Raihlah Pelangimu

Siti Naharin

 

Sebagian besar penghuni kos hanya mengenal nama panggilannya: Teti. Seorang mahasiswi baru fakultas Hukum di sebuah universitas negeri di kota Surakarta dari jalur PMDK. Asli Subang, sulung dari sebuah keluarga buruh tani miskin di sana. Ia bukan penghuni kost kami, tapi ia adalah bagian dari kami. Kehadirannya memberi arti tersendiri dari penghuni kost, di kawasan belakang kampus. Gadis bersahaja itu telah menjadi guru kehidupan bagi kami.

Malam yang dingin di kota Bengawan. Ketua kost mengajak seluruh warga kost berkumpul. Ada hal penting yang harus dibicarakan bersama. Dalam rapat itulah, dua orang teman mengenalkan sebuah nama: Teti. Teman kuliahnya yang miskin dan butuh bantuan agar mampu melanjutkan kuliahnya. Ia bersedia membantu kami membersihkan kos dua lantai itu.

“Teman-teman, keadaan Teti amat memrihatinkan. Ia sangat, sangat berbeda dari kita. Kalau kita tiap bulan, katakanlah dapat jatah dari orang tua. Teman kita, saudara kita seiman ini harus menghemat tiap sen rupiah yang ia dapat dari sumbangan guru-guru SMA, teman-teman, sanak saudara serta tetangga sekian bulan sebelum ia berangkat ke Solo. Jangankan beli tas sebagaimana yang kita pakai, buat makan aja dia rela-relain bantuin ibu kos mencuci alat masak yang dipakai buat jualan. Bayangin, si ibu selesai jualan jam 9 malam, dia cuci-cuci semua alat makan, alat masak kotor sampai jam 11 malam. Sementara kita? Maaf, mungkin Tenni bisa bantu. Aku gak kuat,” ujar Rikatama Bahrfeldt sembari beranjak meninggalkan rapat.

Akhwat keturunan Jerman itu nampaknya sudah benar-benar nggak kuat lagi menahan tangisnya. Semua menangis mendengar cerita Rika. Tapi kami masih bingung, apa hubungannya Teti dengan penghuni kost ini?

“Ya, aku nambah yang disampaikan Rika tadi. Aku singkat aja, ya? Tadi pagi Teti tanya ke aku sama Rika. Apa bisa dia kerja di sini? Bersih-bersih kos atau kalau ada yang mau minta tolong buat nyuciin baju, dia sanggup.  Apapun, selama halal dan tidak mengganggu kuliah, bakal dia lakukan. Pastinya dia sangat butuh uang untuk kelangsungan hidupnya di sini. Minta ke orang tua adalah hal yang tidak mungkin dia lakukan, karena bapak-ibunya hanya buruh tani dengan penghasilan yang tak cukup,” sampai di sini Tenni menghela nafas. Suara tangis tertahan memenuhi ruang tamu, ruang serba guna kos kami. Semua terdiam, terbawa alur cerita Rika dan Tenni. Hening mencekam meningkah dingin angin malam kota Solo.

“Nah, dari cerita Rika sama Tenni tadi, bagaimana tanggapan teman-teman? Kalau saya pribadi sebagai ketua kos, tidak keberatan. Apalagi kita berdua puluh tujuh di sini. Katakanlah kita tiap bulan iuran masing-masing lima ribu rupiah, saya rasa tidak memberatkan. Selama ini piket kebersihan kos, ngepel lantai, beresin dapur, bersihin kamar mandi, menurut saya kurang berjalan sebagaimana yang diharapkan. Artinya, ada beberapa teman yang awalnya menunda piket, eh, malah nggak piket seharian dengan alasan lupa, sibuk. Menurut saya ini jalan tengah agar tidak ada kecemburuan diantara kita. Bagaimana?” mbak Wulan, ketua kos kami menengahi. Isak tangisnya masih tersisa.

