Merekam Kenangan

Adriano – Amazon, Brazil

 

Namanya JACKSON, tubuhnya kekar, matanya juling dan gondrong rambutnya. Pakaiannya apa adanya: sendal jepit, celana pendek dan sedikit terlihat ada robekan di bagian saku bajunya. Usianya mendekati 38 tahun. Ia berjalan sepanjang jalan menjual souvenir khas Amazon-Brasil. Roman mukanya terlihat sedih. Menjual souvenir sambil berjalan susuri jalan yang penuh keramaian, itulah pekerjaan hariannya. Dia ramah, familiar dan suka menyapa semua orang sambil menawarkan barang jualannya.

Malam tadi, akhir bulan Agustus 2013, saya menjumpai Jackson di Orla, di pinggir sungai Amazon-Brasil yang terkenal itu. Dia menghampiriku, sambil berkata: “Amigo, por favor, não é caro! compre pra sua namorada” (permisi teman, tak mahal, beli ini untuk kekasihmu). “saya tak punya kekasih,” jawabku. “Entao compra pra sua irmã”, katanya! (Kalau begitu, beli untuk saudarimu). Dia kemudian duduk di sampingku lalu melanjutkan: “Voce nao é Brasileiro (kamu bukan orang Brasil?). Saya katakan, dari mana kamu tahu? “Dialek bahasamu menunjukkan bahwa kamu bukan orang Brasil”, katanya pelan. “Saya orang Indonesia dan sedang melancong di sini”, balasku.

Dari obrolan kami, saya tahu dia lapar. Uangnya tak cukup untuk membeli makan, karena jualannya belum laris terjual, maklum dia bukan satu-satunya penjual souvenir khas Amazon di kota ini. Saya mengajaknya makan. Dia terlihat sangat senang, malah TERIMA KASIH ia ucapkan berulang-ulang. Banyak orang yang menyapanya, menunjukkan bahwa dia banyak teman.

Ketika sedang mengamati daftar makanan, tiba-tiba tiga pemuda menghampiri dan menyalaminya. Dia pun memperkenalkan saya sebagai teman barunya kepada ketiga temannya itu. Saya lalu bertanya kepada salah satu temannya yang membawa tas, “apa yang kamu bawa di tas itu? Apa yang kamu jual? Apa saya bisa lihat?” Temannya tersenyum, lalu Jackson berbisik : “Ia menjual ganja. Tak boleh dibuka karena polisi selalu ada di tepi jalan. ” (Wilayah Amazon memang terkenal sebagai gerbang masuknya senjata-senjata ilegal, jalur masuknya narkoba dan gerbang keluarnya wanita-wanita penjaja seks ke Eropa dan negara-negara tetangga. Masalah kekerasan sering menyeruak di sini). Saya jadi mengerti, kemudian temannya tersenyum sambil mengucapkan kata pisah dan meninggalkan kami.

Kami memesan makanan dan melanjutkan obrolan seputar Keluarga, Bola, dan Negara Brasil yang indah ini. Jackson yang fanatik Flamenco (salah satu club bolakaki di Brasil) rupanya punya seorang putra, namun bercerai dengan istrinya. Dia sedih ketika bercerita mengenai anaknya. Ketika kutanya mengenai istrinya, dia menjawab santai: “dia uda punya lelaki lain dan tinggal bersama lelakinya. Saya tinggal sendiri. Kalau kamu ada waktu, kamu bisa ke rumahku. Saya membuat gelang dan anting-anting ini di rumah”, serunya.

Setelah selesai mencicipi hidangan, saya pamit pulang dan berkata kepadanya: ”Semoga esok kita masih hidup”. Dia tertawa, memelukku dan mengucapkan kata terima kasih sambil berbisik, “Kamu boleh mengambil beberapa souvenir ini untuk saudari-saudarimu di Indonesia”. Saya katakan, “Mereka tak suka pakai souvenir, sebab mereka uda cantik, tapi kalau kamu mau, saya akan memberi kepada mereka yang menyukainya”. Silahkan, katanya. Saya memilih yang terbaik lalu membawa pulang hasil ‘jarahan’ itu.

Semalam, saya menutup bulan Agustus’ 2013 dengan BERBAGI.

Tak ada yang KURANG jika orang saling BERBAGI. Justru, samakin engkau memberi, engkau semakin BERKELIMPAHAN.

Sekurang-kurangnya, saya dapat teman baru, pun dia.

Jackson, terima kasih untuk Kesederhanaan dan Ketulusanmu. Selamat menjalani harimu di awal bulan September. Doaku.

 

Santarem-Brasil

01-09-13

 

 

One Response to "Merekam Kenangan"

  1. Dewi Aichi  31 July, 2019 at 18:19

    Amazon ..salah satu negara bagian di Brasil yang harus dijelajahi suatu saat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.