Blue Sapphire (5 – Selesai)

Syanti

 

Artikel sebelumnya:

Blue Sapphire (1)

Blue Sapphire (2)

Blue Sapphire (3)

Blue Sapphire (4)

 

Sepanjang jalan ke Colombo Malika hanya terdiam, sementara Laksman sambil mengendarai mobil memperhatikan Malika…..yang biasanya tenang, tapi kali ini wajahnya nampak sangat cemas.

Setelah lebih dari satu tahun mereka bekerja bersama, ia menyukai cara kerja Malika yang selalu sistematis dan rapih. Malika adalah wanita pendiam, tetapi di pengadilan dia bisa menyerang lawannya dengan berani dan selalu bisa melihat kelemahan lawan. Tetapi kali ini ia nampak cemas mungkin karena ini kasus adiknya, sehingga ia sering terbawa emosinya.

Pagi tadi mereka berdua ke kantor polisi Awisawela untuk mengajukan permohonan, agar Gayatri medapat tahanan luar dengan membayar bail atau denda. Tetapi polisi menolak permohonan mereka, karena polisi masih menyelidiki bukti-bukti yang diserahkan oleh mereka dan korban masih belum sadar. Karena itu mereka harus mengajukan permohonan ke pengadilan.

Setiap pagi sebelum ia berangkat kerja istrinya membawa bunga melati untuk melakukan puja, mereka berdoa pada Lord Buddha…….kemudian diciumnya kening istrinya. Tiba-tiba istrinya tersungkur dengan tubuh bersimbah darah, ia berusaha untuk menolong istrinya. Tapi tubuhnya terasa berat dan kaku, tangan dan kakinya tidak bisa bergerak seperti diikat. Ia berusaha beteriak memanggil nama istrinya tetapi suaranya tidak dapat keluar.

” Ga…ga…ga…yatriii !”

Perawat yang sedang bertugas sangat terkejut melihat pasien yang bergerak-gerak sambil berusaha untuk bicara. Ia segera memberi tahu dokter yang sedang bertugas. Mendengar laporan itu dokter datang memeriksa pasien dan ia melihat pasien dengan perlahan membuka matanya. Ia memandang sekeliling dengan mata penuh pertanyaan.

Dokter Anura menjelaskan bahwa dokter Suneth berada di rumah sakit Colombo, terluka karena tertembak dan sudah hampir dua bulan tidak sadar. Mereka senang sekali melihat keadaan dokter Suneth yang mengalami kemajuan. Mendengar dokter Suneth anaknya telah sadar, Ajith mahathia senang sekali. Dengan segera ia dan Gamini mame datang ke rumah sakit.

Dokter Suneth bertanya tentang istrinya Gayatri, Ajith mahathia tampak agak bingung….sambil memandang Gamini mame, ia menjawab bahwa Gayatri baik-baik saja, karena kandungannya tidak bisa datang. Melihat ayahnya menjawab sambil berpandangan dengan Gamini mame, membuat dokter Suneth merasa curiga. Tetapi karena tubuhnya masih terasa lemah, ia hanya diam saja.

Pada waktu Malika mendengar dokter Suneth sudah sadar. Ia bersama Laksman pergi menemui dokter Suneth di rumah sakit Colombo. Pada waktu melihat Malika dengan Laksman datang mengunjunginya dokter Suneth senang sekali, ia langsung menanyakan Gayatri. Malika memperkenalkan Laksman kepada dokter Suneth sebagai teman kerjanya.

Melihat dokter Suneth tidak mengetahui keadaan Gayatri istrinya, Malika menceritakan semua yang terjadi pada Gayatri.

Dokter Suneth tidak percaya dan merasa terkejut. Dokter Suneth bertanya apa alasan Gayatri ingin membunuhnya ?

“Menurut Kasun Karunaratne, Gayatri ingin membunuh suaminya untuk mendapatkan harta kekayaannya.” Jawab Malika, dengan nada tidak percaya.

Mendengar jawaban itu membuat dokter Suneth terdiam….. apakah Gayatri mengetahui kalau ayahnya dan Gamini mame yang membunuh Sirisena ayah Gayatri? sehingga ia ingin membunuh dirinya, pikir dokter Suneth. Melihat dokter Suneth hanya terdiam, Malika memberi tahu dokter Suneth bahwa hanya dia yang bisa membebaskan istrinya dari tuduhan tersebut atau ia menghendaki anaknya lahir di dalam penjara.

