Bukan Petualangan Game of Thrones (1) Poreč

Hennie Triana Oberst

 

Daratan Eropa selalu menggoda untuk dijelajahi. Selain alamnya yang sangat indah, juga karena jarak dari satu negara ke negara lainnya relatif lebih gampang ditempuh. Walaupun letaknya saling berdekatan, tetapi bisa kita lihat bahwa tiap negara memiliki keindahan tersendiri, alamnya, juga arsitektur bangunannya tidak sama. Begitupun bahasanya, walaupun di sekitar daerah perbatasan antar negara mungkin ada kemiripan.

Di beberapa negara bagian di Jerman ada libur hari besar Pentakosta (Pfingsten) tetapi jumlah hari liburnya berbeda-beda. Masing-masing negara bagian punya kebijaksanaan sendiri untuk pembagian hari libur sekolah, tetapi jumlah hari libur sekolah per tahun di semua negara bagian adalah sama, hanya waktunya saja yang berbeda. Libur Pentakosta di tempat kami tinggal selama dua minggu. Tahun ini kami putuskan untuk mengunjungi negara Kroasia, salah satu anggota negara Uni Eropa. Tujuan utama kami adalah kota Poreč/Parenzo yang berada di Semenanjung Istria di Laut Adriatik, bagian dari Laut Tengah (Laut Mediterania).

Jarak kota Poreč dari rumah kami sekitar 840 km, kami tempuh sekitar 10 jam perjalanan, dengan dua kali berhenti untuk istirahat makan siang dan minum kopi, juga mengisi bensin. Oh iya, termasuk juga terhambat karena macet di jalan hampir 1 jam. Kalau suasana libur sekolah seperti ini sudah bisa dipastikan jalanan ramai di mana-mana dan ada beberapa titik kemacetan di jalan. Dari Jerman kami melewati negara Austria, Slovenia, baru kemudian memasuki Republik Kroasia/Republika Hrvatska (HR). Lumayan panjang antrian ketika memasuki gerbang perbatasan negara Kroasia. Di sini paspor diperiksa satu persatu, tapi prosesnya sangat singkat. Polisi perbatasan hanya melihat paspor sekilas dan mempersilakan jalan, kecuali yang menggunakan armada bus sedikit harus bersabar, karena menunggu lebih lama.

Penginapan kami letaknya tidak terlalu jauh dari pintu perbatasan negara yang kami masuki, jadi tak butuh berlama-lama lagi di jalanan, karena cukup lelah juga di jalan dan ingin segera istirahat. Untuk dua hari pertama kami memilih menghabiskan waktu di sekitar hotel dan berjalan kaki di sekitar pantai.

Hari berikutnya kami mengunjungi pusat kota yang jaraknya sekitar 1,5km, kami menumpang kereta yang disediakan untuk wisatawan dengan harga 15Kuna/orang (sekitar €2). Sangat menyenangkan menghabiskan waktu di kota ini, bersih dan tertata rapi dengan bangunan-bangunan tua yang sangat terawat. Menyusuri pinggiran pantai sambil memandangi kapal-kapal yang melintas dan bersandar, dengan riuh rendah suara burung camar yang bebas terbang dan hinggap di mana-mana. Walaupun terlihat ramai pengunjungnya tak terlihat grup wisatawan di sini, membuat acara jalan-jalan juga lebih nyaman. Tetapi mungkin saja kota ini akan lebih ramai pengunjungnya jika liburan musim panas yang sebentar lagi tiba. Di sepanjang pantai banyak ditawarkan wisata sehari ke Venesia dengan menumpang kapal, lokasi kota ini memang berseberangan.

Biasanya jika liburan kami memilih untuk tak terikat dengan jadwal, karena niat liburan untuk bersantai, jadi memang hampir tak ada daftar tempat-tempat yang harus kami kunjungi. Jika sempat dan tidak terburu-buru maka akan kami jalani. Hari ini tanpa sengaja kami menemukan puing-puing Roman Temple yang dibangun pada abad I. Ada dua puing Temple yang berdekatan, yaitu Tempel Neptunus dan Mars.

Di antara toko di kota tua ini ada gerbang menuju ke Euphrasian Basilica, dibangun pada abad ke IV. Walaupun ada restorasi dari kerusakan akibat gempa bumi dan kebakaran tetapi sebahagian besar masih dipertahankan dalam bentuk aslinya. Kathedral ini termasuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO. Kami tak sempat memasuki Kathedral ini karena kaki juga sudah lumayan terasa pegal.

 

Kroasia, Pfingsten Juni 2019

 

bersambung…

 

 

4 Comments to "Bukan Petualangan Game of Thrones (1) Poreč"

  1. Hennie Oberst  5 July, 2019 at 11:47

    S. Goh, boleh dicoba jalan-jalan ke Semenanjung Istria ini, bagus sekali.
    Terima kasih ya.

  2. s.Goh  5 July, 2019 at 10:47

    Inspirasi untuk kesana.

  3. Hennie Oberst  20 June, 2019 at 14:16

    Hai James, terima kasih sudah mampir. Iya ya, kalau lihat negara lain kenapa bisa ya bersih. China yang katanya (termasuk kata orang Indonesia) penduduknya kurang jaga kebersihan, negaranya relatif bersih. Kota besar agak kotor juga tapi dibandingkan kota besar di Indonesia ya masih bersihan di China. Mudah-mudahan pariwisatanya lebih bagus sekarang, aman, gampang ditempuh dan nyaman.

  4. James  20 June, 2019 at 10:46

    memang Negara-negara Eropah banyak sekali keindahan dan kebersihan, hanya mengapa Indoneisa tidak mampu seperti Negara-Negara itu ? bila saja Indonesia mampu bersih, indah dan aman maka Pariwisata akan melonjak tinggi

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.