SHAKUNTALA (5 – Tamat)

Syanti

 

 

Artikel sebelumnya:

SHAKUNTALA (1)

SHAKUNTALA (2)

SHAKUNTALA (3)

SHAKUNTALA (4)

 

Keadaan Ravi semakin membaik, ia sudah bisa berjalan walaupun masih pincang. Ravi belum tahu siapa dia sesungguhnya dan dari mana ia berasal, tetapi ia sudah mulai ingat akan istrinya, keluarganya, dan rumahnya. Ia ingat kalau ia mempunyai seorang anak laki-laki,  seusia cucu Vedha Mahathia. Setiap kali melihat anak itu, Ravi teringat akan Vinod anaknya. Ravi sangat berterima kasih, kepada keluarga Vedha Mahathia yang telah mengobati dan merawatnya.

Seperti biasa pembantu Vedha Mahathia, pergi ke hutan mencari dedaunan untuk bahan obat. Tanpa sengaja ia menemukan sebuah dompet berisi foto Ravi, dompet yang dibuang oleh Rajis, ia membawa dompet tersebut dan menyerahkan dompet itu ke Vedha Mahathia.
Vedha Mahathia memeriksa isi dompet tersebut, ia menemukan kartu identitas Ravi. Dengan diketemukan dompet tersebut, akan membantu Ravi untuk lebih mengingat  siapa dirinya. Dan Ravi bisa kembali ke keluarganya.

Vedha Mahathia senang sekali dan bermaksud memberitahu berita gembira tersebut pada Ravi. Tetapi ia ingat ancaman dari LTTE nona, yang akan membunuh keluarganya, bila Ravi pergi dari rumahnya. Membuat ia ragu-ragu karena setiap waktu LTTE nona itu bisa datang lagi ke tempatnya.

Rajis terkejut waktu mengetahui, bahwa dokter Ananda adalah ayah Shakuntala istri dari Ravi. Rajis masih ingat pada waktu itu, ia merasa terhina sekali oleh perlakuan Ravi dan keluarganya. Kemudian ia menghubungi salah seorang temannya anggota LTTE. Rajis menceritakan problemnya, dan keinginannya untuk bergabung dengan LTTE.

Semula LTTE menolak permohonan Rajis, karena kehamilannya. Tetapi kemudian mereka mempunyai idea untuk menempatkan Rajis di Colombo.

Sebelum berangkat LTTE mengganti identitas Rajis menjadi Solochena dan berasal dari Hatton, yaitu daerah perkebunan teh di central province.

Di Colombo Rajis bersama beberapa anggota LTTE lainnya. Menyewa annex (pavilion) di Welawata, daerah yang kebanyakan penduduknya suku Tamil. Mereka di sana ada yang pura-pura sedang menanti pekerjaan ke Timur Tengah. Ada yang bekerja sebagai pembantu, sambil menjalankan misi mereka. Sedangkan Rajis harus berpura-pura menjadi pengemis di traffic light. Ia mendapat tugas untuk mencatat, jam berapa dan hari apa saja mobil pejabat pemerintah yang menjadi sasaran mereka, melalui jalan tersebut.

Karena ia sedang hamil, tidak ada yang mencurigainya dan Rajis selalu berpindah-pindah tempat.

Pada hari itu Rajis bersama temannya, mendapat tugas untuk membawa bomb dan akan meledakkan bomb tersebut, di jalan yang akan dilalui oleh pejabat pemerintah yang menjadi sasaran.

Rencananya mereka berdua akan berpura-pura  ke rumah sakit khusus untuk wanita, di Rajagiriya untuk memeriksa kehamilan Rajis, temannya mengantar sambil membawa tas berisi bomb dan akan meletakkan di halte bis pada waktu mereka turun dari bis, kemudian akan diledakan dengan remote control dari kejauhan, bertepatan dengan lewatnya mobil yang menjadi sasaran mereka.

