Tandjung – Kedai Kopi Tertua di Bireun (Aceh)

Azmi Abubakar

 

Didirikan Oleh SU PEK, Orang Aceh Asal Etnis Tionghoa.

Roti bakar beroleskan selai dan secangkir kopi saring jenis robusta, merupakan menu khas dari “Beng Kupi Tandjung”, yang dihidangkan sejak berdirinya pada tahun 1940an.

Bireuen memiliki sebutan khas untuk kedai kopi yaitu “Beng Kupi”. Di seluruh Aceh, hanyalah di kota ini berlaku sebutan khas tersebut, di kota lain, kalau bukan kedai ya warung kopi.

Su Pek, adalah nama pendiri Tandjung, beliau sudah turun temurun tinggal di Aceh. Su Pek, sangat dikenal oleh masyarakat sekitar, bahkan setiap acara yg diselenggarakan oleh masyarakat, beliau selalu menyempatkan diri untuk hadir. Dalam bahasa Acehnya: “Hana kahuri yang hana geujak”
Artinya: “Tak ada pesta yang beliau tidak hadir”

Hubungan masyarakat Aceh dengan etnis Tionghoa, sudah berlangsung sangat lama, bahkan orang-orang Tionghoa sudah sejak lama mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Aceh, bukan Tionghoa.

Kebudayaan orang-orang Tionghoa, seperti perayaan Cap Go Meh, juga disambut dengan gembira oleh segala lapisan masyarakat, tua maupun muda. Anak-anak kampung sekitar, bahkan sudah paham betul akan mendapatkan angpau.

Memang sejatinya, Aceh adalah wilayah yang menyimpan banyak jejak hubungan erat dengan etnis Tionghoa, selain pemakaman khusus Tionghoa yang merupakan hibah dari raja-raja setempat, juga ditemukan beberapa lokasi “weu buy” (sebutan kandang babi dalam bahasa Aceh) yang menjadi tempat pemeliharaan bahan dasar, bagi menu andalan sebagian besar orang-orang Tionghoa. Kini, hal tersebut hanyalah tinggal cerita indah dari masa yang lalu

Ketika Aceh diserang oleh Belanda pada tahun 1873, orang-orang Tionghoa menyiapkan senjata bagi pejuang2 Aceh. Juga, ketika kota Medan diduduki oleh Belanda pada masa Revolusi (1947-1948), orang-orang Aceh bahu membahu menuju Medan untuk mengusir dan menghadapi Belanda, tak terkecuali orang-orang Tionghoa. Jejak keterlibatan perjuangan orang-orang Tionghoa di Aceh, dengan rapi kami simpan di Museum Pustaka Peranakan Tionghoa.

Kembali ke Kedai Kopi 😊 Bagi “Tandjung”, perubahan zaman tidaklah merubah keadaan kedai yang tetap nampak klasik, walaupun kedai lainnya sudah ramai menyediakan aneka racikan maupun jenis kopi, tapi disini tetap hanya kopi hitam saja. Begitu juga tampilan kedai yang seolah apa adanya, tidak tergoda akan penataan dan desain ala Starbucks.

“Berapa lama sudah bekerja di kedai kopi Tandjung ini bang?”
“Kami rata-rata sudah kerja 15 sampai 25 tahun!”

Mereka, yaitu pemilik dan pekerja, memang nampak seperti satu keluarga, lebih dari sekedar hubungan pekerja dan majikan. Luar biasa.

Tandjung, buka mulai 6.30 sampai 18.00 setiap hari, berbeda dengan ratusan bahkan ribuan kedai kopi lainnya di Aceh, yang akan tutup pada tengah malam, bahkan lewat.

Banyak kedai kopi milik orang Tionghoa di segenap penjuru Aceh, dan telah menjadi identitas sangat penting bagi orang Aceh itu sendiri.

 

Kedai Kopi Tandjung
Jalan Ramai no 160. Bireuen

Tak Kenal Maka Tak Sayang
Salam Persaudaraan Indonesia

 

 

One Response to "Tandjung – Kedai Kopi Tertua di Bireun (Aceh)"

  1. J C  17 July, 2019 at 09:33

    Bang Azmi, suatu hari kalau ke Aceh lagi, info ya…siapa tau bisa ikut ke sana…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.