpingkal-pingkal, bisa-bisanya bis kita berada di tengah-tengah perempatan jalan raya pegunungan. Semua mobil berhenti gara-gara bis kita sedang menerima supply makanan. Maha Besar Allah, bis kita tidak ditabrak.

Ampun dweh. Pengalaman yang tak terlupa. Pemakaman Nabi Shuaeb cantik sekali lokasi. Pokoknya paling top diantara makam-makam Nabi lainnya. Di atas puncak gunung, pemandangannya indah sekali. Photo di bawah adalah petilasan Nabi Ayoeb

 

 

 

2 Comments to "Perjalanan Religi (3)"

  1. Kreta Amura  2 June, 2019 at 16:12

    Sekarang kalo traveling gak boleh ke sembarang tempat. traveling harus terencana dan mampu memberikan makna, terlebih pada penyadaran tentang sejarah dan agama.

  2. GizTech  24 March, 2019 at 02:21

    Jadi pengen liat petilasan Nabi Ayoeb, ditunggu perjalanan ke empatnya, hehehe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.