Tetapi sementara mereka menunggu bis, untuk pergi ke tempat tujuan, tiba-tiba Rajis merasa perutnya sakit sekali, Rajis terduduk tidak dapat berjalan. Melihat keadaan Rajis, temannya meninggalkan Rajis, karena apapun yang terjadi misi mereka harus tetap dilaksanakan. Sesuai dengan rencana mereka.

Ternyata Rajis mengalami pendarahan sangat hebat, ia terduduk di pinggir jalan. Seorang wanita yang melihatnya, berusaha untuk menolong. Wanita itu berdiri agak ke tengah jalan, meminta mobil yang lewat untuk stop dan menolong Rajis. Salah satu mobil yang dikendarai oleh seorang laki-laki setengah baya, berhenti dan memberikan pertolongan lalu  membawa Rajis ke rumah sakit, bersama wanita itu.

Sepanjang jalan Rajis mengerang kesakitan dalam bahasa Tamil. Wanita yang menolongnya, dari suku Singhala tidak mengerti apa yang dikatakan Rajis, tetapi pemilik mobil mengerti apa yang dikatakan Rajis. Dan dia berkata kepada Rajis dalam bahasa Tamil bahwa ia dokter Ananda Rajasingham dan ia akan menolongnya, ia meminta Rajis untuk tenang.

Setibanya di rumah sakit, tampak kesibukan yang luar biasa, karena telah terjadi ledakan bomb di daerah Rajagiriya, ambulance keluar masuk membawa korban yang terluka akibat ledakan bomb.

Dokter Ananda segera turun dari mobilnya, menyerahkan Rajis untuk diberikan pertolongan. Kemudian ia pergi untuk membantu menangani korban bomb yang terluka.

Sore harinya, dokter Ananda bersama dokter yang menangani Rajis, datang mengunjungi Rajis yang sudah siuman.

Karena Rajis hanya mengerti sedikit bahasa Singhala, dokter itu meminta dokter Ananda untuk memberi tahu keadaan Rajis dalam bahasa Tamil.
Dokter Ananda memberi tahu, bahwa Rajis mengalami pendarahan sangat hebat, beruntung jiwanya masih bisa diselamatkan, dan masih ada persediaan darah di rumah sakit itu. Tetapi anak di dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan.

Pada waktu mendengar anaknya tidak dapat diselamatkan, Rajis tampak terkejut ia menangis sambil meraung-raung. Perawat yang bertugas berusaha untuk menenangkannya.

Setelah Rajis tenang, dokter Ananda,  menanyakan siapa namanya dan dimana alamat rumah Rajis. Pihak rumah sakit akan memberi tahu keluarganya, tentang keadaan Rajis.

Rajis menjawab dengan berbohong, bahwa ia bernama Solochena, dari Hatton. Ia datang ke Colombo untuk mencari suaminya yang pergi ke Colombo untuk bekerja. Tetapi sudah beberapa bulan tidak ada berita.

Mendengar semua itu, dokter Ananda merasa tersentuh hatinya. Pasti mereka dari keluarga Tamil yang tidak mampu, pikir dokter Ananda.
Sebagai sesama Tamil, dokter Ananda berusaha untuk menolong Rajis. Ia membawakan makanan dari rumahnya, juga pakaian dan keperluan lainnya untuk Rajis.

Pada waktu Rajis sudah boleh keluar dari rumah sakit, dokter Ananda memberi sejumlah uang kepada Rajis, untuk ongkos pulang ke Hatton. Rajis sangat berterima kasih pada dokter Ananda, atas pertolongan dan kebaikan hatinya.

Salah seorang perawat Tamil di rumah sakit, memberi tahu Rajis bahwa bila ia tidak ditolong oleh dokter Ananda. Jiwanya tidak akan tertolong.

