Blue Sapphire (3)

Syanti

 

Artikel sebelumnya:

Blue Sapphire (1)

Blue Sapphire (2)

 

“Nil kate, nil menik…. Dikenal dengan nama Blue sapphire atau blue diamond. Dapat membuat seseorang menjadi kaya raya, tetapi bisa membuat seseorang menjadi penjahat…. Bahkan pembunuh atau mati terbunuh!”

Malika mendapat pekerjaan pada Mr. Sajith Goonaratne, senior lawyer yang cukup terkenal di Colombo.

Di tempat pekerjaannya Malika bertemu dengan Premaratne mahathia, yang pernah menjadi bisnis partner Ajith mahathia ayah dokter Suneth.

Premaratne mahathia mengenal Sirisena ayahnya, mereka pernah bekerja sama dengan Ajith mahathia dan Gamini, mencari batu permata di Ratnapura.

Banyak yang diceritakan tentang ayahnya dan Ajith mahathia serta Gamini, Premaratne mahathia adalah orang terakhir yang melihat Sirisena masih hidup.

Sore itu Premaratne minta ijin pada Sirisena, untuk menjaga ayahnya yang sedang dirawat di rumah sakit. Beberapa hari kemudian ada polisi yang datang mencarinya, Ia diinterograsi oleh polisi tentang kematian Sirisena.

Premaratne tidak tahu Sirisena telah meninggal dunia, Premaratne mempunyai alibi, bahwa malam itu ia ada di rumah sakit. Tetapi ia lupa memberi tahu polisi, bahwa sore itu ia bertemu Ajith mahathia dan Gamini yang mau bertemu dengan Sirisena sebelum pulang ke desanya.

Setelah peristiwa itu, Premaratne mahathia pergi kerja ke Timur Tengah. Lima tahun kemudian ia bertemu lagi dengan Ajith mahathia yang telah menjadi pengusaha dan kaya raya.

Ajith mahathia mengajak ia untuk bekerja sama dalam bisnis property, tetapi Ajith mahathia dan Gamini banyak melakukan kecurangan kemudian ia memutuskan hubungan kerja dengan mereka.

Dari beberapa peristiwa yang diceritakan oleh Premaratne mahathia, berarti hubungan Ajith mahathia dengan ayahnya sangat dekat. Tetapi mengapa Ajith mahathia seperti yang tidak terlalu kenal.

Malika merasa ada sesuatu yang dirahasiakan oleh Ajith mahathia, Malika mulai melihat ada benang merah antara Ajith mahathia dengan kematian ayahnya.

Pada waktu ayahnya meninggal, Malika sudah berusia sembilan tahun. Ia masih ingat bagaimana ayahnya meninggal, ia merasa ada yang ganjil dengan kematian ayahnya.

Malika mengemukakan hal tersebut kepada Mr Sajith Goonaratne dan ia ingin menyelidiki kasus kematian ayahnya. Mr Sajith Goonaratne merasa tertarik, setuju untuk menyelidiki dan bersedia membantu Malika.

Dokter Suneth bahagia sekali pada waktu mengetahui Gayatri positive hamil, ia memberitahukan ayahnya tentang kehamilan Gayatri.

Ajith mahathia senang sekali, memberi tahu Gamini bahwa ia akan menjadi seeya atau kakek. Gamini memperingatkan Ajith mahathia, bahwa ini merupakan mimpi buruk bukan berita baik.

Pada waktu membereskan meja kerja suaminya, Gayatri menemukan amplop berisi photo hitam putih yang sudah tua. Gayatri terkejut melihat photo ayahnya bersama Ajith mahathia, Gamini mame dan seorang lagi yang ia tidak kenal.

Di photo itu mereka tampak masih muda, waktu ia mengamati wajah Gamini mame. Tiba-tiba ia teringat dengan orang yang pernah menghardiknya.

Gayatri mulai bertanya-tanya dan merasa curiga, mengapa suaminya tidak pernah menunjukkan photo tersebut. Ia menaruh kembali photo itu ke tempat semula. Seharian itu pikiran Gayatri tidak bisa lepas dari photo tersebut, tetapi ia tidak mau memberi tahu ibunya. Gayatri bermaksud menyelidiki terlebih dulu. Ia tidak mau menimbulkan keributan.

Malam harinya Gayatri bermimpi, Gamini mame datang mencekik lehernya dan matanya memandang dia dengan penuh amarah.

” Epa… epa… Jangan, jangan! “

Teriak Gayatri dengan tersendat-sendat sambil menangis, mendengar teriakan Gayatri dokter Suneth terbangun.

Dokter Suneth membangunkan Gayatri dan berusaha untuk menenangkan istrinya.

“Gamini mame… Gamini mame!”

