Cinta Itu Indah (2)

Syanti

 

Artikel sebelumnya:

Cinta Itu Indah (1)

 

Masa kecil Edna cukup bahagia bersama kedua orang tuanya dan kedua orang adik laki-laki. Mereka saling menyayangi…. Walaupun ia sering bertengkar terutama dengan Ardi, adiknya yang terbesar tetapi mereka tetap saling menyayangi.

Kehidupannya berubah drastis, pada waktu ia berumur lima belas tahun. Seorang lelaki teman lama dari kedua orang tuanya datang mengunjungi mereka dan ia mengaku sebagai ayah kandungnya.

 

Bandung 1967

Udara kota Bandung yang dingin, sering membuat Maemunah tidak dapat bangun pagi. Tati teman sekamarnya selalu membangunkan Maemunah dengan menarik selimutnya. Mereka berdua bersahabat, mereka sama-sama kuliah di IKIP Bandung jurusan sastra Inggris.

Mae panggilan Maemunah, berasal dari derah Lampung, sedangkan Tati dari Purwokerto.

Ibu Mae telah meninggal dunia, ia anak ketiga dari empat saudara, kakak pertamanya laki-laki Rahman dan kedua Aisah kakak perempuan, Mae mempunyai adik laki-laki Imron, Mae adalah anak kesayangan ayahnya.

Ayahnya menikah lagi dengan seorang janda yang mempunyai tiga orang anak. Mae tidak menyukai ibu tirinya, mereka sering bertengkar. Bagi Mae, ibu tirinya hanya ingin harta kekayaan ayahnya.

Karena Mae sering membuat keributan, ayahnya mengirim Mae sekolah ke Bandung. Setiap pulang ke rumah orang tuanya untuk berlibur, kembali timbul kekacauan di rumah karena pertengkaran antara Maemunah dengan ibu tirinya. Hal ini membuat ayahnya pusing dan serba salah. Ayahnya meminta Mae untuk tidak berlibur ke rumah…..

Mae kadang ikut Tati teman sekamarnya ke Purwokerto, untuk berlibur. Ayah Tati adalah kepala sekolah dan telah meninggal dunia, ibunya seorang bidan, ia seorang ibu yang baik dan menyukai Maemunah.

Tati aktif di gereja dan di GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) walau Maemunah Muslim tetapi sering ikut hadir  bersama Tati.
Maemunah berkenalan dengan Edison Situmorang, salah seorang teman Tati di GMKI. Edison kuliah di ITB jurusan pertambangan.

Mereka saling jatuh cinta, walaupun Tati sudah berusaha untuk mencegah hubungan mereka. Karena mereka berbeda agama, konsekwensinya sangat besar. Tetapi mereka tidak peduli…. Cinta telah membutakan mata dan akal sehat mereka.

Ayah Maemunah mendengar berita tentang hubungan Maemunah dengan Edison. Ayah Maemunah tidak suka, ia meminta Maemunah pulang kampung untuk dinikahkan dengan pilihan keluarganya. Tetapi Maemunah menolak dengan alasan mau menyelesaikan kuliahnya terlebih dulu.

Tati juga mempunyai hubungan yang cukup serius dengan Suyono atau mas Yono, yang sedang pendidikan di TELEKOM . Suyono juga aktif di GMKI bersama Tati.

Tati belajar dengan tekun untuk menyelesaikan kuliahnya. Karena Suyono pendidikannya hampir selesai, setelah itu ia akan ditempatkan diluar kota Bandung.

Setelah Tati menyelesaikan kuliahnya, mereka merencanakan untuk menikah.

Sementara Maemunah banyak tertinggal dari Tati. Ia tidak terlalu serius belajar. Karena kalau sudah selesai dia harus pulang, ia tidak mau berpisah dengan Edison.

Tati telah diwisuda, Mae baru sedang mengerjakan skripsinya.

Setelah menikah Tati dan Suyono menetap di Sukabumi , karena Suyono ditempatkan di kantor Telekom  Sukabumi.

Maemunah dengan Edison sempat mengunjungi Tati di Sukabumi, setelah itu Tati tidak bertemu lagi dengan Maemunah. Tati pernah mendengar dari salah seorang temannya, bahwa Maemunah telah pulang kampung dan telah menikah. Tetapi ia tidak tahu Maemunah menikah dengan siapa.

Siang itu Tati terkejut sekali melihat Maemunah, ada di depan pintu rumahnya. Maemunah dengan pakaian lusuh tampak lelah dan kotor, perutnya besar dalam keadaan hamil.

