Mei Merah 1998

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Mei Merah 1998 – Kala Arwah Berkisah

Penulis: Naning Pranoto

Tahun Terbit: 2018

Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Tebal: viii + 222

ISBN: 978-602-433-721-6

 

Novel ini mengambil kisah perkosaan para perempuan Tionghoa Mei 1998. Meski di bagian sampul belakang disebutkan bahwa tokoh-tokoh yang dihadirkan adalah fiktif belaka, namun kisah ini jelas-jelas membahas penderitaan para perempuan yang diperkosa, anak-anak yang dilahirkannya dan keluarga-keluarga dekatnya.

Tokoh utama novel ini adalah Humaira, seorang perempuan keturunan Tionghoa yang dibesarkan oleh keluarga Jawa Islam di Gunungkidul. Humaira adalah bayi yang lahir dari pergaulan bebas seorang gadis Tionghoa yang kemudian dibuangnya. Ibu Intan, seorang dukun pijat yang dulunya bekerja di keluarga Tionghoa ini mengambilnya dan membesarkannya sebagai anak kandungnya. Meski Tionghoa, Humaira dibersarkan dalam tradisi Jawa dan beragama Islam.

Kisah tragis dialami oleh Humaira yang berupaya untuk bekerja di Jakarta. Ia ke Jakarta atas undangan teman dekatnya, Shinta. Ia diterima bekerja di sebuah restoran milih Cik Lin, seorang keturunan Tionghoa. Pada saat training itulah terjadi kerusuhan di Jakarta. Humaira diperkosa ramai-ramai sampai pingsan. Ia ditolong oleh seorang Romo dan relawan korban perkosaan. Humaira yang depresi berhasil melarikan diri dari tempat ia ditampung. Humaira sempat menggelandang selama 5 bulan, sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi pingsan di sungai. Ia kemudian dikirim ke Jogja supaya bisa dirawat oleh Suster Jo. Karena kondisi kandungannya sudah besar, maka aborsi tidak mungkin dilakukan. Maka bayi dalam kandungan Humaira hasil perkosaan tersebut akhirnya lahir. Humaira menamai bayinya Luk Luk yang artinya Mutiara.

Setelah itu Humaira bunuh diri dengan cara menggantung diri.

Luk Luk diadopsi oleh pasangan Sri Rahayu dan suaminya – seorang Kepala Sekolah. Luk Luk dibesarkan keluarga ini dengan penuh cinta kasih. Luk Luk tumbuh sebagai seorang gadis normal dan periang. Sampai suatu hari, ada pemuda yang menerornya melalui laman Face Book. Seorang Pemuda bernama Lexy mengatakan bahwa Luk Luk adalah bayi hasil perkosaan.

Dalam upayanya untuk mencari ibunya, Luk Luk linglung selama 3 hari di Stasiun Tugu di Jogja. Ia ditolong oleh satpam perempuan bernama Darwati. Selanjutnya Luk Luk bertemu dengan ibunya, Cik Lin, Shinta dan Suster Jo. Luk Luk ditawari untuk melanjutkan sekolah ke Australia. (Cik Lin dan Shinta memutuskan untuk tinggal di Australia selepas tragedi Mei 98).

Kisah ditutup dengan kunjungan orang-orang ini ke makam Humaira.

 

Stigmasi dan korban

Melalui novel ini Naning Pranoto ingin menyampaikan bahwa persoalan Tionghoa, khususnya perempuan Tionghoa sudah begitu kompleks. Dalam lingkungan Jawa (Jogja) yang toleran, stigmasi Tionghoa menjadi cair. Khususnya dalam kehidupan sehari-hari. Humaira, seorang bayi yang lahir dari kandungan perempuan Tionghoa dan tidak dikehendaki bisa diasuh oleh seorang perempuan Jawa – Islam dengan penuh kasih.

Naning Pranoto juga menunjukkan bahwa meski orang-orang Tionghoa itu adalah pelaku ekonomi, ternyata rasa sosial mereka tetap demikian tinggi. Tokoh Cik Lin sang pemilik bisnis restoran menunjukkan hal ini. Cik Lin juga sangat peka dengan isu-isu sara. Itulah sebabnya restoran dan peralatan masak dipisahkan antara sajian halal dan non halal.

