Memoar Hadrianus

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Memoar Hadrianus

Judul Asli (dalam Bahasa Perancis): Memoires d’Hadrien

Penulis: Maraguerite Yourcenar

Penterjemah: Apsanti Djokosujatno

Tahun Terbit: 2007

Penerbit: Yayasan Obor

Tebal: xii + 385

ISBN: 979-461-619-2

 

Pertama kali saya berjumpa dengan buku ini adalah saat saya berkunjung ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, setengah tahun yang lalu. Buku berwarna hitam pekat itu mengingatkanku kepada buku karya penulis yang sama yang telah aku baca sebelumnya, “Cerita-Cerita Dari Timur.” Saya segera membuka-buka isi buku yang berjudul “Memoar Hadrianus” tersebut. Karena kunjungan saya ke Perpustakaan daerah Kabupaten Malinau singkat saja, maka saya memotret cover buku tersebut. Dengan foto cover buku, saya berharap untuk bisa mendapatkannya suatu hari nanti.

Ternyata keinginanku segera terwujud. Saat saya terbaring sakit karena terserang radang paru-paru, tiba-tiba saya mendapat kiriman buku karya Yourcenar ini dari sahabatku Ary Hana. Ary Hana adalah seorang pembaca buku yang serius, penulis dan traveler yang sangat berani. Terima kasih Ary Hana.

Saya segera mencicipinya. Saya membaca bagian pendahuluan di awal buku, bagian proses penyusunan buku dan bagian sumber-sumber yang dipakai untuk menyusunnya yang berada di bagian belakang. Namun karena kondisi fisik yang belum prima, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan membacanya. Sebab buku ini sangat berat. Selain disusun dalam waktu yang sangat lama – Yourcenar menulisnya dalam waktu 24 tahun, pengetahuan saya tentang sejarah Romawi juga sangat terbatas. Baru setelah kembali ke Kalimantan Utara, saya mulai membaca kisah salah satu Kaisar Romawi ini. Sebagian besar dari kisah Hadrianus aku selesaikan saat aku kembali bertugas di Malinau selama 4 hari. Entah kebetulan atau tidak, nyatanya saya mengenal pertama kali Memoar Hadrianus di Malinau dan membacanya juga di kabupaten yang bupatinya sangat peduli kepada budaya ini. Yourcenar, Hadrianus dan Malinau sama-sama menghargai pluralitas.

Setelah mencoba berbagai pilihan, Yourcenar akhirnya memilih menjadikan Hadrianus sebagai pencerita tunggal. Yourcenar pernah menulis draf novel ini dengan cara dialog beberapa tokoh. Ia juga pernah mempertimbangkan untuk menggunakan Plotina, istri Kaisar Trayanus untuk membangun kisah. Namun dengan pertimbangan yang mantab, akhirnya Yourcenar memilih mode cerita tunggal dari sang tokoh utama – Hadrianus. Pilihan ini tentu sudah dipertimbangkan dengan masak. Sebab dengan menggunakan satu penutur, tentu saja kisah harus dibuat sangat menarik, supaya pembaca tidak jatuh kepada kebosanan. Yourcenar harus berjuang dalam mengatur detail kisahnya dengan stamina para pembaca bukunya. Khususnya pembaca dalam Bahasa Indonesia. Apalagi para pembaca dalam Bahasa Indonesia tentu tidak cukup banyak yang punya pengetahuan yang memadai tentang sejarah Romawi.

Yourcenar menampilkan Hadrianus tua yang sudah sakit-sakitan di awal cerita. Saat dalam kondisi sakit inilah Hadrianus menceritakan pengalaman masa mudanya dan saat ia menjadi kaisar. Pengalamannya di lapangan dan kesukaannya akan filsafat, membuat ia bisa menerima kondisi kesehatannya yang akan membawanya kepada kematian. Hadrianus tetap bahagia. Penampilan Hadrianus yang periang dan menerima kondisi apapun ini membuat cerita menjadi lebih lancer. Tokoh Hadrianus bisa mengajak pembaca untuk merenungkan hal-hal yang dialami oleh semua manusia, seperti persahabatan, cinta, kebahagiaan dan lain-lain. Pemilihan cerita berdasarkan geografis, yaitu bab Eropa, bab Afrika dan bab Asia membuat pembaca yang kurang faham tentang sejarah Romawi sedikit terbantu.

Membaca karya Yourcenar ini membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Sebab detail yang dihasilkan dari riset yang mendalam memerlukan kesabaran untuk mencernanya. Yourcenar berupaya keras untuk tidak menyimpang dari fakta-fakta sejarah yang didapatnya dari berbagai sumber tersebut.

Marilah kita lihat siapa Hadrianus melalui buku ini. Berbeda dengan kaisar-kaisar Romawi yang sering saya kenal sebagai kaisar yang suka berperang, atau kaisar brutal seperti Nero dan Caligula, Kaisar yang menggantikan Trayanus ini adalah seorang kaisar yang sederhana, suka belajar dan suka perdamaian. Ia menyukai filsafat dan ilmu pengetahuan, kesenian dan kesusastraan serta arsitektur. Ia juga menikmati petualangan-petualangan alam.

