Sejumput Iman Marlene

Adriano – Amazon, Brazil

 

Jika Paulo Coelho, sastrawan Brasil yang terkenal itu membubuhi salah satu novelnya dengan judul “Di Tepi Sungai Piedra”, maka narasi sederhanaku ini berisi serpihan kisah “Di Tepi Sungai Amazon.”

Ya, di tepi sungai Amazon, aku duduk dan berbincang!

Hari mulai senja.Matahari sedang berarak ke peraduannya. Sesekali cahayanya menyilaukan bibir sungai.

Senja itu, Sabtu 07 September 2013

 

Saya kembali lagi menjumpai ibu Marlene, setelah sekian waktu terlewati.

Perjumpaan itu terjadi persis di tepi sungai Amazon.

Marlene, berwajah ceria. Raut wajahnya tak menunjukkan bahwa dia telah memasuki usianya yang ke-50 tahun. Tubuhnya pendek dengan corak wajah halus dan terang, layaknya wanita-wanita Latin. Dia menjadi satu-satunya perempuan yang berprofesi sebagai penjual kelapa di sini, tepatnya di tepi sungai Amazon. Meskipun telah setengah abad usianya, namun ia terlihat segar dan tegar mencari nafkah. Ia bisa menghasilkan R$.400,00 (Rp. 1.600.000,00) per hari, hanya dengan menjual kelapa, katanya. Selain itu, dia selalu punya waktu untukku bila diajak bicara. Maklum, bahasa Portugisku perlu diperdalam lagi. Maka kehadirannya sangat membantuku. Bagiku, dia adalah wanita bijak, menarik dan bersahaja. Dia tak pernah bosan jika saya bertanya tentang ragam dialek Portugis-Brasil yang digunakan di seantero Brasil ini. Ketika salah berucap, dia tak pernah jenuh mengoreksiku. Ya, di tepi sugai Amazon.

Nampaknya, tepian sungai itu telah lama dibangun menjadi ruang publik yang rapi tertata dan indah menawan, menyerupai taman kota. Orang Brasil menyebutnya “Orla”, tempat putra-putri Amazon-Brasil mengais kegairahan, membuang penat, sambil sesekali menikmati riak-riak gelombang berguling-guling mesra akibat pertemuan dua aliran arus sungai: Amazon (coklat) dan Tapajos (biru) yang indah dan unik itu.

“Brasil seperti ini,” gumam Marlene. “Orang bekerja dari senin sampai jumat. Maka jumat- sampai minggu itu waktunya orang MENIKMATI hari. Di sini selalu ramai. Mobil-mobil diparkir di pinggir sungai sambil membunyikan musik, layaknya sebuah pesta. Yang lain mengail. Lainnya lagi berolah-raga dan bersepeda. Pasangan muda-mudi, pun suami istri berpelukan, berciuman dan sesekali berdansa mengikuti irama musik. Di jalan-jalan, engkau bebas melihatnya dan mereka pun bebas berekspresi, seperti yang engkau lihat sekarang anak muda,” lanjutnya.

Senja itu, kulihat sekitar belasan lelaki dengan alat mancing di tangan. Mereka diam berdiri penuh konsentrasi mengail ikan, tak peduli banyaknya pasangan anak muda berciuman mesra di bibir sungai. Yang sedang asik berciuman pun tak pernah gubris dengan puluhan pasang mata yang menatap mereka dengan kekaguman dan sedikit senyum sinis di wajah. Sebagian orang lagi duduk termangu dan diam di bangku-bangku taman, menatap senja yang hampir usai.

“Bu Marlene agama Muslim, Katolik, Protestan, atau Adven?” Tanyaku, menanyakan sesuatu yang tidak perlu. Tanya seperti itu terkesan ‘mencemooh’ para Atheis pun mereka yang tak beragama, pikirku kemudian.