Tati langsung memeluk Maemunah dan menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Dipanggilnya Ibunya yang sedang ada bersamanya, melihat keadaan Maemunah ibunya langsung memeluk juga. Mereka menyuruh Maemunah untuk beristirahat lebih dulu. Tati memberikan baju yang bersih, karena Maemunah tidak membawa pakaian, ia hanya membawa tas tangan.

Setelah Maemunah beristirahat dan tenang, baru mereka bertanya apa yang telah terjadi padanya?

Maemunah menceritakan, setelah lulus Edison melamar pekerjaan ke beberapa tempat. Belum sempat mendapat pekerjaan, ia diminta pulang ke kampungnya di Parapat Sumatra, karena ayahnya sakit.
Maemunah merasa sedih harus berpisah dengan Edison, selain itu ia khawatir kalau ini hanya alasan orang tua Edison meminta anaknya pulang, kemudian dinikahkan dengan pariban atau wanita pilihan orang tuanya. Seperti yang sering terjadi, pada teman-temannya.

Sebelum Edison berangkat, mereka  seharian bersama-sama berdua saja di kamar tempat kost Edison dan mereka melakukan hubungan intim seperti layaknya suami istri, yang sesungguhnya tidak boleh mereka lakukan sebelum menikah.

Edison berjanji setelah ayahnya sembuh dan semua urusan selesai, dia akan segera kembali. Bila Edison sudah mendapat pekerjaan dan Maemunah menyelesaikan kuliahnya, mereka akan menikah.

Keesokan harinya, Maemunah mengantarkan Edison ke station kereta api. Edison ke Jakarta terlebih dulu, kemudian dengan kapal laut ke Medan.

Setibanya di asrama Rahman kakaknya bersama sepupunya, sedang menanti Maemunah. Mereka datang menjemput Maemunah untuk pulang ke Kalianda, karena neneknya sakit. Maemunah menolak karena merasa curiga, tidak seperti biasanya kenapa sampai dijemput. Tetapi kakaknya memaksa dia untuk pulang hari itu juga. Maemunah terpaksa ikut kakaknya pulang.

Ternyata mereka menjemput Maemunah, untuk dinikahkan dengan Saiful salah seorang keponakan dari ibu tirinya. Maemunah sangat marah dan berusaha untuk menolak, tetapi semua sudah disiapkan. Ia dijaga dengan ketat seperti pesakitan, mereka takut kalau Maemunah melarikan diri. Maemunah tidak mempunyai kesempatan untuk menghubungi Edison dan ia tidak tahu, di mana Edison berada saat itu.

Seminggu kemudian Maemunah menikah dengan Saiful. Pada waktu Saiful mengetahui Maemunah sudah tidak gadis lagi, ia merasa sangat kecewa. Sebagai laki-laki ia merasa direndahkan. Hal ini membuat Saiful mudah marah pada Maemunah, kalau Maemunah tidak menuruti keinginannya. Tidak segan-segan ia memukul Maemunah.

Baru satu bulan mereka menikah, Maemunah positive hamil. Saiful merasa curiga kalau anak yang dikandung Maemunah bukan anaknya. Saiful bertanya kepada Maemunah, tentang anak yang dikandungnya. Maemunah hanya diam tidak menjawab, membuat Saiful marah.
Saiful mengancam bila anak itu telah lahir, ternyata bukan anaknya. Ia akan membunuh Maemunah dan anaknya. Mendengar ancaman itu Mae merasa ketakutan, karena  Saiful sering berlaku kasar padanya bila sedang marah.

Rohini teman sekampung yang tinggal di asrama yang sama di Bandung. Datang mengunjungi Maemunah dan memberi tahu Maemunah, bahwa Edison datang mencari Maemunah. Rohini memberi tahu, kalau Maemunah telah menikah. Edison tampak sedih dan tidak percaya akan berita itu.

Mendengar cerita Rohini membuat Maemunah ingin pergi mencari Edison karena ia yakin anak yang dikandungnya anak Edison. Tetapi Maemunah setelah menikah tinggal dengan mertuanya di Teluk Betung, tidak bisa keluar rumah dengan bebas dan ia tidak diberi uang. Semua keperluannya sehari-hari mereka yang membelikan.

Maemunah mencari akal untuk melarikan diri dari rumah, Saiful tidak pernah mengijinkan Mae pergi keluar rumah seorang diri. Maemunah mempunyai uang  pemberian dari ayahnya, ia menyimpan uang itu di dalam tas tangan. Setiap ia pergi keluar, ia selalu membawa tas tersebut. Siapa tahu ada kesempatan untuk melarikan diri. Selain itu ia menyimpan perhiasan emas pemberian orang tuanya, waktu ia masih gadis.

