Cerita Keseharian dari Trans Huaulu

Ary Hana

 

Ini cerita tentang sebuah daerah transmigrasi di Seram Utara, jauh setelah Kassim Arifin menaklukkan hutan-hutan di Seram Barat. Seperti diketahui, Kassim berhasil mengubah hutan di Waimital menjadi ladang padi dan daerah pertanian yang subur lewat program transmigrasi. Kini, Waimital adalah kecamatan yang makmur, ramai, mirip Bumi Serpong Damai ala Seram. Pasarnya meriah, pertokoan memusat, dan penghuni utama di sini adalah kaum pendatang asal Jawa, yang didatangkan kala Kassim menjadi penyuluh program transmigrasi tahun 1970-an.

Kawasan Trans Huaulu

Kembali ke Trans Huaulu. Pada akhir 2009, sekitar 50KK transmigran asal  Jawa ditempatkan di Desa Besi, Kecamatan Seram Utara. Sayang, program transmigrasi ini gagal total. Lahan yang didiami para transmigran kerap terendam banjir dan kena longsor jika musim hujan tiba. Bangunan rumah mereka pun ambrol. Mungkin saat survei lahan buat transmigrasi, petugasnya mengantuk. Untuk mengatasi hal ini, maka petugas transmigrasi setempat meminta bantuan Raja Negeri Huaulu untuk melepas sebagian tanah adat untuk menjadi kawasan baru para transmigran. Maka dilepaskanlah 600 ha tanah adat, yang kemudian dihuni ulang oleh 50KK transmigran Desa Besi. Sebagai tanda terimakasih, 50KK warga Huaulu -termasuk Raja Negeri- diberi kesempatan menempati lahan transmigrasi juga. Mereka mendapat fasilitas yang sama dengan transmigran asal Jawa, sebuah rumah sederhana lengkap dengan MCK dan pekarangan. Kawasan baru transmigran ini kemudian diberi nama Trans Huaulu.

Sejak adanya Trans Huaulu, aktivitas Orang Huaulu -yang merupakan penduduk asli Pulau seram- berpusat di tiga tempat. Kampung dalam, kawasan trans, dan pantai di sekitar Akalama hingga Araara. Ketika musim panen buah dan cengkeh, mereka akan tinggal di kampung dalam. Mereka bekerja memanen durian, cengkeh, langsat, dan bebuah lainnya. Sedang di hari biasa, Orang Huaulu akan mendiami daerah trans atau pantai. Kepindahan orang Huaulu ke pantai atau wilayah trans, dipicu oleh kebutuhan anak-anak mereka mendapat pendidikan. Generasi muda Huaulu mulai sadar akan pendidikan. Sudah banyak anak yang mengenyam SD. Dulu hanya anak penguasa negeri saja yang mampu dan mau bersekolah.

Di Trans Huaulu ada SD, SMP, dan SMA. Murid-muridnya adalah anak para transmigran dan penduduk asli Huaulu. Di Kampung Huaulu hanya ada SD kecil dengan total murid belasan dan 5 guru. Ketika lulus SD, murid SD kecil ini akan melanjutkan sekolah di SMP trans atau ke SMP di pantai. Orangtua mereka otomatis mengikuti kepindahan anak. Sejak adanya jalan beraspal yang menembus kampung, maka mobilitas Orang Huaulu menjadi mudah. Cukup dengan naik motor, tak perlu berjalan berjam-jam menembus jalan berlumpur, menyeberang sungai berarus deras, seperti di masa lalu. Itu sebabnya ketika musim panen tiba, motor menjadi tujuan belanja utama mereka.

Saya sempat tinggal di Trans Huaulu sekitar dua minggu, mencicipi nuansa khas transmigrasi pedalaman yang jauh dari kebisingan. Saat tinggal di sana, belum ada listrik. Penduduk mengandalkan pemilik genset pribadi untuk menerangi rumah. Untuk rumah Raja Negeri yang saya tinggali memililiki genset yang hidup sejak pukul 18.00 hingga 06.00. Jadi saya tak perlu bergelap-gelapan. Rumah Raja Negeri juga memiliki televisi berparabola untuk menangkap stasiun teve seperti RCTI, SCTV, ANTeve dan teman-temannya, namun bukan saluran satelit. Jadi ketika genset dinyalakan, teve dihidupkan, belasan anak tetangga beserta ibu-ibu dan nenek mereka memenuhi toko dan halaman depannya, guna menikmati tontonan teve. Mirip suasana di Jawa tahun 1970an saja. Drama-drama India menjadi favorit tontonan mereka. Acara menonton teve hingga jauh malam, apalagi jika ada pertandingan sepakbola. Tampaknya, keramaian di malam hari berpusat pada rumah-rumah terang dengan televisi di dalamnya.

