Rokok (1)

Rizky Dwinanto

 

Empat tahun aku bekerja di pabrik rokok Bentoel Malang. Aku tahu banyak hal tentang rokok. Kalau aku nulis berseri tentang rokok, kalian mau baca?

Aku yakin banyak hal yang kalian gak tahu.

Baiklaa, aku mulai BAB 1.

Raksasa rokok berjaringan global jadi penguasa di sini setelah di negara asal dan di sana-sini dikepret regulasi. BAT mengambil Bentoel, Phillip Morris membeli Sampoerna, JTI (jepang) menunggangi Wismilak, KT&G (Korea) take over Trisakti Pasuruan. Yang besar lokal tersisa Djarum, Nojorono dan GG.

Produksi rokok Indonesia berkisar 350 milyar batang/tahun dan terus meningkat. Hitung 350milyar dibagi 270 juta dibagi 365 hari. Produksi perkapita 3.65 batang/hari/per orang termasuk bayi. Siapa yang gak ngiler?

Pabrikan rokok selalu berlindung di ketiak petani tembakau. Faktanya pabrikan besar lebih suka mengimpor tembakau atas nama kualitas tembakau dan jenis tembakau. Tembakau impor lebih murah. Kenapa murah? Karena iklim di LN bukan muson katulistiwa yang berubah-ubah. Panen tembakau lebih pasti dan kualitas standar sepanjang waktu.

Pabrikan besar gak mikir petani tembakau. Kalau panen bagus harga murah mereka melakukan pembelian besar/nimbun. Kalau panen buruk mereka impor. Sesimple itu.

Kampanye SJW anti rokok diadu dengan kampanye nasib petani. Pelakunya pabrikan rokok kecil-kecil dibantu ormas. Ormas itu. Gak salah juga, petani-petani kan member ormas itu. Bahkan ormas itu pernah bekerja sama dengan PT Bentoel memiliki brand rokok, tapi sekarang sudah dilepas sahamnya. Orang awam yang gak ngerti peta ikut-ikutan.

Pabrikan rokok besar bertugas lobi-lobi regulasi. Bagi-bagi tugas. Kalau ingin tahu kekuatan lobi-lobi pabrikan besar browsing saja deh. Pelaku lobi kukira pabrikan besar aroma lokal yang masih tersisa. Biasanya PMA punya code of conduct ketat. Biasanya.

Menurutku jargon nasib petani itu setengah tipu-tipu. Seharusnya petani bisa dikonversi ke tanaman lain yang lebih prospektif. Tapi pemerintah malas berpikir membimbing petani. Di Indonesia nyaris semua tanaman bernilai tinggi bisa tumbuh. Dari stevia, porang, umbi satoimo, ganja, umbi garut, opium, nilam. Aku bisa sebutkan 30 tanaman lagi, tapi apa kalian ngerti?

Trivia: setelah tembakau dikeringkan tidak langsung digunakan. Tetapi difermentasi berbulan-bulan. Bisa di gudang broker atau gudang pabrikan. Selama penyimpanan itu dilakukan fogging rutin untuk membunuh kutu. Foggingnya pakai insektisida, bukan pakai royco.

Bab 2 tulisanku nanti pro pabrikan. Tunggu aja.
.

 

 

3 Comments to "Rokok (1)"

  1. Dewi Aichi  13 September, 2019 at 23:22

    Sebutkan dong yang 30 lagi itu biar tau to…yang ngga tau biar tau…

  2. Dewi Aichi  13 September, 2019 at 23:17

    Kikik……..ini nih tulisan bergizi…sepakat dengan Rieska…

  3. Rieska wulandari  12 September, 2019 at 04:41

    Dahsyat keren banget nih, aku share yaaaaa

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.