Mengingat pertolongan dan kebaikan dokter Ananda, Rajis berusaha untuk berdamai dengan hatinya sendiri. Ia berusaha untuk memaafkan Ravi sebagai rasa terima kasihnya kepada dokter Ananda…. Tetapi tidak mudah, ia berpikir dengan keras, apa yang harus ia lakukan. Karena sulit untuk pergi ke tempat di mana Ravi berada.

Dokter Ananda sempat melihat Rajis yang ia kenal sebagai Solochena, ia mengingatnya, karena namanya sama dengan nama istrinya.

Shakuntala pulang ke rumah dengan perasaan hampa. Setibanya di rumah Shakuntala bercerita pada keluarganya, bahwa ia bertemu dengan Rajis di markas LTTE. Pada waktu mendengar itu, mereka menduga, ada kemungkinan Rajis yang menculik Ravi.

Mendengar pembicaraan mereka tentang Rajis, dokter Ananda bertanya siapa Rajis? pada Shakuntala. Shakuntala menjawab, bahwa Rajis adalah yang membukakan mereka pintu, waktu di bunker.

Dokter Ananda berkata, ia  bernama Solochena dan Solochena wanita Tamil yang ditolongnya di pinggir jalan di Colombo, ia dalam keadaan hamil mengalami pendarahan hebat dan anak dalam kandungannya tidak tertolong.

Mendengar cerita dokter Ananda, mereka semua terkejut.
Selama ini Shakuntala tidak pernah menceritakan problem rumah tangganya kepada orang tuanya, mereka tidak mengetahui tentang Ravi dan Rajis.

Akibat  sering mendapat serangan dari pasukan pemerintah membuat LTTE,   semakin terdesak.  LTTE berusaha untuk mempertahankan diri, dengan cara memaksa penduduk Tamil di desa-desa yang berada di daerah kekuasaan LTTE , untuk menjadi pengungsi. Mereka harus meninggalkan desa mereka, LTTE mengusir mereka dari desanya dengan cara membakar rumah mereka.

Mereka dikumpulkan dibawa ke camp LTTE dijadikan human shield dari serangan tentara pemerintah.

Setelah berpikir panjang, Vedha Mahathia, memutuskan untuk memberikan dompet yang diketemukan kepada Ravi, ia tidak peduli dengan ancaman LTTE nona.

Di dompet tersebut, selain terdapat kartu identitas, ada photo Ravi dengan Shakuntala dan Vinod anaknya, ada juga kartu tanda pengenal dari perusahaan tempat Ravi bekerja, lengkap dengan alamat dan no telephone.

Ravi sangat senang sekali, semua itu membuat ia ingat siapa dirinya.
Sekarang ia ingat bahwa ia bernama Ravi dan berasal dari Trincomale.

Vedha Mahathia menceritakan, ancaman dari LTTE nona, yang akan membunuh mereka sekeluarga bila Ravi melarikan diri.

Mendengar itu,  Ravi merasa marah pada LTTE nona, yang ternyata Rajis.
Ravi juga merasa terharu dengan kebaikan Vedha Mahathia. Bagaimana mungkin ia membiarkan keluarga Vedha Mahathia dibunuh oleh Rajis, LTTE nona karena dirinya.

Mereka telah begitu baik padanya, Ravi menolak untuk meninggalkan mereka. Tetapi Vedha Mahathia meminta Ravi untuk pulang ke keluarganya, karena pasti mereka sangat sedih terutama anak dan istrinya. Setelah hampir dua tahun lamanya, Ravi menghilang tampa berita.

Walaupun demikian, Ravi tidak bisa pergi begitu saja. Karena situasi keamanan, di mana-mana ada pemeriksaan baik oleh LTTE maupun oleh pemerintah. Dan banyak ranjau yang ditanam oleh LTTE, banyak penduduk desa yang mau melarikan diri, terluka karena ranjau tersebut, bahkan ada yang cacat seumur hidup.

