HIGH TEA

Nunuk Pulandari – Belanda

 

Sebelum saya bercerita tentang acara High Tea, saya ingin menyapa lebih dahulu para pembaca dan penulis Baltyra yang sudah lama tidak bersapa ria. “Hallo, haloo, teman semua. Apa kabar? Selamat berjumpa kembali lewat Baltyra.”. Semoga masih ada teman yang saya kenal, walaupun hanya lewat namanya saja.

Mengawali “pertemuan” kembali  dengan teman teman di Baltyra, saya pikir tidak ada salahnya kalau saya melakukannya lewat tulisan tentang “High Tea”. Satu tulisan yang menurut saya tepat dan sangat mengena kalau kita melihat “ isi” yang terkandung dalam arti High Tea.

Sedikit tentang arti yang terkandung dalam kata High Tea. Mengamati kegiatan yang terjadi dalam acara High Tea, dengan jelas nampak tentang “kebiasaan” kumpul-kumpul bersama teman-teman sambil menikmati berbagai makanan “kecil” baik yang berasa manis maupun yang berbumbu dan atau yang terasa asinnya. Dalam menikmati makanan  tersebut selalu disertai dengan sajian minuman utama yang terdiri dari  berbagai macam jenis teh dengan berbagai ragam rasa dan asal yang berbeda. teh- teh ini biasanya mempunyai keistimewaan  rasa tertentu dan didatangkan  dari berbagai daerah atau Negara yang beragam.  

Secara singkat kebiasaan dalam acara High Tea ini berasal dari Negeri Inggris,. Walaupun ada juga yang mengatakan bahwa kebiasaan itu berasal dari Scotland / Irlandia. Kebiasaan minum teh ini  pada awalnya dilakukan dalam lingkungan kelas “Arbeiders”  Pekerja Pabrik. Mereka melakukannya di antara jam 15:00-17:00, mengingat padatnya waktu  kerja mereka. Kebiasaan minum teh ini mereka lakukan di meja yang tinggi. Dan karenanya disebut dengan High Tea. (foto 1)

Dalam perjalanan waktu yang ada, kebiasaan ini di kemudian hari menjadi lebih di kenal di kalangan menengah ke atas. Satu hal misalnya yang dapat dimaklumi  melihat tidak sedikitnya biaya yang harus dikeluarkan untuk dapat menikmatinya.. Demikian juga yang terjadi di Negeri Belanda. 

Teman-teman saya tidak akan berpanjang lebar menceriterakan tentang riwayat atau asal muasal  kebiasaan ini. Saya hanya ingin menceritakan tentang acara High Tea, yang baru kami alami hari Sabtu beberapa bulan yang lalu. Anak gadis saya, Lei mentraktir makan minum dengan High Tea karena ibunya merayakan ultah dan telah melewati setahun masa pensioennya dengan sukses. Ha, ha, haaaa . Acara ini tentu bukan yang pertama kali kami lakukan. Beberapa kali dalam kesempatan yang berbeda kami sempat menikmatinya. Hanya pada acara High Tea yang terakhir, dari beberapa bulan yang lalu, dalam pengamatan saya terlihat mengalami perubahan besar. Terutama terjadi pada penyajian dan  bentuk serta jenis makanan berbumbu / dan rasa asinnya.

Mungkin untuk teman teman yang sudah pernah menikmati sajian High Tea,  di waktu yang lalu2, melihat sajian makanan berbumbu yang terdiri dari berbagai macam jenis Roti  dalam ukuran yang cukup besar dan banyak jumlahnya. Tetapi dalam acara High Tea kali ini tidak demikian adanya.  Menurut “ober”yang bertugas di sore itu, perubahan sajian makanan berbumbu yang kami nikmatipun baru terjadi sejak “dua hari” yang lalu . Sajian roti yang berbumbu disajikan dalam bentuknya yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, memudahkan kita untuk menyantapnya dalam sekali suapan.

Teman teman, untuk acara High Tea ini anak gadis saya, Lei  telah merencanakannya sejak dari Brussel. Dia memilih acara High Teanya di Hotel Sofitel Legend the Grand di Amsterdam. Salah satu hotel dari lima andalan Sofitel Legend the Grand. Hotel yang meskipun letak lokasinya tidak terlalu jauh dari daerah Red Light Amsterdam yang terkenal,  tetapi tetap menjadi pilihan banyak  toeris dengan kantong yang cukup tebal. Kamarnya yang  luas dan kenyamanan dalam  kamar yang tersedia serta ketenangan yang ada di dalam hotel dan  di sekitar tamannya tetap mempunyai nilai tambah bagi para tamunya.

