SETELAH BALTYRA 10 TAHUN

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

SAYA pertama kali menulis untuk menuangkan ide dalam surat pembaca. Umumnya di media cetak harian atau mingguan. Sudah bangga serasa menuangkan ide atau buah pikiran yang dibaca orang baca banyak, baik menyukai atau tidak pendapat itu, saya tak tahu. Hanya satu arah saat itu. Lalu muncul tempat baru untuk mengeluarkan hasrat menulis. Kali ini lebih menggelora dibanding menulis di media cetak, walau sekedar sebuah surat pembaca.

Di Baltyra, saya pertama kali menulis 10 Agustus 2009 dengan judul ‘Soekarno puasa ‘gak ya, waktu baca Proklamasi 1945?’ dan berlanjut sampai 471 artikel. Terakhir pada 24 Januari 2019 dengan judul ‘Menghirup Kembali Udara Jakarta’.  Jumlahnya 471 artikel selama 10 tahun. Setahun rata-rata saya menulis di Baltyra sekitar 47 artikel. Nyaris seminggu sekali saya menulis! Mungkin saya penulis atau kontributor dengan jumlah terbanyak di Baltyra. (?)

Menulis adalah pekerjaan yang meresahkan. Soal memikirkan ide untuk tulisan, itu masalah lain. Tetapi proses sekian menit (bahkan jam) duduk di depan monitor komputer atau laptop, lalu membesut, mengoreksi, menata, menguji kata dan kalimat, apalagi mencari keabsahan data, sebuah proses mengasyikkan, melelahkan dan memuaskan.

Tiap kali menulis, kita seperti belajar lagi dan ingin lebih baik lagi dari tulisan sebelumnya. Apalagi kalau kita memandang tak etis mengulang tulisan terdahulu. Repetisi adalah hal yang memalukan dalam kreativitas menulis. Seperti koboi menembak musuh dari belakang. Haram hukumnya.

Selama perjalanan 10 tahun Baltyra, situs jurnalisme warga ini bagai cawan yang menampung gagasan banyak orang dengan mosaik indah ketika membacanya. Penuh warna warni. Semua orang di dalamnya menjadi wartawan, pewarta atau penyampai berita. Profesi ini, sebelumnya, hanya dikerjakan oleh seorang wartawan. Sebuah profesi yang mulia ketika Indonesia belum merdeka. Kini di Baltyra, semua orang menjadi wartawan. Atau penulis.

Soekarno dulunya penulis. Juga Hatta. Bahkan jauh sebelumnya, HOS Tjokroaminoto juga seorang wartawan. WR Soepratman pun seorang jurnalis kere yang selalu mencuci ulang bajunya, karena tak banyak dimilikinya. Bahkan ada wartawan perempuan yang ikut mendirikan bangsa ini, seperti Ibu S.K. Trimurti. Hampir semua pendiri bangsa adalah seorang penulis atau wartawan, meski profesinya mereka ada yang dokter, guru, seniman, bangsawan dan lainnya.

Jaman mereka sebagai penulis atau wartawan sudah jauh berbeda saat Baltyra hadir pada  Agustus 2009. Hal yang sama adalah, sama-sama melakukan pekerjaan menulis dengan tanggung jawab penuh. Dulu bisa ditangkap penguasa kolonial bila tulisannya mengganggu “ketertiban umum”. Kini di Baltyra juga bisa memenjarakan penulis bila tulisan itu mencemarkan nama baik seseorang.

Kesamaan lain antara menjadi penulis masa lalu dan masa kini di Baltyra yaitu, mendapatkan banyak teman dengan ikatan emosional sangat tinggi, karena kesamaan ide yang sudah terbaca dalam tulisannya. Persamaan lainnya, walau berbeda nuansa, adalah kalau menjadi penulis atau wartawan masa lalu, pasti dibayar sebagai mata pencaharian. Di media jurnalisme warga seperti Baltyra, tidak dibayar langsung seperti mengganti hasil jerih payah gagasan. Namun bayaran itu berupa bentuk lain yang kadang penuh kejutan dan didapat di tempat lain dengan waktu yang berlainan pula. .

Dulu orang menjadi wartawan atau penulis sebagai profesi eksklusif yang mereka belum pernah merasakan. Kini seorang ayah di Mainz, atau seorang perempuan di Honolulu atau seorang pekerja di Sao Paolo, bisa dengan bebas menjadi wartawan di Baltyra. Bahkan kalau dimungkinkan secara engineering, kita bisa menikmati pemandangan langsung kebakaran hutan di Harrisburg, Ohio dari penulis Baltyra.