Penduduk desa di tempat Vedha Mahathia tinggal , mendengar berita bahwa penduduk desa tetangga terdekat, telah pergi mengungsi ke daerah yang dikuasai oleh pemerintah. Untuk menghindari dijadikan human shield oleh LTTE.

Mereka memutuskan untuk pergi juga dari desa mereka, ke daerah yang dikuasai oleh pemerintah. Karena setiap waktu LTTE bisa datang ke desa itu.

Vedha Mahathia meminta Ravi untuk pergi bersama rombongan penduduk desa, Vedha Mahathia memutuskan untuk tinggal, apapun yang terjadi. Karena ia merasa sudah tua, tidak akan kuat melakukan perjalanan jauh. Ia tidak mau merepotkan yang lain.

Ravi berusaha membujuk Vedha Mahathia, untuk pergi bersama-sama tetapi Vedha Mahathia tetap dengan pendiriannya.

Ravi tidak mempunyai pakaian yang layak, selama ini ia hanya mengenakan sarung pemberian Vedha Mahathia. Sebelum Ravi pergi Vedha Mahathia, memberikan pakaian anak lelakinya untuk Ravi walaupun agak kebesaran dan meminta Ravi untuk mencukur rambut,  kumis dan jenggotnya yang selama ini kurang terurus. Agar Ravi nampak bersih dan tidak dicurigai sebagai anggota LTTE.

Vedha Mahathia menyimpan uang yang diberikan oleh Rajis, ia tidak pernah menggunakannya dan memberikan uang tersebut kepada Ravi, karena ia tahu Ravi pasti memerlukan uang.

Ravi sangat terkejut dan tidak mau menerima uang pemberian Vedha Mahathia. Vedha Mahathia menerangkan bahwa uang itu, pemberian dari LTTE nona, ia tidak mengetahui kalau uang itu sebetulnya milik Ravi.

Akhirnya Ravi bersedia menerima uang tersebut tetapi hanya seperlunya, karena memang ia memerlukan uang, karena tidak mungkin pergi tampa membawa uang.

Ravi berjanji kepada Vedha Mahathia, setelah menemui keluarganya akan datang kembali, bila keadaan sudah memungkinkan.

Rombongan mereka berangkat tengah malam, untuk menghindari dari LTTE. Mereka berjalan melalui hutan mencari jalan yang aman dari patroli LTTE dan sedapat mungkin  tidak melalui jalan umum, karena LTTE menanam ranjau di mana-mana. Dan LTTE juga mengadakan check point di beberapa tempat yang mereka kuasai.

Ravi berusaha untuk menghubungi keluarganya, tetapi desa-desa dan kota kecil yang mereka lalui. Sudah kosong seperti kota mati dan tidak ada sambungan telephone, semua sudah hancur. Akibat peperangan yang terjadi.

Setelah tiga hari perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah kota yang berada di bawah kekuasaan pemerintah. Tentara pemerintah menyerahkan mereka, ke kantor polisi untuk dilakukan pemeriksaan.
Mereka diperiksa dengan teliti, karena sering terjadi mereka adalah anggota LTTE yang berpura-pura menjadi pengungsi dan kemudian mereka mengadakan serangan dengan melakukan aksi bomb bunuh diri.

Mereka semua diperiksa sampai malam hari,  Ravi  menunjukkan kartu identitas dan menceritakan, apa yang terjadi pada dirinya.

Polisi mencatat semua keterangan dari Ravi dan mengirimkannya ke kantor polisi di Trincomale, untuk mencek kebenarannya.

Polisi di Trincomale  mendatangi rumah keluarga Ravi, untuk konfirmasi. Tetapi hanya ada pembantu di rumah.

Semua anggota keluarga Nadesen sedang pergi ke Hindu temple (koil), mereka sedang melakukan puja untuk merayakan Thai Pongal.

Polisi meminta keterangan tentang Ravi kepada pembantu itu, dan pembantu itu membenarkan bahwa Ravi telah diculik oleh LTTE dan sampai sekarang belum kembali.