Membuat dokter Suneth terkejut, mengapa Gayatri menyebut nama Gamini mame.

“Ada apa dengan Gamini mame?”

Tanya dokter Suneth tetapi Gayatri hanya diam.

Setelah diberi minum air, Gayatri mulai tenang tetapi ia tidak mau menceritakan mimpinya. Gayatri hanya diam dokter Suneth melihat ada rasa takut di mata Gayatri.

Hal ini membuat dokter Suneth bertanya-tanya, ia teringat photo tua itu. Seperti ada sesuatu yang dirahasiakan, ia akan menanyakan tentang photo itu kepada ayahnya dan Gamini mame.

Sebetulnya sudah lama ia ingin menanyakan tentang photo itu, tetapi belum ada kesempatan.

Srilata achiama pernah menceritakan bagaimana ayah Gayatri meninggal dunia pada dokter Suneth, yang sampai sekarang masih merupakan mystery.

Mimpi itu terus menerus menghantui pikiran Gayatri, sejak pertama kali bertemu dengan Gamini mame ia sudah merasa tidak suka. Seperti ada sesuatu yang dirahasiakan, sikapnya penuh kepura-puraan.

Mendengar rencana Malika yang ingin menyelidiki kematian ayahnya, sebetulnya bagi Anoma tidak terlalu penting lagi. Setelah lebih dari lima belas tahun ia sudah mulai terbiasa hidup tampa Sirisena.

Tetapi siapapun pelakunya harus diproses sesuai dengan hukum, karena itu Anoma bersedia untuk menjadi saksi. Bila bertemu dengan lelaki itu, ia merasa masih bisa mengenali.

Gayatri mendengar pembicaraan ibunya dengan Malika, ia ikut nimbrung dan ia bercerita tentang apa yang dilihatnya waktu itu. Gayatri juga menceritakan tentang photo yang dilihatnya. Lelaki itu mirip dengan Gamini mame.

Anoma dan Malika sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Gayatri. Mereka bertanya, mengapa baru sekarang diceritakan?

Gayatri terdiam untuk mengingat kembali apa yang terjadi waktu itu kalian terlalu sibuk, tidak memberi kesempatan saya untuk bicara, mungkin karena saya masih terlalu kecil. Jawab Gayatri.

Mendengar cerita Gayatri, Anoma juga merasa curiga dengan Gamini mame yang seakan-akan selalu menghindar bertemu dengannya.
Anoma ingin melihat photo Gamini mame.

Malika ingin melihat photo tersebut, karena bisa digunakan sebagai bukti bahwa Ajith mahathia dan Gamini mame mengenal ayahnya Sirisena. Pada waktu Gayatri ingin menunjukkan photo ayahnya bersama Ajith mahathia dan Gamini mame, ternyata photo tersebut tidak ada.

Tentu suaminya dokter Suneth yang mengambil, tetapi mengapa seperti ada yang dirahasiakan. Apakah dokter Suneth mengetahui kalau ayahnya dan Gamini mame ada hubungan dengan kematian ayahnya?

Anoma dan Malika merencanakan pergi ke Colombo untuk bertemu dengan Mr Sajith Goonaratne, kebetulan dokter Suneth ada meeting di Colombo. Jadi mereka berempat pergi bersama-sama.

Sementara dokter Suneth pergi meeting, Gayatri menunggu di rumah mertuanya, waktu ia sedang beristirahat di kamarnya di lantai atas, ia mendengar bel rumah berbunyi beberapa kali.

Dengan agak malas Gayatri turun untuk membukakan pintu, di tangga ia hampir bertabrakan dengan Gamini mame yang setengah berlari menaiki tangga.

Gayatri merasa aneh dengan tingkah laku Gamini mame, seperti menghindari sesuatu dan mengapa tidak membukakan pintu. Pada waktu Gayatri membuka pintu ternyata ibunya yang datang, sebelum kembali ke Awisawela ia ingin bertemu dengan Ajith mahathia. Sampai ibunya pulang hanya Ajith mahathia yang menemuinya, Gamini mame tidak keluar dari kamarnya.

Hal tersebut membuat Gayatri semakin curiga kepada Gamini mame.

Sore harinya pada waktu mereka minum tea, Gayatri bertanya pada Gamini mame.

“Gamini mame….. kenal dengan Sirisena thatha? Dan Gamini mame yang waktu itu datang ke rumah memberi tahu ama tentang thatha dan membawa thatha ke rumah.”

Gamini terkejut sekali mendengar pertanyaan Gayatri dan ia kelihatan gugup.

“Apa maksud Gayatri duwe ?”

Gamini menjawab sambil menahan amarah, dan memandang ke Ajith mahathia dengan penuh pertanyaan.