“Kalau aku nggak papa, Mbak. Sekalian kita bantu teman apa salahnya,” jawab Bebi. Mahasiswi jurusan Akuntansi yang memang super sibuk. Selain kuliah, ia mengambil berbagai kursus keterampilan. Mantan peserta program pertukaran pelajar Asia-Tenggara yang sempat mukim di Australia. Tak heran dia begitu disiplin.

“Terima kasih, Bebi. Yang lain bagaimana? Setuju?” sahut Mbak Wulan.

Malam itu semua menyetujui proposal Rika dan Tenni. Rapat berakhir dengan senyum di bibir masing-masing. Kalau aku sih, terbayang tidak usah buru-buru bangun pagi ngepel lantai, beresin dapur yang aku nggak pernah pakai, itu sudah menyenangkan. Kebetulan aku biasa bersihin kamar mandi kalau habis makai. Malam itu juga Tenni dan Rika menyampaikan hasil rapat kepada Teti yang kosnya tidak jauh dari kos tempat kami tinggal.

Adzan Shubuh belum juga berkumandang. Ketukan di pagar serta salam berulang membangunkanku. Kulihat sesosok gadis berkerudung di luar pagar. Penampilannya bersahaja, gamis warna gelap dengan kerudung lebar. Sandal jepitnya sudah buruk. Serupalah sama sandal kamar mandi kami.  Mungkin Teti, begitu pikirku.  Tanpa pikir panjang kubuka pintu kamar sembari membalas salamnya. Sebagian besar penghuni kos biasanya qiyamul lail jam-jam segini.

“Teti, ya? Sebentar saya ambilkan kunci dulu,”  kataku sambil menuju ruang tamu. Mengambil kunci gerbang di atas tivi. Kasihan kalau dia kelamaan nunggu. Aku yakin, tadi dia berdiri di depan gerbang cukup lama. Padahal udara begitu dingin.

Dia langsung masuk setelah bersalaman denganku sambil mengucapkan terimakasih. Merasa tanggung untuk tidur lagi, kubuka buku kuliah. Belajar,  mumpung sepi. Bayangkan kalau 27 gadis hidup bersama dalam satu rumah. Ada juga ramai, ramai, dan ramai. Begitulah, mulai hari itu aku memulai karirku menjadi pembuka gerbang buat masuknya Teti. Resiko penghuni kamar paling depan. Hahaha….. Kadang-kadang diganti karena aku kecapekan, sih… Namanya juga kadang, berarti seringan aku, kan? Tak apalah, aku padamu, Teti… Hihihi….

Jujur saja menurutku teman baru ini hebat. Bayangkan saja. Lagi bangga-bangganya menyandang status sebagai mahasiswa baru universitas ternama Indonesia, eh, dia jual tenaga buat nyambung hidup. Kan hebat itu? Tidak semua orang mau seperti itu. Bukankah bangsa kita itu gengsi tinggi? Lebih suka dianggap kaya daripada mengakui kemiskinannya?  

Keriuhan yang mengawali pagi berkurang satu. Teriakan panjang mengingatkan petugas piket hari itu, tak lagi terdengar. Cukup panggilan ada telepon, teriakan antri kamar mandi, teriakan ibu dhahar (ibu-ibu penjual nasi bungkus yang banyak dijumpai di Solo. Biasanya mereka mengambil dari warung-warung makan sekitar rumah tinggal mereka).

Selain mengambil pekerjaan kami membersihkan rumah kos, Teti sering dimintai tolong untuk berbagai pekerjaan yang ia lakukan di luar jam kerja. Cuci-setrika baju, beresin kamar tiap anggota kos yang butuh pertolongan. Tentu saja, untuk hal ini Teti mendapatkan uang ekstra. Anehnya ia tak pernah pasang tarif untuk tiap-tiap pekerjaan.

“Sekasihnya aja, saya sih,” begitu jawabnya selalu saat ada yang nanya berapa ia harus dibayar untuk tiap jenis pertolongannya.

