Dari Jogja, Jokowi Teguh Melawan

Andi Setiono Mangoenprasodjo

 

Sehari sebelum Jokowi hadir di Jogja, saya menyambutnya dengan sebuah tulisan yang intinya mengingatkan bahwa dirinya sedang direcehkan habis! Wibawanya dipreteli, prestasinya dianggap gak penting, dan terutama elektabilitasnya (meminjam istilah ESF) sedang dihukum! Saya sampai menitikkan air mata merasa ikut terhina, sedemikian rendahnyakah budi-pekerti anak bangsa kita di hari ini? Iri itu boleh (karena disimpan di hati), tapi dengki jangan (karena dipertontonkan di muka umum).

Pilihan kata “dihukum”, itu sejenis trial by press, cara barbar menghakimi tanpa pengadilan, dengan hanya menyinggung emosi publik. Di sini sesungguhnya tak dibutuhkan validasi data (apalagi kebenaran), cukup sentuh saja sisi paling kerdil dari otak manusia yang disebut croc-brain yang melulu melibatkan sentuhan emosi. Contohnya: ketika kita sedang bersyukur bisa beli sepeda, lalu katakan kalau si X yang jadi pemimpin kamu harusnya malah bisa beli motor. Kalau bisa beli motor, harusnya mobil. Begitu seterusnya, sehingga apa pun prestasi yang kita raih rasanya, tak ada harganya sama sekali.

Dalam bahasa yang populer hari ini, dari sisi spiritual sering disebut kufur nikmat, walau dalam bahasa politik sebagai gagal menepati janji kampanye. Apa yang dikatakan oleh Tuanku Guru Bajang sebagai menghiba dirinya lapar, tapi di mulutnya masih belepotan sisa nasi dan lauk yang lupa dibersihkan. Bisa dimaklumi bila era ini disebut Tom Nichols sebagai “The Death of Expertise”, Matinya Kepakaran. Contoh paling valid yang paling sering digunakan adalah ketika netizen lebih percaya kepada Neno Warisman ketimbang Dr. Sri Mulyani, juga lebih memilih pendapat artis Rachel Maryam dibanding Prof. Reinald Kasali, dan yang absurd puas dengan paparan Rocky Gerung ketimbang penjelasan Prof. Mahfud MD. Dan ujungnya semua adalah salah Jokowi!

Lalu kenapa baru sekarang? Kenapa memilih Jogja, Dan apa yang sebenarnya akan dilawan? Pertama, ini memang sudah waktunya! Kampanye Pilpres dan Pileg yang terlalu panjang, bukan saja melelahkan tapi terutama membosankan. Dan satu-satunya yang diuntungkan adalah para peminat golput!

Golput adalah jawaban bagi orang yang merasa dirinya kritis, walau sebenarnya otaknya tidak mampu memilah input yang membludak di kepalanya. Titi mangsanya juga pas, ketika kampanye terbuka mulai dilakukan. Ini menjelaskan kenapa berbagai deklarasi itu dimulai dari Jakarta dan diakhiri di Jogja, dengan rentang waktu di dalamnya berputar di banyak kota lain. Juga menjelaskan kenapa pilihannya adalah deklarasi, karena para pendukung Jokowi ingin menunjukkan bahwa kelompok “menengah-intelektual” yang selama ini diprejudice sebagai a-patis dan a-politik tidak diam saja menghadapi fenomena the death of expertise di atas.

Mula-mula merekalah yang melakukan perlawanan terhadap berbagai penyebaran fitnah, hoax, dan ujaran kebencian. Wajar jika di ujungnya, Sang Petahana menyatakan bahwa saya juga akan ikut melawan! Hal ini menunjukkan bahwa di luar Jokowi secara moral berterima kasih atas dukungan yang diberikan selama ini, juga mengukuhkan kenegarawanannya bahwa ia tidak mengemis dukungan, pemahaman, dan pengertian dari rakyatnya.

