Generasi Milenial Tak Kenal Etika

Lembayung – SOLO the spirit of java

 

“Atas nama Kak Cenil!” suara bariton mas barista menyadarkan saya dari lamunan dan dengan segera saya beranjak dari kursi kayu yang keras itu. Aroma Asian Dolce Latte menguar memenuhi indera penciuman saya, menimbulkan efek menenangkan dan merilekskan. Ya, hari ini terasa cukup melelahkan setelah menginterview 15 orang calon karyawan untuk diproses lebih lanjut.

Meskipun demikian selalu saja mendapatkan banyak pelajaran dari setiap proses wawancara-wawancara ini. Membuat saya semakin banyak pengetahuan tentang apa yang terjadi di luar sana, di dunia anak-anak generasi milenial, anak-anak kekinian. Generasi yang ketika dipanggil via telepon atau SMS atau WA untuk diundang wawancara, akan merespon dengan sapaan “OK, Kak.” Bukan “Baik, Ibu/Bapak.” Degradasi etika kah? Saya malah tidak bisa menjawab. Pikiran saya lalu melayang 18 tahun yang lalu ketika saya masih menuntut ilmu di Kampus Biru Jogja Istimewa.

Setiap sore sampai selepas isya’ saya sering nongrong di angkringan, Lik Gembus nama penjualnya. Hampir 5 tahun saya pelanggan tetap bahkan ibaratnya sudah menganggap Lik Gembus sebagai paklik sendiri. Saya jadi teringat yang kala itu sering bergaul dengan pengamen jalanan, sopir becak, tukang bangunan tentang bagaimana kami saling memperlakukan satu sama lain. Mereka menghormati saya sebagai seorang mahasiswa, dan saya menghormati mereka sebagai orang yang lebih tua, lebih banyak makan asam garam kehidupan, lebih matang pengalaman hidupnya. Ewuh-pekewuh budaya waktu itu. Sementara saya yang masih mahasiswa sangat idealis dalam memandang dan memaknai kehidupan.

Saya tiup kopi saya, lalu perlahan saya minum. Pahit dan ada sensasi sedikit sangit. Membuat saya kembali ingat aroma kain serbet Lik Gembus yang terbakar arang karena tiba-tiba jatuh dari pundaknya ketika Lik Gembus menjulurkan tangan menyentil semut rang-rang yang merambat di pundak saya. Waktu itu Lik Gembus sedang asyik menceritakan kalau anaknya yang masih SD bercita-cita ingin jadi pegawai pegadaian. Alasannya sangat sederhana, dia ingin membagi-bagi uang untuk orang yang datang ke sana. Entah bagaimana kabarnya Lik Gembus dan anaknya kini.

“Tante, kursinya boleh diambil ?” suara seorang anak perempuan yang mendatangi meja saya. Saya mendongak sambil melihat wajahnya. Cantik, pandangannya tajam, dan penuh kepercayaan diri. “Tante, kursinya dipakai nggak?” desak anak gadis itu karena saya sepertinya terlalu lama merespon pertanyaannya.

“Oh, silakan Mbak, diambil saja.” Jawab saya sambil mengangguk.

Gadis itu menyeret kursi kayu yang memang agak berat itu menuju meja teman-temannya, bunyi kiiikkkkk… gesekan kaki kayu dan meja kayu membuat saya menjengitkan kening. Mereka berlima termasuk gadis itu, masih memakai seragam putih abu-abu. Gadis cantik itu segera duduk. Lalu disambung dengan suara gelak tawa canda mereka. Saya sih maklum saja, namanya juga masa muda, masa yang dipikir cuma PR dan jerawat saja.

Saya kembali menyesap kopi panas saya sambil kembali menekuni novel saya. Kegiatan pasca jam kantor ini selalu  mampu mengembalikan semangat dan mood saya ketika nanti pulang ke rumah, berkutat dengan pekerjaan rumah sebagai istri dan ibu. Mungkin sekitar setengah jam berlalu tanpa terasa, ketika tiba-tiba prang!! Sebuah cangkir terjatuh dan pecah. Air kopinya berceceran di lantai. Suasana gerai menjadi hening dan hampir semua mata mengarah ke tempat gelas pecah itu. Saya mendongak sebentar karena tadi ikut kaget mendengar suara yang cukup keras itu. Karena saya pikir itu kejadian biasa, dan sebentar lagi pasti mas mbak barista datang tergopoh-gopoh sambil membawa kain pel dan pengki.

Ketika sedang mencoba melanjutkan konsentrasi membaca, tiba-tiba saya mendengar suara kursi-kursi digeser dan ternyata kelima anak itu semuanya berdiri lalu yang seorang menuju ke meja barista, “Kak, boleh pinjam kain pel?” tanya si cantik itu. Dengan ekspresi yang agak terkejut, barista perempuan yang mungil dan punya tahi lalat di tengah-tengah antara alis semacam bindi itu menjawab, “Oh sebentar kak, biar saya saja yang membersihkan. Nggak papa kok, kakak pindah meja saja dulu ya, biar bisa lanjut ngobrol-ngobrolnya.” Tapi rupanya anak cantik itu tetap bersikeras untuk meminjam kain pel. Sementara keempat temannya yang lain saya lihat sedang memunguti pecahan-pecahan gelas yang kecil-kecil dan dikumpulkan di atas piring sisa butter croissant mereka. Belum habis rasa penasaran saya akan kelakuan mereka, si anak cantik itu sudah menggotong kain pel bergagang panjang, lalu mengepel sisa-sisa kopi yang tumpah di lantai sekitar meja mereka. Tidak sampai lima menit semua sudah kembali seperti semula. Bersih dan kering. Hanya saja pecahan gelas memang terkumpul menjadi satu di atas piring yang diletakkan di meja mereka.

