Hujan di Atas Gerobak

Wendly Marot

 

Hari ini hujan datang pagi-pagi sekali. Atau mungkin sudah sejak semalam, saya tidak tau karena sepanjang malam saya tidur terlalu lelap. Saya malah dibangunkan oleh suara alarm dari handphone yang kutempatkan di sudut lain kamarku. Lantunan lagu morning has broken membuatku terjaga pagi tadi. Walaupun dengan mata berat, saya beranjak dari tempat tidur untuk menjangkau meja itu. Yah saya harus menaruhnya agak jauh dari tempat tidur.

Saya memiliki kebiasaan buruk yaitu saya akan terjaga saat alarm berbunyi tetapi mematikannya kembali untuk tidur lagi. Dengan menaruh sumber alarm jauh dari tempat tidur saya harapkan bisa mengatasi kebiasaan buruk itu. Saya pikir, dengan menaruh handphone agak jauh dari tempat tidur, pagi hari saat alarm berbunyi mau tidak mau saya harus bangun dan berjalan untuk menggapai handphone. Dan dengan berjalan itu saya harap rasa ngantuk akan hilang. Tapi kadang keinginan untuk terus tidur bisa mengalahkan komitmen dan semua cara yang ditempuh.

Hari ini, mau tidak mau saya harus bangun karena saya mendapat giliran untuk memimpin perayaan ekaristi di komunitas. Saya tidak boleh membebankan orang lain hanya untuk memuaskan tubuh saya. Saya pun bergegas ke kamar mandi, lalu ke kapela dan merayakan ekaristi. Dan yah Puji Tuhan, saya mengawali hari ini dengan ekaristi kudus sebagai kekuatan spiritual untuk karya sepanjang hari.

Untuk ini saya tidak bisa sangkal, bahwa saya membutuhkan makanan spiritual untuk menguatkan hasrat dan mengontrol keinginan-keinginan duniawi. Sebagai seorang Katolik dan khususnya sebagai seorang imam Tuhan, ekaristi adalah kebutuhan yang harus dipenuhi setiap hari; seperti tubuh membutuhkan makanan dan minuman jasmani, demikianlah jiwa membutuhkan makanan spiritual yang bisa kutemukan dalam ekaristi kudus di mana saya bisa menemukan Yesus secara paripurna.

Fix, awal hari penuh semangat namun hujan terus berlanjut. Dia semakin gencar menggempur. Atap kamarku semakin gempar oleh bunyi rintik-rintiknya seperti berjuang menikam kerasnya seng tua. Semakin lama semakin menjadi-jadi. Dan saya angkat sepatu lalu duduk seperti orang gila, menatap sepatu yang tidak seindah saat kubeli 3 bulan yang lalu. Di tangan kujinjing payung dan di punggung telah bergantung ransel kumal murahan. Saya menunggu bunyi tokek atau cecak dan ingin kuulangi kebiasaan masa kecil dulu, mengambil keputusan berdasarkan bunyi cecak atau tokek: pergi, tidak pergi, pergi, tidak pergi; kalau pada bunyi terakhir bertepatan dengan kata tidak pergi, maka saya tidak akan pergi. Tapi sayangnya, selama saya tiga bulan di Manila, belum pernah kutemukan cecak atau pun tokek. Bahkan bunyi nyamuk pun tidak.

Hujan pagi biasanya menjadi tantangan untuk tubuh, antara mau berkarsa atau melanjutkan mimpi di balik selimut. Berdasarkan pengalaman saya, tidur pada saat hujan adalah tidur yang berkualitas apa lagi di daerah yang panas seperti Manila. Kesejukan yang dihadiahkan dengan hadirnya hujan akan menjadi kesempatan untuk mematikan AC dan tidur dengan nyenyak. Hanya kalau kasur merasa lelah baru kita mau bangun. Namun saya teringat lagi, hari ini hari terakhir saya ke sekolah; hari ini saya mengakhiri masa kursusku. Karena itu saya pun harus menang melawan hasrat untuk membungkus diri dengan selimut.

