Cinta Itu Indah (3)

Syanti

 

Artikel sebelumnya:

Cinta Itu Indah (1)

Cinta Itu Indah (2)

 

Cinta membuat mereka lupa akan norma kehidupan dan tidak memikirkan akibatnya…… Edna menganggap cinta adalah suatu kebodohan.

Karena kebodohan sepasang manusia dia dilahirkan, bila mengingat semua itu timbul rasa marah di dalam dirinya. Karena itu ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Edna mengetahui baik Tati maupun Edison, sama-sama merasa memiliki dirinya dan berusaha untuk menunjukkan kasih sayang kepadanya.

Karena itu setelah dewasa ia memutuskan untuk hidup sendiri.
Pada waktu ia kuliah di Bandung, ia menolak ajakan ayah kandungnya Edison untuk tinggal bersamanya, yang kebetulan sedang bertugas di Cimindi dengan alasan terlalu jauh ke tempat kuliahnya. Sementara keluarga Suyono mendapat tugas di Jakarta.

Setelah menyelesaikan kuliahnya di National Hotel Institute, Edna memutuskan untuk bekerja di Bali.

Edna ingin hidup jauh dari kedua keluarganya, baik orang tua angkatnya maupun orang tua kandungnya.

Baru beberapa tahun bekerja di Bali, Edna mendapat pekerjaan di Colombo Srilanka. Baik Tati maupun Edison, tidak setuju dengan rencana Edna. Mengingat Srilanka sedang dilanda perang saudara, berdasarkan berita yang mereka dengar sering terjadi ledakan bomb yang banyak memakan korban jiwa.

 

Srilanka 1997

Lahiru dibesarkan di Walawwa bersama achiama dan Manil lokhu nenda, sedangkan Samantha dibesarkan di mission house bersama priest seeya tetapi setelah dewasa Samantha tinggal bersamanya di Walawwa. Karena setelah priest seeya pension tidak tinggal di mission house lagi. Mereka tinggal bersama keluarga Roshan mame kakak ibunya.

Achiama lokhu Menike, sejak Lahiru masih kecil mengajarkan Budhism. Sementara Lahiru sekolah di Christian school dan setiap hari minggu ke gereja bersama priest seeya …. Hal ini terus berlangsung sampai ia dewasa, ia pergi ke Budhist temple bersama achiama dan Manil lokhu nenda hanya untuk menghormati mereka. Hal ini kadang membuat dia merasa serba salah. Dan achiama menghendaki dia untuk meneruskan tradisi keluarga mereka. Karena hanya Lahiru lelaki di keluarga itu, mereka mengharapkan Lahiru menikah dengan gadis sesama Budhist.
Semua ini membuat Lahiru semakin tidak ingin jatuh cinta dan menikah, ia tidak ingin mengulangi kesalahan orang tuanya

Lahiru berhasil menyelesaikan pendidikannya di university of technic Morotua jurusan architec. Selain mengajar di university, ia bekerja pada sebuah private company. Sementara Samantha setelah menyelesaikan A level bekerja sebagai pramugari di perusahaan penerbangan pemerintah.

Edna bekerja sebagai “Event Organizer ” pada sebuah hotel berbintang lima di Colombo.

Edna bertemu dengan Lahiru, pada waktu persiapan Anual Meeting Architecture Organization SARC (South Asia Region Country) yang diadakan di hotel tempat Edna bekerja. Lahiru mendapat tugas untuk mengorganisir meeting tersebut.

Lahiru menghendaki segala sesuatunya harus sempurna sesuai dengan rencana. Dalam hal pengeluaran ia mengatur uang secara ketat.

Sebetulnya Edna suka bekerja sama dengan Lahiru, ia mempunyai cara kerja yang sistematis dan bertanggung jawab, hanya kesannya pelit dan terlalu perfect. Kadang Edna merasa capek mengikuti keinginannya.

Beberapa bulan kemudian, Lahiru datang kembali ke hotel tempat Edna bekerja. Untuk arrange wedding party, ia datang bertiga dengan wanita setengah baya yang nampak begitu anggun, mengenakan Kandyan saree dan perhiasannya dengan warna yang serasi sedangkan satu lagi wanita muda cantik dengan pakaian casual…. Tentunya ini ibunya dan calon istri dari Lahiru, pikir Edna sambil mempersilahkan mereka duduk dan Edna berusaha melayani mereka dengan sebaiknya.

Ternyata mereka datang untuk pernikahan adik Lahiru, wanita itu Manil lokhu nenda dan Samantha nangi, tak lama kemudian Mahinda calon suami Samantha datang untuk ikut merencanakan pernikahannya

Mereka merencanakan grand wedding party dan meminta Edna untuk mengorganisir pesta pernikahan dengan sesempurna mungkin, berapapun biayanya.

“Oh no Lahiru aya, ini terlalu mahal…. Kami ingin pesta yang sederhana saja!….. Betulkan Mahinda?”

Protes Samantha dengan nada manja, sambil memandang Mahinda dengan mesra.

