Blue Sapphire (4)

Syanti

 

Artikel sebelumnya:

Blue Sapphire (1)

Blue Sapphire (2)

Blue Sapphire (3)

 

Hujan turun dengan deras sekali dan hari sudah mulai gelap, Asanka mengendarai sepeda motornya dengan tumbuh basah kuyup.

Asanka berusaha mencari tempat untuk berteduh, dari kejauhan ia melihat rumah yang tidak terlalu jauh dari jalan. Ternyata toko yang sudah tidak terpakai dan sudah agak rusak, walaupun demikian cukup lumayan bisa untuk tempat berteduh.

Di sekeliling tempat itu sangat gelap, samar-samar Asanka mendengar ada suara orang yang sedang berbicara di belakang toko tersebut. Asanka tidak dapat mendengar dengan jelas, karena suara hujan tetapi dari nada suaranya terdengar cukup serius.

Hujan sudah mulai agak reda baru saja Asanka akan pergi, ia melihat dari ujung sebelah sana ada suara, rupanya kedua orang itu juga akan pergi. Asanka menunggu sampai mereka pergi. Pada mulanya Asanka tidak melihat ada mobil jeep berwarna hitam diparkir di situ, pada waktu pintu mobil itu dibuka lampu di dalam mobil menyala. Ia melihat lelaki setengah baya memasuki mobil itu dan kemudian pergi meninggalkan tempat itu.

Sebelum pergi terdengar laki-laki itu berkata, dengan setengah berteriak.

“Sebaiknya cepat berangkat, kalau gagal plan B laksanakan!”

Cahaya lampu belakang mobil itu, membuat Asanka terlihat oleh lelaki yang lain dan dia menghampiri Asanka.

“Hi kaude?. . . . . Siapa di situ?”

Tanya laki-laki itu dengan curiga, sambil menyalakan lampu di handphone.
Asanka melihat wajah lelaki itu ternyata ia mengenalinya.

“Karunaratne. . . . saya Asanka! apa kabar?”

Lelaki itu terkejut melihat Asanka, kemudian mereka saling menyapa setelah lama tidak bertemu. Hujan agak reda Asanka pamit untuk melanjutkan perjalanannya, sementara Karunaratne masih tinggal di situ.

Dalam perjalanan pulang Asanka, ingat akan Karunaratne mereka pernah bekerja di perusahaan yang sama. Hubungan mereka cukup dekat, Karunaratne dikeluarkan dari pekerjaan karena menggelapkan uang perusahaan. Pada waktu itu Asanka berusaha untuk menolong Karunaratne agar tidak dikeluarkan dari tempat pekerjaannya, Asanka mengetahui Karunaratne memerlukan uang untuk pernikahan adik perempuannya.

Ayah Karunaratne seorang pemabuk, ia meninggalkan ibunya waktu Karunaratne masih kecil dengan adik perempuannya. Setelah itu Asanka tidak pernah mendengar berita tentang Karunaratne, baru hari ini bertemu lagi.

Setibanya di rumah ibunya memberi tahu bahwa tadi pagi telah terjadi penembakan pada Gayatri dan suaminya dokter Suneth. Asanka sangat terkejut dan berusaha untuk menghubungi Shiromi tetapi tidak ada jawaban, karena Shiromi sedang berada di rumah sakit phonenya di set silent.

Kondisi Gayatri tidak terlalu parah hanya lengan atas sebelah kiri yang tertembak, karena tubuhnya tertutup oleh tubuh suaminya yang berusaha untuk melindunginya. Tetapi dokter Suneth sangat kritis banyak peluru menembus tubuhnya. Karena itu dokter Suneth dikirim ke rumah sakit pusat Colombo, Malika pergi membawa dokter Suneth dengan ambulance ke Colombo.

Di rumah sakit Ajith mahathia sudah menunggu, ia menangis tersedu-sedu seperti anak kecil. Di sana ada Gamini mame juga, Malika baru pertama kali bertemu dengan Gamini mame. Caranya berbicara halus dan hati-hati, tidak seperti Ajith mahathia yang kalau bicara meledak-ledak seperti tanpa dipikir terlebih dulu.

Malika menunggu di rumah sakit sampai operasi selesai, bersama Ajith mahathia dan Gamini mame. Dari rumah sakit Malika memberi tahu Mr Sajith Goonaratne tentang peristiwa yang terjadi melalui telephone call. Mr Sajith Goonaratne sangat terkejut dengan peristiwa yang terjadi dan bersedia membantu bila diperlukan.

