Centang Biru

Dewi Aichi – Brazil

 

Apa sih korelasinya centang kelabu dan centang biru pada chat Whatsapp dengan masalah perasaan?

Sekarang ini serba terkoneksi dengan mudah. Semuanya terjangkau. Termasuk juga dengan efek lain yang menyertainya. Tinggal kita bagaimana menyikapi semua perkembangan jaman yang sangat amat cepat. Baru berkedip mata sudah ada hal-hal baru lagi yang terbit. Kita ngga akan mampu menggapai semuanya.

Whatsapp adalah aplikasi yang hampir semua orang menggunakan. Disamping mudah menggunakan, juga murah. Menghubungkan manusia di seluruh jengkal tempat di bumi.

Meski demikian, Whatsapp juga menjadi penyebab banyaknya orang terluka, kesal, marah, atau sebaliknya, bahagia,senang, dan dimudahkan segala urusan.

Urusan hati ini yang bikin rumit. Apalagi kalau sudah berkaitan dengan asmara. Bisa-bisa emosi jiwa setiap saat hehe..ini tak bisa dibantah. Sudah terbukti. Apalagi dengan fitur centang tanda baca, yang diciptakan oleh Apple tahun 2011.

Bayangin jika anda mengirim pesan kepada seseorang, jika pesan itu masuk ke kontak Whatsapp seseorang akan muncul di kontak pengirim yaitu centang kelabu, artinya pesan masuk dengan sukses. Ketika centang kelabu berubah menjadi biru, artinya penerima pesan sudah membaca pesan yang kita kirim. Tentu saja sebagai pengirim pesan, berharap pesan segera di balas. Apabila penerima pesan tak segera membalas, apa sih yang ada di pikiran pengirim? Tentu saja merasa diabaikan, ini sangat tidak menyenangkan.

Terlebih lagi jika itu urusan asmara, bisa-bisa membuat marah jika pesan tidak segera di balas. Centang biru itu seolah-olah membuat “sekarang” adalah harus membalas pesan. Jika tidak, akan berakibat hubungan yang tidak baik. Ini benar-benar merasa diabaikan.

Alasan, sedang mandi, ketiduran, sedang melakukan sesuatu, tak akan diterima oleh pengirim pesan. Meski hal itu mungkin saja benar bahwa ia belum sempat membalas. Saya pribadi juga ngga suka, jika sudah centang biru tetapi tidak segera dibalas. Saya lupa apakah saya juga sering melakukan hal itu? Kayaknya sih tidak hehe..

Lain halnya jika tanda baca itu masih kelabu, artinya orang yang menerima pesan sedang tidak online di line Whatsapp. Yang mengirim pesan biasanya akan mencari tau, apakah ia benar-benar sedang tidak online? Semua akun ditelusuri, aktivitasnya di sosial media menunjukkan bahwa ia sedang online atau tidak. Bahkan bisa dilihat waktu yang muncul pada setiap aktivitasnya.

Fitur centang biru yang artinya sudah dibaca, menciptakan efek emosional yang bisa jadi membuat si pengirim pesan badmood atau marah. Ada etika baru yang dibawa read receipts alias tanda dibaca pada aplikasi pesan. Apakah anda salah satu pelaku demikian? Pertanyaan untuk saya juga.

Meninjau dari level hubungan pengirim pesan dengan penerima pesan tentu saja ada prioritas-prioritas tertentu. Dengan teman dekat, tentu prioritas akan lebih utama dibanding dengan teman kenalan, apalagi dengan orang yang masih sebatas virtual. Lain halnya dengan hubungan asmara atau percintaan. Pasti masing-masing ingin diprioritaskan. Jika hal ini sudah tidak ada, maka hubungan patut dipertanyakan.

Luka akan terasa lebih perih jika pesan itu ditujukan untuk kekasih, sudah centang biru namun satu jam lebih belum dibalas. Bahkan sampai hari berikutnya baru di balas. Ini akan berakibat merasa diabaikan, dilupakan. Atau mungkin sudah tidak mencintai lagi.

Namun demikian, untuk meminimalkan hal-hal yang terjadi demikian, bisa saja pengguna Whatsapp akan menghilangkan fitur tersebut. Pada aplikasi Whatsapp bisa di atur sendiri oleh pemilik akun. Sehingga penanda centang sudah dibaca atau belum, tidak akan muncul di pengirim pesan.

Mungkin ini bisa membantu sekali untuk menciptakan suasana hati, menjaga hubungan professional maupun personal. Alasannya bisa macam-macam. Dari sudut pengirim pesan, tanda baca ini menjad penyebab merasa diabaikan, tak di hormati, merasa tidak penting baginya. Sedang pengirim pesan, tanda baca dimatikan agar tidak dianggap menyepelekan pengirim pesan, takut ketahuan jika ia memang mengabaikan pesan, atau agar tak disalahkan jika ia lama membalas.

