Belajar bahasa politik ekonomi yukkkk…

Jhony Lubis

 

Apa kabar bro n sist penikmat Baltyra? Semoga sehat dan tetap rasional kritis dalam mengolah informasi sehingga menjadi bagian dari pembaca cerdas *smile.

Tulisan tentang apalagi nih bro Jhony Lubis, lihat judulnya seperti mengajak belajar bahasa?? Nop.. tidak 100% benar itu hanya kiasan saja karena saya bukan ahli bahasa dan bukan ahli apapun…. Saya hanya pembaca yang suka bermain dengan logika berpikir secara objektif.

Beberapa waktu terakhir ini banyak berita tentang peningkatan jumlah ekspor kendaraan bermotor khususnya mobil dan sepeda motor yang di tulis merupakan produk Indonesia atau made in Indonesia dengan pemahaman diproduksi di wilayah Indonesia dengan lokal konten >= 70%. Secara logika klaim tersebut benar karena ada pemahaman “Produksi domestik suatu Negara bila dibuat di dalam wilayah Negara tersebut”

Kebetulan saya penggemar bacaan tentang otomotif dan saya memiliki informasi secara informal tentang supplier otomotif yang merupakan bagian dari industri otomotif Indonesia karena saya sempat +/- 4 tahun beraktifitas meliputi wilayah Karawang, Cikampek, Purwakarta dan Subang dimana banyak terdapat kawasan industri yang salah satunya sebagai kawasan setra industri otomotif dan industri komponen pendukungnya *smile

Saya sekedar iseng berbagi logika berpikir dari sebuah berita dan silahkan berbeda pendapat asal dengan logika jernih bukan sekedar berbeda tanpa rasional *LoL

Kita bahas tentang industri otomotif khususnya mobil dan pemahaman lokal konten produksi Indonesia (made in Indonesia).

 Banyak merek otomotif dunia yang diproduksi di Indonesia seperti Toyota, Honda, Suzuki, Daihatsu, Wuling sampai Mercedes dimana dari merek tersebut diketahui pemilik brand dan teknologi R&D sampai produksi adalah perusahaan PMA di wilayah Indonesia yang bisa saja berpatungan dengan pengusaha Indonesia (joint venture) atau tanpa joint venture dikenal dengan istilah PMA murni.

Sebagai informasi produksi industri otomotif didukung oleh banyak supplier yang memproduksi part tertentu dari sebuah mobil sehingga industri pendukung otomotif juga merupakan bagian dari industri otomotif.

Sebagai ilustrasi : produsen mobil merek X yang dimilki oleh Asing (PMA murni atau Joint venture) di rakit / assembling di Indonesia (definisi Assembling adalah suatu proses penyambungan atau penggabungan dua atau lebih komponen secara mekanik menjadi sebuah unit), dimana komponen part dari mobil tersebut diproduksi oleh (ilustrasi saja)

  1. Ban oleh Dunlop
  2. Kaca mobil oleh Asahimas Glass
  3. Accu oleh Nippondenso
  4. Shockbreaker : Kayaba
  5. Busi : Nippondenso
  6. Busa dashboard dan jok mobil : Inoac
  7. Jok mobil : Fuji seat
  8. Velg mobil : Pakoakuina
  9. Kabel Mobil : Yazaki
  10. Rem : Kashimaya
  11. Plat kopling : Exedy
  12. Tape mobil : Sony
  13. Lampu mobil : Philips
  14. Injection : Bosch
  15. Dan lain-lain

Semua merek part tersebut adalah kategori perusahaan PMA (penanaman modal asing / perusahaan asing) murni atau joint venture dengan perusahaan local Indonesia dalam produksinya dan beroperasi di Indonesia. (silahkan googling bila ingin tahu produsen dan kepemilikan sahamnya merek part diatas)