Peristiwa itu membuat Ajith mahathia sangat shock…Tiba-tiba ia seperti melihat Sirisena menghampirinya dengan mata melotot seolah-olah akan menerkamnya.

“Epa. . . epa. . . . jangan. . . . jangan!”

Teriak Ajith mahathia dengan terengah-engah dan nampak ketakutan sekali. Gamini mame dan Malika terkejut sekali, berusaha menenangkan Ajith mahathia. Mereka mengira Ajith mahathia terlalu berduka sehingga pikirannya kacau.

Sementara Gamini mame tidak banyak bicara, ia kelihatan berusaha untuk menenangkan dirinya dan nampak seperti ada yang dipikirkan.

Sore harinya Gamini mame mengantar Malika sampai terminal bis untuk pulang ke rumah. Sementara Ajith mahathia menunggu di rumah sakit.

Di rumah Malika mendapatkan ibunya yang baru kembali dari rumah sakit, ia nampak lelah dan wajahnya berduka. Sementara malam itu Shiromi menjaga Gayatri di rumah sakit.

Anoma memberi tahu Srilata achiama ibunya, bahwa ia sangat khawatir dengan kondisi dokter Suneth, bila dokter Suneth sampai meninggal. . . . berarti apa yang selama ini digossipkan tentang keluarganya benar, bahwa setiap laki-laki yang menikah dengan perempuan di rumahnya mati muda. Anoma menarik nafas panjang. . . Karena masih ada dua anak perempuannya yang belum menikah.

Malam harinya kondisi dokter Suneth semakin kritis, karena terjadi komplikasi. Dokter mengatakan kesempatan untuk sembuh fifty percent, mendengar itu Ajith mahathia sangat terkejut dan sedih…. Ia jadi teringat dengan apa yang telah ia lakukan terhadap Sirisena bersama Gamini.

Ajith mahathia sering dihantui oleh perasaan bersalah, ia sering merasa seolah-olah Sirisena mendatanginya. Ia berjanji pada dirinya akan mengakui kesalahannya pada keluarga Sirisena dan akan menyerahkan diri ke kantor polisi, setelah anaknya sembuh. Mendengar rencana Ajith mahathia untuk menyerahkan diri ke kantor polisi, Gamini menolaknya dengan marah.

Melihat ibunya sering duduk termenung, membuat Shiromi merasa prihatin. Begitu banyak persoalan yang harus dihadapi oleh ibunya. Dipeluknya ibunya, Shiromi minta maaf pada ibunya karena selama ini ia sering memberi problem pada ibunya. . . . . Shiromi berjanji akan mendengar nasehat ibunya, untuk tidak lagi berhubungan dengan Asanka.

Setelah pulih Asanka kembali bekerja dan orang tuanya tidak lagi memaksa dia untuk menikah, karena mereka tidak mau terjadi sesuatu pada anaknya.

Polisi datang ke rumah sakit, untuk meminta keterangan tentang apa yang terjadi. Gayatri menceritakan kronologi kejadian tersebut dan Shiromi juga memberi tahu ciri-ciri pelakunya termasuk jenis sepeda motor yang digunakan.

Di rumah sakit Colombo polisi bertemu dengan Ajith mahathia dan Gamini mame, mereka meminta informasi tentang dokter Suneth. Polisi ingin mengetahui bagaimana pergaulannya dan apakah dokter Suneth mempunyai musuh dan sebagainya. Ajith mahathia memberi keterangan tentang anaknya, bahwa dokter Suneth hanya bekerja di rumah sakit tidak banyak bergaul di luar pekerjaannya.

Gayatri memaksa untuk bertemu dengan dokter Suneth suaminya, walaupun dokter melarang karena kondisinya masih lemah bisa mempengaruhi kandungannya. Dokter Suneth masih dirawat di ICU kondisinya masih kritis dan belum sadar, Gayatri ingin bersama suaminya tidak mau pulang. Tetapi mereka tidak mengijinkan dan memaksanya untuk pulang.

Ajith mahathia sangat perhatian pada Gayatri dan memintanya untuk menjaga kandungannya, dengan banyak istirahat. Gamini mame melihat perhatian Ajith mahathia pada Gayatri, baginya sebagai ancaman yang sangat berbahaya. Karena itu ia menyusun rencana untuk mengakhiri semua ini.