Namun stigmasi tetaplah sesuatu yang berbahaya. Stigmasi menjadi alat bagi pihak-pihak yang haus kekuasaan. Pihak-pihak tersebut seaca sengaja menjadikan Tionghoa sebagai kambing hitam jika ada permasalahan pada bangsa ini. Termasuk kerusuhan Mei 1998.

Novel ini menunjukkan bahwa korban akibat dari kerusuhan yang mengkambing-hitamkan Tionghoa tidak hanya orang-orang Tionghoa. Korbannya termasuk mereka-mereka yang tidak ada sangkut-pautnya secara langsung dengan ke-Tionghoa-an. Ibu Intan yang meninggal karena ditinggal oleh Humaira, Ibu Sri Rahayu yang mengalami guncangan karena kehilangan Luk Luk adalah bukti bahwa korban-korban di luar orang Tionghoa selalu ada.

 

Kokohnya para perempuan

Dalam novel ini, semua tokohnya adalah perempuan. Tokoh utamanya bernama Humaira, seorang perempuan. Luk Luk juga seorang perempuan. Ibu Intan, Ibu Sri Rahayu, Suster Jo adalah perempuan-perempuan hebat. Tidak ada tokoh utama berjenis kelamin lelaki dalam novel ini. Jika ada tokoh lelaki, perannya amatlah ringan saja. Tokoh-tokoh lelaki ini sekadar untuk membuat ceritanya menjadi lebih lancar. Tokoh Kepala Sekolah, suami Ibu Sri Rahayu bahkan tidak disebut namanya. Ia hanya muncul sesaat, yaitu saat proses adopsi Luk Luk di sebuah panti asuhan. Selanjutnya tokoh ini sengaja dihilangkan melalui mati muda. Tokoh lelaki lainnya adalah Lexy, seorang yang meneror Luk Luk. Kehadiran tokoh Lexy hanya sekadar alat supaya ada dramatisasi kisah. Nasib Lexy juga digantung dalam novel ini. Apakah ia kemudian ditangkap polisi, atau bebas begitu saja? Naning Pranoto tidak peduli dengan tokoh lelaki yang tidak penting ini.

Pemilihan tokoh-tokohnya yang semua perempuan sangatlah menarik. Tokoh Humaira yang bunuh diri pun ditampilkan sebagai tokoh yang penuh perjuangan, tidak cengeng dan penuh kasih kepada anaknya. Humaira yang berkisah melalui lubang kuburnya (sub judul novel ini adalah “Kala Arwah Berkisah”). Humaira memang tidak bisa tahan dengan siksaan akibat perkosaan yang biadab. Tetapi ia tetap mengasihi bayi yang dilahirkannya. Itulah sebabnya ia menamainya Luk Luk – sang Mutiara.

Tokoh Suster Jo, Sri Rahayu, Ibu Intan, Shinta, Cik Lin dan Darwati adalah tokoh-tokoh perempuan yang penuh kasih dan penuh pengayoman. Meski mereka seringkali menjadi korban secara tidak sengaja, namun ketegarannya yang berlandaskan kasih telah mampu membawa pencerahan bagi kelangsungan kehidupan.

Adalah benar pernyataan: “Karena perempuan itu bukan sampah. Perempuan itu Rahim generasi yang membangun bangsa dan negeri megah.”

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

2 Comments to "Mei Merah 1998"

  1. Handoko Widagdo  6 July, 2019 at 09:54

    EA. Inakawa, sayangnya banyak pihak yang sangat mudah melecehkan perempuan.

  2. EA.Inakawa  6 July, 2019 at 09:38

    Perempuan itu, Maha Surga bagiku…..kata Perempuan masih ter-ngiang ditelingaku, kala aku terlahir ibuku membisik kan kata itu ditelingaku, nak aku IBU mu, Perempuan yang melahirkanku antara Hidup & Mati.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.