Apakah Kita Termasuk Orang-orang yang Menentang Korupsi?

Jhony Lubis – Jakarta

 

Semangat selalu bro n sist, apa kabarnya? Semoga ok semuanya…

Tema apalagi nih yang ditulis bro Lubis, lihat judulnya tentang pertanyaan “apakah kita termasuk orang-orang yang menentang korupsi” atau baru taraf sekedar euphoria anti korupsi..??

Mengapa pertanyaan tersebut ada? Berdasarkan observasi subjektif saya ternyata di sekeliling pelaku korupsi yang sudah tertangkap ada orang-orang dekat yang seharusnya bisa menjadi orang yang mengingati, menasehati atau menegornya bila terindikasi korupsi apalagi bila nilai kekayaannya tidak wajar bila merujuk gaji yang diterimanya. Siapa orang-orang terdekat dengan pelaku korupsi?

Istri atau suami (spouse) dari pelaku korupsi adalah orang terdekat karena tidur bersama…*smile, artinya pasangan yang benar dan jujur pasti tahu gaji yang diterima oleh pasangannya dan akan merasa janggal bila pasangannya membawa uang yang berlebihan di luar gaji normalnya atau membelikan barang-barang yang bernilai di luar kemampuan gajinya. Sebagai pasangan yang peduli wajib bertanya dari mana asal usulnya uang untuk membeli barang-barang bernilai tersebut? Bukan mendiamkan seolah-olah mendukung pasangannya untuk korupsi karena memiliki jumlah uang tidak wajar.

Orang tua pelaku korupsi adalah orang tua yang salah satu tugasnya mendidik anaknya, tentu akan merasa janggal bila kehidupan anaknya mendadak berlebihan atau di luar kewajaran karena orang tua yang baik akan mengetahui anaknya kerja dimana dan bisa bertanya berapa gaji anaknya sehingga bisa menilai dan menegor bahkan berani menolak untuk menerima uang atau barang yang dibelikan anaknya bila terindikasi tidak wajar, bukan membiarkan bahkan dengan senang hati menerima uang anaknya yang tidak wajar.

Anak adalah orang terdekat yang menerima fasilitas dari orang tua berupa uang dan barang-barang lainnya yang bisa saja dari hasil korupsi bila anaknya mempunyai akses informasi standar gaji yang berlaku di instansi / perusahaan tempat orang tuanya bekerja maka seorang anak yang benar akan menyadarinya bahwa fasilitas berlebihan yang diterimanya tidak wajar dan tidak akan menuntut fasilitas berlebihan biar orang tuanya tidak semakin korupsi.

Om dan tante adalah orang dekat yang tentunya masih mempunyai kedekatan hubungan kekeluargaan dengan pelaku korupsi yang masih punya kewenangan secara budaya Indonesia untuk menegor keponakannya bila tidak benar. Om dan tante bisa melihat dan menilai ketidak wajaran kekayaan keponakannya bila mau membuka matanya bukan ikutan menikmati hasil korupsi keponakannya.

Orang-orang terdekat dari pelaku korupsi yang bisa membantu mengurangi korupsi dengan cara menolak setiap pemberian yang dinilai tidak wajar dengan merujuk gaji yang diterimanya sehingga membuat rasa malu bagi pelaku korupsi karena orang terdekatnya tidak bersedia menerima uang haram nya. Budaya malu dalam keluarga akan membuat pelaku korupsi merasa tidak nyaman berada di dalam lingkungan keluarganya.

Jangan bilang kalau pegawai tetapi punya usaha bisnis kan bisa saja kaya, bagaimana dong? Perlu dipahami sewaktu awalnya mulai berbisnis tentunya diperlukan modal usaha, didapat dari mana? Pinjaman bank? Apakah terbukti ada historis pinjaman bank dan tentunya istri yang baik tahu ada potongan gaji pasangannya untuk pinjaman bank sewaktu mulai usaha… *smile. Bila dari tabungan gaji tentunya pasangan tahu ada saldo kredit di rekening tabungan sebelum dipakai usaha….  termasuk bila pasangannya hanya memiliki saham perusahaan bisnis maka tentunya ada uang untuk membeli saham tersebut… *LoL

Istri atau suami yang baik, harusnya tahu sepak terjang pasangannya dalam bekerja atau berbisnis sehingga tahu sumber pendapatan lainnya dan bisa menilai kewajarannya.

