Fenomena Stres dan Depresi Caleg Paska Pemilu

EA Inakawa

 

Pesta Demokrasi Rakyat Indonesia 2019 telah berakhir pada penanggalan Rabu 17 April 2019, yang ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Empat pekan lebih telah berlalu tetapi jejak Pemilu menyisakan banyak cerita semua pihak terkait terutama Caleg menanti dengan harap-harap cemas sembari melihat berbagai laporan ter’update dari Team Sukses sampai Quick Count, di situasi ini menyisakan perasaan yang serba salah dan gundah, tanpa sadar memacu tingkat stress dan depresi, sudah pasti stres dan depresi ini akan mengintai bagi yang gagal untuk duduk di kursi Legislatif karena perolehan suara di luar ekspektasi tanpa bisa diprediksi apakah si Caleg dari kalangan biasa, pemula maupun politikus senior sampai Caleg dari kalangan ulama, semuanya berpotensi menjadi STRES dan depresi, salah satu indikasinya adalah Siap Menang Tapi Tak Siap Kalah, Stres dan depresi juga bisa terjadi kepada Caleg yang tidak memiliki kecerdasan emosional, gagal paham menyeimbangi antara ekspektasi dan kenyataan dan tidak bisa menerima kekalahan, padahal dari awal seyogiyanya setiap Caleg harus menyadari bahwa GAGAL itu Hanyalah Benang Tipis Di antara Keinginan Dengan Ketidak Pastian.

Seyogiyanya seorang Caleg yang siap mental, fisik dan finansial harus mampu sesuai Imannya dengan selalu mendekatkan diri secara Spritual kepada Tuhan.

Bencana Caleg Gagal Menuju Parlemen adalah sesuatu yang biasa dalam dunia politik praktis. Yang berbeda dari Pemilu 2019 kali ini ketika Pemerintah melakukan langkah antisipasi dan siaga dengan mempersiapkan beberapa Rumah Sakit sebagai penyelenggara menerima pasien Caleg dengan gangguan jiwa pasca Pemilu 2019 ini.

Pada kondisi inilah kita akan melihat para Caleg yang gagal menuju Parlemen, terutama Caleg perdana yang baru pertama sekali mengalami kegagalan sementara logistik pendanaannya sudah menguras habis pundi-pundi deposit, baik sumber dana persiapan maupun dana pinjaman, ini adalah ciri endemik dari masyarakat kita pada umumnya setiap kali Pemilu berlangsung, dan mereka ini semua adalah Korban Politik yang harus mendapatkan perlindungan negara.

Apalagi ketika semua pengorbanan sudah mempertaruhkan banyak hal, tetapi realitasnya semua segala daya dan upaya yang sudah dikorbankan dan dipertaruhkan menjadi sia-sia belaka.

Kisah Caleg membangkit: pemberian sumbangan, ambulan dan pembangunan jalan desa,

Ini True Story…..

Alkisah seorang Caleg Incumbent, yang luar biasa kepercayaan dirinya untuk bisa duduk ke 3 kalinya, dengan sesumbar mengaku sebagai Ketua sekelompok Etnis, punya massa ribuan orang, Menebar Pesona di berbagai pelosok dari kelompok pengajian kaum ibu/bapak dan bantuan STM berupa kain kafan sampai kebutuhan ambulan dipenuhi, tampil sebagai Pahlawan Kesiangan dengan mengaku dana pembangunan jalan beton desa dari sumber uang pribadi, padahal sumber dana pemerintah.

Lucunya ketika suara sang Caleg tidak memenuhi quota di kelurahan tersebut dia berubah menjadi komedian yang kehilangan humor, panik, emosi, sumpah serapahnya kepada warga desa yang tidak memilihnya mengalir ke mana-mana. Itulah fenomena masyarakat kita, Kesetiaan dan Nuraninya luntur dan tercecer hina di mana-mana hanya karena efek gerilya Serangan Fajar dari tetangga sebelah. Ironis memang ketika kita mengalami sebuah pengkhianatan dari kaum ibu pengajian ini, dengan mudahnya mereka berpaling oleh umpan 150.000 rupiah, semua kebaikan sang Caleg yang telah membangun Citra dan Menebar Pesona selama 5 tahun menguap tak terkenang tanpa jejak.

Belum lagi berbagai kemungkinan munculnya konflik antar sesama Caleg dari satu partai yang berseteru karena salah satu Caleg MENCURI suara temannya sendiri, teman bilang “Hal Yang Mengerikan Pacat Makan Pacat”.

Apapun kisahnya, Demokrasi di Indonesia ini masih terhitung belia, gampang sekali heboh ketika ada goncangan kecil terkait SARA, 192.779.986 juta pemilih dari 267 juta jiwa Populasi Indonesia sangat mudah terhasut, fundamentalnya tidak sekokoh ke Bhinekaannya ketika Ideologi dan paham akidah antar Ummat Agama dibenturkan ke sendi sendi politik.