Setelah dua minggu polisi berhasil menangkap pelaku penembakan, yang akan melarikan diri ke Timur tengah untuk bekerja di sana. Polisi melakukan pemeriksaan pada pelaku, tentang alasannya melakukan penembakan pada dokter Suneth dan istrinya Gayatri. Pelaku tidak termasuk dalam daftar hitam polisi, karena itu polisi ingin tahu apa motivasi dari tindakannya dan dari mana ia memperoleh senjata yang dia gunakan.

Setelah dilakukan pemeriksaan yang intensive, pelaku mengaku ia hanya orang suruhan dengan imbalan uang. Ia mendapat pistol dari army deserter. Yang sangat mengejutkan pelaku mengaku bahwa yang menyuruh melakukan pembunuhan adalah Gayatri istri dari korban. Polisi tidak mempercayai pengakuan pelaku. Tetapi pelaku mengatakan bahwa rencana pembunuhan ini sudah direncanakan beberapa bulan sebelumnya di sebuah restaurant di Awisawela.

Polisi mengadakan penyelidikan dengan mencari bukti-bukti, pada pelaku diketemukan photo Gayatri bersama pelaku di sebuah restaurant. Photo tersebut diambil oleh temannya tanpa sepengetahuan Gayatri. Untuk itu polisi menemui pemilik restaurant, polisi meminta mereka untuk mengidentifikasi photo tersebut apakah betul di restaurant itu. Ternyata di restaurant tersebut terdapat CCTV. Berdasarkan CCTV polisi mendapatkan bukti, bahwa Gayatri pernah bertemu dengan pelaku beberapa bulan yang lalu. Tetapi pada pertemuan itu terlihat dokter Suneth juga ada bersama mereka.

Karena itu polisi datang ke rumah sakit pusat Colombo untuk bertemu dengan dokter Suneth. Tetapi dokter belum mengijinkan, karena kondisi dokter Suneth masih belum memungkinkan. Polisi bertemu dengan Ajith mahathia dan Gamini mame, polisi bertanya tentang hubungan dokter Suneth dengan istrinya dan latar belakang pernikahan mereka. . . . Apakah pernikahan mereka berdasarkan cinta atau proposal.

Ajith mahathia menjawab semua pertanyaan polisi dengan jujur, mereka menikah karena cinta dan mereka tidak mempunyai problem, mereka saling mencintai satu sama lain. Pada waktu polisi menceritakan pengakuan pelaku, Ajith mahathia sangat terkejut dan tidak mempercayai. Bagaimana mungkin karena Gayatri juga ditembak dan terluka.

Gamini mame mendengar keterangan dari polisi, langsung meminta agar Gayatri segera ditangkap, karena sangat berbahaya setiap saat dia bisa datang untuk melakukan niatnya. Tetapi polisi masih memerlukan bukti yang kuat dan polisi masih memerlukan keterangan dari dokter Suneth, selain itu harus ada tuntutan dari keluarga korban.

Setelah polisi pergi Gamini mame berusaha agar Ajith mahathia sebagai  ayah dari korban menuntut Gayatri untuk ditangkap, tetapi Ajith mahathia hanya diam saja seperti orang bingung. Bagaimana mungkin Gayatri ingin membunuh suaminya, Ajith mahathia tidak  percaya apalagi Gayatri sedang mengandung anak suaminya dokter Suneth. . . . . . cucunya.

Tetapi Gamini mame terus menerus mempengaruhi Ajith mahathia, karena ini merupakan kesempatan untuk menyingkirkan Gayatri dari kehidupannya. Beberapa hari kemudian Ajith mahathia dan Gamini mame, datang ke kantor polisi Awisawela. Di sana mereka bertemu dengan pelaku, yang mengaku sebagai orang suruhan Gayatri.

Ajith mahathia marah sekali ia berusaha untuk memukul pelaku, sampai polisi datang untuk melerainya. Sementara Gamini mame hanya diam sambil memandang pelaku. Dengan marah Ajith mahathia meminta polisi agar menangkap Gayatri. Dan meminta anaknya di rumah sakit dijaga oleh polisi dan melarang Gayatri dan keluarganya untuk mengunjungi anaknya.