Saya memutuskan untuk pergi sekolah. Untuk sampai ke stasiun kereta, saya menumpang tricycle, motor dengan gerobak di sampingnya. Dan kau tahu? Engkau harus bertahan untuk duduk membungkuk sepanjang perjalanan. Hujan masuk dan membasahi celana bagian kaki kanan. Tapi tak apalah, yang penting masih bisa sampai ke stasiun. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke stasiun sebenarnya mungkin cuma 5 menit. Namun karena padatnya lalu lintas, kadang jarak tempuh menjadi 15 menit bahkan lebih baru sampai.

Jalan dari komunitas kami ke stasiun Gilmore cukup istimewa, karena diapiti oleh pohon-pohon besar. Itu membawa kesejukan tersendiri pada musim panas. Itulah sebabnya mengapa setiap hari sepulang sekolah saya memilih berjalan kaki melintasi jalan itu. Selain karena anginnya sejuk, tapi juga terutama saya bisaterhindar dari tikaman sinar matahari. Karena rindangnya pohon-pohon itu juga membuat jalanan itu dipenuhi para gelandangan atau pemulung dan malah pengemis yang tidak memiliki rumah untuk tinggal. Mereka tinggal di situ bermodalkan gerobak atau payung. Untuk istirahat atau tidur, mereka bisa tidur langsung di atas trotoar tanpa peduli hujan atau panas.

Seperti biasa, setibanya di stasiun saya masih menunggu kereta yang sudah modern. Kadang kalau hari baik, kami tidak perlu berdiri lama menanti kedatangan bis panjang sepanjang gedung sekolah di kampong. Namun kadang kalau harinya tidak baik, kami mesti menunggu cukup lama bahkan lebih lama dari jarak tempuh dari stasiun Gilmor tempat kami naik sampai ke stasiun Katipunan tempat kami turun dan dekat ke sekolah yang hanya ditempuh 15 menit. Yah kalaupun dia datang terlambat, siapa sih yang bisa mengamuk atau sekurang-kurangnya menegur si Masinis? Kami harus menerima kenyataan bahwa memang begitulah hidup yang masih bergantung pada managemen waktu orang lain.

Hari ini nasib baik datang menjemput. Setibanya di stasiun kereta pun datang. Di luar hujan semakin deras menikam bumi dan di dalam keringat bercucuran karena penumpang berjubel sampai angin AC pun tidak cukup menyejukkan. Bau keringat, bau parfum, bau apek pakaian, bau sepatu, malah bau kotoran kucing yang terinjak sepatu/sandal berbaur menjadi satu, menghasilkan harum nano-nano.

Turun dari kereta, saya memilih berjalan kaki di tengah guyuran hujan. Beruntunglah payung sudah di sediakan. Untuk diketahui, selama di Manila payung hampir tidak pernah absen dari jinjingan saya. Setiap hari payung dibawa serta. Saat panas, saya memakai payung untuk menangkis matahari; dan saat hujan payung sangat berguna untuk menahan tikaman gerimis yang kadang kecil seperti beras, tapi banyak kali lebih besar dari biji jagung (walaupun saya sendiri tidak pernah mengukurnya. Saya Cuma mengikuti pepatah hiperbola warisan para leluhur yang saya dapat dari orang tua di kampong dulu.).

Saya tiba di sekolah seperti biasa, 20 menit sebelum pelajaran dimulai. Namun hari ini tidak ada lagi pelajaran. Kami mengisi hari ini dengan acara perpisahan murid lama dan penyerahan sertifikat kursus. Acara diisi selain makan bersama, juga berbagai pementasan kreativitas untuk menunjukkan kemampuan Bahasa inggris para siswa. Jam 05.00 sore saya isin pulang lebih awal, dan hujan masih belum juga berhenti. Demi menghemat uang, saya memilih berjalan kaki 20 menit dari sekolah ke stasiun Katipunan. Dengan kereta 15 menit lagi dari Katipunan ke Gilmore. Dan dari Gilmore saya mengambil jalan kaki lagi menuju biara. Payung tebar pesona, celana digulung, sepatu dibiarkan basah oleh hujan dan air yang mengalir di jalanan.