Terakhir sekali kita mendengar bagaimana seorang Mahfud menyampaikan sudut pandangnya kalau pemilih Prabowo berasal dari Islam Garis Keras, masyarakat tanpa filter spontan gaduh, apakah ini bahagian sisi gelap dari Kemajemukan masyarakat kita, bisa jadi, betapa mahalnya sebuah pemahaman demokrasi.

Di ujung waktu, sepekan setelah usai penanggalan 17 April tahun 2000 19, Indonesia berduka dengan meninggalnya 500’an orang petugas KPPS, sementara disebutkan sebagai efek kelelahan setelah bekerja 12 jam x sekian hari (sejak masa persiapan) dalam tekanan untuk goal nya sukses Pemilu Sehari.  

Dunia pun terkesan Indonesia mampu memenuhi kebutuhan Logistik Pemilu: Bagaikan :                                    

Menembus batas lorong waktu…..

Yang tidak mungkin menjadi mungkin

Dari Hulu sampai Muara…

Dari Hamparan Datar sampai Puncak Gunung…

Dari bantaran sungai menembus Gua Gua…

Dari Gubuk sampai Gedung Pencakar Langit…

Terus memutar Garis Khatulistiwa…

Terus mengalir di tempat air yang tidak bisa mengalir…

Kalau boleh penulis ber-opini….. kemungkinan besar gugurnya 500’an petugas KPPS tidaklah semata-mata karena kelelahan, bisa jadi segelintir dari mereka dalam tekanan dan stres, tidak semua petugas KPPS berhati mulia dan ikhlas dengan tugasnya, bisa jadi mereka sudah menerima uang siluman dari beberapa Caleg dan dalam perjalanannya tuntutan sang Caleg tidak bisa dipenuhi karena team KPPS sendiri tidak merestui niat buruk oknum lainnya, bisa jadi stres berat inilah sebagai pemicu naiknya asam lambung yang menyerang jantung oknum KPPS tadi, Allahu a’alam.

Di satu hari, dihari libur…..penulis mencoba bergabung di sebuah warung kopi perumahan yang komunitas warganya dihuni dari berbagai etnis suku dan agama, yang menarik pendengaran adalah perdebatan tentang Agama yang disandingkan dengan kebijakan strategi politik sangat jelas mewarnai Pemilu 2019 ini, tetap saja merupakan sesuatu yang semestinya tidak lazim, belum lagi situasi Ekonomi yang semakin menjepit kebutuhan sandang dan pangan khususnya masyarakat menengah ke bawah.

Ada lagi yang berkomentar: Biaya Hidup cenderung semakin mahal, makan enakpun susah, sampai sampai para istri mereka membuat menu masakan mulai Senin s/d Sabtu cukup dengan gulai telur, ikan asin, makan enak cukuplah di hari Minggu saja sekali dalam seminggu.

Ada lagi yang berkomentar: kejahatan kriminal semakin buas, pengedaran sabu-sabu semakin merajalela padahal selain POLISI sudah lahir BNN, itupun masih membuat Narkotika semakin tidak tercegah, artinya ini sebuah keniscayaan yang dengan sengaja dibiarkan, persekongkolan kejahatan masif yang skenarionya dikondisikan sedemikian rupa, kejahatan dimana mana, terjadi di tempat terbuka, tidak ada lagi urat takut dan urat malu mereka.

Ada lagi yang berkomentar: kenapa Indonesia tidak mengikuti jejak Presiden Philipina yang menembak MATI bagi pejabat negara yang terlibat di balik bisnis Narkotika ini.

Semua ini berkembang dan semakin marak di Era pemerintahan ini, ada Penjahat yang membuat arisan bersama Oknum : Polisi – Petugas Lapas dan Aparat Pengadilan, semua berjamaha melakukan kejahatan.                

Di pojok yang lain seorang anak muda yang kebetulan adalah Putra Bungsu seorang Caleg ikut nimbrung, bahwa dia merasa sangat senang pada Pemilu kali ini, ini adalah Pemilu Pertama baginya, sebagai Mahasiswa baru kali ini dia merasa punya andil dan berharap kandidat Presiden yang menjadi Idolanya terpilih dalam Pemilu kali ini, ketika Penulis bertanya kepada siapa pilihannya untuk Caleg DPRD Tk II, dia diam 100 bahasa dengan tetap merahasiakan pilihannya.

Ada lagi yang berkomentar: Memuji Presiden petahana atas berbagai usaha pembangunan, infrastuktur, pendidikan dan kesehatan/BPJS semakin baik walaupun belum sempurna buat kesejahteraan dan kemaslahatan bangsa Indonesia.

Ada lagi yang berkomentar: Siapapun Presidennya sama saja buat kita, yang penting Negara Ini Aman, jangan ada Koruptor, jangan ada Begal, jangan ada bandar shabu-shabu, jangan ada lagi aparat negara yang bersekutu dengan Semua Jenis Penjahat.

