Nek Ipah

Ratman Aspari

 

Terik mentari begitu menyengat, lalu lalang kendaraan rame hilir mudik, hiruk pikuk para karyawan, pegawai kantoran berhamburan memenuhi warung-warung makan, pertanda waktu istirahat telah tiba.

Dalam sekejap, warung-warung makan yang ada di kawasan jalan Kebon Sirih, Gondangdia, sampai jalan Sabang, Jakarta Pusat diserbu oleh para karyawan dan pegawai kantoran. Riuh ramai mereka menghabiskan waktu istirahatnya, sembari menikmati sajian yang dihidangkannya.

Suasana akan lengang kembali, manakala para pegawai kantoran itu telah usai menikmati makan siangnya. Para pedagang warung berkemas, merapihkan piring, gelas bekas makan dan minum mereka serta menghitung hasil penjualannya hari itu.

Sementara itu, di sudut jalan tidak jauh dari stasiun Gondangdia, Nenek Saripah, orang-orang di sana biasa menyapa dengan sebutan pendeknya,‘Nek Ipah’, sedang sibuk mengemasi barang-barang hasil memulungnya sejak pagi hari, ia berkeliling.

Dipinggirkan gerobaknya yang sarat dengan muatan barang-barang seperti kardus, kertas, botol, dan lain sebagainya, berbelok ke kanan menuju tempat pengepulan barang bekas, milik Pak Haji Bahrudin, biasa dipanggil Bang Udin, tidak jauh dari stasiun Gondangdia.

Terik mentari tak lagi dihiraukanya, sesekali Nek Ipah menyeka peluh keringatnya yang memenuhi dahi dengan selendangnya. Nek Ipah tidak akan istirahat, sebelum barang-barang hasil memulungnya selesai dikemas dan ditimbang oleh anak buah Bang Udin, dan uang pembayaranya diterimanya.

“Istirahat dulu, Nek, “ujar Bang Udin, sembari menyerahkan uang pembayaran atas barang-barang hasil memulungnya, sesuai dengan hasil timbangan dari anak buahnya dikalikan harga per-satuannya, sesuai harga masing-masing barang.

“Iya, tanggung, nih Bang Udin, kalau sudah beres seperti ini, baru lega rasanya untuk istirahat, sekalian mau sholat dhuhur, ”jawab Nek Ipah.

Sembari geleng-geleng kepala, Bang Udin, terus memandangi Nek Ipah, penuh haru, ada rasa iba dan kagum dengan semangat dan kerja kerasnya. Dalam hati kecilnya Bang Udin mengatakan kenapa harus bersusah payah seperti itu. Kalau saja  Nek Ipah mau, ia bisa saja tinggal dan ikut sama salah satu anaknya, sehingga tidak usah lagi bersusah payah mengais-ngais barang bekas, menjadi pemulung.

Apa yang ada dalam benak Bang Udin, mungkin sama juga dengan pandangan kebanyakan orang. Tapi tidak dengan Nek Ipah, dirinya sudah ditempa kerja keras sejak kecil, berat dan pantang bagi Nek Ipah untuk menengadahkan tangannya, walaupun itu kepada anaknya sendiri, itu sudah jadi prinsip dalam kehidupanya.

***

Semenjak kematian suaminya, Kakek Darno, beberapa tahun lalu,  praktis Nek Ipah berjuang sendiri untuk menopang kehidupannya di tengah kerasnya Ibukota dengan menjadi pemulung, bermodal gerobak peninggalan suaminya. Menyusuri lorong-lorong di sekitar kawasan Cikini, Gondangdia, Kebon Sirih dan sekitarnya, mengais barang-barang bekas, lantas disetor ke pengepul milik Bang Udin. Orang-orang yang melihatnya begitu iba, sosoknya yang sudah tua renta, masih berjibaku diterpa terik mentari, dinginnya hujan dan berpeluh debu. Namun tidak bagi Nek Ipah, ia jalani semuanya dengan ikhlas, sabar dan senang, tidak sedikitpun ada keluh kesah.

Tiga orang anaknya, semuanya sudah berkeluarga dan menyebar tempat tinggalnya, ada yang di Bogor, Bekasi dan Tangerang.  Ratna, anak tertua Nek Ipah sudah berkali-kali membujuknya, agar Nek Ipah mau tinggal bersamanya, Begitu juga dengan Darman, anak lelakinya yang nomor dua dan kini tinggal di Bekasi, namun semua bujuk rayu ketiga anak-anaknya, tidak ada satupun yang   berhasil meluluhkan Nek Ipah untuk tinggal bersamanya. Prinsip hidup dan pendirian Nek Ipah  begitu teguh, tidak mau menyusahkan orang lain, walaupun itu anaknya sendiri, prinsip itu tidak serta merta hanya dalam kata dan ucapan, namun ia wujudkan dalam setiap tindakan keseharianya.