Berdasarkan observasi saya atas berita korupsi, maka sebenarnya orang tua, suami atau istri adalah orang terdekat yang seharusnya tahu kewajaran uang atau benda bernilai yang dimiliki anak atau pasangannya apakah merupakan uang hasil korupsi atau tidak?

Ilustrasi pegawai punya usaha:

Modal usaha proyeknya. Modal usaha berasal dari mana? Proyeknya di mana? Bagaimana proses tendernya? Berapa harga penawarannya? Bagaimana pajaknya? Dan apakah sebagai pegawai dibolehkan menjalankan bisnisnya di tempatnya bekerja walau dijalankan oleh pasangan, adik atau kakak? Apakah konflik kepentingan? Apakah sesuai kode etik pegawai? *LoL

Modal biasanya dari hasil Saving, dimana rumusnya Saving = Income (halal) – Expenses, bisa dihitung kan sisa gaji (halal) setelah dikurangi semua biaya hidup keluarga, apakah cukup relevan bila ditabung sisa gajinya dengan jumlah kekayaannya??? Yang bantah rumus di atas, silahkan buat desertasi doctor karena anda sudah membuat teori baru…..*LoL

Kalau untuk korupsi yang konvensional itu terkait penyalahgunaan jabatan/kewenangan seperti “makan” uang Negara, penerima pungli, suap, sogok, komisi, upeti uang jago termasuk gratifikasi dan discount atau fasilitas yang tidak wajar dari pihak yang punya kepentingan di empat pelaku korupsi bekerja. Ingat orang memberikan uang tentunya akan mengharapkan timbal balik berupa kemudahan termasuk perlindungan dalam hal tertentu berpotensi melanggar hukum dan menciptakan ketidak adilan iklim usaha. There is no free lunch today and forever…. *LoL

Korupsi itu akan menjadi beban kerugian konsumen atau publik mengingat orang-orang yang dimintakan uang oleh pelaku korupsi akan membebankan kembali kepada konsumen dan dihitung sebagai komponen Harga Pokok Produksi + Distribusi sehingga membuat harga jual akan semakin mahal yang menjadi beban konsumen atau akan dikurangi kualitasnya untuk memberikan selisihnya kepada pelaku korupsi.

Korupsi merupakan kejahatan luar biasa sangat merugikan dan membahayakan masyarakat banyak karena impact nya membuat ekonomi biaya tinggi, kemiskinan, kebodohan bahkan kematian.

So… apakah kita benar-benar anti korupsi atau sekedar euphoria anti korupsi? Bila di antara orang dekat kita selaku keluarga ada yang terindikasi kekayaannya tidak wajar dan kita biarkan saja bahkan kita ikut serta menikmatinya?? Atau bahkan kita bangga sebagai keluarga dari pelaku korupsi (bila sudah tertangkap KPK)  Huahahaha….

 

Note : Lihat artikel saya cara lunak menghukumnya…

 

 

2 Comments to "Apakah Kita Termasuk Orang-orang yang Menentang Korupsi?"

  1. Jhony Lubis  21 May, 2019 at 11:36

    Tks bro james komennya…
    Revolusi mental itu detail actionnya seperti apa yah utk mengubah prilaku korupsi? Apakah ada budget besar utk sosialisasi, pengawasan berlapis, revisi UU Tipikor yg lebih berat sanksi hukumnya atau dibuat UU pembuktian terbalik atas harta, pembinaan lembaga penegak hukum

    atau ada budget besar utk KPK kembangkan jaringan kantornya, jumlah SDM, pelatihan n operasional KPK??

  2. James  20 May, 2019 at 10:39

    bagaimana dapat dikatakan anti korupsi, seluruh anggota keluarganya juga Koruptor semua, apalagi orang terdekat macam Istri malah mereka lebih menikmatinya, bisa beli Mercy, bisa beli Tas Hermes dan segala tektek bengek bersaingan satu sama lainnya diantara sesama Pejabat, sudah dapat dikatakan perihal Korupsi di Indonesia terlalu parah untuk diperbaiki karena kerusakan Mentalnya makanya Jokowi pernah mengatakan Revolusi Mental, KPK bekerja keras, semakin keras kerja KPK semakin Subur itu yang dinamakan Korupsi

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.