Terlalu cepat ia mengatakan akan melawan, mudah diduga ia akan dianggap “melawan sebagian rakyatnya” sendiri. Kelompok rivalnya akan menghujatnya sebagai gagal menjadi pemimpin yang bersedia duduk di tengah, mengayomi semua pihak, anti-kritik, bahkan salah-salah dianggap rezim otoriter. Dua minggu sebelum waktu masa tenang adalah waktu terbaik untuk menunjukkan bahwa dirinya bukanlah pribadi yang mudah diinjak-injak, difitnah, dan direcehkan!

Kenapa di Jogja? Di luar Jogja adalah kota paling bertuah untuk hal-hal yang sifatnya pendirian ini itu, awal gerakan moral ini itu, hingga sering disebut ibukota nurani Indonesia. Jogjalah kota pertama yang mengulurkan tangannya ketika RI baru berdiri dan terusir dari Jakarta. Ia tidak saja memberi tempat, tapi sekaligus membiayai seluruh biaya pemerintahan awal. Di kota ini pula Sukarno, mencanagkan untuk membawa pulang Papua ke pangkuan ibu pertiw melalui Perjuangan Trikora.

Tapi itu bagian terbaiknya, bagian terburuknya adalah di luar di kota ini para pendukung paling militan Jokowi berasal, juga para musuh politik terbesar Jokowi berasal. Siapa saja mereka? Di sini boleh disebut nama Si Mbah AR dan “Si Cak Itu” (saya memilih menyebutnya sesingkat itu saja). Walau dalam banyak hal keduanya berseberangan, dalam hal Jokowi keduanya Ipin Upin. Lalu apa momentum yang digunakan? Nama acaranya dipilih cukup puitik “Alumni Jogja Satukan Indonesia”. Sependek yang satu tahu, mula-mula acara ini diinsiasi para alumni ISI saja, tapi membesar merangkum semua orang yang pernah berbau Jogja. Lalu dipilihlah Stadion Kridosono, yang sebenarnya untuk ukuran saat ini adalah stadion paling kecil, paling sederhana, sekaligus paling tidak terawat di Jogja. Stadion ini adalah masa lalu yang ditinggalkan! Namun juga disini pula letak sisi puitiknya, jangan sekali-sekali melupakan sejarah! Stadion ini memiliki aksis, garis lurus langsung dari UGM, kawah candradimuka dimana Jokowi kuliah dan ditempa secara intelektual sebagai manusia.

Hari ini, ia dipaksa menaiki sepeda onthel bercargo, bekas sepeda pak pos tempo doeloe. Jogja mengeksploitasi habis sisi kesederhanaan Jokowi. Menonjolkannya, tanpa keinginan menutupinya. Hal mana yang selama ini justru digangsir sebagai ketidak berdayaannya, kelemahan karakternya, dan yang paling keji dilecehkan bukan berasal dari kalangan kelas jetset!

Lalu terakhir apa yang akan dilawan? Sesungguhnya tidak ada! Dan semoga tak perlu ada. Jokowi hanya ingin menunjukkan bahwa ia tidak pernah takut dan sangat memperhatikan keprihatinan mendalam para pendukungnya saat ia sedemikian direcehkan. Ia hanya ingin bergandengan tangan erat dengan pendukungnya. Ia sangat belajar dari Ahok yang tampak mbentoyong, kebingungan dan tanpa perlawanan, ketika dirinya dipojokkan, lalu terpojok betul dan dihabisi. Ia menyadari betul resiko yang harus ditanggung ketika ia terus menerus diam, tampaknya paham hanya dengan bersuara keras lah ia bisa menyatukan kembali barisan yang sempat tercerai berai. Ia mengembalikan harga diri para pendukungnya, yang turut dilecehkan. Ia makin mengerti harga yang harus dibayar, apabila ia terlalu mudah menyerah kalah hanya karena tidak tahan oleh segala kebisingan dan kepekakan sesaat itu. Dan pada akhirnya: Ia adalah seorang laki-laki rendah hati yang bersimpuh di atas panggung, ketika doa dilantunkan untuknya…