“Samantha nangi! Semua ini sesuai dengan keinginan achiama dan Manil lokhu nenda, karena setelah lebih dari lima puluh tahun tidak ada pesta pernikahan di Walawwa…. Terakhir adalah pesta pernikahan achiama dan seeya.”

Jawab Lahiru sambil memandang Manil lokhu nenda yang menganggukan kepalanya sambil tersenyum  bahagia.

Pesta pernikahan berlangsung dengan meriah, Samantha tampak cantik dengan Kandyan saree style begitu juga Mahinda tampak gagah dengan Mulu anduma yaitu Kandyan dress…. Setelah pemberkatan pernikahan di gereja, mereka datang ke hotel disambut dengan Kandyan dancers. Pada kesempatan itu, Edna bertemu dengan keluarga besar Lahiru.

Achiama yang walaupun sudah tua, nampak anggun dan masih terlihat kecantikannya. Priest seeya berpakaian national dress Srilanka yaitu sarung dan sejenis baju koko berwarna putih, nampak penuh wibawa, sedangkan nana tampak sederhana dengan Indian style saree.

Lahiru dan keluarganya mengucapkan terima kasih pada Edna, mereka merasa puas dengan hasil kerja Edna. Lahiru menghendaki semua sempurna tetapi kali ini ia mengeluarkan uang tampa perhitungan. Edna merasa telah salah menilai Lahiru…. Pada waktu itu Lahiru begitu hati-hati dalam pengeluaran karena ia harus  mempertanggung jawabkan  pada organisasi yang memberi ia tugas.

Edna dalam satu bulan mendapat libur dari pekerjaannya selama delapan hari, disesuaikan dengan tugasnya jadi harinya tidak tentu.

Edna mengisi hari liburnya dengan mengunjungi library atau sekedar melihat-lihat lukisan Edna senang membaca dan senang dengan karya seni . Karena di Srilanka belum ada mall seperti di Indonesia, ada beberapa mall tetapi hanya dua atau tiga lantai dan tidak banyak pengunjung yang windows shopping. Mereka datang ke mall bila mereka ingin membeli sesuatu setelah selesai mereka pulang.

Biasanya dari British council library Edna, berjalan kaki ke Gallery restaurant, di sana selain menyediakan makanan ada gallery lukisan dan barang kesenian seperti patung kayu dengan ukiran khas Srilanka dan lain lain. Atau ke Majestic city maal di sana ada food court dengan berbagai pilihan, ada Chinese food, Indian food, Malay food, dan beberapa bakery.

Hari itu di Gallery restaurant cukup ramai, hampir semua meja terisi.
Edna melihat ada sebuah kursi kosong.

“Excuse me, may I seat here?”

Tanya Edna pada seorang pemuda yang sedang asyk menikmati makanannya.

“Yes please!”

Jawab pemuda itu, sambil mengangkat kepalanya, memandang kepada Edna.

Betapa terkejutnya ternyata pemuda itu Lahiru. Mereka saling menyapa dan bertukar berita.

Edna meletakan beberapa buku yang dipinjamnya dari British council, di atas meja.

Sementara menunggu pesanan makanan yang Edna pesan, mereka bercakap-cakap. Lahiru melihat buku yang Edna bawa, ternyata Lahiru juga senang membaca dan telah membaca salah satu dari buku tersebut. Mereka membicarakan tentang isi buku itu.

Tak lama kemudian Lahiru pamit karena ia harus pergi mengajar ke university, tinggal Edna sendiri menyelesaikan makan siangnya.

Mereka beberapa kali bertemu tampa sengaja, di perpustakaan, art gallery atau di food court. Mungkin karena mereka mempunyai minat yang sama. Setiap kali pertemuan tidak ada yang istimewa, mereka hanya membicarakan tentang buku yang mereka baca atau tentang lukisan. Edna merasa kagum dengan pengetahuan Lahiru tentang lukisan.
Lahiru sejak kecil diajarkan melukis oleh priest seeya dan ia mewarisi bakat tersebut dari priest seeya.

Pertemuan mereka biasanya sangat singkat, karena Lahiru terikat dengan schedule pekerjaan dan mengajar di university.

Lambat laun Edna mulai menyukai Lahiru…. Kadang ia mengharapkan bisa bertemu dengan Lahiru.

Bagi Edna, Lahiru berbeda dengan teman lelaki lainnya, ia selalu berbicara seadanya tampa basa basi dan selalu bersikap sopan.

Pada waktu Lahiru mengetahui Edna menyukai karya seni, setiap ada acara kesenian ia mengirimkan  informasi kepada Edna melalui email. Walaupun ia sendiri belum tentu menghadiri acara tersebut, karena kesibukannya.

Lahiru ada bisnis meeting dengan salah seorang client di lobby hotel tempat Edna bekerja. Tiba-tiba terdengar ledakan keras sekali disertai dengan getaran yang sangat kuat disusul dengan matinya lampu.