Namun, ia tak malu apalagi marah. Ia menjawabnya datar, “aku tak punya agama tetapi ketiga anakku punya. Namun aku percaya akan Allah.” Jawaban ini membangkitkan kesadaranku, sekaligus juga memberanikanku untuk terus bertanya tentang dirinya dan pandangannya mengenai agama dan hidup itu sendiri. Mungkin ini yang disebut “dialog bersama mereka yang berbeda aliran kepercayaan, berbeda agama pun yang tak beragama.” Saya jadi ingat kata-kata Nabi Isa dalam Kitab Tua, “yang tidak melawan kita, dia dipihak kita.” Ya, apapun kepercayaan dan cara hidup seseorang, sejauh tidak destruktif tentu dia “sealiran” dengan kita.

Di Brasil (negeri yang wilayahnya diperkirakan tujuh kali luas Indonesia ini) soal agama itu urusan pribadi. Ia berada pada ranah privat- personal. Karena itu, tiap orang berhak memeluk salah satu agama, pun tidak. Tak ada undang-undang yang melarang! Brasil pun bukan Negara agama apalagi komunis. Maka Negara tidak berhak mengatur pun mengintervensi urusan-urusan keagamaan.

“Mengapa kamu tak beragama, namun percaya akan Tuhan”? Lagi, tanyaku ingin tahu. “Sejak dulu aku tak beragama,” serunya. “Agama itu kan ajaran, bukan tujuan. Lagian bukan agama yang menyelamatkan, melainkan Tuhan. Saya tidak butuh agama untuk bertemu Tuhan, karena saya punya jalan sendiri untuk menjumpaiNya,” jawabnya.

Jika tak beragama, bagaimana kamu berdoa? “Saya tak punya rumusan doa yang baku seperti agama-agama. Saya punya doa sendiri. Bahkan keluhan-keluhan saya sudah merupakan sebuah doa kepada Allah. Kerjaku ini juga merupakan sebentuk doa,” tegasnya.

Kami terdiam, sedikit lama. Saya kagum dengan jawaban tulus ibu ini.

Kalau kamu mati, siapa yang menguburkanmu?

Pertanyaan retoris yang naif, hanya untuk memecah kebuntuan ketika kata tak mampu tuntaskan banyak soal, sebab pengalaman hidup ini terasa jauh melampaui simbol kata yang hendak dituturkan. Dia terdiam.

Namun, dia masih sempat melanjutkan, “tentu semua yang mati akan kembali kepada Allah, termasuk juga mereka yang tak beragama seperti saya”, jawabnya yakin. Bukankah sebelum agama-agama lahir, arwah nenek moyang sebuah clan atau bangsa yang telah mati juga kembali kepada Pencipta? Pikirku, membenarkan keyakinan Marlene, sambil membayangkan arwah nenek moyangku yang telah mati tanpa agama. Saya kemudian membongkar Kitab Tua, lalu menemukan nas ini: “bukan yang berseru-seru kepadaKu, Tuhan-Tuhan akan masuk surga, melainkan dia yang melaksanakan kehendakNya.” Keabadian itu bukan eksklusif milik kaum beragama, melainkan juga mereka yang tak berTuhan, tak beragama namun selalu berbuat KASIH dan hidup baik. Marlene dan pengalamannya itu pun menggiring ingatanku akan Hadits, “bagimu adalah agamamu dan bagiku adalah agamaku.”

Bagiku, “agama dan Tuhan adalah penting.” Baginya, “hanya TUHAN yang penting”. Patut dihargai!

Sabda dan hadits ini penting bagiku untuk mengerti pilihan hidup Marlene yang nir-agama itu tanpa harus MENGHAKIMI pun MEMAKSANYA menanggalkan cara hidupnya dengan menyodorkan argumen-argumen filosofis-teologis yang super ampuh.