Hari itu Saiful pergi ke Jakarta karena ada pekerjaan. Sekitar jam 9.00 pagi, ibu mertuanya menyuruh pembantu untuk belanja ke pasar.

Maemunah minta ikut ke pasar, dengan alasan ingin minum es campur di depan pasar. Pertamanya ibu Saiful tidak mengijinkan, ia minta pembantu untuk membelikannya……. mana enak, rengek Maemunah. Akhirnya ia diijinkan pergi oleh mertuanya.

Sesampai di pasar Maemunah meminta pembantunya untuk pergi belanja, ia akan menunggu di tempat penjual es campur. Kata Maemunah sambil menunjuk ke arah gerobak tukang es.

Setelah pembantu itu masuk ke dalam pasar. Maemunah dengan cepat naik oplet ke Tanjung Karang. Sesampai di sana, Maemunah pergi ke toko emas untuk menjual perhiasan emas, walaupun dibeli dengan harga murah karena tidak ada surat pembelian Maemunah menyetujuinya. Maemunah bermaksud ke Jakarta dengan pesawat terbang. Tetapi hari itu tidak ada penerbangan ke Jakarta.

Untuk menunggu di Tanjung Karang sangat berbahaya, karena mungkin ada yang mengenali dirinya. Bila naik fery dari Panjang ke Merak lebih berbahaya, karena di Panjang banyak teman Saiful. Dan ada kemungkinan ketemu Saiful di sana yang kembali dari Jakarta.

Akhirnya Maemunah memutuskan pergi ke Palembang dengan bis umum. Keesokan harinya Maemunah dari Palembang ke Jakarta dengan pesawat terbang, dari Jakarta semula ia ingin langsung ke Bandung tetapi pasti Saiful akan mengejarnya ke Bandung. Karena itu ia memutuskan pergi ke Sukabumi ke rumah Tati, setelah itu baru ke Bandung untuk mencari Edison.

Mendengar cerita Maemunah, Tati dan ibunya hanya geleng-geleng kepala. Mereka merasa kasihan pada Maemunah, tetapi bagi mereka biar bagaimanapun tindakan Maemunah tidak dapat dibenarkan melarikan diri dari suaminya yang sah. Seharusnya dibicarakan secara baik-baik.
Jika Saiful tidak mau menerima anak dalam kandungan Maemunah, mereka bisa bercerai secara baik-baik.

Maemunah memohon pada Tati, untuk mengijinkan dia sementara tinggal bersamanya. Tati tidak tahu harus berbuat apa, Suyono sedang meeting di Jakarta dan mereka sedang bersiap-siap untuk pindah ke tempat tugas yang baru. Tetapi bila ia menolak, selain merasa kasihan ia juga tidak mau Maemunah pergi tampa kepastian dalam keadaan hamil. Tati merasa takut Maemunah melakukan hal yang membahayakan.

Akhirnya Tati memutuskan untuk menerima Maemunah, sambil menanti mas Yono suaminya pulang.

Diam-diam Tati menghubungi beberapa teman Edison  yang ada di Bandung tetapi mereka tidak tahu di mana Edison berada. Beberapa bulan yang lalu Edison pernah datang sebentar, setelah interview pekerjaan di Jakarta setelah itu tidak pernah ada berita.

Keesokan harinya Maemunah memberi tahu Tati dan ibunya, bahwa ada bercak darah di celana dalamnya. Ibu Tati adalah seorang bidan, ia memeriksa kandungan Maemunah.  Ibu Tati merasa khawatir dengan kondisi bayi dalam kandungan Maemunah. Kemudian ia dan  Tati membawa Maemunah ke rumah sakit.

Kondisi Maemunah yang lemah, setelah menempuh perjalanan jauh dan keadaan jiwanya yang tertekan, mempengaruhi kandungannya. Maemunah mengalami kontraksi dini sedangkan usia kandungannya belum lagi tujuh bulan. Bayinya lahir premature, bayi perempuan berat badannya tidak sampai dua kilo sehingga memerlukan incubator dan perawatan khusus.

Setelah beberapa hari kondisi bayi ada peningkatan, tetapi kondisi Maemunah semakin menurun dan jiwanya tidak tertolong.

Tati tidak tahu apa yang harus dilakukan, sebelum meninggal Mae sempat berpesan agar memberi tahu Edison tentang anaknya dan jangan memberi tahu Saiful maupun orang tuanya.

Tati memandang bayi mungil itu hatinya terenyuh, digendongnya  dan dipeluknya dengan penuh kasih sayang.

