Jalan TOL (Tax On Location)

Jhony Lubis – Jakarta

 

Hi semua, para pembaca Baltyra… semoga sehat n tetap rational dalam membaca semua berita. Kita boleh berbeda pendapat, berbeda pilihan, berbeda dalam semua aspek…. Tetapi yang mempersatukan di Baltyra adalah keinginan membaca, menulis dan membuka wawasan serta menambah pertemanan…*smile

Sebagai pembuka, saya bukan simpatisan ke dua capres yang bertanding saat ini, jujur jago saya tadinya adalah mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo dan beliau tidak ikut menjadi kandidat capres karena tidak punya parpol yang mendukung. Saya juga bukan loyalis parpol, setiap pemilu saya ganti parpol berbeda karena saya pemilih kritis dan rasional…. *smile

Back to topic…. Sehingga saya berusaha objektif dalam membuat tulisan artikel dengan mengutamakan rasional logika dan pengetahuan terbatas yang saya miliki. Beberapa tahun ini dan hingga berita terbaru, kita lihat mengenai diskusi atau berita tentang peresmian jalan TOL termasuk berbagai masalahnya mulai dari terendam banjir TOL di Jatim hingga tarif mahalnya bagi pengemudi truck yang terbatas ongkos jalan yang diterimanya dari perusahaan/pemilik truck.

Apa sih artinya jalan TOL, sesuai pengetahuan saya yang terbatas jalan TOL (Tax on Location) adalah jalan berbayar dengan tujuan memperpendek dan lancar sehingga mempercepat sampai tujuan pengecualian definisi TOL untuk ruas Lingkar dalam dan luar Jakarta yang berbayar tetapi lebih sering padat merayap khususnya di hari dan jam kerja bahkan sampai jam 9 malam juga masih padat jalur TOLnya…*smile

Kalau kita perhatikan di setiap sisi (jauh/dekat) dari jalan TOL terdapat jalur umum tidak berbayar yang bisa dipergunakan oleh semua masyarakat mulai dari pejalan kaki, sepeda, becak, motor termasuk gerobak pedagang, truck, bus, angkot dan mobil pribadi, bila dilihat penggunanya maka hampir meliputi semua lapisan masyarakat banyak sehingga diharapkan kualitas dan kelayakan jalan umum tidak berbayar harus bagus mengingat terdapat APBD seperti pajak STNK semua kendaraan bermotor, PPJ (pajak penerangan jalan) termasuk anggaran APBN untuk pembangunan dan perawatan fasilitas umum.

Dengan adanya anggaran tersebut maka jalur tidak berbayar seperti jalur nasional Pantura, Jalur Selatan di pulau Jawa sewajarnya harus layak jalan termasuk jalur lintas barat, tengah, timur Sumatera atau jalur nasional/provinsi tidak berbayar lainnya di seluruh wilayah Indonesia.

Bila kita logikakan maka prioritas sewajarnya adalah pembangunan jalan umum berkualitas tidak berbayar mengingat pemakaianya semua lapisan masyarakat dan lebih banyak penggunanya setiap harinya dan juga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi warga sekitar jalan umum tidak berbayar.

Kenapa logikanya bukan TOL? Banyak argumen yang bisa dibahas dengan berbagai perspektif kajian, tetapi perlu diingat bahwa utility harus dijadikan parameter dalam menilai sebuah infrastruktur jalan. Silahkan diamati sebagai contoh jalur TOL Cipali atau hingga Jawa Timur, apakah ramainya seasonal atau setiap hari? Kebetulan saya pernah bertugas dan mempunyai kewenangan meliputi wilayah Karawang, Cikampek, Purwakarta dan Subang dan hampir setiap hari saya pakai jalan TOL Jakarta-Cikampek termasuk TOL Lingkar Luar yang relative murah dan menjadi nadi kawasan industri sekitarnya (Tambun, Cikarang, KIIC, Mitra Karawang, kawasan Industri Kujang sampai kawasan Indotaise dll) termasuk jalur untuk ke pelabuhan Tanjung priok dan pelabuhan Merak.