Percayalah kata “lawan” itu, hanya sebuah negasi puitik sekaligus retoris. Demarkasi sementara dalam masa kampanye terbuka. Benang merah respek dan kasih sayang pada para pendukungnya. Tak ada niat jahat apapun di dalamnya, tak ada motif dendam sama sekali. Kalau ada, lalu apa bedanya kita dengan mereka? Karena pada akhirnya, baik musuhnya, kawannya, bahkan mereka yang menyatakan golput adalah rakyatnya juga. Yang harus dirangkulnya, diayomi, dan disejahterakannya. Poin terpentingnya ia adalah seorang pemimpin sejati di hari ini yang sangat butuh kita kancani. Dan itu kewajiban bagi setiap orang baik di negeri ini!

 

 

18 Comments to "Dari Jogja, Jokowi Teguh Melawan"

  1. Alvina VB  30 March, 2019 at 00:22

    Ups typo, lampu ijo maksudnya. Komen dengan link belum muncul.

  2. Alvina VB  30 March, 2019 at 00:20

    Iya, Djas, serius kejadian. Gak tahu nich moderator belum kasih lampu iso buat link beritanya muncul di sini.

  3. Alvina VB  30 March, 2019 at 00:18

    Yes, no kidding Djas, ini linknya: https://www.bbc.com/news/technology-37921376

  4. djasMerahputih  28 March, 2019 at 15:34

    Hal biasa dlm persaingan sama dgn biasanya berbeda perspektif… Itu membuat cerdas dan dewasa… Selama akal, logika dan pengetahuan dipakai dgn sehat, objektif dan terukur sesuai kondisi nyata
    ——-
    Sepakat.. negeri ini butuh oposisi yg cerdas, bukan yg hoby bikin hoax…
    *big smile

  5. djasMerahputih  28 March, 2019 at 15:30

    Kaya waktu Trump menang, immigrasi Canada langsung ngebludak dan sempet crashed websitenya, karena banyaknya warga US yg minat pindah ke Canada, wkkkkkk…..
    ———
    Ini serius kejadian mba Avy..??

  6. Jhony Lubis  28 March, 2019 at 15:04

    Salah satu indikator nyata data BPS terkait data Ekspor-import Indonesia selama periode 2018.
    Neraca Indonesia 2018 menunjukan kinerja kementrian terkait dibawah kordinasi presiden…. *smile

    Google saja… Artikelnya juga ada di baltyra…

  7. jhony lubis  28 March, 2019 at 12:45

    Hal biasa dlm persaingan sama dgn biasanya berbeda perspektif… Itu membuat cerdas dan dewasa… Selama akal, logika dan pengetahuan dipakai dgn sehat, objektif dan terukur sesuai kondisi nyata… *smile

  8. Alvina VB  28 March, 2019 at 12:27

    Yang punya hak memilih, jangan jadi golput pemilu y.a.d.! Gunakan hak pilih anda!!! Semoga aja….Rusia kagak usil ngurusin pemilu di Indonesia melalui sosial media, kebayang gak kl yg nomor dua menang? Pasti banyak yg kabur ke LN, terutama ke negara2 tetangga! Kaya waktu Trump menang, immigrasi Canada langsung ngebludak dan sempet crashed websitenya, karena banyaknya warga US yg minat pindah ke Canada, wkkkkkk…..

  9. Sumonggo  28 March, 2019 at 11:45

    Selesai Pemilu akan memasuki bulan puasa, berlanjut ke Lebaran. Semoga semuanya damai kembali. Yang sempat “berantem” monggo salam-salaman lagi. Makan ketupat bareng. Main benthik bareng. Main kelereng bareng juga boleh, tapi kelerengnya bawa sendiri-sendiri …. ha ha …..

  10. Perselingkuhan Intelek  28 March, 2019 at 11:26

    Pengawalnya semua pasti ikutan ber Onthel ria

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.