Pemahaman perusahaan, semua keuntungan setelah dibayarkan biaya-biaya operasional termasuk pajak maka akan menjadi keuntungan pemilik perusahaan dan selanjutnya terserah pemiliknya karena Indonesia menganut system devisa bebas (pemahaman devisa bebas dari artikel berita “ hanya 80% devisa hasil ekspor yang masuk, namun tidak lama kemudian dana tersebut keluar lagi dari sistem keuangan Indonesia. “Jadi mungkin diperlukan suatu sikap yang jelas, bahwa semua ekspor harus masuk devisanya,”)

Jadi dari potongan – potongan artikel diatas dapat diasumsikan bahwa produsen otomotif adalah PMA murni atau PMA joint venture termasuk industri pendukungnya (supplier komponennya) sehingga bila ekspor meningkat maka yang akan mendapatkan keuntungan maksimal adalah pemilik merek, teknologi dan biasanya PMA dimana dengan system devisa bebas maka laba keuntungan industri otomotif dan suppliernya bebas diatur sendiri penggunaannya dan umumnya main banking PMA adalah bank dari negara asalnya sedangkan operasional bank kombinasi dengan memakai bank lokal.

Manfaat yang terlihat bagi Indonesia yang langsung terasa bila ekspor otomotif meningkat adalah :

  1. Lapangan kerja
  2. Pajak PPh dan PPn Incl. pajak lainnya
  3. Pemakaian utility (listrik, air dan telekomunikasi)
  4. Katering karyawan
  5. Seragam karyawan
  6. Bus Karyawan
  7. Tolong tambahkan….. versi pembaca baltyra

Kutipan artikel :

“Kami pernah dipanggil Komisi Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), untuk mempresentasikan upstream industry development, di sana kami juga membicarakan mengenai kandungan lokal. Sederhananya, arti kandungan lokal adalah proses pembuatannya yang dilakukan di Indonesia,” kesimpulannya dikalimat terakhir yang penekanan hanya di wilayah produksinya bila di Indonesia.

Bila dilihat dari merek asing part otomotif diatas, apakah definisinya sesuai dengan pemahaman local konten bila dikecualikan lokasi produksinya? Terserah pembaca saja deh menyimpulkannya termasuk siapa yang paling untung bila penjualan otomotif meningkat di DN atau ekspornya? Apakah membuat bangga sebagai warga negara bila baca made in Indonesia di mobil merek asing?

Pertanyaan saya, mana yang ideal pemahaman local konten

  1. Semua produksi dianggap local konten bila diproduksi di wilayah Indonesia walau merek dagang asing dan oleh perusahaan PMA yang laba usahanya dominan dinikmati investor asing atau…
  2. Semua produksi dianggap local konten bila diproduksi oleh produsen dan merek dagang Indonesia oleh perusahaan Indonesia yang laba usahanya dominan dinikmati investor Indonesia

Jadi sejak tahun 1968-1970 mulai masuk perusahaan otomotif ke Indonesia sewajarnya sudah banyak kemajuan produksi local konten bukan sekedar definisi diproduksi di dalam negeri saja… *smile

Saya hanya menggoda logika, uang tidak ada nasionalis karena hukum ekonomi uang akan mengalir ke tempat yang paling menguntungkan bagi pemiliknya… *LoL

 

 

2 Comments to "Belajar bahasa politik ekonomi yukkkk…"

  1. Jhony Lubis  15 September, 2019 at 11:40

    tks bro Inakawa, yup bahasa yg beraroma politik sering bias dan belok dari fakta utamanya, meningkatnya ekspor otomotif atau penjualan domestik harusnya dominan meningkatnya pendapatan domestik ttp kenyataannya dominan pendapatan pemilik merek dan teknologi PMA…. yg bebas terbang aliran uangnya krn devisa bebas… apalagi bila dilihat prosentase impor bahan baku untuk komponen produk terkait otomotif… jadi tersipu malu bro dgn kebanggaan semu … *smile… mauliate godang, hatur nuwun, tks

  2. EA.Inakawa  14 September, 2019 at 08:51

    Memahami Politik Ekonomi ini pelik Bang Jhon, faktor politiknya mempengaruhi kehdiupan sosial ekonomi kita, apapun bahasanya kita selalu dikalahkan,……salam sehat

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.