Aku Sedih, Pak Dokter

Ida Cholisa

 

(Desember 2010)

Menjadi pasien dr. X adalah kebahagiaan tersendiri bagiku. Ia dokter yang blak-blakan saat bicara, suka bercanda, easy going pula. Satu lagi yang aku suka, ia memiliki hobi menulis sepertiku.

Tentang kesukaan menulisnya, sudah puluhan buku yang ia terbitkan. Semuanya mengupas tentang penyakit kanker. Salah satu buku karyaku juga telah di-endorse olehnya. Ia dokter spesial yang gemar membaca, hingga tulisan-tulisanku pun tak luput dibaca olehnya.

Tak hanya itu, ia kerap mengenalkan sosokku pada pasien-pasien kanker yang lain. Entah apa yang ia ceritakan sehingga banyak pasien yang kemudian memgontakku. Rata-rata mereka meminta tips menghadapi penyakit yang tengah menggerogoti tubuh mereka. Semangat, itu yang biasanya kuteguhkan pada diri mereka. Tanpa semangat pengobatan akan sia-sia.

“Da, gimana kabar lo? Masih bikin buku?” Ia menyapaku suatu ketika.

“Masih, Dok. “

“Lo kapan kontrol lagi?. Dah lama lo gak kontrol, Da… “

Begitulah, sang dokter acap mengingatkanku untuk rutin periksa. Ia memang dokter yang baik…

***

(Februari 2019)

Aku jatuh sakit. Dokter RSUD merujukku ke rumah sakit besar di Jakarta. Kecurigaan terhadap kambuhnya ca mamae memaksa para dokter RSUD untuk mengirimku ke rumah sakit lain. Teringatlah aku pada dokter X. Kuminta agar diriku dirujuk ke RS tempat dr. X bertugas.

Aku duduk di atas kursi roda. Tubuh kurusku dipenuhi ttonjolan tulang-belulang. Aku tak sempat mengenakan baju yang bagus. Tubuhku hanya dibalut pakaian daster dan kakiku hanya beralas sandal jepit.

Wajahku kuyu. Mataku sayu. Dadaku bergemuruh oleh suara napas yang kacau-balau. Detak jantungku tak beraturan. Di depan dokter aku bagai tengkorak hidup.

“Gimana, Da?”

Kuceritakan kondisiku dengan suara yang susah payah. Napasku ‘ngap’. Sedikit bicara saja membuat tubuhku lemas tak berdaya.

“Da, kalo elo mau pakai BPJS, mending elo cari rumah sakit pemerintah saja. Elo tau kan kalo ini rumah sakit swasta? Paling lama elo bisa opname cuma tiga hari.”

Kupandangi wajah sang dokter. Galau dan bingung menyergap hati ini. Kupinta sekali lagi, sang dokter tetap bergeming sembari memberi saran agar aku mencari rumah sakit pemerintah.

Aku menyerah. Adikku mendorong kursi rodaku, menjauh dari meja konsultasi itu. 
Saat lamat kutinggalkan ruangan… sang dokter berkata;

“Da, yang sabar, ya? “

Aku hanya mengangguk. Hatiku terguguk. Dalam diam aku menangis…

“””‘

(Agustus 2019)

Telah berlalu semua kepedihan itu. Aku berjalan sendiri menembus malam yang sunyi. Tak ada lagi rasa takut. Tak ada lagi rasa kalut. Kupasrahkan semuanya, kuserahkan semuanya, pada Sang Maha segalanya.

Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi beberapa detik ke depan. Tak ada yang tahu rahasia kehidupan. Berserah diri pada Sang Pemberi Kehidupan, semoga tak sia-sia segala usaha dan perjuangan.

Hidup tak mudah bagiku, seperti tak mudahnya aku meminta pengobatan pada sang dokterku. Tapi aku tetap bersyukur, sebab hidup mengajarkan banyak hal padaku… ***

 

Cileungsi, 14 Agustus 2019

 

 

One Response to "Aku Sedih, Pak Dokter"

  1. Jhony Lubis  19 September, 2019 at 20:32

    Apakah benar, jatah bed pasien BPJS merupakan prosentase dr total beds??

    Misalnya beds total 100 n utk pasien BPJS hanya 30% = 30 beds saja n dianggap penuh bila 30 beds sdh terisi. Sisanya yg 70 beds utk pasien umum non BPJS.

    Apakah benar info yg sy dengar?? Mungkin ada praktisi kesehatan di baltyra yg bisa sharing…. Tks

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.