Lalu bagaimana dengan TOL Cipali di hari dan jam kerja? Dulu saya pakai bila ke dinas ke Subang dan sangat lenggang atau utilitynya relative rendah sehingga bila diperhitungkan BEP investasinya tentunya akan lama bila melihat kondisi saat tersebut. Kebayang TOL Cipali hingga Jawa Timur di hari dan jam kerja, apakah ramai sehingga utilitynya maksimal dan membuat tercapai tujuannya? Saya tidak tahu, silahkan amati sendiri bila melaluinya. Ingat lihatnya bukan saat seasonal libur 3 hari atau jelang dan sesudah hari raya Idul Fitri (periode mudik lebaran) atau hari raya lainnya.

Kemudian pembanding lainnya dengan jalur tidak berbayar yang dipergunakan oleh banyak masyarakat di pulau Jawa atau Sumatera dll, apakah memenuhi syarat kelayakan untuk dipergunakan oleh masyarakat umum sehari-hari? Silahkan amati….. *smile   

Dari pengamatan anda, maka anda bisa menilai dengan objektif terkait optimalisasi utility dari infrastruktur dan penentuan skala prioritas pembangunannya antara jalan umum tidak berbayar dengan jalan TOL….*smile

Jangan sampai ada komentar, silahkan yang mau pakai TOL dan yang tidak mau pakai TOL itu pilihan…. Karena itu menggambarkan ego tanpa logika sebab bila dilihat jumlah penggunanya (utility) maka prioritas harus untuk bangun jalan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat setiap harinya.

Logika saya, jalur TOL dibangun setelah jalur tidak berbayar layak pakai oleh masyarakat umum sehingga TOL jadi jalan pelengkap/pendamping untuk masyarakat yang mau membayar dan membutuhkan kecepatan waktu sampai tujuan. Peran utama pemerintah adalah membangun infrastuktur kebutuhan masyarakat luas yang utilitynya besar sehingga memberi value bagi pembangunan wilayah.

Ayo jangan dibawa ke ranah politik karena akal, logika dan pengetahuan seharusnya tidak akan terpengaruh dengan pilihan Parpol dan Capres anda…. *smile

 

Note: Bila jalan tidak berbayar sudah layak pakai maka TOL silahkan dibangun di seluruh wilayah Indonesia yang membutuhkannya.

 

 

14 Comments to "Jalan TOL (Tax On Location)"

  1. djasMerahputih  24 March, 2019 at 12:35

    @Inakawa
    Nggak setuju juga sih kalo disebut diskriminasi. Peruntukan TOL memang bukan utk semua golongan. Tol terutama diperuntukkan bagi pelaku ekonomi yg butuh kecepatan dan akurasi waktu serta efektifitas penggunaan bahan bakar dalam operasional mereka. Tentu ada hitung2an keekonomian dlm hal ini. Dan perspektif setiap golongan bisa saja berbeda. Tapi pilihan harus tetap diambil, apapun komentar para ahli di luar sana. Itu tugas para pengambil keputusan.

  2. Alvina VB  24 March, 2019 at 04:02

    TOL di sini rata2 udah gak bayar lage, karena batas waktu tertentu, uang pembangunan TOL tsb telah terlunasi oleh pemakai jalan dan selanjutnya utk maintenance, ya pemerintah donk yg nanggung, lah wong kita dah bayar tax tinggi kok. Di Indonesia ribet dech…. TOL cuman dijadiin bisnis doang, macet tetep aja macet banjir ya tetep aja banjir. Jalan macet dan banjir kok bayar? Malah sekarang bisa bayar polisi pula/apa itu namanya? buat buka jalanan yg macet di TOL, LOL

  3. Jhony_lubis  23 March, 2019 at 21:42

    bro djas merah putih apakah jalan biasa (tidak berbayar) tidak membuka konektivitas antar wialyah selama ini seperti jalur pantura atau jalur selatan termasuk jalur lintas lainnya? apakah hutang bisa di gunakan tanpa melihat skala prioritasnya? apa yang paling dibutuhkan rakyatnya saat ini? *smile

    semua jalan yang dibuat akan membuka konektivitas dan semua pembuka konektivitas diawali dengan perintis, seperti jalan perintis, penerbangan perintis dan pelayaran perintis buka jalan TOL…

    Bung Karno buat HI dan senayan dalam rangka Asia Games dimana belum ada hotel yg memenuhi standar untuk delegasi olahraga Asia dan menunjukan harga diri bangsa Indoensia di kalangan negara Asia… jadi krn kebutuhan dibangunya…* LoL

    tks bro diskusinya..