Polisi memanggil Gayatri untuk datang ke kantor polisi untuk mengidentifikasi pelaku. Karena hari itu Malika ada tugas di pengadilan, ia tidak bisa mengantar Gayatri. Shiromi meminta ijin dari kantornya untuk mengantar Gayatri sedangkan Anoma akan menyusul kemudian dari sekolah.

Sebelum berangkat Malika berpesan pada Gayatri agar hati-hati dan bila polisi bertanya sebelum menjawab pikirkan dulu dengan tenang. Di kantor polisi hanya Gayatry yang diijinkan masuk, Shiromi diminta menunggu di ruang tunggu. Gayatri dibawa masuk kedalam ruangan dari balik kaca pemisah ia melihat seorang laki-laki, betapa terkejutnya ternyata Kasun boyfriend Wayomi yang pernah bertemu di sebuah restaurant di Awisawela.

Melihat reaksi Gayatri, polisi bertanya apa ia mengenalnya? Dengan jujur Gayatri menjawab ya. Polisi bertanya tentang hubungannya dengan Kasun. Gayatri menceritakan pertemuannya, tetapi polisi nampak tidak percaya. Polisi bertanya bermacam-macam pertanyaan yang diulang-ulang dan ia tidak tahu apa maksud dari pertanyaannya. Membuat Gayatri  panik tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.

Sementara menunggu Shiromi bertemu dengan Asanka yang sedang ada urusan yang harus di selesaikan di kantor polisi. Shiromi menceritakan tentang Gayatri pada Asanka,   tak lama kemudian ia melihat ibunya datang dari sekolah setelah mengajar.

Anoma menghampiri Shiromi dan Asanka, bertanya bagaimana apa yang terjadi dengan Gayatri? Shiromi memberi tahu bahwa Gayatri ada di dalam sana, sambil menunjuk ke arah pintu tempat Gayatri berada. Setelah hampir satu jam lamanya kemudian pintu terbuka, Gayatri keluar didampingi polisi wanita. tanpak Gayatri berjalan sambil menangis dan tangannya diborgol.

Melihat semua itu Anoma dan Shiromi sangat terkejut, begitu juga Asanka. Mereka menghampiri Gayatri dan bertanya apa yang terjadi? Polisi menyatakan bahwa Gayatri menjadi tertuduh yang merencanakan pembunuhan dokter Suneth suaminya. Mereka tidak mempercayai tuduhan polisi, mereka protes dan berusaha membela Gayatri.

Tak lama kemudian polisi membawa keluar pelaku dari tempat pemeriksaan. Pada waktu melihat wajahnya Shiromi merasa pernah melihatnya,   ia ingat dia adalah lelaki yan bertabrakan dengannya di pintu masuk restaurant di rest area. Asanka menghampiri pelaku untuk melihat wajahnya lebih jelas karena ia seperti mengenalnya. . . . . . Ternyata ia Karunaratne, waktu ia melihat Asanka ia pura-pura tidak melihat seperti tidak kenal.

Gayatri berusaha menolak untuk dimasukkan ke dalam sel tahanan, ia masih ingin bersama ibunya tetapi polisi mendorong secara paksa. Shiromi dengan marah mendorong polisi itu sambil berteriak.

“Jangan kasar seperti itu!  Ia sedang hamil! tidak kah kalian melihatnya?”

Mendengar teriakan Shiromi menimbulkan perhatian orang di sekitar dan polisi yang sedang bertugas, sehingga menimbulkan keributan. Polisi berusaha menenangkan dengan memberi kesempatan Gayatri untuk berbicara dengan keluarganya terlebih dulu. Anoma dan Gayatri saling bertangisan, sementara shiromi berusaha menghubungi Malika.

Mr. Sajith Goonaratne menunjuk Laksman Fernando untuk membantu Malika, mencari bukti-bukti untuk membebaskan Gayatri dari semua tuduhan. Laksman Fernando lebih senior beberapa tahun dari Malika, jam terbangnya sudah tinggi, ia sudah lama bergabung dengan Mr Sajith Goonaratne.

Gayatri dengan kandungan yang sudah membesar duduk di dalam sel. . . . Menanti keadilan! 

 

bersambung…

 

 

One Response to "Blue Sapphire (4)"

  1. J C  17 July, 2019 at 09:32

    Cerita dengan latar belakang Asia Selatan tidak banyak. Saya penikmat cerita bersambung Syanti…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.