Perjalanan ke Papua Barat

Night – Sydney

 

Beberapa tahun lalu saya sempat ke Papua Barat, meskipun hanya beberapa hari tapi memberi kesan yang mendalam dan membuatku bangga sebagai orang Indonesia serta merasakan keramahan warga di sana. Tentu saja cerita ini kuungkapkan karena rasa resah dengan berita saat ini.

Di Sorong ketika berjalan kaki saya melihat seorang Ibu membawa anaknya yang masih balita berada di kepanasan terik matahari di tepi jalan menjual dua botol bensin. Mungkin saya tidak bangga melihat diriku yang saat itu sering melihat ke atas banyak orang yang memiliki kehidupan lebih baik dariku, tapi tak melihat ke bawah masih banyak yang masih berjuang untuk hidup.

Di Sorong juga, saya tertawa lepas dengan warga lokal karena mereka selalu menjawab pertanyaanku dengan candaan.

“Kenapa kaca mobil disini gelap?”, tanyaku.

“Biar kalau selingkuh tidak ketahuan.”, ujar bapak yang mengantarku ke pelabuhan.

Kejujuran dan kebaikan juga kudapat dari warga lokal. Ketika saya meninggalkan dompet dan telepon genggamku untuk berenang, seorang bapak yang tidak kukenal duduk di samping kursi tersebut. Dia cuma mengatakan jangan meninggalkan barang berharga sembarangan kepadaku.

Sebenarnya saya saat itu tidak khawatir karena selama di Papua saya merasa aman dan masyarakatnya baik.

Menikmati kopi bersama warga lokal, mendengarkan cerita kehidupan mereka…

Seorang bapak bercerita kepadaku dia dulu bekerja di Queensland dan sudah menjelajah ke berbagai daerah di Indonesia di daerah pertambangan minyak, setelah pensiun dia memilih kembali ke Papua, tanah yang dicintainya.

Dia kembali ke pulau terpencil, tanpa listrik yang gensetnya hanya hidup dari sore hingga malam, jauh dari kota Sorong.

 

Salam buat Pace Mace, suatu saat saya berharap akan kembali ke sana.

 

 

5 Comments to "Perjalanan ke Papua Barat"

  1. James  25 September, 2019 at 07:14

    semakin hari semakin panas di Papua, banyak warga mati konyol dan mengungsi puluhan tahun berlalu sejak diserahkan kembali oleh Belanda

  2. EA.Inakawa  14 September, 2019 at 08:41

    Sesungguhnya Damai itu & Sederhana, sesungguhnya Dami itu sejahtera, Sesungguhnya Damai itu kita mulai dari suasana hati kita….. Salam Damai

  3. Handoko Widagdo  10 September, 2019 at 06:40

    Papuan Barat adalah provinsi yang sangat indah.

  4. James  5 September, 2019 at 11:06

    ingat Papua jadi ingat lagu lama Senja di Kaimana

  5. James  4 September, 2019 at 15:25

    Papua pulau kepala burung dimana rakyatnya masih banyak yang miskin, masih jauh dari Kemerdekaan mereka, tanah tumpah darah nenek moyangnya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.