  4. EA.Inakawa  23 March, 2019 at 09:43

    Seyogiyanya jalan TOL atau jalan biasa tanpa bayar harus bagus tanpa hambatan merupakan fasilitas Publik yang harus disediakan Pemerintah, ini wajib !…..semua lapisan Rakyat berhak menggunakannya, mengingat Pemerintah sudah mengutip pajak, yang dipergunakan untuk pembangunan jalan dsb nya.
    Sebenarnya apa yang kita alami saat ini, masuk TOL harus bayar adalah bentuk diskriminasi atas kemampuan ekonomi rakyat, buat saya pribadi ini bukan keadilan.
    Salam Baltyra

  5. djasMerahputih  22 March, 2019 at 19:38

    Pertanyaan yg bagus bro Lubis. Memahami filosofi big frame cukup mudah, bagaimana Bung Karno membangun Monas dan HI, Ibu Tien membangun Taman Mini hingga Jokowi membangun wilayah perbatasan serta wilayah Timur Indonesia.

    Hulunya adalah visi pemimpin dan mindset rakyat Indonesia. Ingin tetap menjadi bangsa medioker atau menjadi adidaya.

    Untuk menjadi besar kita butuh bersinergi. Sinergi akan tumbuh jika ditunjang konektifitas antar wilayah.

    Kita boleh memilih untuk tetap di jaringan 2G atau bersaing di jaringan 5G. Saya pribadi sih milih jaringan 5G, dan kuncinya adalah infrastrukur jaringan.

    Kalo terlihat tidak ekonomis, ya itu hanya masalah waktu dan iklim transisi yg ada. Bukan masalah sekarang tidak rame berarti jalan tol ngga perlu dibangun..

    Ini hanya masalah mindset. Tak lebih tak kurang..

    Lanjut ngopi..
    Salam Kenthir

  6. Jhony Lubis  22 March, 2019 at 14:38

    Tks bro djas merah putih, apa contoh dr filosofi big frame dr buat Tol? Kalau tol sepi apa merupakan loncatan? Feasibility study apa yg jadi pertimbangan buat jalan tol? Sementara jalur biasa tidak berbayar kurang baik…. Penasaran aq bah…

    Info saja pernah saya baca rencananya tarif tol rangenya rp.1000-1300 per Km… Jadi bila anda jalan 300 km artinya bayar tol perkiraan 300 ribu – 390 ribu belum bensin tanpa jajan… LoL

  7. djasMerahputih  21 March, 2019 at 21:15

    TOL dibuat bukan hanya utk mengurai kemacetan tapi juga untuk mengakselerasi denyut perekonomian. Cakupannya long term dan filosofinya ke arah big frame.

    Kita boleh memilih melompat dan melesat atau sekedar jalan santai. Kalo sdh jadi negara maju sih mending nyante aja… hèhehe

    Ngopi dulu…
    Salam Kenthir

  8. Jhony Lubis  20 March, 2019 at 16:46

    Tks komennya bro James, jalan Tol banjir sejak dulu lihat saja historisnya jalan Tol ke bandara Soetta yang dibangun diatas rawa2 yang merupakan lokasi penampungan air hujan. Sekarang tambah sebagian dari Tol baru diresmikan juga tergenang banjir

    Bandung banjir krn infonya secara tekstur wilayahnya hampir seperti mangkok dimana dataran tingginya disekelilingnya dan ditengahnya cenderung rendah sbg lokasi banjir.

  9. James  20 March, 2019 at 10:39

    ci Lani, jalan TOL di Kona Banjir gak ? Airport nya Banjir gak ?

  10. James  20 March, 2019 at 10:36

    mengapa jalan TOL di Indonesia Banjir yah ? belum pernah dengar kalau di LN jalan Tol Banjir, bilamana macet juga hanya sebentar saja selama Kecelakaan itu di benahi, begitu juga daerah dataran tinggi spt Bandung bisa Banjir ? luar biasa…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.