Warung Istri Raja Negeri

Sedang di pagi hari, pusat keramaian berpindah ke warung-warung yang menjajakan penganan seperti donat, roti goreng, pisang goreng, kerupuk, mirip warung milik istri Raja Negeri. Kesibukan di rumah keluarga Raja dimulai sejak pukul 04.00, saat istri Raja bangun, lalu membuat donat, roti isi, dan lainnya.  Bapak Raja, membantu istrinya menggoreng donat, pisang, dan kerupuk. Pukul 06.00 kesibukan di dapur mereda, aneka penganan dipajang di toko, disambut anak sekolah yang segera menyambar jajanan. “Ini sarapan orang trans, donat dan pisang goreng,” jelas istri Raja. Tak ada nasi kuning, apalagi nasi pecel. Pukul 07.00. dapat dipastikan semua jajanan ludes. Mungkin karena warungnya tak punya pesaing.

Selain menjual jajanan di warungnya, istri Raja juga mengirimkan jajanan olahannya beserta krupuk ke dua warung di tepi jalan trans, warung Pak Guru Ali dan warung pisang Pak Apen. Warung Pak Guru Ali selalu ramai, nyaris 24 jam sehari. Di pagi hari, warung ini jadi ampiran para transmigran yang hendak berangkat ke sawah atau kebun. Mereka sarapan di sini, sebelum menuju kebun sambil membungkus beberapa potong donat atau pisang goreng. Pukul 08.00 warung mulai sepi, saat bagi tetangga datang untuk menumpang ‘ngecas’ HP atau menonton acara teve. Di warung ada beberapa panel surya. Kata Pak guru, panel ini dibelinya dari orang-orang trans yang tak tahu dan tak merasa perlu menggunakan bantuan panel surya. “Saya beli satu set Rp.500.000,” katanya.

Pak guru dan istrinya adalah pasangan yang unik. Mereka alumni fakultas keguruan, namun lebih memilih membuka warung ketimbang mengajar. Alasannya sederhana. Honor menjadi guru tak seberapa, tak sebanding dengan pengeluaran sehari-hari keluarganya. Membuka warung lebih besar untungnya, bahkan mereka bisa menabung untuk membangun rumah. Pilihan yang amat realistis di beratnya kehidupan pedalaman Seram. Warung Pak guru juga menjadi persinggahan para sopir truk dan mobil yang melintasi jalan trans. Ada saja yang datang sekedar membeli rokok, mengisi bensin, memompa ban yang kempis, dan lainnya. Beberapa sopir truk proyek jalan dan proyek pemasangan kabel PT Telkom bahkan menjadikan warung sebagai basecamp, tempat tidur kala pekerjaan mereka usai.

Warung Pak Guru Ali

Tak jarang saya melihat Bu Ida, istri Pak guru, membawa belanjaan yang cukup banyak. “Ada pekerjaan pembangunan proyek di Kampung Huaulu. Warung kami yang menyediakan makanan buat pekerja proyek selama dua minggu,” katanya. Dengan memasakkan makanan bagi sekitar 40 opekerja sehari, Bu Ida mengaku mendapat untung  sekitar Rp. 2 juta sehari. Kalau dikalikan 14, berarti terkumpul Rp. 28 juta. Mana ada gaji guru pedalaman yang sebesar itu!

Warung Pak Apen berada sekitar 300 meter dari warung Pak guru Ali. Warung ini bisa disebut reinkarnasi ‘Dunia Buah’ -toko buah terlengkap di kota saya- ala pedalaman. Tak sekedar menawarkan kopi, rokok, indomie, nasi goreng, atau permen, tapi juga beragam buah. Bebuahan ini dijual bergantung musim. Ketika saya datang sedang musim pisang, sehingga ada belasan, mungkin juga dua puluh jenis pisang yang dipajang. Selain itu ada pepaya, lemon, buah naga, jeruk, langsat dan lainnya. Berbagai sayuran ikut menemani, seperti kacang panjang, cabe rawit dan keriting, bawang merah, tomat, bayam. Tapi jangan harap menemukan kangkung, karena kangkung tumbuh liar di hampir semua pekarangan warga Trans Huaulu. Bebuah itu menunggu pembeli, bisa truk pengangkut menuju Masohi dan Ambon, bisa pula penumpang para taksi dan kendaraan pembeli.

Warung Pisang Pak Apen

“Dari mana buah-buahan ini, Pak?” tanya saya dengan lagak bodoh. Rasanya mirip berada di ‘Dunia Buah’ saja, toko buah terlengkap di kota saya.

“Dari orang-orang di trans, ada juga yang dari Huaulu atau Kobi,” jawabnya. Kobi adalah Kobisonta, sebuah desa di ujung utara pegunungan di Seram juga. Di Kobisonta banyak transmigran asal Jawa. Dari Kobi tak hanya dihasilkan beras, tapi juga kedelai, jagung, bebuah seperti semangka, dan sesayur mirip cecabean.