Menghadapi persoalan itu, tentu saja mengharuskan kami pengguna jasa kembali bermufakat. Untuk tiap-tiap jasa di luar jasa pokok, tarif dasarnya Rp 10.000,00. Tidak boleh kurang, lebih disilakan. Namanya juga menolong teman, sahabat, saudara. Alhamdulillah, banyak teman yang memakai jasa Teti untuk cuci-setrika baju maupun pekerjaan lain.

Indahnya Islam. Dalam segala keterbatasan kami sebagai anak kos, anak rantau tanpa penghasilan, tetapi  rasa cinta terhadap saudara seiman begitu kuatnya. Meskipun untuk iuran kadang terasa berat, tetapi mengingat nasib kawan yang lebih berat tanggungannya, semua berjalan tertib. Tidak ada satupun penghuni kos telat melakukan pembayaran untuk biaya petugas kebersihan ini. Seringkali kami berbagi makanan dari kampung dengannya. Kadang yang punya kelebihan tas atau sepatu juga dikasih ke Teti. Ya, asal nggak buruk-buruk amat. Layaklah buat dibawa ke kampus.

Teti, anak kampung yang miskin itu mengajari kami bahwa hidup adalah perjuangan. Menggapai cita-cita tak semudah membalik telapak tangan. Tak pernah kulihat ia mengeluh. Suatu hari, ia datang dengan muka pucat. Kebetulan aku sudah terjaga.

“Teti sakit? Kok pucat?” tanyaku sembari membuka gerbang. Semilir angin pagi menembus tulang. Kurapatkan jaket pelapis badan, tapi tampaknya kurang mampu mengalahkan dinginnya udara pagi Solo.

“Ah, masuk angin biasa. Gak papa. Permisi,” jawabnya sopan. Kakinya terus melangkah ke dalam kos menunaikan tugas rutin.

Aku sedang menikmati segelas kopi panas, saat kudengar suara gedebuk di ruang tamu. Kujerang airnya di kamar pakai water heater. Reflek aku melompat keluar. Kudapati Teti jatuh pingsan di ruang tamu. Beberapa teman sudah berada di situ.

“Astaghfirullah, Dik. Kamu kenapa, Teti?” jerit mbak Wulan tertahan. Yang lain berdatangan mendengar jeritannya.

“Teti kenapa? Ya Allah,” sahut yang lain panik.

Mbak Wanda seorang mahasiswi kedokteran segera memeriksa keadaan Teti. Kami dimintanya menjauh. Semua hanya bisa menurut. Semua mencemaskan Teti. Mata kami basah oleh air mata yang tak kuasa lagi dibendung.

“Adik-adik, biarin Tetinya istirahat dulu. Hari ini kita bersihin kos sendiri, yuk? Masing-masing lorong membagi diri. Sebagian bersihin kamar mandi, sebagian ngepel lantai. Yuk?” ajak mbak Rahma, mahasiswi ekstention Pertanian. Gadis Sunda yang cantik dan lembut. Selalu tampil anggun keibuan.

Kembali tak ada suara protes dari kami. Masing-masing segera meninggalkan Mbak Wulan dan Mbak Wanda merawat Teti yang sudah dibawa ke kamarnya. Pagi itu, kami kembali bergotong royong membersihkan kos sendiri. Toh, tak ada yang terlambat ke kampus karenanya. Tetipun diberi ijin untuk ‘cuti’ sakit. Artinya, sementara dia istirahat kami bertanggung jawab atas kebersihan masing-masing lorong. Teras dan kamar mandi. Ruang tamu dan dapur dibersihkan bersama. 

Cukup lama Teti bekerja di kos ini. Tak hanya di kos kami,  ia juga membersihkan kos lain yang jaraknya berdekatan.  Ia pulang kampung hanya setahun sekali. Libur semester biasanya ia pakai buat ambil semester pendek.

Suatu saat ia minta berhenti kerja, karena harus menyelesaikan skripsi. Ia merasa tidak mampu lagi bekerja. Penelitiannya memaksa dia berhenti. Kudengar ia melakukan penelitian di sebuah yayasan sosial yang  konsentrasi di bidang anak. Sebuah yayasan sosial cukup besar di kota Bengawan dan kredibel karena aktivitasnya berjalan real.