Kali ini untuk menuju ke Hotel The Grand  kami sengaja memilih naik kereta api yang lebih awal. Waktu yang berlebih kami gunakan untuk berjalan menyusuri jalan Damrak (jalan memanjang yang ada di depan Stasiun Amsterdam) yang di sisi (terutama) kanannya  dipenuhi dengan berbagai restaurant dan toko-toko souveniers serta museum di sepanjang jalannya. Mendekati De Dam, terlihat di kiri jalan Gedung Pasar Saham yang besar dan megah; Bijenkorf, Toko barang barang mewah yang terkenal di Eropa. Melewati De Dam terlihat Het Koninklijke Paleis dan Museum Madam Thussaud di sebelah kanan jalan dan di sebelah kiri jalan terlihat salah satu hotel dengan bintang 5,  Hotel Krasnapolsky yang di belakangnya ada daerah Red Light Amsterdam yang sangat terkenal di dunia. Dari De Dam kami masih berjalan menyusuri Jalan Rokin  dengan berbagai toko dan restaurant serta pelabuhan kecil tempat bersandarnya kapal-kapal pesiar bagi para turisnya.

Menyambut musim semi terlihat di sepanjang jalan yang kami lalui banyak pot pot besar dengan berbagai warna dan bentuk bunga Tulip. (foto 2-3).

Untuk sampai ke Hotel the Grand, kami berjalan kembali melawan arah menyusuri jalan paralel yang menuju ke arah Jalan Damstraat, lalu di ujung jalan (jln di samping Hotel Krasnapolsky ) belok ke kanan, setelah melewati jembatan kecil, kami berbelok ke kanan menyusuri pinggir “sungai” kecil sampai ke jalan Oudezijds Voorburgwal no. 197. Di sini letak Hotel Sofitel Legend the Grand.

Memasuki Hotel the Grand, kami dibantu dan diantarkan oleh petugas Lobby menuju ke ruang lokasi High Tea. Satu ruangan yang letaknya di dekat taman hotel dan di dindingnya dipenuhi  lemari yang berisi berbagai macam buku. Juga tergantung beberapa sketsa model gaun (asli) dari designer terkenal. Teman teman tentu akan mendecak penuh kekaguman melihat keindahan design gaun yang ada dan juga akan menutup mulut penuh dengan kekagetan melihat daftar angka dalam Euro yang aduhai untuk ukuran sketsa yang tidak tidak terlalu besar. Sayang kami tidak membuat fotonya.

Sesaat setelah kami duduk, datang seorang “ober” (pria) menanyakan apakah kami mau minum Champagne (gratis) sebagai pembuka atau teh panas rasa netral. Setelah kami menentukan pilihan minuman menjadi teh panas, sang ober menuangkan teh  panas dalam cangkir teh.  Baru ketika acara High Tea dimulai kami mendapatkan  gelas “Wijn”. Dalam acara High Tea ini  bentuk dan besaran gelas sangat special bisa digunakan untuk minum teh. Lalu dia menerangkan bahwa seorang temannya (wanita) akan datang untuk  menjelaskan bagaimana rangkaian urutan makan dan minum yang akan disajikan dalam High Tea di sore itu.

Kami menunggu beberapa saat, sebelum akhirnya datang seorang “ober” wanita dengan membawa peralatan “makan kecil”. Dua piring kue kecil dengan satu sendok/garpu kecil.

Pada kesempatan ini dia menjelaskan bahwa setelah makanan pembuka yang akan dia sajikan, kami akan menyantap makanan kecil dengan rasa manis, rasa berbumbu dan atau  rasa asin yang tersusun dalam tiga nampan kecil dalam susunan seperti rantang. Untuk menikmatinya kami harus memulainya dari nampan yang paling bawah (np 1)  lalu berpindah ke nampan di tengah (np 2)  dan yang terakhir berpindah ke nampan teratas (np3)  Setelah menjelaskan hal ini, sang “ober”meninggalkan kami untuk sesaat.

Tahap Pertama dalam acara High Tea. ”Ober” (wanita) yang sama datang kembali membawa satu nampan kecil dengan tutup yang kalau dilihat selintas tampak menyerupai sebuah tas tangan wanita (sayang fotonya tidak tersedia). Tapi setelah dibuka tutupnya tampak dua buah makanan pembuka di atas nampan kecil.  Makanan pembuka kecil ini ditampilkan bersama dengan sebuah Poci berisi teh dari Vietnam yang panas.  (foto 4,  Amuse bouche)

Kami masing-masing mendapatkan satu makanan pembuka yang biasa disebut dengan Amuse Bouche. Satu jenis makanan yang kali ini terdiri dari sepotong (kecil) buah Semangka (merah) diiris setebal / selebar  1 – 1 ½ cm dan  panjangnya 5 – 7 cm. yang  di atasnya diletakkan semacam Jelly hijau dalam bentuk sepatu dan sepotong kecil Keju Feta. Setelah menyantap makanan pembuka ini di lidah kami masih tersisakan kombinasi rasa segar buah semangka, dengan sedikit rasa asam- asam  manis dari “sepatu” jelly yang diselingi dengan rasa sedikit asin dan gurih dari keju Feta.