Lalu apa yang akan terjadi setelah 10 tahun Baltyra berjalan dan dibangun oleh ratusan penulis? Baltyra akan selalu menjadi bagian tidak terpisahkan dari era informasi dengan cara penulisan yang lebih inovatif. Kata-kata kunci seperti ‘power to the people’, ‘generation network’, ‘eye is supreme’ atau ‘it’s all about us’ akan menggema di masa datang di Baltyra.

Filsuf Skotlandia Thomas Carlyle (1795-1881) pernah berujar, bahwa “sejarah dunia tak lain dari riwayat hidup orang-orang besar”. Jadi, orang seperi Anda atau saya sendiri yang bukan orang besar, tak bisa membuat sejarah dunia! Dunia hanya milik dan diwarnai oleh spesies kecil manusia yang hebat.

Oh, no! Sekarang itu tak berlaku lagi. Di Baltyra, misalnya, setiap orang dari kita bisa membuat sejarah. Membuat sesuatu yang menggemparkan. Bisa bermanfaat bagi orang banyak atau mengguncang sesuatu yang sudah meanstream. Dengan cara apa? Menulis!

Baltyra di masa datang harus menjadi cermin yang memantulkan gagasan kita sebagai penulis atau Mylar, semacam cermin refleksi. Bukan ide dari pemiliknya atau suka-suka pengelolanya! Atau seperti layaknya media konvensional atau media tradisional yang kita kenal. Baltyra adalah Anda.

Apakah dengan bebas menulis apa saja, semau kita punya ide, lalu Baltyra membawa demokrasi kebebasan berpikir dan berpendapat menjadi anarki (kebablasan)? Tidak. Justru dengan menulis di Baltyra, dan media sejenis lainnya, kita merawat demokrasi, meralat kesalahan, membenahi ketimpangan, memasang mata telinga hidung di banyak tempat serta menyimpan sebuah memori.

Selama kita hidup, kita menyaksikan, kita menulis dan kita membaca, selama itu pula Baltyra tetap ada. Baltyra adalah Anda. (*)

 

 

8 Comments to "SETELAH BALTYRA 10 TAHUN"

  1. Syanti  9 August, 2019 at 10:20

    Saya pertama nulis di Baltyra 10 July 2009.
    Ulang tahun Baltyra ke sepuluh 10 Augustus 2019. Jadi saya nulis sebelum Baltyra lahir dong!

  2. Bagong Julianto  4 August, 2019 at 07:23

    Menulis lebih dari sekedar berpikir. Ada rasa. Ada nilai. Ada apresiasi terhadap diri. Para penulis berarti melengkapi pernyataan Descartes “Cogito ergo sum”.
    BALTYRA mewadahinya.
    Jadi?
    SELAMAT BUAT SEMUANYA!
    Penggagas. Pengurus. Dan tentu saja para penulisnya.
    Masing-masing punya energi yang berlebih. Saling melengkapi. Menjadikan Nusantara lebih hebat!
    Selamat Ulang Tahun BALTYRA!

  3. Linda Cheang  2 August, 2019 at 17:23

    Selamat ulang tahun Baltyra.

    Dan buat saya, ini sebagai pengingat bagi saya pribadi bahwa perlu keberanian lagi untuk membuat artikel, seperti tulisan saya 5 tahun lalu saat Bandung Punya Uskup Baru sampai 4 jilid!

  4. Hennie Oberst  2 August, 2019 at 13:05

    Selamat ulang tahun Baltyra. Di rumah ini aku bisa bertemu penulis-penulis hebat salah satunya kamu, Lieber Iwan. 3-4

  5. Nur Mberok  2 August, 2019 at 12:07

    Saya Baltyra. Horeew!

  6. Nu2k  2 August, 2019 at 11:29

    Understood. Aq justru br rasan2 sama dimas JC mau tulas tulis lagi.. Kangen aja.. . Dag dag

  7. IWAN SATYANEGARA KAMAH  2 August, 2019 at 10:31

    Masih By Nunuk. Saya sengaja jarang menulis karena terlalu banyak. Harus setara dengan yang lain… Salam.

  8. Nu2k  2 August, 2019 at 10:19

    Dimas ISK, wat is er gebeurd? Jadi bingung. Memangnya dimas sudah “berhenti” dari Baltyra?
    Vertel vertel!! Gr n drie kusjes untuk semua di rumah.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.