Menyerah Ku Mengejar Gallina

Dwi Setijo Widodo

 

Tinggal di perkampungan memang selalu ada cerita tak terduga yang berasal dari sekitar rumah. Tak terkecuali dimana saya tinggal saat ini, Desa Batu Bulan Kangin, tepatnya di Gianyar, Bali.

Maksud saya, saya ingin bercerita tentang seekor ayam, katakanlah usia remaja kalau diumpamakan manusia yang tiba-tiba pagi-pagi beberapa hari lalu masuk ke dapur rumah dan nangkring di atas kulkas. Saya yang sedang di ruang depan karena bersih-bersih dan berbenah, kaget dengan suara barang-barang jatuh disertai ciap-ciap khas suara ayam. Segera saya ke belakang dan melihat si ayam yang rupanya masuk dari jendela dapur sedang memporak-porandakan beberapa barang di atas kulkas. Waduuuh…

Refleks, apalagi saya habis mengepel lantai, mata saya langsung melotot dan dengan segera mengusir si ayam yang sudah bikin rumah saya kotor lagi. “Hush…hush…” Saya kejar dia.

Terkejut, si ayam terbang keluar pintu samping. Saya juga ikutan terkejut karena ternyata si ayam mampu terbang cukup tinggi menghindari terkaman saya. Menuju halaman dan segera keluar pagar rumah. “Wah, jangan-jangan ini bukan ayam, tapi seekor burung. Sejenis puyuh kali ya?” Begitu saya pikir saat itu. Apalagi bulunya mirip. “Ah, biarlah, yang penting si ayam sudah pergi,” sambil lalu saya bergumam sendiri dan melanjutkan bersih-bersih rumah.

Saya tidak menyadari kalau kemudian si ayam yang tadinya keluar pagar rumah ternyata diam-diam kembali masuk halaman rumah. Setelah selesai pekerjaan rumah, baru saya mengetahui kalau si ayam itu sedang asik-asik dan tenangnya keliling halaman sambil tak henti mematuk-matuk setiap jengkal tanah yang dilewati untuk mencari makan.

“Hmm…ayam siapa sih kira-kira ini, kok bergaul sampai nyasar jauh dan seenaknya main masuk rumah orang?” Terus terang, saya mulai khawatir dengan bibit-bibit tanaman dalam polibag dan pot-pot kecil yang sedang saya semaikan dan rencananya saya mau jual. Juga beberapa tanaman lain di halaman yang sudah dirapikan. Saya tahu dan ingat betul kalau ayam suka membongkar tanah dan main caplok dedaunan sebagai lalapan makanannya.

“Waduh, bisa celaka kalau sudah begini…” Saya langsung jadi tak tenang. “Ah, kalau begitu, besok saya akan coba tanya tetangga sebelah rumah siapa pemilik ayam nyasar ini,” saya memutuskan malam itu. Sementara si ayam, saya tahu esok paginya, hebatnya diam-diam semalaman nyempil dan menginap di bawah pohon sawo di halaman depan.

Esoknya, saya iseng bertanya soal si ayam ke Pak Nengah, tetangga sebelah kiri rumah saya yang kebetulan sedang di luar. Sementara saya sedang menyiram tanaman di depan pagar rumah saya. “Pak Nengah, ada ayam nyelonong masuk rumah saya. Bapak kira-kira tahu siapa pemiliknya? Kasihan pasti sedang dicari-cari,” saya mengawali pembicaraan.

“Kurang tahu, Mas. Mungkin tetangga yang di belakang karena di sana banyak ayam juga. Tapi sejauh ini tidak ada yang mencari tuh,” jawab Pak Nengah. “Sudah, gak papa, dipelihara aja, Mas,” lanjut Pak Nengah memberikan saran.