Pak Apen adalah saksi hidup berdirinya Trans Huaulu. Dia salah satu transmigran Desa Besi yang memilih bertahan ketimbang pulang kampung. “Waktu itu sebetulnya ada banyak KK, seratus lebih Bu, tapi yang akhirnya mau tinggal di sini setelah bencana banjir dan tanah longsor ya sekitar 50-an lah,” Pak Apen memulai ceritanya.

Tinggal di daerah trans, hidup berdampingan dengan orang lokal, bukannya tanpa masalah. Butuh kesabaran khusus, dan pendekatan yang lembut. “Dulu, banyak Orang Huaulu yang tak tahu kalau pisang di kebunnya itu dapat menjadi uang. Lalu saya buka warung ini. Awalnya merugi karena saya membeli pisang dan buah mereka secara cash. Sedang dalam sehari nggak tentu ada pembeli. Perlahan mulai ada mobil yang berhenti dan membeli buah. Sekarang malah ada truk langganan yang membawa semua buah saya ke Masohi untuk dijual di sana. Sejak saat itu, orang pedalaman maupun di desa trans mau merawat kebun pisang dan kebun buah mereka. Saya juga tak perlu bersusah payah datang ke rumah mereka satu per satu.” 

Perhatian pemerintah terhadap desa transmigrasi ini bukannya tak ada. Bantuan seperti mesin pemecah dan pemarut kelapa, pemanen jagung,dan lainnya pernah diberikan lewat kelompok tani di desa. Sayangnya keberadaan mesin-mesin itu tak jelas, bahkan ada yang dijual. Sejak itu Pak Apen memilih bertani dan berkebun secara mandiri. Lebih menguntungkan, katanya, walau tetap ada yang iri. “Pembinaan pertanian di sini masih kurang. Untung di kampung di Jawa saya sudah terbiasa bertani, jadi tidak kaget lagi di sini,” kata lelaki kelahiran Garut dengan logat Sunda yang kental ini.

Pak Apen tinggal bersama istri dan kedua anaknya. Dua anaknya yang lain tinggal dan menetap di Kobisonta sebagai transmigran spontan. Kerap sang anak mengunjungi ayahnya sambil membawa sekarung cabe dan sayuran untuk dijual di warung ayahnya, Di samping warungnya ada tanah kosong yang ditanaminya dengan kacang panjang dan ubi. Sedang rumahnya yang tak jauh dari tepi jalan tersembunyi dalam gerumbulan tanaman sayur dan pisang.

Tak semua transmigran pendatang berhasil di sini. Beberapa rumah tampak kosong ditinggalkan penghuninya. Ada yang akhirnya memilih tinggal dengan anak mereka di Papua, ada yang kembali ke Jawa. Sebagian malah memilih menjual tanah, kebun, dan rumah mereka ke sesama transmigran, untuk bekal sangu menuju jujugan baru ke Pak Raja. Sedang kehidupan Orang Huaulu yang tinggal di trans juga tak lebih baik. Ada yang malas, menghabiskan hari dengan menonton teve di rumah tetangga atau sekedar nongkrong di warung. Namun mereka bukan jenis yang keras kepala, sebab ketika diminta membantu di kebun atau mengerjakan sesuatu oleh tetangga segera berangkat. Asal, segera diberi upah. Mungkin karena kurangnya pemahaman tata cara bertani.

Rumah Panci

Ketiadaan listrik -semoga saat tulisan ini dimuat sudah ada listrik masuk daerah trans- serta susahnya sinyal -cuma ada sinyal internet 2G dan sinyal telepon di ketinggian karena minimnya pemancar- membuat sulit untuk mengakses data maupun pengetahuan secara onlen. Namun hal ini justru membuat anak-anak lebih aktif bermain dengan sesamanya. Sulit menemukan anak -kecuali anak bungsu Pak Raja- yang menghabiskan waktu dengan bermain game di gadget. Minimnya kendaraan yang melintasi jalan, khususnya di malam hari, membuat langit Trans Huaulu belum terkontaminasi polusi, sehingga limpahan bintang dan bimasakti terlihat jelas sepanjang malam, kecuali saat hujan.     

Rumah Transmigran

Masalah yang lain adalah pengadaan air bersih. Untuk kebutuhan minum sehari-hari, warga trans bergantung pada hujan. Di setiap rumah tampak banyak tong untuk menampung air hujan yang kemudian digunakan untuk memasak atau mandi. Jika kemarau datang, sungai menjadi tempat darurat untuk mandi dan mencuci. Meski ada sumur, air yang dihasilkan berwarna kehitaman. Tampaknya warga butuh diajarkan cara menjernihkan air sumur agar layak dikonsumsi. Tentu saja, dengan teknologi tepat guna yang mudah diterapkan. Jangan nasibnya nanti mirip bantuan panel surya, yang lebih banyak dijual karena dianggap susah perawatannya.

 

Catatan: kepada BALTYRA, saya ucapkan selamat ulangtahun. Semoga langgeng jadi tempat curahan tulisan-tulisan yang tak mainstream.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.