Memang, agama-agama baru datang di daratan Amazon-Brasil bersamaan dengan para penjajah Portugis. Mereka akan memberi jawab atas tiap soal dengan melirik ke dalam kitab-kitabnya. Tapi saya tidak tahu, manakah yang lebih berkesan pada dinding hati ibu Marline: pengalaman hidupnya akan ‘yang ultim’ tanpa bersentuhan langsung dengan ritus-ritus keagamaan atau ritus dan kata-kata yang tertulis indah dalam kitab-kitab tua yang selalu dijaga dan dilindugi para pemeluk agama-agama?

Tampaknya, di dasar hatinya, ada yang lebih MENYENTUH ketimbang Gereja, Mesjid, Sinagoga, ritus dan kitab-kitab tua dari ragam agama. Mereka yang beraliran fundamentalis-fanatik agama, boleh jadi akan mengatakan bahwa yang TAK BERAGAMA itu KELIRU dan SALAH, atau yang TIDAK SEALIRAN itu KAFIR. Namun apa sebenarnya yang keliru pun salah bila Marlene yang nir-agama, masih punya secuil kepercayaan dan sejumput iman di dasar hatinya itu, tak pernah mengatakan “saya sedang berada pada jalan yang salah?” Toh ia tetap meyakini Allah yang sama? Mungkin yang paling aman, damai dan tanpa tekanan adalah mereka yang tak beragama seperti Marlene, ketika orang-orang beragama masih sibuk saling melecehkan pun membunuh hanya karena cara lain dalam beribadah? Mungkinkah mereka kaum beragama lebih manusiawi daripada Marlene? Atau? Pikirku dalam, sambil bermimpi semoga agama tidak boleh menjadi ‘candu’ untuk menindas!

Aku bertanya pada senjaku, mungkinkah keyakinan Marline akan Allah dan keputusannya untuk tetap tak beragama akan tergeser dihimpit membludaknya perkembangan umat beragama?

Saya tak tahu.

Saya hanya berharap, di suatu SENJA yang lain, saya akan bersua lagi dengannya.

 

Di Tepi Sungai Amazon

Santarém-BRASIL

Saat merindu fajar

07’09’13

 

 

9 Comments to "Sejumput Iman Marlene"

  1. EA.Inakawa  14 September, 2019 at 09:05

    apapun itu,….jadilah “ORANG BAIK & BIJAK” terhadap sesama

  2. Dewi Aichi  5 September, 2019 at 16:05

    Pak Lurah yang baik hati, tidak sombong, dan cakep….tinggi …., pinter bahasa Jawa, terima aksih untuk ralatnya yaaaaaaa……

  3. Dewi Aichi  5 September, 2019 at 16:03

    James, nanti aku panggil deh miss Kona van kenthir haha….sibuk senam dia…

  4. James  5 September, 2019 at 11:04

    DA iya nih jadi agak sefi gitu habisan miss Kona nya lagi bersih-bersih Uang Kona yang berserakan

  5. Dewi Aichi  4 September, 2019 at 23:03

    Belum di ralat ini pak lurah lagi sibuk.

    Ini tulisan milik Adriano ya…yang tinggal di Amazon dan lebih tau tentang Amazon.

  6. Dewi Aichi  4 September, 2019 at 23:01

    Alvina..heloooooooooooooooo..apa kabarmu? Sepertinya belum , tapi beritanya sudah tidak setajam beberapa minggu yang lalu.

    Yah memang sangat disayangkan ya kejadian di Amazon, mengurangi 30% oksigen dunia.

  7. Alvina VB  4 September, 2019 at 22:32

    Se7 James, Tuhan yg menyelamatkan manusia bukan agamanya. Dewi, kebakaran di Amazon apa sudah berhasil diredam?

  8. Dewi Aichi  4 September, 2019 at 19:17

    James, iya sepakat. apa kabar nih lama ngga bercanda….panggil Lani yaaa…

  9. James  4 September, 2019 at 15:16

    cenderung setuju dengan pandangan Malene yang terpenting TUHAN nya bukan agamanya, yang menyelamatkan adalah Tuhan bukan Agama

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.