“Haha! Buat apa, Pak? Kasihan nanti, karena saya kan suka pergi-pergi dan lagian saya tidak makan daging,” tukas saya sambil terkekeh dengan jawaban beliau. “Sudah, Pak, ambil saja, dipelihara Bapak nanti,” saya ganti mengusulkan karena saya tahu beliau suka memelihara ayam. Terbukti beberapa kali ada beberapa ekor ayam kate terlihat dipelihara di beberapa kurungan yang diletakkan di halaman kosong di seberang rumah beliau. Sekarang pun, meskipun ayam-ayam kate itu menurut penuturan beliau telah laku dijual, masih ada seekor ayam jago yang awet dipelihara.

Di luar dugaan, beliau menyetujui dan tentu saja, saya senang sekali. Apalagi hari itu, meski baru esoknya Pak Nengah bersama Ari, anak lelakinya yang masih sekolah SD itu, berhasil menangkap si ayam setelah beberapa kali harus berkejaran petak umpet di dalam halaman saya, si ayam mulai buang kotoran seenaknya di lantai beranda rumah dan menginjak-injak tanaman saya. Saya pun hanya bisa pasrah dan membersihkan kotoran si ayam. Kasihan juga saya pikir. Makanya, saat menjelang maghrib, saya yang melihat si ayam berusaha terbang naik ke cabang pohon cempaka untuk tongkrongan istirahatnya tapi kemudian terjatuh, lalu saya tangkap dia dengan tanpa perlawanan dan bantu letakkan di salah satu dahan pohon kamboja yang dekat dengan cempaka. Malam itu, si ayam menginap lagi di rumah saya.

“Ciap…ciap…” Saya mendengar suara si ayam di halaman saya lagi. Setelah sehari ditangkap oleh Pak Nengah dan Ari dan dimasukkan ke dalam kurungan di rumahnya. “Lhoh, kok bisa? Apa lepas nih si ayam?” Saya penasaran mengikuti arah suara. Ternyata betul! Si ayam yang sama sedang asik berkeliaran di halaman samping rumah. “Aduh!” saya kembali khawatir dengan tanaman saya. Terbukti hari itu dia mematahkan satu tunas bibit nilam yang saya bawa dari Gorontalo beberapa minggu lalu yang mulai bersemi tunas-tunasnya. Juga membongkar sampah dedaunan kering yang sengaja saya kumpulkan di satu lubang untuk dibuat kompos. Yang paling bikin kezzzell, lagi-lagi, dengan gagahnya berani buang kotorannya di beberapa tempat. Pak Nengah pun sepertinya tidak mau mencari. Jadi, bagaimana ini?

Gallina siap-siap mengaduk lubang sampah kompos

Gallina ternyata tak takut saat difoto

Malu-malu Gallina saat difoto

Hari ini, sudah lima hari si ayam nyasar. Genap empat hari dia bertahan dan nyaman di halaman rumah saya, serta tambah sehari menginap di rumah Pak Nengah. Apalagi saya beberapa kali kasih dia makan. Makin bertahan dia di rumah saya. Namun, saya mulai senewen karena saya pernah mencoba mengusirnya keluar halaman rumah supaya pergi kembali ke pemiliknya, tepat sehari setelah si ayam diam-diam keluar dari kurungan Pak Nengah dan kembali masuk halaman rumah saya, ternyata…srruttt…kembali dia berhasil menyelinap masuk melalui sela-sela pagar besi rumah yang memang terbuka cukup lebar dan mendekam kembali di halaman rumah. Saya pun kehilangan akal.

Nunuk, sahabat saya yang kebetulan sedang menginap di rumah sejak semalam sebelumnya karena perjalanan transit dari Malang sebelum kembali pulang ke Australia dan tahu cerita saya akhirnya memberikan usulan untuk mencari kurungan saja. “Tinggal dipindah-pindahin kurungannya nanti. Yang jelas, jadi gak repot ngusir-ngusir karena dianggap merusak tanaman dan bikin kotor,” demikian dia memberikan solusi. “Walah, ya jadi repot, dong Nuk, karena aku berarti memelihara dia dan kudu memberi makan. Padahal selama ini di luar kurungan dia bisa cari makan sendiri. Apalagi, bagaimana kalau aku pergi-pergi?” Saya mencoba berargumentasi.