Suyono meminta mesjid di dekat rumah, untuk mengurus jenasah Maemunah dan menguburkan secara Islam.

Mereka tidak tahu alamat  Maemunah dan mereka sedang sibuk dengan kepindahan mereka ke tempat tugas yang baru di Pontianak. Dan mereka tidak tahu di mana Edison berada, akhirnya mereka memutuskan mengakui anak itu sebagai anak mereka dan membawa ke tempat tugas yang baru. Tati menamai anak itu Edna…. Edison dan Maemunah.

Edna tumbuh menjadi anak yang lucu dan cantik, Edna telah mencuri hati Tati dan Suyono. Mereka mencintai Edna seperti anak sendiri, walau kemudian mereka mempunyai dua orang anak laki-laki Ardi dan Anto.

Tati tetap ingat akan pesan Maemunah, untuk memberi tahu Edison tentang anaknya. Ia selalu mencari tahu keberadaan Edison melalui teman-temannya, tetapi tidak berhasil juga karena mereka selalu mendapat tugas di luar pulau Jawa…….karena berbagai kesibukan mereka mulai melupakannya.

Pada waktu Edna berumur lima belas tahun, Suyono dipindahkan tugasnya ke Bandung. Tati bertemu dengan salah seorang teman lamanya, ternyata ia bekerja di Pertamina bersama Edison. Dan sekarang Edison bertugas di Pertamina Cirebon.

Tati menulis surat pada Edison, diceritakannya tentang Maemunah dan anaknya Edna.

Edison ingin bertemu dengan Edna anaknya, Tati dan Suyono setuju tetapi dengan syarat, untuk tidak memberi tahu kalau Edison adalah ayah Edna. Karena menurut Tati harus mempersiapkan mental Edna, mereka meminta setelah Edna dewasa…….mereka tidak mau perkembangan jiwa Edna menjadi terganggu, mengingat Edna masih remaja.

Dalam hal ini Edison berbeda pendapat, terutama ibu Edison yang waktu itu sedang ada bersama Edison. Mereka menghendaki memberi tahu Edna bahwa ia berdarah Batak. Karena berdasarkan adat Batak, perkawinan satu rumpun dan satu marga adalah dilarang. Mereka khawatir kalau sampai terjadi akan berakibat fatal.

Suyono dan Tati merasa serba salah, mereka tidak tahu harus bagaimana. Setelah mereka pikirkan secara masak, terpaksa mereka menyetujui permintaan Edison.

Edna menangis tersedu-sedu di pelukan Tati, pada waktu ia mengetahui siapa dirinya. Edna memohon untuk tetap tinggal bersama mereka. Tati tidak dapat menahan tangisnya. Ia berjanji akan tetap menyayangi Edna dan ia bahagia Edna mau bersamanya.

Semua kejadian ini, membuat Edna berubah menjadi anak yang pendiam dan sangat tertutup. Hal ini membuat Tati merasa sedih dan khawatir dengan perkembangan jiwa Edna…..seandainya ia bisa kembali ke masa lalu, Ia ingin Edna adalah anak kandungnya, sehingga tidak perlu berbagi dengan Edison.

……bersambung…

 

 

6 Comments to "Cinta Itu Indah (2)"

  1. Syanti  3 April, 2019 at 08:57

    Lanjutannya sudah saya kirim, memang agak terlambat. Karena saya sedang di Colombo banyak kesibukan dengan teman -teman hehehe dan di Srilanka sedang ada power cut ada kerusakan di pembangkit listrik.
    By the way thank you!

  2. Alvina VB  3 April, 2019 at 07:22

    Wah menarik, ditunggu lanjutannya ya….mumpung masih ada di rumah karena bulan depan cabut lage….kali ini research ke Silk road (Jalan Sutra), sampe ke perbatasan Mongolia, tanah leluhur, he…he….

  3. Syanti  24 March, 2019 at 08:26

    Alvina pasti ada benang merah… Terima kasih atas perhatiannya!

  4. Alvina VB  24 March, 2019 at 04:24

    Syanti, cerita yg di Ceylon 1964 dan Bandung 1967 ada hubungannya/terpisah sama sekali? Atau nanti ada benang merahnya? Cinta beda agama, ras dan kasta banyak tantangannya ya….Ditunggu lanjutan ceritanya.

  5. Syanti  22 March, 2019 at 08:38

    Thanks jas djasMerahPutih!
    Edna masih mencari jati dirinya.
    Terima kasih juga sudah membaca tulisan ini.

  6. djasMerahputih  21 March, 2019 at 21:35

    Sabar ya Edna..
    *hiks

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.