Dalam kesempatan lain saat penulis sedang berkelana, bertemu tanpa sengaja dengan seorang Ulama Wanita, Pendeta Kristiani Ibu Rosina Sitohang MTH yang maju sebagai Caleg DPRD Tk II dari Dapil V Medan, baginya ini ajang pertempuran pertama maju sebagai Caleg, dalam berbagai kesempatan Ibu Pendeta ini selalu menyampaikan “Pesan Damai” antar Ummat Ber-agama, bahwa Damai itu Indah, tidak ada SARA, tidak ada jarak antara mayoritas dan minoritas, damai itu adalah Toleransi, saling menghormati antar Ummat ber-agama, Ibu Pendeta ini terpanggil untuk duduk di Parlemen sebagai tanggung jawab moral terhadap ummat dan mensejahterakan masyarakat, penulis berdoa semoga Ibu Pendeta terpilih dan duduk sebagai Anggota Legislatif yang bermartabat…..aamiin.

Medan, 06 Mei 2019

Salam Setepak Sirih Sejuta Pesan

EA.INAKAWA

 

 

9 Comments to "Fenomena Stres dan Depresi Caleg Paska Pemilu"

  1. EA.Inakawa  10 June, 2019 at 10:38

    @ Alvina : Nuhun pisan sudah singgah di dinding saya, sepertinya & pada umumnya para Politisi kebanyakan emang begitu yaa, tapi buat Ki Lurah kita yang sudah terpiih pastinya tidak demikian ya, beliau pasti amanah,aamiin.
    Urusan limbah di laut memang sulit yaa, ini persoalan International yang sudah jadi fenomena & tidak terselesaikan, selalu ter-ulang & mengulang kembali, hanya photo satelite yang bisa menangkap kejahatan ini dari balik jendela langit diatas sana. Salam

  2. Alvina VB  2 June, 2019 at 07:55

    Bung Erfan, Pemilu/Election di mana-mana sama aja …..pas kampanye, janji2 surga para politician, pas udah kepilih, EGP dah. Yg kalah ya pada stress berat ttp kdar kegemblungan politician di negaranya aja yg beda2. Di Indonesia super rumit karena partainya buanyak banget dan sukunya juga beragam, serta utk kepentingan banyak politician masing2, jadi tambah complex, he..he….Lah sekarang ini di Canada partai liberal lagi geger2an lagi kampanye, ttp banyak orang yg mempertanyakan sampah yg dibuang ke negara 3, spt Filipin, Malaysia dan China. Negara2 tsb minta Canada mengambil balik sampahnya (terutama plastik). Belum lagi politician wanita yg dipecat baru2 ini sama bos partai Liberal yg feminist. LOL. Pusing mereka sekarang lagi cari solusi yg terbaik. Lanjut lagi dech besok2 komennya ya……

  3. Hennie Oberst  31 May, 2019 at 22:09

    Sayangnya kali ini nggak bisa juga lebaran di Medan, Pak EA. Maklumlah mesti nyocokin liburan sekolah anak.
    Tapi kalau lebaran di Medan juga jadi sedih, nggak ada ortu lagi, hambar juga suasananya. Nanti kalau kami mudik, kita kopdar ya. Salam sehat juga. Selamat menyambut Idul Fitri.

  4. EA.Inakawa  31 May, 2019 at 17:20

    @ Pak Handoko : Terima kasih atas apresiasinya.

  5. Handoko Widagdo  31 May, 2019 at 16:34

    Saya jelas tidak mempunyai kekuatan untuk ikut kontestasi seperti ini.

  6. EA.Inakawa  30 May, 2019 at 13:42

    @Hennie : apa kabar , lebaran di Medan kah ?….. iya Hen, Pemilu kali ini ramai karena dibuat bersamaan dengan pemilihan Caleg, jadinya semua punya kepentingan ingin menang. Salam Sehat

  7. Hennie Oberst  30 May, 2019 at 13:04

    Ramai sekali ya pemilu Indonesia kali ini, beritanya banyak di Jerman. Selamat dan Sukses ya pak EA. Inakawa.

  8. EA.Inakawa  30 May, 2019 at 12:47

    @James : iya Bang, tapi hampir disemua negara di dunia Pemilu ini memang selalu meninggalkan ekor perdebatan panjang, sampai sampai Lowy Institute Australia menyebut Pemilu di Indonesia paling rumit di dunia. Matur Nuwun bang atas apresiasinya. Salam Sehat

  9. James  30 May, 2019 at 11:55

    Rabu 17 April 2019 sudah berlalu, tapi masih berekor karena satu pihak Capres dan Cawapres nya tidak Legowo, gak tahu akan sampai kapan selesainya, inilah Pemilu ala Indonesia

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.