Polisi itu melaporkan kepada atasannya, bahwa ia sudah melakukan klarifikasi. Walaupun belum bertemu dengan keluarga Ravi, hanya berdasarkan keterangan dari pembantu.

Di temple kakak Ravi yang tertua melihat ayah Rajis dengan istrinya, kakak Ravi menghampiri ayah Rajis dan ia bertanya tentang keberadaan Rajis.

Ayah Rajis berusaha untuk menghindar, tetapi istrinya  menjawab pertanyaan kakak Ravi. Ia mengatakan bahwa Rajis telah lama pergi menjadi anggota LTTE, beberapa minggu yang lalu, temannya mengabarkan bahwa Rajis telah meninggal dunia, dalam peperangan di Kilinochi.

Setelah mendapat konfirmasi dari polisi di Trincomale, akhirnya Ravi diijinkan pulang ke rumah.

Polisi mengantar Ravi ke station bis terdekat. Perjalanan ke Trincomale memakan waktu sekitar dua jam. Ravi merasa sudah tidak sabar untuk bertemu dengan keluarganya…..Anaknya tentu sudah besar sekarang.

Shakuntala bersama ibu mertua dan anaknya, pulang lebih dulu dari temple karena ibu mertuanya merasa lelah. Sementara yang lain masih mengikuti perayaan di temple yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka.

Vinod yang masih ingin bemain di temple dengan teman-temannya. Tidak suka dibawa pulang oleh ibunya, setibanya di rumah ia menolak untuk masuk ke dalam rumah. Vinod lari ke halaman ingin pergi kembali ke temple, belum sampai ke pintu gerbang  Vinod bertabrakan dengan seorang lelaki yang baru memasuki halaman rumah itu.
Melihat apa yang terjadi, Shakuntala berusaha mengejar Vinod, sambil berteriak memanggil anaknya.

” Vinod thambi! “

Lelaki itu ternyata Ravi yang baru tiba, mendengar suara Shakuntala yang memanggil nama anaknya. Ravi langsung menggendong Vinod anaknya.

Melihat itu Shakuntala langsung menghampiri dan mendorong lelaki itu, ia tidak suka ada orang yang tidak dikenal menggendong anaknya. Tetapi betapa terkejutnya, ternyata lelaki yang nampak lusuh dan kotor itu, adalah Ravi.

Mereka saling berpelukan sambil bertangisan…….. Tangis bahagia!

Beberapa bulan kemudian, dengan terbunuhnya Vepullai Prabhakaran, pemimpin tertinggi LTTE. Civil war yang berlangsung sejak 12 July 1982 hingga 5 May 2009 berakhir. Dengan kemenangan di pihak pemerintah Srilanka.

Ravi dan keluarganya mengunjungi, Vedha Mahathia, yang bertahan bersembunyi di hutan selama terjadi konfrontasi antara pasukan pemerintah dan LTTE.

Ravi membantu memperbaiki rumah Vedha Mahathia, yang rusak karena peperangan.

Melalui semua peristiwa itu, membuat Shakuntala menjadi wanita yang mandiri, bukan lagi wanita yang selalu merasa rendah diri.

TAMAT

 

 

2 Comments to "SHAKUNTALA (5 – Tamat)"

  1. Syanti  4 March, 2019 at 09:01

    Thanks Alvina!
    Memang banyak dissaphora Tamil di berbagai negara. Kemungkinan anggota LTTE. Mereka masih berusaha untuk kembali medirikan negara di Srilanka.

  2. Alvina VB  3 March, 2019 at 12:42

    Wah akhirnya happy ending ya Shanti. Thanks but ceritanya.
    Di sini ada loh perkumpulan org2 Tamil, gak tahu apa mereka korban atau juga sisa org2 yg mendukung LTTE.

    Happy weekend!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.