Wo Ai Ni Allah

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Wo Ai Ni Allah

Penulis: Vanny Chrisma W.

Tahun Terbit: 2014

Penerbit: Citra Media Pustaka

Tebal: viii + 368

ISBN: 978-602-7729-97-1

 

Buku ini sangat menarik karena membahas topik Tionghoa dari sisi pencarian spiritualitas. Biasanya novel-novel yang mengambil tema Tionghoa mengambil tema ekonomi, percintaan antaretnis atau masalah sosial. Novel ini memilih topik pencarian spiritualitas, yaitu tentang mencari Tuhan. Tema spiritual sangat jarang dihubungkan dengan Tionghoa. Sebab agama memang bukan isu utama permasalah Tionghoa di Indonesia. Meski ada ketegangan antara Tionghoa dan Islam, tetapi skalanya tidaklah terlalu besar. Tidak seperti isu ekonomi atau isu sosial.

Kisah ringkasnya adalah sebagai berikut. Tan Tio datang ke Indonesia bersama dengan Mei Hwa istrinya dan anak perempuannya yang masih kecil. Ia datang ke Indonesia ikut abangnya A Liong yang sudah lebih dulu datang ke Indonesia. A Liong adalah seorang bandar narkoba besar. Tan Tio bekerja di usaha abangnya tersebut.

Suatu hari Tan Tio mendapatkan mimpi. Sejak itu ia berupaya mencari tuhan. Ia menemui berbagai tokoh agama untuk mendapatkan penjelasan tentang apakah Tuhan itu ada. Tan Tio juga membaca banyak buku tentang agama dan tentang tuhan. Jika ada, siapakah Dia? Dalam pencariannya tersebut, Tan Tio selalu ditemani oleh anaknya yang masih kecil bernama Amei. Oleh tetangga-tetangganya Tan Tio dianggap gila.

Saat Tan Tio merasa sudah menemukan tuhan, ia malah terbunuh. Segerombolan laki-laki memukulinya. Pembunuhan Tan Tio disaksikan oleh Amei. Tan Tion sempat berpesan supaya Amei meneruskan upaya ayahnya untuk mencari tuhan.

Ibunya sangat kecewa dengan Amei. Sebab Amei tidak memberitahunya jika sang ayah telah mendapat surat ancaman sebelum terbunuh. Saking kecewanya ibunya meninggalkan Amei di sebuah terminal di Surabaya. Amei menjadi gelandangan di kota Surabaya. Dalam kondisi gangguan mental, Amei pernah akan diperkosa oleh gelandangan lainnya.

Sementara itu A Liong ingin menculik Amei. Sebab Amei adalah saksi dari pembunuhan Tan Tio yang dilakukan oleh anak buah A Liong. Namun Amei sudah terlanjur dibuang oleh ibunya. A Liong sangat marah, sehingga membakar rumah Tan Tio, saat Mei Hwa masih berada di dalamnya. Untunglah Mei Hwa diselamatkan oleh Ustadz Rohmat. Mei Hwa dirawat oleh keluarga Ustazd Rohmad. Mei Hwa akhirnya menemukan tuhan dan memeluk Islam. Mei Hwa kemudian berupaya mencari Amei.

Akhirnya Amei ditemukan oleh Husain, seorang mahasiswa psikologi yang sedang melakukan penelitian. Amei menjadi semakin baik berkat penanganan Husain. Amei akhirnya menemukan tuhannya. Allahuakbar.

Di akhir cerita, Amei bertemu dengan A Liong yang ternyata adalah ayah kandungnya. Pertemuan dalam kondisi yang sangat menegangkan. Sebab sang ayah sedang diburu polisi karena perbuatan jahatnya. A Liong akhirnya tertembak polisi dan mati. A Liong mati saat masih meragukan apakah benar Amei adalah anak kandungnya atau bukan.

 

Novel ini menarik. Selain dari tema spiritualitas yang jarang sekali dipakai dalam novel-novel berlatar belakang etnis Tionghoa, novel ini juga membahas atheisme dan agama-agama. Berbagai alasan orang-orang atheis untuk tidak percaya kepada tuhan dipaparkan dalam novel ini. Penulis melakukan riset tentang atheisme dengan bergabung dengan kelompok atheis sebelum menulis novelnya. Benturan antara atheisme dengan agama dipakai sebagai daging dalam alur cerita. Meski berhasil mengungkap banyak alasan orang tidak percaya tuhan, novel ini kurang bisa memberi jawab dari sisi mereka yang percaya tuhan. Novel ini menggunakan pengalaman pribadi sebagai landasan manusia untuk percaya tuhan. Alasan-alasan rasional dari penganut atheisme tidak terjawab secara rasional.

Ada sebuah kelemahan besar dalam tokoh-tokoh di novel ini. Kelemahan pertama adalah tokoh A Liong, Tan Tio dan Mei Hwa yang datang ke Indonesia dan berhasil membangun bisnis narkoba dengan sangat cepat. Jika kita menduga berapa waktu mereka tinggal di Indonesia melalui umur Amei, maka kita bisa menduga bahwa mereka berada di Indonesia tidak lebih dari 15 tahun. Sebab Me Hwa masih dalam kondisi hamil saat berada di China, sebelum pindah ke Indonesia. Sementara Amei di akhir cerita baru mendapatkan haid pertama.

Kelemahan kedua adalah pada tokoh Amei. Tokoh Amei digambarkan sebagai gadis kecil yang masih bermain engkle. Amei terpaksa berhenti sekolah saat masih kelas 2 SD karena tidak kuat diejek teman-temannya sebagai anak orang gila (hal. 186). Namun di halaman 53, Amei melakukan perenungan terhadap ajaran Confusius yang didapatnya dari membaca buku milik ayahnya. Selain melakukan perenungan terhadap Confusius, Amei juga digambarkan membaca buku-buku agama milik ayahnya. Mungkinkah anak yang hanya kelas 2, ayahnya dianggap gila, ibunya tidak memperhatikannya tiba-tiba mampu membuat perenungan-perenungan selayaknya orang dewasa?

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

2 Comments to "Wo Ai Ni Allah"

  1. Hennie Oberst  26 July, 2019 at 18:01

    Menarik sekali ini bukunya. Terima kasih mas Handoko.

  2. J C  26 July, 2019 at 17:05

    Topik kayak gini selalu menarik dibaca…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.