Setelah Malika dan Laksman pergi, perasaan dokter Suneth tidak menentu. Perkataan Malika masih tergiang terus menerus…..hanya ia yang bisa membebaskan istrinya atau istrinya akan melahirkan anaknya di dalam penjara! Malam harinya dokter Suneth terbangun karena mendengar suara Gayatri mengerang kesakitan dari kamar bersalin…..ternyata ia hanya bermimpi.

Keesokan harinya dokter Suneth memutuskan untuk menemui Gayatri, ia mengajukan permohonan perawatan selanjutnya untuk dipindahkan ke rumah sakit Awisawela. Dokter Suneth memberi tahu Malika tentang rencananya dan mereka akan ketemu di kantor polisi pada siang harinya.

Dengan menggunakan kursi roda dokter Suneth menemui istrinya, dari balik jeruji besi ia memandang istrinya. Gayatri menangis tersedu-sedu membuat ia tak kuasa menahan air matanya. Mereka saling bertangisan, dengan dibatasi jeruji besi. Gayatri berusaha untuk menjelaskan apa yang telah terjadi, tetapi dokter Suneth melarangnya. Ia percaya pada istrinya tidak mungkin melakukan semua itu, karena mereka saling mencintai.

Dokter Suneth mengajukan permohonan untuk membebaskan istrinya dari segala tuduhan. Ia meminta Malika dan Laksman sebagai kuasa hukumnya untuk menangani pembebasan Gayatri. Pada kesempatan itu dokter Suneth menemui Kasun Karunaratne, melihat kedatangan dokter Suneth membuat Kasun Karunaratne sangat terkejut sekali.

“Matakai deh?….Ingatkah saya siapa? Apa kesalahan kami? Kenapa kamu begitu membenci kami? Apakah karena saya dan istri saya saling mencintai?” Tanya dokter Suneth, dengan lemah lembut sambil memandang pada Kasun Karunaratne tampa rasa benci.

Mendengar pertanyaan dokter Suneth, Kasun Karunaratne hanya terdiam dan merasa bersalah……hatinya terasa pedih. Asanka pernah datang menemuinya, bertanya mengapa ia melakukan semua ini dan siapa lelaki yang bersamanya malam itu?….. Kasun tidak menjawabnya tetapi ia mengusir Asanka dengan marah.

Pagi itu Malika mendapat telephone call dari polisi, bahwa mereka telah mendapat rekaman CCTV dari rumah makan di rest area. Malika diminta untuk datang. Dari rekaman CCTV tampak Kasun bertabrakan dengan Shiromi….. sebelumnya ia di restaurant tersebut bertemu dengan seorang laki-laki setengah baya yang memberikan sejumlah uang. Setelah lelaki itu pergi Kasun menghitung uang, kemudian berjalan keluar dan bertabrakan dengan Shiromi. Tetapi wajah laki-laki itu kurang jelas karena ia mengenakan topi dan kaca mata hitam.

Asanka diminta datang untuk melihat rekaman CCTV tersebut, apakah orang tersebut sama dengan lelaki yang bersama Kasun malam itu?
Asanka agak ragu tapi ia merasa ada persamaan, Asanka melihat hanya sepintas dan pada waktu itu malam harinya dan gelap. Kasun Karunaratne yang semula tetap mengatakan bahwa Gayatri yang membayarnya untuk membunuh dokter Suneth. Tetapi setelah bertemu dengan dokter Suneth dan melihat rekaman CCTV. Akhirnya ia mengakui siapa orang yang menyuruhnya.

Pada waktu ia masih kecil setiap ayahnya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk, ia bersama adik perempuannya bersembunyi di sudut kamar dengan ketakutan. Ayahnya sering bertengkar dengan ibunya dan ayahnya sering melakukan kekerasan pada ibunya. Hal ini membuat ia membenci ayahnya, ia tidak ingin ayahnya pulang ke rumah.

