Zonasi dan Sekolah Swasta Tidak Terkenal

Herluinus Mafranenda Dwi Nugrahananto

 

“Dulu SMAnya mana?”
“Saya di SMA Kolese De Britto, Sleman.”
“Sekolah apa itu? Biasanya yang kuliah disini dari SMA negeri ber angka.”

Percakapan ini terjadi tahun 2010, saat awal pertama kuliah dulu

***

“Zonasi ini bikin ribet. Anak saya kan jadi nggak bisa masuk SMA paporit. Kalau gak bisa masuk SMA paporit, anak saya sulit masuk SMA negri. Bla bla bla…”

Ibu pasien saya asyik ngobrol dengan perawat. Sementara anaknya sedang saya rawat. Karena sudah masuk ke arah percakapan yang semakin khayal dan hiperbol, maka saya potong percakapan itu

“Bu, saya dulu sekolah di SMA swasta, di pinggiran. Di Kabupaten Bu, bukan ikut kotamadya. UN juga kopnya bukan kotamadya, tapi kabupaten. Tapi saya bisa sekolah di Universitas Negeri yang termasuk 10 besar di Indonesia, Kedokteran Gigi tertua di Indonesia. Dan hari ini saya bisa duduk di sini melayani Ibu dan anak ibu.”

***

Zonasi ini kebijakan yang cukup bagus, jika dilaksanakan sesuai aturan yang ada dan jujur: tidak ada yang pindah KK secara mendadak hanya demi mendapatkan kursi di sekolah negeri yang katanya paporit itu. Dengan adanya zonasi, maka akan ada beberapa dampak yang terjadi. Pertama, sekolah akan mulai berpikir bagaimana membuat si biasa saja, atau si tidak pintar, bisa menjadi pintar. Kedua, guru akan bekerja keras bagaimana memintarkan semua anak didiknya. Ketiga, tidak semua anak pintar hanya terpusat pada SMA negeri favorit. Persebarannya akan merata. Jadi tidak ada lagi bahwa alumni SMA Negeri X adalah langganan kuliah di Universitas Negeri Y.

Permasalahan yang terjadi adalah jika kecurangan terjadi. Misalnya, titip KK ke kolega atau keluarga yang masuk zonasi. Hal ini harus terus dievaluasi dan dicegah. Apalagi seharusnya dari NIK saja sudah kelihatan, apakah orang tersebut pindahan, atau memang asli situ (NIK ini memuat data kewilayahan juga. Yang asli Arcamanik pasti NIKnya beda dengan yang asli Buahbatu).

Stigma yang terbentuk adalah sekolah di SMA Negeri favorit maka sudah pasti masuk ke Universitas Negeri. Ini yang salah. Sekali lagi, ini salah. Sebenarnya, masuk dan tidak masuk Universitas Negeri adalah tergantung anaknya. Kalau memang dia pintar, bisa berkembang, mau ditaruh dimanapun maka ia tetap akan masuk Universitas Negeri favorit.

Ingat peribahasa “bahkan emas dibungkus dengan tahi pun, ia akan tetap emas. Tahi, mau dikasih matcha dan Mozarella, dia akan tetap tahi.”?

Seorang anak, ketika dia memang emas, ditaruh dimana aja dia akan tetap jadi emas. Tapi, ketika dia memang sudah ampas, kalau tidak diolah sama sekali, dia akan tetap ampas. Ampas kalau diolah, masih bisa berguna jadi pupuk minimal

Pendidikan saat ini memang harus seperti itu. Fokus tidak lagi hanya pada ‘segerombolan anak yang harus diarahkan masuk ke perguruan tinggi negeri, terserah apapun jurusannya pokoknya negeri’. Tapi berfokus pada ‘pengembangan tiap individu, sehingga dari tidak mampu menjadi mampu menentukan pilihan terhadap jalan hidupnya’

Sekarang tinggal anaknya, mau jadi emas atau tahi? Sekolah di SMA favorit kalau mentalnya sudah mental begal, maka lulus pun ia akan jadi begal, bukan sarjana. Di SMA ecek-ecek ketika mimpinya menjadi Advokat dan dia terus menghidupi itu, maka ia akan menjadi advokat juga.

Berhentilah berpikir bahwa sekolah di sekolah A sudah pasti baik. Berpikirlah bagaimana caranya si anak dapat menentukan hajat hidupnya sendiri, tujuannya sendiri. Bukan sekedar ikut trend. Supaya nanti ketika dewasa, bukan pemerintah yang lagi-lagi salah.

Bandung, 22 Juni 2019

 

 

About Herluinus Mafranenda

Kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga 2010-2014. Mahasiswa Profesi Kedokteran Gigi sekarang - 2015. Anda sakit gigi? Ada gigi berlubang? Gigi sakit tiba-tiba nggak sakit lagi? Gigi goyang? Mau dibuatkan gigi tiruan? Ada sariawan, gusi bengkak-bengkak mudah berdarah, atau gangguan kesehatan mulut lainnya? Tenang saja, hubungi saya di 081802760016 atau mention di Twitter @herluinusTND khusus daerah Surabaya, Jatim dan sekitarnya. Kualitas terjamin, harga bersaing, perawatan di RSGMP FKG Unair Surabaya. Karena kesehatan Anda yang utama...

My Facebook Arsip Artikel

2 Comments to "Zonasi dan Sekolah Swasta Tidak Terkenal"

  1. Handoko Widagdo  8 October, 2019 at 12:43

    Memang benar. Zonasi adalah cara terbaik untuk memberi kesempatan belajar bermutu kepada semua anak. Namun implementasinya harus dilakukan dengan sangat sistematis, karena skolah-sekolah di Indonesia sudah terlanjur dibangun tanpa sistem zonasi.

  2. Dewi Aichi  26 June, 2019 at 21:29

    Aku satu pemikiran denganmu Herlu….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.