Airmata untuk Letnan

Ida Cholisa

 

“Mbak, ada pesan dari seseorang. Letnan X. Beliau akan menelepon lagi besok pagi. “

Hatiku dipenuhi kembang. Girang, riang, senang bukan kepalang. Kan kudengar lagi suara sang Letnan pujaan…

Minggu pagi, 1996.

“Kriiiing… “

Jantungku berdegup kencang. Gemetar tanganku mengangkat gagang telepon.

“Dinda?”

“Kakak…”

Rindu itu pecah. Aku terbang dalam bahagia tak terlukiskan. Delapan tahun kurindukan ia, sang Letnan pujaan…

“Dinda…. “

“Ya, Kakak…”

Hening.

“Dinda… ada satu hal yang ingin Kakak sampaikan… “

Aku menunggu sang Letnan melanjutkan kalimatnya. Harap-harap cemas.

“Dinda… Kakak hendak menikah. Nanti Dinda datang ya di pesta pernikahan Kakak?”

Bagai disambar petir telingaku. Limbung badanku, nanar mataku. Air mataku tumpah tak terbendung olehku…

“Dinda… “

“Ya, Kakak. Semoga Kakak bahagia.”

“Semoga sukses kuliah Dinda, ya? “

Telepon ditutup. Aku terduduk. Aku terisak. Sedih itu begitu menghentak.

***

Ia kakak asuhku. Kakak kesayanganku. Dalam diam aku mencintainya sepenuh hatiku. Satu windu, delapan tahun, cinta itu terus tumbuh seiring perjalanan hidupku.

Aku bertemu dan mengenalnya sejak kelas 1 SMA. Cintaku mekar saat status murid baru melekat di pundakku. Hingga ia dilantik menjadi perwira, hingga aku lulus SMA, rasaku tak berubah padanya.

Ia menemaniku dari jauh. Menyemangatiku hingga gelar sarjana hampir tergenggam tanganku.

Tepat di detik ujian pendadaran skripsi… Ia sampaikan kabar menyedihkan itu.

***

“Dinda, meski Kakak sudah menikah, jangan sampai putus persaudaraan kita. “

Kuabaikan permintaan sang Letnan. Tak bisa kututupi pedihnya perasaan. Bahkan kurobek foto-foto yang ia kirimkan. Foto pernikahan…

Persaudaraan berselimut cinta tertahan itu pun mati perlahan. Hingga sepuluh tahun kemudian…

“Dinda, tinggal di mana sekarang? Berapa anakmu?”

Suara itu menghujam ulu hatiku. Ada sedih ada rindu.

“Kakak berapa anaknya? “

Ia menjawab parau.

“Kakak belum dikaruniai anak, Dinda… “

***

Kini kutahu di singgasana mana ia berada. Tapi sungguh tak ingin kutahu tentang keberadaannya.Telah musnah segala rasa, meski ingatan tentangnya sesekali menggoda.

Ia hanyalah kerlip bintang di kelam malam. 
Adanya sesaat saja, untuk kemudian tenggelam tergantikan surya… ***

 

Cileungsi, 16 Juli 2019

 

 

One Response to "Airmata untuk Letnan"

  1. Ida Cholisa  17 July, 2019 at 22:01

    Trm kasih Maa Aji Chen dan Mba Dewi Murni…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.