Sudah sering ayahnya tidak pulang, kadang beberapa bulan bahkan bertahun-tahun. Tetapi setiap ayahnya pulang ibunya selalu menerima ayahnya, membuat Kasun Karunaratne sangat marah. Karena bagi ibunya lelaki itu tetap suaminya dan ayah dari mereka.

Ayahnya tidak hadir waktu adik perempuannya menikah, sebagai ayah itu merupakan tanggung jawabnya. Kasun Karunaratne kehilangan pekerjaan karena ia memakai uang kantor untuk tambahan biaya pernikahan adiknya, yang akan ia kembalikan tetapi kantornya memecat dia. Dengan susah payah ia berhasil mengatasi keterpurukannya . Bahkan ia sudah menikah……sampai kemudian lelaki tua itu datang kembali ke rumah dan ibunya menerima ia kembali.

Tanpa sepengetahuan keluarganya, ayahnya telah menggadaikan rumah tempat tinggal mereka kepada rentenir illegal. Mereka terkejut ketika tiba-tiba, rentenir tersebut datang untuk menagih hutang dan mereka harus membayar hutang dengan bunganya yang sudah beberapa kali lipat dari hutangnya. Atau mereka akan menyita rumah tersebut. Dalam keadaan panik, Kasun Karunaratne dikenalkan dengan seseorang yang mau membantunya. Tetapi dengan syarat harus membunuh seseorang…..ia menolaknya karena ia tidak pernah melakukan kejahatan.

Tetapi orang itu menjanjikan bahwa ia akan mengatur segalanya dan mengirim Kasun Karunaratne bekerja ke luar negri untuk menghindari dari kejaran polisi. Kasun Karunaratne tetap menolak tawaran orang tersebut, tetapi istrinya memberi tahu bahwa ia hamil anak pertamanya. 

Sementara debt collector terus menerus mengintimidasi ia dan keluarganya…….. mereka tidak tahu harus pergi kemana. Akhirnya ia menerima tawaran tersebut….. orang itu yang mengatur pertemuannya dengan Gayatri, karena ia ingin mengetahui dengan pasti orang yang harus dia bunuh.

Orang itu yang mengambil photo mereka berdua ….ia tidak tahu siapa Wayomi. Semua sudah direncanakan dengan rapih oleh orang tersebut. Pagi itu ia menunggu sasarannya, ternyata Gayatri sedang hamil, ia sangat terkejut sekali, karena pada pertemuan itu ia tidak melihatnya, mungkin karena perutnya belum terlalu besar…. Gayatri dalam posisi duduk perutnya tertutup meja.

Bagaimana ia harus membunuh Gayatri yang sedang hamil, sementara istrinya juga sedang hamil …..ia merasa seperti membunuh istrinya sendiri. Tetapi ia harus melakukannya, hari itu merupakan kesempatan terakhir karena dalam beberapa hari, ia sudah harus berangkat ke Timur tengah untuk bekerja.

Sebetulnya Kasun Karunaratne tidak pernah menggunakan senjata api….tampa pikir panjang ia menembak secara membabi buta. Gayatri hanya terluka ringan, dokter Suneth yang mengalami luka berat.
Malam harinya ia bertemu dengan orang tersebut, orang itu sempat marah kepadanya karena telah salah sasaran. Tetapi kemudian mereka menyusun rencana lain…..bila ia sampai tertangkap polisi sebelum berangkat.
Ia harus mengaku pada polisi, bahwa Gayatri yang membayar dia untuk membunuh suaminya.

Orang itu berjanji akan membantu ibu dan istrinya selama ia ada di penjara. Ternyata keberangkatannya tertunda, karena ada beberapa persyaratan yang belum selesai. Beberapa hari sebelum berangkat ia tertangkap.

Pada waktu polisi menanyakan siapa orang yang menyuruhnya, Kasun Karunaratne tidak tahu nama orang tersebut, karena orang itu tidak mau memberi tahu namanya dan tempat tinggalnya. Mereka selalu bertemu di suatu tempat yang ditentukan oleh orang itu melalui telephone call.

Polisi berusaha menghubungi orang tersebut, ternyata no telephone tersebut sudah tidak active. Pada waktu polisi meminta ciri-ciri orang tersebut, tiba-tiba Kasun Karunaratne ingat bahwa orang itu pernah datang ke kantor polisi bersama ayahnya dokter Suneth, orang tersebut Gamini mame.