Kombinasi rasa yang  cukup enak sebagai pembangkit nafsu makan.  Dengan minum teh panas  beraroma bunga yang  segar,  sisa-sisa lemak keju yang masih tertinggal di mulut dilarutkan ke dalam lambung kita.. Hmmmmm. Setelah menyantap makanan pembuka ini kami saling bertatap mata dan terucap: “mau lagi deh” ….Lalu kami tersenyum bersamaan.                                                                                                

Setelah hening beberapa saat datang “ober” wanita yang sama. Melihat kami selesai dengan Amuse Bouche, sang “ober” wanita menanyakan apakah kami mau tambah minum teh Vietnam yang sama. Ketika kami mengiyakan dia menambahkan teh kedalam gelas kami. Lalu mengundurkan diri lagi, untuk melayani meja lainnya.

Kalau diperhatikan sejak minuman teh yang pertama “ober” selalu mengisi gelas kira kira hanya  1/3 isi gelas. Sama seperti kalau kita minum Wijn dengan gelas yang agak besar. Gelas hanya terisi 1/3 nya. (foto 5)

Setelah menunggu untuk sementara waktu, sang “ober” kembali lagi mendatangi kami untuk  menata ruang meja kami, sambil menjelaskan hal hal yang berhubungan dengan “makanan” berikut. Sementara itu seorang “ober” pria datang ke meja kami sambil menenteng nampan-nampan kecil yang penuh terisi dengan makanan.  Setelah diletakkan di atas meja “ober” wanita menjelaskan  nama, jenis, dan rasa makanan yang terdapat dalam nampan-nampan di atas meja kami. (foto 6)

Segera setelah itu di atas meja ditata kembali dengan meletakkan gelas teh yang baru. Kali ini kami mendapatkan teh yang berasal dari India. Satu jenis teh yang dalam proses pembuatannya difermentasikan dengan Safran. Mencicipi teh beraroma Safran mengingatkan saya pada banyak makanan dari India yang seringkali menambahkan Safran di dalamnya. Hanya rasa dan aroma safran yang terdapat dalam teh terasa lebih subtiel – halus. Setelah sedikit minum teh India init saya memulai untuk mencicipi salah satu  dari tiga jenis makanan kecil yang ada di atas nampan paling bawah (nampan nomor satu). Saya memulainya dengan mencicipi semacam kue Pannekoek kecil yang di atasnya diolesi semacam campuran  dari tomaten sauce dengan cream dan bumbu lainnya; dan di atas lapisan sauce ini berdiri tiga atau empat gorengan Bacon yang renyah. Rasa gurih-gurih pannekoek dan Bacon renyah dengan sedikit rasa asam dr cream dan tomaten sauce memang bisa membuat kita ketagihan… Hanya minum teh dengan rasa safran yang ada untuk saya kurang pas…teh Vietnam dan teh penutup (seperti the dr Jepang) saya rasa jauh lebih enak.

Lalu saya mengambil sebuah soes kecil yang diisi dengan semacam slagroom yang dikentalkan menjadi semacam cream kental. Cream ini menyebabkan soes yang ada terasa gurih dan nyam-nyam.

Yang terakhir saya menyantap semacam roti padat yang dibuat pipih dan agak oval. di atasnya ada lapisan Geitenkaas, keju kambing, dengan campuran irisan kacang Walnoot. Biasanya saya tidak suka Geitenkaas, tetapi untuk kali ini saya dapat menyantapnya dengan nyaman.  Hmmmmm… Tiga kombinasi rasa yang ternyata bisa saling menunjang dan sangat enak untuk disantap bersama. Hanya setelah makan ketiga makanan kecil ini saya minta tambahan teh Vietnam yang disajikan pada awal makan……(foto7)

Lalu tiba-tiba saya teringat waktu acara High Tea dengan beberapa teman di Rotterdam.. Ketika makanan Soes dan Scone dan makanan padat lainnya mulai disantap, salah seorang teman diam-diam mengeluarkan kemasan kecil dari dalam tasnya. Dia lalu menawarkan: “Siapa yang mau sambal? “ ..….Tanpa sadar saya tertawa geli dan membatin: “Kok bisa-bisanya bawa sambal di tasnya. Kan kita mau ke acara High Tea??!!” Ha, ha, haaaa