Satu pagi di sebuah hotel ternama di kota Solo. Lama tak kudengar kabar Teti. Kebetulan Rika dan Teni pindah kos begitu kami memasuki tahun kedua kuliah. Gegara pemilik kos menaikkan harga sewa kamar tanpa menambah fasilitas. Aku bertahan di situ terpaksa karena orang tuaku melarang pindah. Mereka merasa cocok aku tinggal di situ karena lokasi tidak begitu jauh dari kampus. Lingkungannya tidak terlalu ramai. Dan lagi, dekat dari masjid. Penghuni kosnyapun pra akhwat yang rajin mengaji. Maklumlah, aku pergi-pulang ke kampus itu on foot. Kembali ke pertemuanku sama teman hebat ini.

“Assalaamualaikum,” sebuah sapaan lembut mampir di telingaku. Aku lagi sibuk menyiapkan meja penerima tamu. Tempatku bekerja mengadakan seminar yang menghadirkan berbagai kalangan hari itu.

“Waaalaikum salam. Terima kasih sudah memenuhi undangan kami. Nah, silakan presensi dulu,” jawabku sambil menyodorkan map berisi makalah beserta alat tulis.

“Teti. Masyaallah!” jeritku tertahan begitu kami bertatap muka. Kamipun larut dalam peluk keharuan.

“Kerja di sini, Rin? Alhamdulillah ketemu lagi. Gimana kabar teman-teman Sakinah teh?” tanyanya tak sabar. Kami kembali berpeluk.

“Alhamdulillah semua baik. Banyak yang udah pindah. Teti masih di yayasan itu?” jawabku balik tanya. Kubiarkan air mata kerinduan mengalir di pipi. Masih sepi ini. Kebetulan aku datang lebih dulu karena sudah janji mau ketemuan dulu sama manajemen hotel. Biasa, kerjaan bendahara.

“Iya. Udah selesai kuliahnya?” balasnya balik tanya. Kali ini tangannya mengusap air mataku.

“Belum. Masih penelitian sambil kerja. Entar, lah,” jawabku sekenanya.

“Cepetan selesai, atuh. Biar kerjanya lebih konsen.”

“Doain, yah? Dosennya koordinatif. Yuk, pilih tempat duduk dulu. Saya masih ada kerjaan.”

Senyumnya mengembang. Kubiarkan ia menikmati kelengangan hotel. Sambil menunggu teman-teman yang lain, aku cek semua perlengkapan acara seminar kali ini. Kalimat-kalimat Teti barusan terngiang di telingaku. Kuliah cepet kelar, biar konsen kerja.

Dua tahun dari pertemuanku dengan Teti, aku mendapat kabar Teti sedang menyelesaikan program masternya. Kecerdasannya, ketekunannya, mengantarkan ia pada satu hal yang dulu mungkin tak pernah ia impikan. Bayangkan, seorang gadis miskin yang berangkat ke Solo dengan uang saku sumbangan. Naik kereta ekonomi. Hidup dalam segala keterbatasan. Kuliah S2? Mungkin tidak pernah terpikirkan oleh Teti. Menyelesaikan pendidikan sampai jenjang sarjana saja mungkin sebuah mimpi yang teramat mewah.

 

 

Note Redaksi:

Siti Naharin, selamat datang dan selamat bergabung di rumah kita bersama BALTYRA ini. Ditunggu artikel-artikel lainnya ya… Terima kasih Dewi Aichi yang mengenalkan BALTYRA ke Siti Naharin…

 

One Response to "Raihlah Pelangimu"

  1. James  15 August, 2019 at 10:19

    membaca artikel diatas mengingatkan berita akhir-akhir ini akan seorang wanita anak tukang penarik becak lulus cume laude dan mendapatkan bea siswa ke LNluar biasa dengan semangat mereka dan keuletannya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.