Sejak awal kehidupanya dengan almarhum Kakek Darno, Nek Ipah sebenarnya pernah membuka usaha warung makan kecil-kecilan, cukup untuk kehidupan sehari-hari bersama tiga orang anaknya ketika mereka masih kecil saat itu, dan kini anak-anaknya sudah dewasa dan berkeluarga, hidup dengan kesibukannya masing-masing.

Namun petaka itu datang ketika beberapa tahun sebelum kakek Darno meninggal, warung makan satu-satunya, sumber penghidupannya, digusur oleh petugas gabungan, dengan alasan penertiban wilayah kumuh, apalagi warung tersebut berada di atas tanah negara, demikian alasan yang dilontarkan oleh petugas, saat itu.

Sejak saat itulah, kondisi Kakek Darno semakin memburuk, sering termenung, kelihatan shock, sampai jatuh sakit dan akhirnya meninggal, satu-satunya barang yang tersisa adalah gerobak yang kini digunakan Nek Ipah, untuk memulung, sementara tiga orang anaknya satu persatu berkeluarga, memiliki rumah sendiri, dan tinggal di daerah penyangga Ibukota.

Tidak terasa waktu begitu cepat, sejak menerima uang dari Bang Udin, Nek Ipah bergegas menuju Stasiun Gondangdia, disandarkan gerobaknya di pinggir stasiun seperti biasa. Lantas dirinya bergegas menuju musholah di lantai atas, membersihkan diri dan sholat dhuhur.

Usai sholat Dhuhur, Nek Ipah, bersandar ke dinding sembari membuka tasnya, dikeluarkanya nasi bungkus yang tadi dibelinya, di warung sebelah stasiun.  Sembari menikmati nasi bungkusnya, seraya mengucap syukur, bibirnya bergetar melantunkan sebait do’a.

Walau mentari sudah mulai bergeser namun siang itu cuaca begitu terik, bising kenalpot dari sepeda motor butut, meraung-raung menambah suasana jadi pengap di luar. Sementara Nek Ipah di musholah Stasiun Gondangdia tergeletak, tertidur pulas, begitu lelahnya sejak pagi ia melangkah mengais-ngais barang bekas, hawa dingin dari AC di musholah membuatnya terlelap.

Nek Ipah terbangun manakala petugas di musholah membangunkannya mau adzan, sudah masuk waktu ashar, tidak terasa hampir dua jam Nek Ipah terlelap di musholah itu. 

Dalam tidurnya itu, Nek Ipah terbawa dalam mimpinya bertemu dengan suaminya Kakek Darno, yang mengenakan kain serba putih bersih, ditarik-tariknya tangan Nek Ipah, seraya akan diajak terbang ke langit, namun Nek Ipah tidak mau, sampai Kakek Darno yang ada dalam mimpinya berhasil menarik tangannya, namun pegangan tanganya kurang kuat dan terlepas, Nek Ipah terhempas dan terjatuh, sampai akhirnya Nek Ipah kaget dan terbangun.

“Ya, Rob, isyarat dan pertanda apa yang Engkau sampaikan lewat mimpi ini,”ujar Nek Ipah, seraya membatin, memanjatkan do’a usai sholat azhar, dan rupanya itulah do’a terakhirnya.

Usai sholat azhar, Nek Ipah tidak langsung pulang, ada rasa pegal-pegal di badannya, seolah sekujur tubuhnya lemas, tak berdaya. Nek Ipah mencoba mengumpulkan seluruh tenaganya, untuk bangun, dengan tertatih-tatih seraya menuju ke kamar mandi, sekedar ingin membasuh muka, untuk menghilangkan penat dan lesu.

Namun, semuanya di luar dugaan, tubuhnya oleng ketika hendak sampai ke kamar mandi, dan tiba-tiba saja “brak” terdengar suara berdebum. Rupanya Nek Ipah terjatuh dan pingsan. Marbot Musholah yang mendengar suara tersebut, langsung menghampirinya.

Ditolongnya Nek Ipah, Marbot Musholah mencoba untuk membangunkannya, tetapi rupanya Nek Ipah sudah pergi untuk selama-lamanya.

Dan sejak saat itu, orang-orang tidak lagi melihat seorang nenek renta tertatih-tatih mendorong gerobak dengan barang-barang hasil memulungnya, tidak ada lagi decak kagum dan rasa iba dari para penumpang kereta api, yang baru turun di Stasiun Gondangdia, tidak ada lagi pelajaran berharga dari Nek Ipah tentang keuletan, kegigihan dan ikhlas serta keteguhanya dalam menjalani kehidupanya.

Selamat jalan, Nek Ipah, di tengah segala kepapaannya, ternyata engkau masih mampu menyiratkan pelajaran berharga bagi orang-orang di sekitarnya.

Catatan :

Marbot : Petugas di musholah atau masjid

 

Kalisari, 03 Agustus 2019

 

 

2 Comments to "Nek Ipah"

  1. mas ratman  23 August, 2019 at 15:59

    Semoga orang-orang tua, ibu-ibu sepuh seperti ini selalu mendapat keberkahan dari Tuhan YME

  2. James  23 August, 2019 at 11:10

    nek Ipah, extra ordinary person, luar biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.