Pancasila dan Khilafah

djas Merahputih

 

Tujuh puluh empat tahun sudah usia kemerdekaan negara Republik Indonesia kini. Sebuah perjalanan penuh liku dan gelombang, penuh intrik dan drama, namun juga penuh mimpi dan harapan. Masa-masa pergantian kekuasaan menjadi titik krusial di sepanjang perjalanan itu dan alhamdulillah bangsa Indonesia bisa merasakan kelegaan setelah berhasil melalui momen penting, Pilpres 2019, dengan sukses dan damai. Kesuksesan ini bukanlah tanpa cela. Aksi anarkis dan premanisme jalanan berbungkus agama telah meninggalkan catatan kelam di benak masyarakat, terutama di benak para warga ibukota. Namun semua sudah terjadi, semua telah berlalu. Generasi berikut harus banyak mengambil hikmah dan pelajaran dari rangkaian peristiwa-peristiwa tersebut.

Kemudian muncul sebuah tanya, sudah sampai di manakah perjalanan kita sebagai sebuah bangsa merdeka saat ini..?? Bung Karno mengibaratkan kemerdekaan sebagai sebuah jembatan emas. Sebuah perlintasan yang diharapkan mampu mengubah nasib anak negeri dari keterjajahan dan keterbelakangan menjadi sebuah masyarakat maju, makmur dan berkeadilan sosial.

Pada hakikatnya, perjalanan kita sebagai bangsa bisa diukur dengan mengamati sejauh mana sila-sila Pancasila terealisasi dan mengejawantah dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebab kelima sila tersebut menggambarkan tahapan dan urut-urutan perkembangan sebuah individu sejak ia masih bayi hingga kelak menjadi dewasa dan matang.

Idealnya, di usia 74 tahun ini, bangsa Indonesia telah berada pada fase (sila) keempat dan sedang berproses menuju fase (sila) kelima. Ini adalah fase kritis dan menentukan, sebab sila kelima merupakan penutup dan juga adalah tujuan akhir cita-cita kemerdekan yang telah dirintis oleh para bapak bangsa sejak sebelum tahun 1945.

Akankah kita melangkah maju, atau malah kembali melangkah ke belakang, ke fase-fase satu, dua dan tiga? Di sinilah letak Pancasila dan Khilafah dapat kita amati hubungan dan keterkaitannya dalam pertarungan ideologi maupun sistem bernegara dimana akhir-akhir ini sering dipertentangkan dan juga disandingkan.

Khilafah tidak bertentangan dengan Pancasila, begitu kata pengusung sistem khilafah ini membela diri.

Bertentangan atau tidak bukanlah sesuatu yang akan kita cermati. Kita hanya perlu mengamati peran sistem Khilafah ini dalam hal, apakah ia mendorong percepatan fase keempat menuju fase kelima dalam sequence sila Pancasila tadi, atau malah sebaliknya, menjadi penghambat dan batu sandungan bagi upaya-upaya percepatan fase tersebut?

Sila keempat Pancasila adalah akar dari sebuah sistem pengambilan keputusan berciri kerakyatan, melalui mekanisme musyawarah mufakat, dalam suasana penuh hikmat dan kebijaksanaan. Tradisi pengambilan keputusan seperti ini sebenarnya sudah sangat lumrah, terutama dalam lingkungan masyarakat adat di seluruh wilayah nusantara. Bentuk dan formasi kelembagaan mungkin bisa berbeda di setiap daerah, tapi yang pasti, semangat gotong-royong dan musyawarah untuk mufakat itu selalu tercermin serta menjadi marwah utama. Tak ada kendala dalam hal penjabaran nilai sila keempat ini. Bangsa ini seharusnya sudah bisa fokus untuk merealisasikan fase kelima, cita-cita kemerdekaan, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Di sinilah kemudian, kita diajak menengok kembali dan ditawarkan untuk menerima wacana Khilafah sebagai alternatif cara demi mewujudkan sebuah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Hmmm… hal-hal baru tentu saja akan menarik perhatian, apalagi buat remaja-remaja tanggung yang sedang mencari jati diri. Dan benar saja, para supporter Khilafah sebagian besar adalah anak SMA dan kuliahan yang mendapat dukungan dari keluarga dekat serta organ-organ yang telah disiapkan untuk membentengi keyakinan mereka. Ironisnya, mereka-mereka inilah sebenarnya yang menjadi tumpuan negara dalam hal mempercepat proses tercapainya fase kelima tadi. Dan kini mereka diajak untuk kembali fokus mengolah fase keempat serta untuk sementara menelantarkan proses-proses menuju fase kelima. Ini seperti meramu sebuah masakan, sudah hampir matang lalu harus kembali memperdebatkan resepnya.. (OMG!!)

Khilafah memang bisa dipersepsikan tak bertentangan dengan Pancasila, utamanya Sila Pertama. Tapi saat kita soroti dengan kacamata sila kedua hingga empat, akan mulai nampak bahwa konsep-konsep yang ditawarkan Khilafah cenderung mengeliminir keuniversalan nilai-nilai utama dalam Pancasila. Negeri ini dibangun oleh semua untuk semua, kata Bung Karno. 

Dalam Khilafah, sangat nampak kesan-kesan ekslusif yang mengarah pada semboyan, negeri ini dibangun oleh Islam untuk semua. Yah, memang tak dapat dipungkiri, tokoh-tokoh Islam memberi kontribusi penting dalam perjuangan kemerdekaan. Tapi itu bukan berarti mereka bercita-cita mendirikan sebuah negara agama, sebuah negara Islam. Perjuangan tokoh-tokoh Islam merujuk pada perjuangan Muhammad saat memasuki negeri Madinah. Mereka mendirikan sebuah Baladil Amin, negeri yang aman bagi semua golongan.

Lebih jauh lagi, tawaran sistem Khilafah bukan saja mengajak kita menelaah kembali fase keempat, ia juga sangat berpotensi menarik fokus kita untuk kembali terjebak pada fase ketiga dan kedua. Khilafah mengancam persatuan sekaligus membahayakan kemanusiaan saat cara-cara menghalalkan darah saudara sendiri untuk sebuah tujuan menjadi kata-kata heroik dalam doktrin-doktrin perekrutan followers. Khilafah menguras energi dan mengulur-ulur waktu kita tepat di saat negara sedang mengambil ancang-ancang untuk menyiapkan generasi tangguh yang sanggup bersaing secara global di masa depan. Ia mirip sebuah gerbong macet dalam rangkaian belasan gerbong lancar yang ditarik oleh sebuah lokomotif bernama negara. 

Khilafah menawarkan solusi justru di saat negara sedang bekerja dalam agenda-agenda solutif. Mungkin tawaran khilafah ini yang disebut Cak Lontong sebagai >> Menyelesaikan Masalah Tanpa Solusi.. hahahahaha…

 

Salam Nusantara

Merauke, 74 tahun Indonesia Merdeka

@djasMpu

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

2 Comments to "Pancasila dan Khilafah"

  1. Perselingkuhan Intelek  17 August, 2019 at 07:04

    Merdeka !!! gantung Koruptor……

  2. Makinuddin Samin  15 August, 2019 at 07:29

    Jioss

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.