Kesan terkuat yang saya dapat tentang Hadrianus adalah seorang kaisar yang tidak suka perang. Meski ia juga berkarier dalam kemiliteran, ia tidak suka perang. Bahkan ia membenci perang. Ia berupaya mmencegah perang sebisa mungkin. Perjanjian-perjanjian damai dilakukannya dengan pihak-pihak yang selama ini berperang dengan Romawi. Perang bisa menyelamatkan Romawi yang hampir bangkrut karena devisit akibat perang. Melalui situasi damai tersebut ia membangun kembali perdagangan sehingga kemakmuran bisa didapatkan.

Kaisar yang suka filsafat dan hidup sederhana ini memuja humanitas (kemanusiaan), felicitas (kebahagiaan) dan liberitas (kebebasan). Tulisan yang tertampang pada uang koin masa pemerintahannya ini menjadi panduan Hadrianus saat memerintah Romawi. Selama masa pemerintahannya, Hadrianus sangat getol memperjuangkan kemanusiaan, kebebasan dan kebahagiaan semua rakyat Romawi. Ia membuat peraturan tentang budak yang tidak boleh diperlakukan secara semena-mena. Ia mengurangi jumlah budak yang ada di istana.

Ia sangat menghargai keputusan pribadi. Termasuk keputusan untuk melakukan bunuh diri. Ia menyetujui permintaan Euphrates untuk melakukan bunuh diri, karena merasa sudah tidak ada yang bisa dilakukannya dalam hidup. Ia juga tidak mencegah Antinoos – pacar yang dikasihinya untuk bunuh diri demi menunjukkan cintanya kepada Hadrianus. Baginya moral adalah urusan pribadi dan kepatuhan adalah urusan umum. Ia memisahkan antara hal-hal yang bersifat pribadi dan hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan umum.

Ia mengembangkan kesusastraan di istana dan pusat-pusat pemerintahan di daerah. Ia membangun kembali bangunan-bangunan bersejarah yang hancur karena perang, termasuk membangun Yerusalem yang dihancurkan Jenderal Titus. Dalam membangun bangunan-bangunan bersejarah, Hadrianus mempromosikan pluralism. Ia membangun bangunan-bangunan dari budaya lain di sekitar bangunan bersejarah lokal. Ia juga sering mengikuti ritual-ritual dari etnik-etnik yang menjadi warga Romawi.

Hadrianus adalah seorang pengejar kebahagiaan. Ia menyukai seks, baik dengan perempuan maupun dengan lelaki. Ia mempunyai seorang permaisuri yang tidak terlalu disukainya. Ia memiliki banyak pacar baik perempuan maupun lelaki. Namun pacar lelaki yang sangat dicintainya adalah Antinoos. Demi menunjukkan cintanya kepada Hadrianus, Antinoos melakukan bunuh diri. Bunuh-dirinya Antinoos sempat membuat Hadrianus kehilangan semangat. Namun karena tujuan utama pribadinya adalah menyejahterakan rakyat Romawi, makai a bangkit kembali dan bekerja keras dan tekun untuk membuat Romawi menjadi negara yang menghargai kemanusiaan, menjamin kesejahteraan dan kebebasan rakyatnya.

Hadrianus adalah pemimpin yang suka belajar, menempatkan kemanusiaan lebih tinggi dari kepercayaan pribadinya, menghargai kemajemukan, berorientasi kepada pengupayaan kesejahteraan dan kebahagiaan semua rakyatnya. Ia adalah kaisar yang fokus menyelesaikan masalah-masalah kebangsaan. Meski sederhana dan kelihatan santai, tetapi Hadrianus adalah pemimpin yang tegas dan cepat dalam mengambil keputusan.

Semoga Indonesia dikaruniai pemimpin yang seperti Hadrianus.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

6 Comments to "Memoar Hadrianus"

  1. Handoko Widagdo  20 September, 2019 at 09:52

    Avy, saya pun sering kecewa dengan buku terjemahan. Namun apa daya jika saya tak memahami bahasa asli yang digunakan oleh sang buku. Jadi ya…aku nikmati saja. Kalau buku ini menurutku terjemahannya sangat baik dan mengalir.

  2. Alvina VB  18 September, 2019 at 21:47

    Thanks buat bedah bukunya. Kudu baca buku aslinya “Memoirs of Hadrian”, karena kl baca terjemahan, kadang ada yg kurang sreg. Setuju dgn pendapatnya Mas Bagong, ha…ha….ngilani di Indonesia lagi trend poligami, gak kebayang kl pemimpinnya demen sama poligami.

  3. Handoko Widagdo  23 August, 2019 at 09:19

    Wah…harus diajak berkumpul semua yang bernama Hadrianus Linda.

  4. Linda Cheang  22 August, 2019 at 19:51

    Sudah ada seorang pastor yang namanya Hadrianus dari sebuah tarekat, di Keuskupan Bandung. Teolog, belajar filsafat dan jadi pengajar filsafat, tentunya hidup selibat serta…… agak jutek.

    Entah ada berapa Hadrianus lagi di Indonesia saat ini yang tidak selalu seperti Hadrianus si kaisar.

  5. Handoko Widagdo  22 August, 2019 at 06:59

    Mas Bagong Julianto, itulah sudah.

  6. Bagong Julianto  21 August, 2019 at 23:42

    Mas Handuk…

    Setuju Indonesia dikaruniai banyak Hadrianus, tapi minus kehidupan ranjangnya yang nggilani tennan kuwi…
    hehehe…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.