Gagal Menjadi Endonesah

djas Merahputih

 

Indonesia adalah negara yang kedaulatannya berada di tangan rakyat. Hal ini berarti bahwa, keberadaan negeri ini sangat dipengaruhi dan sangat bergantung pada bagaimana sikap maupun karakter rakyat sebagai pemilik kedaulatan itu sendiri. Hal paling dominan mempengaruhi sikap hidup masyarakat adalah agama dan adat istiadat. Adat istiadat telah eksis lebih dulu sebelum datangnya pengaruh agama-agama dari luar Nusantara. Spiritualitas mereka hanyalah dalam bentuk Animisme dan Dinamisme. 

Seiring waktu, agama-agama masuk dan beradaptasi secara harmonis agar dapat diterima secara sukarela oleh masyarakat Nusantara. Begitulah kemudian sehingga Islam menjelma menjadi agama mayoritas di negeri ini. Agama dan adat-istiadat bersinergi yang selanjutnya membentuk dan memancarkan karakter murni rakyat Indonesia. Namun di balik segala harapan akan simbiosis mutualisme tadi, sangat disayangkan, hingga perlu mendapat perhatian serius dari negara adalah, munculnya gejala-gejala degradasi terhadap nilai-nilai tradisi serta keutamaan rakyat Indonesia itu. Keutamaan dimaksud yaitu KERAGAMAN dan KERAMAHAN.

Belakangan ini muncul sebuah trend di kalangan warga bangsa berupa fenomena fashion bernuansa Timur Tengah, penggunaan ‘Burqa’. Burqa adalah pakaian tradisional negeri-negeri di Timur Tengah. Mengadopsi budaya ini dengan kemasan agama Islam akan berkontribusi terhadap proses penghilangan jati diri bangsa Indonesia yang dikenal sangat plural dan toleran terhadap berbagai ragam perbedaan. Burqa mengeliminir identitas individu. Padahal, keunikan individu ini adalah akar dari keragaman berbagai budaya tradisional masyarakat Indonesia.

Burqa juga menghilangkan tampilan ekspresi pada wajah orang-orang Indonesia. Sementara, wajah ramah dan murah senyum rakyat Indonesia sudah menjadi ciri khas bangsa di mata penduduk dunia. Secara perlahan, burqa telah berperan dalam mengikis keutamaan-keutamaan dan kearifan lokal masyarakat Indonesia. Ironisnya, gejala trendi ini selalu dikaitkan dengan dan mengatasnamakan Islam. Terlebih pula, fenomena ini menyebar seringkali justru berawal dari dunia pendidikan formal.

Awal masuknya Islam di Nusantara sangatlah berbeda dengan fenomena dakwah Islam akhir-akhir ini. Syiar Islam menyasar pada nilai-nilai universal tentang keharmonisan hubungan antar manusia, hubungan dengan alam serta hubungan dengan Sang Pencipta. Syiar Islam merasuk ke dalam sanubari yang kemudian keluar membentuk akhlak mulia berupa karakter sopan, arif dan ramah kepada seluruh makhluk serta tunduk dan patuh kepada Sang Pencipta. Bertumbuh itu membesar dari dalam lalu menyebar dan bersinar keluar. 

Selain itu, dakwah di masa lalu lebih menitikberatkan pesan kepada bentuk-bentuk kesalehan sosial daripada bentuk-bentuk kesalehan individu. Kesalehan sosial terwujud dalam tata cara maupun interaksi antar masyarakat di kehidupan sehari-hari sebagai sebuah tradisi. Penghormatan terhadap tradisi lokal seperti upacara adat, permainan tradisional, musik hingga tari-tarian, ditunjukkan dengan menggunakannya justru sebagai media dakwah. Agama diajarkan dalam atmosfir kesenangan dan kebahagiaan, bukan dalam suasana mencekam, menakutkan dan penuh curiga serta prasangka.

Agama-agama pun tak perlu harus dan selalu menyertakan ornamen-ornamen budaya asli negeri agama itu berasal. Sebab tujuan akhir ajaran berbagai agama adalah sebuah kesempurnaan akhlak. Jika saja di saat awal, Islam disebarkan dengan berfokus pada kemasan seperti kewajiban penggunaan burqa dan semacamnya, mungkin saat ini Islam tak kan pernah sukses menjadi sebuah agama mayoritas di seantero Nusantara. Keuniversalan Islam adalah terutama pada nilai dan falsafah ketuhanannya, bukan pada kemasan, bukan pula pada keindahan pernak-perniknya..!!

