Pemabok

Rizky Dwinanto

 

Perempuan ini sedang mabuk darat.

Bahasa medisnya motion sickness. Ketidaksinkronan mata dan otak akibat gangguan controller keseimbangan tubuh yang terletak dalam telinga. Susah jelasinnya. Pokoknya gitu.

Aku juga.

Tiga hari sebelum jadwal keberangkatan bis sudah ketakutan akan mabuk. Apalagi jika bisnya sudah didepan mata. Depresi dan keringat dingin. Itu mempermudah datangnya mabuk.

Dari awal sudah depresi, bis tidak nyaman berdesakan, AC terlalu dingin, tabung solar bocor halus tercium baunya, duduknya diatas roda belakang, sopirnya ngerem ngegas nyalip seenaknya, sebelahnya banyak omong. Matilah kami para pemabuk.

Mabuk akan menurunkan elektabilitasku. Parah dan aku akan dituding ndeso oleh kalian. Itu memang kelemahanku dari kesempurnaanku sebagai lelaki.

Naik mobil bersama teman dari kampus ke gramedia. Berjarak tak lebih dari 5 km. Sesampai gramed temanku masuk dengan ceria, aku terduduk lesu mengembalikan kondisi. Mobilnya Suzuki Carry isi 6 orang. Kembali ke kampus aku numpang teman lain naik Ciello Accord dan aku baik-baik saja.

Sama beberapa teman jalan-jalan ke kediri. Naik bis umum. Mabuk. Harus menyandarkan kepala di pangkuan teman perempuanku. Kukira dia keki saat itu.

Bersama yang sekarang jadi istri pun sama ketika mengunjungi pamannya di semarang dulu. Jarak tempuh 20km-an.

Pernah kutelantarin bayiku yang sedang tidur di pangkuan saat bis di daerah Gemolong ngetem 5 menit nunggu penumpang. Aku harus cari udara segar sebelum ambyar isi perutku.

Mabuk-semabuknya pernah kurasakan ketika naik speedboat dari Medan ke Pulau Pinang <alaysia. Empat jam diombang-ambing. Keluar semua isi lambungku. Terus menerus keluar sampai tersisa cairan bening kehitaman. Tak ada lagi yang bisa dikeluarkan tapi terus menerus mual.

Nyetir sendiri naik motor saja bisa mabuk. Saat naik turun kelak-kelok di daerah Kasembon Batu. Apalagi nyetir sendiri naik mobil dalam kondisi macet. Pintu keluar tol Lippo Karawaci pernah aku sembur dengan isi lambungku.

=================

Rasa-rasa awal pemabuk seperti naik lift. Nyuuuuut thêêêng. Mabuk akan tertunda kalau gerakan bis pelan dan terkontrol. Tapi mana bisa kalau naik bis umum dan jalanan macet. Itu mengapa aku tak pernah mabuk jika naik kereta. Kapal laut yang bodynya besar juga aman karena gerakannya lamban dan tenang.

Naik pesawat terasa saat landing dan take off. Seperti naik lift 120 lantai tanpa berhenti. Kalau sudah terlewati sih bisa tenang, asal jangan lihat jendela. Juga jangan main gadget. Akan berakibat ketidaksinkronan mata dan otak.

Beragam cara sudah dicoba dari memplester pusar, minum sprite, makan ubi mentah. Gak bisa. Antimo agar tertidur satu-satunya cara. Kalau mabuk datang sebelum tertidur percuma juga.

Bau-bauan jeruk atau minyak aroma kadang membantu. Tapi tak tentu. Seminimalnya saja. Kalau terlalu kuat aromanya bisa balik menyerang. Intinya pemabuk butuh suasana nyaman. Dipijit kepala seperti creambath sangat menyenangkan. Dipeluk atau dipijitin leher juga membuat nyaman. Apalagi yang meluk pacarnya. Hilang mabuk jadi horny.

Demikianlah.

Aku adalah pemabuk berat, meski tak pernah setetespun khamr masuk tubuhku.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.