[Oase Hidup Malaikat Kecil] Reckless Love

Angela Januarti Kwee

 

Pada tanggal 25-26 Mei 2019 lalu, aku mengikuti ziarah dan gathering LSPG (LSPR Prayer Group) Catholic. Kegiatan ini bagus, dikemas sederhana dan memberi pengalaman yang berharga. Seperti biasa, aku senang memperhatikan hal-hal kecil yang terjadi dalam tiap hal. Jadi selama mengikuti rangkaian kegiatan ini, aku pun melakukan hal yang sama.

Dalam perjalanan menuju Lembang, aku mendengar cerita teman-teman panitia yang berjuang mencari dana agar biaya ziarah dan gathering dapat terjangkau oleh lebih banyak orang muda dengan kantong mahasiswa yang terbatas. Alhasil, 26 orang dapat berangkat. Selain itu, tim yang terbatas membuat mereka harus rela tidur subuh untuk mempersiapkan semua keperluan kegiatan. Aku salut melihat semangat mereka. Memang, menjadi panitia sebuah kegiatan itu butuh pengorbanan.

Ada beberapa tempat yang kami kunjungi dalam ziarah dan gathering ini. Perhentian pertama kami adalah Farm House, tempat di mana kami dapat menikmati keindahan alam, bunga-bunga yang bermekaran, merasakan suasana yang menyejukkan hati, dan bermain bersama binatang-binatang.

Tiap kami merasa sangat bahagia. Sesuatu yang mungkin sulit kami dapatkan ketika berada di ibukota. Perhentian selanjutnya adalah villa tempat kami menginap. Sesampai di sana kami hanya diberi sedikit waktu untuk beristirahat dan segera memulai permainan yang telah panitia siapkan. Satu hal yang penting di sini adalah kami harus mengumpulkan handphone ke panitia dan menghabiskan waktu bersama tanpa diganggu dengan gadget.

Ada tiga jenis permainan yang harus kami lakukan. Pertama, mencari orang dengan clue tanggal ulang tahun, tujuannya adalah agar kami mengingat ulang tahun teman-teman kami. Kedua, mencari koin di kolam renang, ini permainan yang paling seru sekaligus penuh perjuangan, kami harus menyebur ke kolam renang yang dingin di malam hari. Sumpah, airnya dingin sekali! Ketiga, permainan sarung, kami harus memberikan sarung pada teman di samping kami tanpa harus melepaskan pegangan tangan kami. Keempat, membentuk sesuatu dengan tali rafia.

Tujuan tiga permainan terakhir lebih kepada kekompakan tim, belajar untuk tidak egois dan mendengarkan pendapat orang lain. Permainan-permainan yang kami lakukan bersama ini, membuat kami menjadi akrab satu sama lain. Malam itu, ketika kami berada di rooftop villa, kami dapat menikmati kota Bandung yang indah dari kejauhan, dan ketika udara terasa dingin aku dan ketiga orang teman saling berpelukan. Pelukan itu bukan hanya untuk saling menghangatkan, tapi sebagai penyampai pesan bahwa kami tidak sendirian, ada orang-orang yang peduli pada kami.

Setelah itu, kami menghabiskan waktu berjam-jam hingga subuh untuk berbagi pengalaman suka duka kami sebagai orang muda dan saling menguatkan satu sama lain.

Ada pula kisah menarik tentang sambel. Saat makan malam, kami dibagikan nasi kotak dengan menu pecel ayam. Aku dan seorang teman termasuk pencinta cabe, jadi sambel yang tidak banyak itu kurang untuk kami. Ketika dosen yang mendampingi kami memberikan sambelnya pada seorang peserta, aku bertanya padanya apakah boleh membagikan sambel itu, dan ia memberikan sedikit padaku dan aku membagikan lagi pada teman di sampingku. Jadi, sambelnya dibagi tiga. Kemudian, tak lama setelah selesai makan, aku melihat yang membagikan sambel kepada kami memasukan nasi ke dalam kantong sambel dan menyatukan nasi dengan sisa sambel di plastik. Peristiwa itu mengajariku tentang berbagi sesuatu, meskipun itu sesuatu yang  kita suka dan jumlahnya tidak banyak.

Perhentian terakhir kami adalah pertapaan Karmel. Kami mengikuti misa Minggu bersama para peziarah dari banyak kota dan umat setempat. Kami juga melakukan jalan salib bersama. Homili dari romo yang memimpin misa sangat menyentuh dan terkait dengan apa yang kami lakukan saat itu. Rangkumannya begini :

1) Dalam kehidupan sehari-hari kita, ketika kita menjalin relasi dengan orang lain, apakah kita ‘semaunya gue’ atau lebih menerapkan kasih? Bila kita memilih ‘semaunya gue’, maka yang akan timbul adalah perselisihan atau pertengkaran.

2) Orangtua, keluarga dan komunitas, selalu menjadi tempat untuk pulang, karena ada kasih di dalamnya.

Dalam perjalanan pulang, aku dan seorang teman berbincang mengenai kegiatan dan tema yang diangkat ‘Reckless Love’. Ketika Tuhan sudah begitu baik dengan kita, ketika Ia rela mati untuk kita, apakah kita berani melakukan hal yang sama untuk-Nya?  Bagi temanku, makna Reckless Love lebih kepada bagaimana kita mau dan berani menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam kehidupan kita, agar orang lain merasakan kehadiran-Nya melalui kita, dan bagaimana dalam relasi, kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, tidak bersikap ‘semaunya gue’ yang membuat orang lain merasa tersakiti dan bukannya merasakan kasih.

Sebenarnya (entah disadari atau tidak), Reckless Love ini telah diterapkan oleh pendamping dan peserta selama kegiatan. Aku melihat teman-teman panitia yang berani mengorbankan waktu dan tenaganya untuk kegiatan ini, aku melihat dosen pembimbing yang begitu sabar mendampingi kami orang-orang muda, aku melihat teman-teman yang pengertian satu sama lain, aku melihat bagaimana perlakuan yang baik semua peserta terhadap supir yang membawa kami dan para pekerja di villa. Bagiku itulah ungkapan Reckless Love yang sebenarnya.

 

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

3 Comments to "[Oase Hidup Malaikat Kecil] Reckless Love"

  1. James  18 June, 2019 at 12:20

    keindahan kegiatan kaum muda, pergunakanlah masa muda mu dengan sebaik-baiknya Angela karena itu tidak akan terulang kembali

  2. Angela Januarti  14 June, 2019 at 14:15

    Terima kasih pak Ignas

  3. Ignas.L  14 June, 2019 at 12:57

    Tulisannya menarik menjadi inspiratif bagi kaum muda Gereja.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.