Hari itu juga polisi datang ke rumah Ajith mahathia, tetapi Gamini mame tidak ada di rumah sedang menengok keluarganya di desa. Polisi memberi tahu, bahwa Gamini menjadi tersangka karena dia yang menyuruh Kasun Karunaratne untuk membunuh Gayatri, tetapi dokter Suneth yang menjadi korban.

Mendengar semua itu Ajith mahathia marah sekali, memang ia mendapat laporan dari bagian keuangan di kantornya bahwa Gamini mame beberapa kali mengambil uang dalam jumlah yang banyak. Ia tidak merasa curiga karena perusahaan itu milik mereka berdua. Sore harinya Gamini mame pulang ke rumah, Ajith mahathia tidak bisa menahan amarahnya. Ia tidak bisa membayangkan jika dokter Suneth anak satu-satunya kalau sampai meninggal dunia.

Mereka bertengkar dengan hebat, pada waktu Ajith mahathia akan menelephone polisi. Gamini mame memukul kepala Ajith mahathia dengan kursi dari arah belakang ….. Ajith mahathia berdiri dekat tangga di lantai atas, ia terjatuh terguling ke bawah dengan kepala terluka, bersimbah darah dan tidak sadarkan diri.

Pembantu di rumah mendengar ribut-ribut datang dan melihat Ajith mahathia terluka berusaha untuk menolong tetapi Gamini mame mendorong pembantu tersebut dengan keras sehingga terjatuh dan kepalanya terbentur meja dan tak sadarkan diri. Pada waktu tersadar pembantu itu berteriak minta tolong pada tetangganya. Mereka membawa Ajith mahathia ke rumah sakit, tetapi karena pertolongan datang sangat terlambat. Ajith mahathia kehilangan banyak darah dan jiwanya tidak tertolong.

Beberapa hari kemudian Gamini mame tertangkap di tempat persembunyiannya dan mengakui semua perbuatannya. Gamini mame dijatuhi hukuman seumur hidup, untuk kesalahan merencanakan pembunuhan Gayatri dan membunuh Ajith mahathia serta membunuh Sirisena.

Kasun Karunaratne, dijatuhi hukuman lima tahun penjara atas penembakan kepada Gayatri dan dokter Suneth. Yang meringankan Kasun belum pernah melakukan tindakan kejahatan. Sedangkan yang memberatkan dia telah melakukan kebohongan. Ajith mahathia meninggal tanpa sempat melihat cucunya yang pertama.

 

Gayatri melahirkan anak perempuan, dokter Suneth menjual semua kekayaan ayahnya dan menyerahkan semuanya pada Anoma. Tetapi Anoma dan anak-anaknya menolak semua, karena bagi mereka uang tersebut tidak akan membawa kebahagiaan. Kemudian mereka menyerahkan semuanya ke Yayasan sosial dan Budhist temple.

Malika menikah dengan Laksman dan mereka menetap di Colombo. Shiromi akhirnya menikah dengan Asanka dan menetap bersama keluarga Asanka. Dokter Suneth dan Gayatri menetap bersama Srilata achiama dan Anoma ibunya di rumah tua.

“Dalam kehidupan…kita akan menuai, apa yang kita tabur ! cepat atau lambat!”

SELESAI

 

 

4 Comments to "Blue Sapphire (5 – Selesai)"

  1. Syanti  19 July, 2019 at 19:39

    Terima kasih JC…. banyak idea sih.
    Besok kami mau ke colombo, biasanya di sana pengacara…pengangguran banyak acara. Nanti kalau balik ke kebun ada banyak waktu untuk nulis.

  2. Syanti  19 July, 2019 at 19:35

    Terima kasih Alvina!
    Kebudayaan India agak mirip dengan Srilanka.

  3. Alvina VB  17 July, 2019 at 19:18

    Akhirnya happy ending ya Syanti. Mirip2 cerita India kok ya….Ditunggu cerita2 yg lainnya.

  4. J C  17 July, 2019 at 09:35

    Rata-rata cerita latar belakang Asia Selatan mirip suasana dan latar belakang keluarganya ya…semoga masih ada lagi cerita-cerita bersambung dari Syanti lagi…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.