Perjalanan ini betapa sangat memilukan buat saya. Betapa tidak, di bawa guyuran hujan yang lumayan deras itu, saya berhadapan dengan pemandangan yang menyayat hati dan mengguncang iman. Para gelandangan yang hari-hari saya jumpai di jalanan itu tetap bertahan di gerobaknya yang tak beratap. Artinya mereka hanya berteduh di bawah naungan pohon-pohon mangga yang tumbuh di sepanjang jalan itu. Ini kali pertama saya menyaksikan pemandangan ini. Selama ini saya belum pernah melintasi tempat ini saat hujan. Di tengah jalan mobil berbagai model berlalu-lalang, di pinggir jalan para pengembara tak berumah menikmati hujan tanpa penutup kepala. Di kiri kanan berdiri rumah-rumah megah yang berpenghuni mungkin tidak sampai sepuluh orang setiap rumahnya, di depan gerbangnya para pencari kasih menikmati tikaman hujan dengan baju seadanya. Yah kontras dan memilukan.

Di sini, saya merasa malu dengan diri saya sendiri. Betapa sering saya mengeluh tentang rumah tempat tinggal saya yang masih baik namun terkesan kusam; ternyata di luar sana ada masih mensyukuri rindangnya pohon yang bisa dijadikan tempat berteduh saat panas dan hujan. Banyak kali bahkan tak mampu kuhitung sendiri saya mengeluhkan dinding rumah yang masih baik tapi karena catnya kusam; ternyata di luar sana masih ada orang yang berterima kasih karena masih ada pohon yang kokoh tempat mereka bersandar saat lelah. Sering kali saya mengeluh tentang pakaian yang tidak mengikuti mode; ternyata di luar sana masih ada yang membiarkan dirinya diselimuti pakaian yang sama pada hujan dan panas, kering di badan.

Di atas gerobak ada payung kusam yang beberapa kawatnya sudah patah. Di bawah payung ada bayi yang tetap tersenyum walau dingin. Di situ saya hanya bisa melirik. Saya tak mampu berkata-kata karena memang leher seperti dicekik. Bayi itu tersenyum sinis padaku.

Saya menganggapnya pilu, namun mereka menikmatinya dan malah mereka yang memulai menyapaku dengan sapaan khas mereka, afternoon po father!

Saat saya tiba di biara, saya teringat akan hidup saya yang tidak pernah berdoa mengucap syukur untuk apa yang saya alami dan saya miliki. Saya kadang merasa kurang ini, kurang itu di tengah hidup yang selalu dilimpahi banyak anugerah, berbagai kebutuhan yang selalu terpenuhi. Saat senang, kadang sering saya angkat kaki dan menaruhnya di atas meja, menikmati kopi pada setiap tegukan, menikmati rokok pada setiap isapan lalu menghayal tinggi tentang kotbah yang indah dari mimbar yang megah, memandang para umat beriman yang datang berdoa dengan mobil mewah; lalu berbicara tentang keberpihakan pada orang miskin.

Wajah senyum anak di dalam gerobak itu terus menggangguku sore ini. Wajah ibunya yang tetap ramah menyapa walau basah kuyub terus menghantuiku. Ekspresi ayahnya yang menerawang kosong menembus mata saya terus menghakimi saya.

Hujan di atas gerobak itu adalah kritik Tuhan pada saya, untuk selalu mengingat bahwa masih ada banyak orang yang lebih sengsara hidupnya namun mereka mampu bertahan tanpa keluh kesah dan tanpa putus asa. Mungkin saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka hari ini, karena saya juga seorang pendatang dan saya tidak memiliki apa-apa, namun satu hal yang pasti adalah perjumpaan dan pengalaman hujan di atas gerobak hari ini mengajar saya untuk terus bersyukur untuk hidup ini. Bahwa di sana sini masih ada kekurangan tapi janganlah itu menjadikan mata saya tertutup pada kebaikan yang saya peroleh dan kenyataan bahwa ada banyak berkat dalam hidup yang perlu disyukuri.

Hujan di atas gerobak dan senyum si bocah di bawa payung kusam adalah pesan Tuhan untuk saya bahwa hidup itu sendiri adalah berkat yang perlu disyukuri.

 

Manila, June 28, 2019

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.