“Ya sudah, cari saja orang yang punya. Kalau enggak, usir lagi keluar halaman rumah saja ayamnya. Gampang. Jangan bilang kasihan. Karena berarti kamu gak mau dia pergi,” tegas Nunuk. Kami pun tergelak bersama.

“Iya juga, tapi memang kasihan juga ya nanti…karena terbukti dia gak tahu mau kemana…” saya bergumam. “Nah, kalau kasihan, berarti beliin kurungan,” sambung Nunuk sambil tertawa lagi saat mendengar kata kasihan dari saya. Saya pun jadi ikutan tertawa karena bingung mana solusi yang menyenangkan untuk semuanya.

“Tahu gak, kalau dalam Bahasa Italia, ayam betina disebut dengan ‘gallina’,” Tiba-tiba Nunuk nyeletuk. Nunuk memang bisa Bahasa Italia. “Wah, iya Nuk. Kan ayam Latinnya gallus,” sahut saya. “Kalau begitu, dia dinamakan Gallina aja. Gallina ganjen,” kata saya lagi yang disambung dengan tawa kami berdua. Si Gallina tak menyadari menjadi bahan tertawaan kami.

Hari ini, saya akhirnya menuruti saran Nunuk. Saya kejar dan mengusir si Gallina untuk keluar halaman. Berhasil! Gallina keluar pagar dan jalan-jalan cukup jauh. Namun, ternyata itu hanya selang beberapa saat. Karena tiba-tiba dia nongol lagi di halaman saya. Berulang kali begitu. “Jangan-jangan, ini ayam jadi-jadian, deh Nuk… Penjelmaan orang. Makanya aneh, kenapa kok gak mau pergi dari rumahku.” Saya mulai berkhayal dan Nunuk pun lagi-lagi tertawa. “Kamu itu ada-ada saja!”

Sorenya, berkali-kali mencoba, saya capek pun mengejar-ngejar Gallina setelahnya.  Malah jadinya saya stres tahu ini bakalan kayak adegan “Tom & Jerry”. “Biar sudah. Kasihan, Nuk,” begitu akhirnya saya menyerah memahami Gallina sepertinya tak punya tempat dituju. Beberapa kali diusir, sendirian maupun berdua dengan Nunuk seperti menjaga dua gawang lapangan sepak bola, juga dibantu teman saya Asri yang ikutan mengejar-ngejar saat sore itu datang karena saya undang makan malam di rumah, beberapa kali pula Gallina dengan ganjennya menyelinap masuk kembali. Seterusnya begitu. Saya sampai pada keputusan, menyerah dan pasrah, membiarkan Gallina berkeliaran di halaman rumah saya. Tapi saya tetap tidak mau mengurusi. Lagian, bukan mau saya. Siapa suruh dia datang dan tidak mau pergi-pergi? Jadi, saya biarkan saja Gallina mencari makan sendiri menjelajahi kemampuan keperibinatangannya mengelilingi halaman saya. Yang penting, jangan sekali-kali mengobrak-abrik halaman saya. Kalau sampai iya, yang mau adopsi, silakan dengan senang hati. Karena Gallina, aku sudah menyerah mengejarmu…

——————————–

Salam

 

 

3 Comments to "Menyerah Ku Mengejar Gallina"

  1. Alvina VB  24 March, 2019 at 04:42

    Ha…ha….James, punya pikiran yg sama. Ini ayam digoreng aja dan kl muncul lagi, berarti ini ayam jadian, LOL

  2. djasMerahputih  21 March, 2019 at 21:25

    #SaveGallina

  3. James  20 March, 2019 at 10:53

    sebaiknya di Goreng langsung di jual Ayam gorengnya sekalian, selesai perkaranya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.