Terdengar pecahan kaca dan lampu hias, suasana begitu kacau semua berlarian berusaha menyelamatkan diri, Lahiru berusaha berlindung ke bawah meja yang ada di lobby. Samar-samar ia melihat Edna yang berjalan menghindari pecahan kaca…. Dengan cepat Lahiru menarik Edna dan mendorong tubuh Edna ke bawah meja… Mereka berdesakan bertumpukan di bawah meja dengan beberapa orang lain.

Setelah keadaan mulai aman, mereka berlarian ke luar, Lahiru melihat tangan dan kaki Edna terluka karena pecahan kaca. Lahiru memapah Edna yang berjalan terseok-seok sambil menahan sakit.Edna terlihat begitu tabah ia tidak mengeluh atau menangis, Lahiru merasa kagum dengan sikap Edna yang begitu mandiri.

Keadaan begitu kacau, banyak yang terluka tertimpah bangunan yang runtuh, suara sirene ambulance dan pemadam kebakaran serta rintihan para korban. Lahiru berhasil membawa Edna keluar dan meminta tolong kepada mobil yang lewat untuk membawa mereka ke rumah sakit terdekat.

Edna memerlukan perawatan yang cukup serius karena ada pecahan kaca yang masuk ke kaki dan tangannya, sementara Lahiru hanya luka di bagian kepalanya. Karena tidak terlalu parah, Lahiru diperbolehkan pulang sedangkan Edna harus dirawat inap.

LTTE melakukan serangan bomb bunuh diri, dengan menggunakan  truk bermuatan bomb dalam jumlah yang besar dan ditabrakan ke pintu masuk central bank, sehingga menimbulkan ledakan yang massive dan hotel tempat Edna bekerja, hanya sekitar 300 meter dari central bank.

Sore harinya Lahiru masih sempat menengok Edna di rumah sakit. Walaupun banyak jalan ditutup sehingga menimbulkan kemacetan di mana-mana. Sambungan telephone tidak dapat berfungsi dengan baik karena begitu banyak orang yang berusaha menghubungi keluarganya dengan telephone.

Keesokan harinya, pada waktu Lahiru  mengunjungi Edna, ternyata Edna sudah tidak berada di rumah sakit. Mereka mengatakan bahwa Edna telah dibawa pulang oleh manager hotel tempat ia bekerja.

Direktur hotel melihat keadaan Edna merasa khawatir. Mereka mengirim Edna ke rumah sakit di Singapore untuk mendapatkan  pengobatan lebih baik.

Ternyata keadaan Edna tidak terlalu menghawatirkan seperti yang mereka kira, setelah beberapa hari Edna sudah diperbolehkan pulang. Tetapi pihak hotel memutuskan untuk mengirim Edna kembali ke Indonesia, karena mereka tidak dapat menjamin keselamatan Edna. Situasi keamanan di Srilanka yang tidak menentu, membuat mereka memindahkan Edna ke hotel mereka di Indonesia.

Edna bekerja di Srilanka tidak sampai dua tahun, ia meninggalkan Colombo tampa sempat berpamitan dengan teman-temannya termasuk Lahiru  yang meninggalkan kenangan tersendiri.

Lahiru mengetahui Edna telah kembali ke Indonesia dari salah seorang teman kerja Edna. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang hilang dari dalam dirinya.

Setelah Samantha menikah, achiama mencari merried proposal untuk Lahiru, tetapi Lahiru selalu menolaknya dengan berbagai alasan. Karena ia tidak mau mengecewakan priest seeya maupun achiama lokhu menike.

Manil selalu mengingatkan ibunya untuk tidak memaksakan kehendaknya pada Lahiru, karena Manil mengerti akan perasaan Lahiru. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang telah terjadi dengan Jagath dan Naomi…..tetapi ibunya tetap pada pendiriannya.

Achiama lokhu menike ingin melihat Lahiru menikah sebelum ia meninggal dunia…… Lahiru merasa tersentuh dengan keinginan achiama, ia ingin membahagiakan achiama

 

bersambung…

 

 

6 Comments to "Cinta Itu Indah (3)"

  1. Syanti  8 April, 2019 at 09:07

    Betul….. 100 untuk James!
    Cinta harus dilakoni, kalau tidak cuma mimpi. Hidup ini kenyataan perlu dilakoni.
    Thanks!

  2. Syanti  8 April, 2019 at 09:03

    Terima kasih Alvina.
    Lanjutannya baru saya kirim…. Wait and see.

  3. Alvina VB  7 April, 2019 at 13:31

    Syanti, benang merah cerita bagian 1&2 mulai keliatan. Ditunggu lanjutan ceritanya.

  4. James  7 April, 2019 at 10:52

    you never know if you never never go (Noerthern Territory Australia) begitu juga Cinta tidak pernah tahu kalau tidak dilakoni

  5. Syanti  7 April, 2019 at 08:44

    James…. Hehehe wait and see.
    Thanks! Sudah membaca tulisan saya.

  6. James  5 April, 2019 at 06:35

    Love is beautiful one day perfect the next itu kalau di Queensland Ozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.