“Saya melihat photo Gamini mame bersama Ajith thatha dan Sirisena thatha waktu masih muda, mirip dengan lelaki yang datang membawa Sirisena thatha sebelum meninggal….. Saya masih ingat dengan  Gamini mame.”

Jawab Gayatri, entah mengapa Gayatri tiba-tiba mempunyai keberanian bertanya seperti itu.

Ajith mahathia berusaha untuk menengahi dan ia mengatakan mereka tidak tahu tentang photo yang dimaksud, Ajith mahathia juga mengatakan bahwa mereka tidak tahu menahu mengenai kematian Sirisena ayah Gayatri.

Dengan marah Gamini mame membantah tuduhan Gayatri, suasanapun menjadi panas.

Tiba-tiba terdengar suara mobil dokter Suneth memasuki halaman, Gayatri keluar memyambut suaminya, Gamini mame meninggalkan ruangan pergi ke kamarnya. Setelah dokter Suneth dan Gayatri tidak ada di rumah, Gamini mame bertengkar dengan Ajith mahathia.

Seharusnya Ajith mahathia tidak membawa perempuan itu masuk kedalam keluarganya! Ia sudah memperingati Ajith mahathia sebelum mereka menikah.

Peristiwa tersebut membuat Gamini mame semakin bulat tekadnya untuk menyingkirkan Gayatri. Beberapa hari kemudian dokter Suneth ada tugas mendadak ke Colombo, ia pergi tampa Gayatri dan ia mampir rumah ayahnya.

Ia membawa photo ayahnya yang bersama Gamini mame, Sirisena dan satu orang lagi ia lupa namanya. Tetapi Ia ingat mereka pernah datang ke rumah mereka di desa.

Ajith mahathia dan Gamini mame sangat terkejut melihat photo itu…. Berarti photo ini yang dimaksud oleh Gayatri. Dokter Suneth bertanya apa yang disembunyikan oleh mereka berdua, mengapa mereka selalu mengatakan tidak mengenal Sirisena.

Ajith mahathia menjawab berbelit-belit begitu juga Gamini mame, tetapi dokter Suneth terus mendesak……. Akhirnya Ajith mahathia mengakui mereka yang telah menyebabkan Sirisena meninggal dunia. Gamini mame tetap bersikeras mereka tidak membunuh Sirisena…… Karena waktu itu Sirisena masih hidup.

Semua ini membuat dokter Suneth merasa malu dan serba salah pada keluarga Gayatri, ia mencintai istrinya dan sekarang Gayatri sedang mengandung anaknya.

Dengan marah dokter Suneth mengatakan, bahwa ia tidak mau tahu dan menginginkan ayahnya dan Gamini mame, menyerahkan diri ke kantor polisi biar polisi yang menentukan salah atau tidaknya.

Semua itu akan mempengaruhi kondisi Gayatri yang sedang hamil, karena itu sebaiknya setelah Gayatri melahirkan mereka menyerahkan diri ke kantor polisi.

Mereka berdua hanya terdiam sambil saling memandang.

Shiromi ada meeting di kantor pusat Colombo, dalam perjalanan pulang ke Awisawela Shiromi ingin ke toilet. Pada waktu melewati rest area, Shiromi minta ijin untuk berhenti sebentar di rest area.

Dengan terburu-buru Shiromi turun dari mobil, tiba-tiba ia mendengar bunyi suara kelakson mobil keras sekali disertai suara bentakan yang keras sekali…. Shiromi hampir tertabrak mobil yang akan keluar, ia melihat lelaki setengah baya di mobil tersebut dan merasa mengenali mobil tersebut.

Shiromi terkejut sekali langsung meminta maaf dan dengan setengah berlari ia memasuki restaurant di rest area tersebut. Tanpa diduga Shiromi menabrak laki-laki yang akan keluar dan menjatuhkan bungkusan yang dipegang laki-laki itu.

Dengan segera Shiromi mengambil bungkusan tersebut, ia melihat sejumlah uang yang cukup banyak. Shiromi menyerahkan bungkusan tersebut, sambil minta maaf dan kemudian pergi.

Pagi itu Gayatri mendapat telephone calls dari seseorang perempuan bernama Wayomi, mengaku teman sekolahnya. Gayatri lupa-lupa ingat…. Wayomi ingin bertemu dengan Gayatri, mereka berjanji untuk bertemu pada keesokan harinya.

Gayatri memberi tahu dokter Suneth mengenai telephone call tersebut, ia meminta ijin  bertemu dengan temannya besok di Awisawela.

Dokter Suneth tidak merasa keberatan dan bila telah selesai memeriksa pasien di rumah sakit, dokter Suneth akan datang juga untuk makan siang bersama mereka.

Mereka berjanji untuk bertemu di sebuah restaurant yang merangkap dengan toko roti, sambil menunggu Gayatri memesan minuman dan roti kesukaannya.