Well, saya rasa ini kejadian langka, karena hampir dipastikan di jaman sekarang ini biasanya anak-anak seperti ini akan langsung ambil tas dan angkat kaki dari cafe. Toh semua akan dibersihkan oleh pelayan cafe atau baristanya. Tetapi kejadian ini sungguh sangat menyita perhatian saya, saya masih memandang dan melihat aktivitas mereka. Mereka duduk kembali, sementara satu anak yang lain mengembalikan kain pel ke barista. Oh baiklah, ini sebuah peristiwa positif yang nanti bisa saya bagikan ke anak-anak saya, meskipun mereka tidak melihat kejadiannya secara langsung. Hal itu mengirimkan energi-energi positif ke dalam diri saya, yang mengakibatkan timbulkan rasa bahagia dan optimis. Baik untuk diri saya sendiri, untuk anak-anak di seberang saya itu, dan untuk masa depan negeri ini (ini menurut perasaan saya lho). 

Kembali saya menekuri novel  yang dari tadi selalu terpatah-patah ketika membaca. Masih mencoba berkonsentrasi dan masuk ke dalam cerita ketika tiba-tiba, “Tante, maaf, saya mau mengembalikan kursi yang saya ambil. Maaf ya Tante, mengganggu membaca.” Gadis cantik itu meletakkan kursi yang tadi diambilnya dari meja saya. Wajahnya tidak tersenyum, tetapi matanya memandang saya  dan kepala serta bahunya agak ditundukkan. Lalu gadis cantik itu berbalik dan berjalan keluar cafe menyusul teman-temannya.

 

 

10 Comments to "Generasi Milenial Tak Kenal Etika"

  1. lembayung  30 July, 2019 at 16:10

    Hai Saras, makasi ya udah baca dan berkomentar. Kamu keren ih. Kalo kita makan di resto sebelah, boleh nggak ikut taruh mangkoknya di resto Bakwan?

  2. Saras  30 July, 2019 at 10:08

    Kalau hari Minggu pulang Gereja ibadah yg jam 10:00 gue sering maksi di Plaza Senayan, hobi banget makan Bakwan Duta nya di foodcourt nya. Selesai makan gue nggak pernah lupa bawa baki + mangkok bakwan nya ketempat (pojokan) yg sdh disediakan buat pengunjung yg mau meletakkan piring2/mangkok bekas makannya.

    Sekali pernah adikku bilang, udah biarin aja disitu (dimeja mksdnya), aku bilang aja…Eehh hidup jangan hanya mengharapkan org lain yg membantu kamu, tidak susah kan kalau kita hidup meringankan pekerjaan org lain

    Adik ku diam, sejak itu dia nggak pernah komen lg kalau gue melakukan hal2 spt itu lagi. Malahan dia meniru sekarang

  3. lembayung  29 July, 2019 at 15:11

    Halo Mba Alvina,
    Apa kabar?
    Hehehe…, iya benar sekali, memang semuanya kembali ke pola pendidikan keluarga. Tetapi lingkungan juga memegang peranan penting dalam pembentukan karakter ya…

    Anakku yang besar kelas 1 SD (hampir 7 tahun) yang kecil masih playgroup (3 tahun).
    Salim!

  4. J C  28 July, 2019 at 07:50

    Oom Gun, ya jelas inget lah…itu di Youtube juga masih ada kok arsipnya…

    https://www.youtube.com/watch?v=VC_oizspKz4

  5. Alvina VB  28 July, 2019 at 00:42

    Hi…hi….Lembayung…..semua kembali ke latar belakang keluarga. Kalau lihat anak2 sopan, gak heran kl ketemu org tuanya, tenyata sopannya sama/mirip kaya anaknya. Kl ketemu anak kurang aturan dan ketemu org tuanya hampir sama juga, gak heran. Org kata…buah jatuh gak jauh dari pohonnya. Tapi….kl ketemu anak kok kuren ajar dan trus ketemu org tuanya kok ya sopan, salah di mana??? Salah didikan, krn yg didik nanny nya dan sos-med, org tuanya cuman org tua weekend aja, apa2 diturutin jadi gak ada didikan/disiplin sama sekali. Ini banyak ditemui di Barat dan di Timur, podo wae….he…he….
    Anaknya sudah sekolah kelas berapa?

  6. lembayung  27 July, 2019 at 22:05

    @mbakyu lani, haloooo apa kabar Kona?

    @pak gun, salim pak!

  7. Gunawan Prajogo  27 July, 2019 at 12:22

    Aji pasti ingat sekali dengan lagu kebangsaan Koki yang Lembayung nyanyikan……

  8. Lani  27 July, 2019 at 07:36

    Lembayung selamat mencungul kembali……..!

  9. lembayung  26 July, 2019 at 17:16

    Butoooooooooooooooooooooooooooooooo…………

  10. J C  26 July, 2019 at 17:10

    Lemb, sudah sekian puluh tahun gak baca cerita khas’mu tentang Cenil… dunia si Cenil pasti berubah dan lebih berwarna sejak lulus kuliah tho? Kerjo, manak, dst…Ayo, ditunggu lagi yo…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.