Saya pribadi masih memilih menyalakan tanda baca walau kadang-kadang geram jika pesan kita diabaikan. Tetapi tidak semua pesan, tergantung ke siapa pesan itu saya kirim. Jika tidak penting-penting amat, ya ngga perlu berharap pesan cepat di balas. Dengan saya nyalakan tanda baca, saya tau dan mengamati, saat pesan kita tidak dibalas dengan segera, saya akan menganggap bahwa saya diabaikan, penerima pesan tidak tertarik, untuk mengontrol pembicaraan juga.

Boleh jadi fitur centang biru ini adalah fitur dengan efek yang banyak buruknya. Mengakibatkan hubungan bisa berantakan. Misalnya saja, cowokmu membaca chat pesanmu, dan ia akan membalasnya nanti, bisa jadi si cewek akan merasa diabaikan.

Sebaiknya jangan berpikiran buruk jika ingin selalu sehat pikiran. Merasa tidak dicintai, merasa tidak diprioritaskan, merasa diabaikan etc….Janganlah demikian, setiap orang punya urusan masing-masing. Ini juga salah satu ketidaksempurnaan. Jika tidak bisa menerima ketidaksempurnaan seperti ini, ya tidak akan bisa bersama.

Saya membaca tulisan Rizky Dwinanto mengenai chat di Whatsapp. Sunggu sedikit sekali orang yang punya sikap manis seperti dia. Sikap manis yang disertai dengan sifat asem jika sudah badmood. Tetapi dalam meluangkan waktunya, ini sungguh-sungguh hebat. Rizky akan fokus dengan lawan chat. Hal-hal sepele akan dijawab dengan panjang lebar. Ini sangat menyenangkan tentunya.

Entah sudah berapa hati yang tersakiti sejak perusahaan Apple mengenalkan fitur Read Receipt alias tanda “pesan sudah dibaca” pada tahun 2011 lalu. “Lawannya cinta bukanlah benci, melainkan perasaan diabaikan.” Ini pula yang terjadi ketika menerima tanda sudah dibaca pada aplikasi chatting yang biasa kita gunakan, sementara menunggu pesan tak dibalas. Mengetahui seseorang sudah membaca pesan kita namun tak kunjung memberikan balasan itu akan menimbulkan perasaan terabaikan dan berujung pada sakit hati.

Coba bayangkan apa yang terjadi ketika pesan Whatsapp sudah memberikan tanda centang biru dua tanda dibaca, namun si penerima tak kunjung memberi balasan sementara dia bisa update status di facebook atau mempublish instagram stories atau bahkan membuat status di Whatsapp itu sendiri. Biasanya akan muncul sindiran.

“Update status di mana-mana, tapi pesan chat gue tidak dibalas”

Sering kan baca demikian? Cara paling cepat ya dengan men-stalking sosial medianya. Apalagi yang paling mudah adalah, ia update status di Whatsapp itu sendiri. Buat saya, sekali dua kali ada rasa kesal, tapi tak perlulah didera asumsi-asumsi yang tak penting soal tanda baca ini. Ketika bercanda ria malam via chat tiba-tiba obrolan terhenti dengan pesan menunjukan sudah dibaca. Pikiran pun langsung kalut dan menduga-duga secara negatif. Padahal mungkin saja si pasangan sudah tertidur misalnya. Maaf saya juga sering meninggalkan percakapan tanpa menutup sebuah kalimat perpisahan.

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

5 Comments to "Centang Biru"

  1. Lani  27 July, 2019 at 07:56

    DA sak gitunya sampai centhang biru atau centhang lainnya diperhatikan….walah dalah…..hahaha

  2. Dewi Aichi  26 July, 2019 at 20:32

    pak Lurah..baik ya hahahhaa..ngga ngomel-ngomel, tapi tergantung urgen apa ngga, kalau urgen dan ditunggu jawabannya kadang kesel…

    Tapi pesan di WA jarang yang urgen kalau aku sekedar percakapan biasa saja, kalau urgen ya tilpon.

    Alvina, dulu aku menolak punya WA, males aja, tapi sekarang merasakan mudahnya, murahnya, enaknya berkomunikasi dengan WA.

    James, gimana, suka?

  3. J C  26 July, 2019 at 17:07

    Kalo ada yang ngomel-ngomel sudah centang biru 2 kok belum balas, aku omeli balik. Jaman SMS walaupun tau sudah delivered, dan belakangan juga ada yang sudah ada status terbaca, toh orang-orang gak sibuk nunggui dibalas…jaman awal SMS malah sesempatnya dan seingatnya balas, dan itupun maksimal kalo gak salah berapa huruf ya waktu itu?

  4. James  25 July, 2019 at 09:28

    Al, saya juga baru setahun belakangan ini punya WA dan FB nya, sebelumnya jadi orang ketinggalan jaman aja

  5. Alvina VB  24 July, 2019 at 20:03

    Dew, masih gak punya WA, he..he…semua yg di Indonesia pada protest: “Hari gini kagak punya WA!” LOL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.