Tiba-tiba datang seorang laki-laki masih muda berkaca mata hitam, menghampirinya langsung duduk di kursi dekatnya.

“Gayatri? Saya Kasun Wayomi boy friend, kami berjanji bertemu di sini dia agak terlambat karena harus mengantar ibunya dulu.”

Kata laki-laki itu memperkenalkan diri, membuat Gayatri merasa serba salah, bagaimana orang ini bisa mengetahui dirinya? pikir Gayatri.

“Wayomi menunjukkan photo kamu pada saya!”

Kata Kasun, seolah-olah ia tahu apa yang dipikirkan oleh Gayatri.

Kasun menunjukkan beberapa catalog berisi wedding dress photos. Kasun mengatakan mereka akan menikah dan sedang mencari wedding dress buat mereka berdua. Gayatri diminta untuk bantu memilih.

Mereka langsung menjadi akrab walaupun baru bertemu, biasanya Gayatri termasuk tidak mudah akrab dengan orang yang baru dikenal. Mungkin karena Kasun pandai menguasai suasana.

Setelah lewat setengah jam Wayomi belum datang juga. Dokter Suneth kebetulan tidak terlalu  sibuk sudah datang lebih dulu.

Gayatri memperkenalkan dokter Suneth pada Kasun dan mereka saling menyapa.

Kasun nampak agak terkejut mungkin ia tidak mengira dokter Suneth akan datang, tiba-tiba handphonenya  berdering ia meminta maaf pergi untuk menjawab telephone.

Tidak berapa lama Kasun kembali dan memberi tahu bahwa Wayomi tidak dapat datang, karena ibunya terjatuh dari taxi. Kasun minta maaf ia harus segera ke sana untuk menolong Wayomi.

Dalam perjalanan pulang mobil mereka berpapasan dengan mobil Ajith mahatia mertuanya, Gayatri hanya melihat Gamini mame di mobil itu. Ia memberi tahu dokter Suneth tetapi ia tidak memberi perhatian.

Beberapa kali Gayatri mencoba mengontak Wayomi, tetapi selalu tidak ada jawaban. Akhirnya Gayatri melupakannya.

Usia kandungan Gayatri sudah enam bulan, perutnya sudah kelihatan membesar……dokter Suneth sangat memanjakan istrinya.

Hampir setiap pagi sebelum ke rumah sakit, dokter Suneth mengajak Gayatri untuk jalan kaki di tepi sungai tak jauh dari rumah mereka.

Mereka hanya ke Colombo bila ada sesuatu yang penting saja, dokter Suneth tidak mau Gayatri terlalu lelah.

Sudah beberapa minggu ini kadang Shiromi dan Malika melihat ada sepeda motor berhenti tidak jauh dari rumah mereka, membuat mereka merasa curiga.

Sambil berjalan dokter Suneth mengganggu Gayatry, dengan meniru cara Gayatri berjalan dengan perutnya yang besar. Mereka tertawa bersama.

Tiba-tiba ada seorang pemuda mengendarai sepeda motor dari arah berlawanan, berhenti tidak jauh dari mereka mukanya tertutup dengan helmet.

Pemuda itu melepaskan tembakan ke arah Gayatri…….. Secara reflek dokter Suneth berusaha melindungi istrinya Gayatri, dipeluknya dan didorongnya mereka tersungkur ke tanah…..Gayatry berteriak minta tolong sambil menangis.

Malika dan Shiromi baru saja keluar dari halaman rumah untuk pergi kerja, mendengar suara teriakan Gayatri minta tolong.

Mereka berlari ke jalan…. Mereka melihat pengendara sepeda motor yang melepaskan tembakan bertubi-tubi, kemudian memutarkan sepeda motornya untuk melarikan diri.

Malika berlari untuk menolong dokter Suneth dan Gayatri, sementara Shiromi berusaha menghalangi sepeda motor itu dengan berlari ke tengah jalan…. Tetapi motor itu berhasil mengelak dan melarikan diri, Shiromi sempat melihat jenis sepeda motor tersebut, walaupun plat nomernya hanya sebagian.

Gayatri tangannya terluka sementara dokter Suneth tubuhnya bersimbah darah dan tidak sadarkan diri…. beberapa peluru menembus tubuhnya.
Malika dan Shiromi membawa mereka ke rumah sakit Awisawela.

 

bersambung…

 

 

2 Comments to "Blue Sapphire (3)"

  1. Syanti  23 June, 2019 at 08:19

    Terima kasih Alvina , sudah membaca tulisan saya!

  2. Alvina VB  20 June, 2019 at 08:12

    Baru sempet baca lagi. Syanti ditunggu lanjutan ceritanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.