Setelah makanan dengan rasa yang boleh dikatakan agak asin dari nampan nomor 1 habis, kami pindah ke nampan tengah, nampan nomor 2. Nampan dengan isi dua jenis Scone. Roti yang agak padat kecil dari Scotland dan terkenal di Inggris. Satu dengan rasa campuran Kismis dan yang lainnya naturel. Untuk melapisi rotinya sebelum di atasnya dioleskan selainya (jam) nya telah disediakan  Clotted Cream (room yang dikentalkan seperti mentega). Jadi roti Scone yang sudah dibelah, kita lapisi dulu dengan clotted cream, setelah itu di atasnya dilapisi lagi dengan jam (seleinya) seperti yang kita inginkan. Kali ini untuk Jamnya (Zjamnya) tersedia  Pasta Chocola dan  Jam Aardbeien. (foto 8)

Untuk mengiringi makan Scone sore itu disajikan teh yang berasal dari China. teh yang dalam proses pembuatannya membutuhkan waktu selama plus minus 5 tahun. Yes, lima tahun, bisa terbayangkan rasanya seperti apa. Dalam proses yang lima tahun itu “teh” yang ada dipendam di dalam tanah. tanpa pernah dibuka. Jadi bisa teman-teman bayangkan bagaimana rasa teh yang pernah saya minum itu. teh dengan rasa dan bau Lumpur yang sangat berat. Mungkin teman-teman bisa membayangkan kalau makan ikan Gurame atau ikan Emas yang baru diambil dari empang berlumpur dan langsung dimasak. Tanpa dibiarkan berenang untuk satu atau dua hari di air bersih yang setiap beberapa jam sekali diganti airnya sehingga bau dan rasa lumpur dan tanah yang ada bisa hilang dan bersih. Saya kira kalau cucu saya, Jasmijn harus mencicipinya dia akan mengatakan:”Ommie, baah, baaah”…. Nggak enak dan  kotor, tidak jernih warnanya.

Sebagai pengganti saya minta disajikan teh Vietnam. Yang extra panas.

Setelah minum extra teh Vietnam  panas, kami mulai mencicipi sajian dari nampan teratas, nampan nomor 3. Dalam nampan ini tertata 4 jenis makanan kecil. (foto 9)

Untuk mengiringi santapan kue-kue kecil manis ini, disajikan teh yang berasal dari Jepang.. teh dengan rasa dan aroma campuran beberapa bunga dan dedaunan yang memberikan aroma rasa segar  dan wangi semerbak ketika menghirupnya. Di atas nampan tersaji  kue  berbentuk bibir dengan warna yang merah merona. Di dalamnya terdapat chocola dengan rasa “pahitnya” puur chocola dengan campuran sedikit gula caramel … hmmmm;  lalu ada dua kue “jari” yang di atasnya dilapisi semacam gel dengan rasa Citrum yang menurut saya super asam.. He he he, saya tidak suka rasa asam..; juga terlihat dua sepatu berhak cukup tinggi yang terbuat dari chocola murni dengan dihiasi kue soes yang super kecil di bagian depannya. Kue soes dengan rasa natural; dan juga terdapat dua  kue  dalam bentuk buah cherry yang terasa mak nyuuus di atas lidah waktu kita menggigitnya. Rasa campuran antara rasa manis, sedikit asam dan agak kenyal ketika kita menggigitnya.

Pada akhir acara High Tea kami sempat mengobrol dengan dengan “ober”wanita  yang melayani kami. Dia sudah belasan tahun bekerja di The Grand. Dengan sangat professional dan cekatan  serta ramah dia melaksanakan kewajibannya. Kebetulan sang “ober”wanita ini berasal dari Indonesia dan sudah belasan tahun bertugas di bagian penerimaan tamu … Dengan sukses …..Bravo..

Teman-teman, kalau kita perhatikan acara High Tea ini sudah mulai bisa ditemukan di banyak restaurant. Dengan berbagai variasi kue dan teh  yang tersedia. Menutur saya mentraktir seseorang, yang menurut saya bisa dikatakan bersifat intim, tidak perlu harus dilakukan dalam suasana yang bermewah mewahan. Acara High Tea bisa sangat mengena sasaran dan tujuan bila dilakukan dalam kelompok yang kecil, mungkin terdiri dari empat atau maximal enam teman dekat. Sehingga rasa keakraban dan kenyamanannya masih bisa dinikmati….. Tetapi tentang hal ini tentunya teman-teman bisa menetapkan sendiri siapa yang masuk dalam kelompok  teman super intim ……

 

Selamat Minum teh….

 

 

12 Comments to "HIGH TEA"

  1. Handoko Widagdo  29 July, 2019 at 14:47

    Halo Mbakyu Nu2K, pripun khabare? Sudah lama tidak saling sapa. Terima kasih untuk tehnya yang nikmat.

  2. Hennie Oberst  29 July, 2019 at 03:36

    Serasa ikut menikmati acara minum tehnya mbak Nunuk.
    Liebe Grüsse

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.