Ia Tak Peduli Lagi Padaku

Ida Cholisa

 

Telah kutuang rasaku dalam bundelan naskah novelku. Penerbit berkali-kali mengontakku, kapan siap dikirim naskah itu?

Telah menepi rasaku, sejak sekian lama ia mendiamkanku.

Ia tak sehangat dulu. Tak semanis dulu. Tak sebaik dulu. Semua yang pernah kurasa melenyap dan berlalu.

Pernah kuberikan sepenuh cintaku, perhatianku, pengorbananku. Namun semua sia-sia belaka. Ia bagai patung tak bernyawa.

Hingga kukabarkan padanya, tentang sakit yang kuderita. Kupinta segenggam doa, agar aku pulih seperti sedia kala.

Ia diam, bungkam seribu bahasa.

Waktu mengubah segalanya. Rasaku padanya meluntur dan sirna. Sikapnya membuatku berbalik rasa. Pernah kusanjung ia laksana embun yang menyejukkan mata. Kini kuanggap ia debu di ujung sepatu.

Bencikah aku? Entahlah.

***

Ia tak lagi mengisi hatiku, meski adanya tak mungkin hilang begitu saja dari ingatanku. Ia tentu masih mengingatku, meski sebuah alasan membuatnya menjauh dariku.

Aku sangat tahu tentang hal itu.

Ia pria beristri.

***

Cinta memang soal hati. Cinta tak pernah salah. Yang salah adalah saat cinta jatuh di saat yang tak tepat, dan hinggap pada sosok yang tidak tepat…

Aku tak pernah menyengaja untuk mencinta. Aku bahkan tak tahu saat kuncup cinta mekar di taman hatiku. Bukan aku yang menciptakan rasa cinta itu. Maka saat ia tak lagi peduli padaku… pada siapa aku merintih dan mengadu?

***

 

Cileungsi, 18 Juli 2019

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.