Kegagalan memahami perbedaan agama dan budaya menjadi faktor utama merebaknya fenomena hijrah fashion ini. Jadilah Hindu tanpa menjadi India, Jadilah Kristen tanpa menjadi Yahudi, Jadilah Budha tanpa menjadi Tiongkok, jadilah Islam tanpa harus menjadi Arab, begitulah Bung Karno memotifasi kesadaran masyarakat dalam memahami ajaran agama yang ada.

Menjadi seorang Muslim/Muslimah dan menjadi seorang Indonesia bukanlah dua hal yang saling meniadakan. Seseorang seharusnya bisa tetap menjadi Indonesia dan sekaligus menjadi seorang Kristen, Hindu dan Budha.  Seseorang pun seharusnya mampu tetap menjadi Indonesia dan juga sekaligus tetap menjadi seorang Muslim/Muslimah. Pemaksaan ornamen fashion seperti burqa untuk menunjukkan identitas keagamaan, mungkin berhasil memamerkan jati diri seseorang sebagai Muslimah, tapi sangat bisa dipastikan dan amat sangat disayangkan… mereka telah gagal menjadi Endonesah.

Dan kini… kuhanya bisa berdoa, semoga Tuhan memberi mereka hidayah untuk segera kembali ke asal mereka, kembali menjadi diri sendiri, kembali menjadi Endonesah, tanpa harus kehilangan iman dan keislaman mereka. Sebab sejatinya, Islam itu adalah perihal AKHLAK, bukan perihal FASHION.

 

Makassar, Menuju Agustus 2019

@djasMpu

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

6 Comments to "Gagal Menjadi Endonesah"

  1. djasMerahputih  26 July, 2019 at 09:32

    Makasih Tji Lani

    Semoga generasi berikut lebih bangga dengan budaya bangsanya sendiri. Ngga latah dengan budaya luar yg masuk atas nama agama.

    Salam Nusantara

  2. Lani  23 July, 2019 at 06:55

    Djas suwe ora jamu baik2 dan sehat2 saja tentunya………
    Menurutku budaya sendiri harus di uri2 dihormati dan dibanggakan…….jangan malah mengimpor budaya luar kemudian dijadikan atau mungkin dipaksakan menjadi budaya sendiri?

    Mengenal budaya negara lain bolah boleh saja tapi kalau kemudian dengan tujuan untuk menghilangkan budaya sendiri itu namanya pinter keblinger……..

    Setuju dengan komentar Avy : “Jadilah Hindu tanpa menjadi India, Jadilah Kristen tanpa menjadi Yahudi, Jadilah Budha tanpa menjadi Tiongkok, jadilah Islam tanpa harus menjadi Arab, begitulah Bung Karno memotifasi kesadaran masyarakat dalam memahami ajaran agama yang ada.”

  3. djasMerahputih  21 July, 2019 at 11:15

    He he …

    Bener mba Avy. Najwa yg anak Qurais Shihab malah nggak pake hijab.. tapi kontribusi terhadap daya kritis masyarakat sangat besar..

    Kesalehan sosial selalu berdampak lebih banyak bagi kemanusiaan.

    Salam Nusantara

  4. Alvina VB  20 July, 2019 at 04:56

    “Kegagalan memahami perbedaan agama dan budaya menjadi faktor utama merebaknya fenomena hijrah fashion ini. Jadilah Hindu tanpa menjadi India, Jadilah Kristen tanpa menjadi Yahudi, Jadilah Budha tanpa menjadi Tiongkok, jadilah Islam tanpa harus menjadi Arab, begitulah Bung Karno memotifasi kesadaran masyarakat dalam memahami ajaran agama yang ada.”

    Setuju banget Djas. Burqa bukanlah budaya kita, kl mau tutup kepala, ya seperti kel. Gus Dur aja, kaya bu Wahid dan anaknya Yenny Wahid tutup kepala a la budaya Indonesia.

  5. djasMerahputih  20 July, 2019 at 02:43

    Betul mas Handoko.. Budaya asli Indonesia memiliki kearifan tersendiri. Lentur, ramah dan estetis.

    Salam Nusantara

  6. Handoko Widagdo  18 July, 2019 at 11:48

    Daeng Djas Merah Putih, kita harus berani menggunakan budaya kita dan tidak serta merta mengganti dengan budaya dari luar.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.