Keteladanan Mbah Moen untuk Indonesia

Zuhairi Misrawi, Cendekiawan Nahdlatul Ulama

 

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Doa terus mengalir di jagad media sosial mengiringi kabar wafatnya salah satu ulama sepuh, KH. Maimoen Zubair atau akrab dipanggil Mbah Moen. Nasehat-nasehatnya selalu menghiasi ruang publik. Menyejukkan dan menginspirasi. Ulama yang tidak pernah berhenti mengingatkan kita semua untuk menjaga dan mencintai negeri ini.

Mbah Moen selalu mengingatkan kita semua, bahwa Indonesia adalah negara yang besar, yang mempunyai kesempatan emat untuk bersaing dengan negara-negara lain. Ia percaya negeri ini akan tinggal landas dengan catatan terus menjaga harmoni, toleransi dan kebersamaan. Maka dari itu, Mbah Moen selalu mengingatkan kita perihal pentingnya menjaga persatuan. Perbedaan agama bukan penghalang bagi kita untuk mewujudkan persatuan dan perdamaian.

“Agamamu adalah agamamu, dan agamaku adalah agamaku”. Lakum dinikum wa liya din. Ayat dalam surat al-Kafirun yang selalu dibacakan Mbah Moen agar kita hidup dalam bingkai persaudaraan, meskipun kita berbeda-beda agama.

Prinsip toleransi yang melekat dalam diri Mbah Moen menjadikan dirinya sebagai ulama yang diterima oleh seluruh kalangan. Bahkan dalam suasana politik yang mana dirinya sudah menentukan pilihan, Mbah Moen pun tidak memutus silaturahim dengan sosok yang tidak dipilihnya.

Dalam momen Pilpres yang lalu, kita melihat kedua Capres saling berkontestasi. Istimewanya, Mbah Moen menerima semua Capres untuk bersilaturahim ke kediamannya. Ini akhlak yang sangat baik, bahwa perbedaan politik hendaknya tidak memutus silaturahim. Kira-kira Mbah Moen ingin mengajarkan kepada kita semua begini, politik hanya sekadar instrumen untuk mewujudkan cita-cita bersama sebagai sebuah bangsa. Karenanya, politik sejatinya tidak mengorbankan persaudaraan dan persahabatan.

Dalam konteks yang lebih luas, saya mendengarkan langsung pesan Mbah Moen kepada Presiden Jokowi, “Jika kalangan pesantren dan nasionalis bersatu, insya Allah Indonesia kokoh dan maju”. Pesan ini menurut saya sangat mendalam maknanya, bahwa republik ini dibangun di atas kerjasama, kolaborasi, gotong-royong, dan konsensus.

Faktanya memang kalangan pesantren berada di garda terdepan dalam menjaga keindonesiaan kita. Dan Mbah Moen merupakan sosok terdepan yang terus mengingatkan kita semua, bahwa republik ini dimerdekakan bersama dan harus dijaga bersama-sama pula.

Sebelum berangkat haji, Mbah Moen bersilaturahim ke kediaman Megawati Soekarnoputeri. Makna silaturahim ini sangat mendalam, bahwa kalangan nasionalis harus terus menjaga silaturahim dengan kalangan pesantren untuk Indonesia yang maju, adil dan makmur.

Selamat jalan Mbah Moen, keteladananmu tidak akan pernah pudar. Terima kasih sudah menjadi bagian dari cahaya Indonesia.

 

Note Redaksi:

Gus Mis, selamat datang dan selamat bergabung di BALTYRA. Terima kasih sudah bersedia mengirimkan tulisan pertamanya ini, semoga ada tulisan-tulisan berikutnya untuk lebih merajut kebinekaan Indonesia bersama-sama…

 

 

One Response to "Keteladanan Mbah Moen untuk Indonesia"

  1. Handoko Widagdo  7 August, 2019 at 20:43

    Terima kasih Gus Mis. Artikel pendek ini sungguh tepat menggambarkan beliau.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.