Rokok (2)

Rizky Dwinanto

 

Tentang Cukai

Dalam APBN 2019 cukai rokok ditargetkan sebesar 165 T. Itu sekitar 7.5% pendapatan negara. Jika mereka kompakan tidak berproduksi setahun, bubarlah APBN. Kondisi itu jadi kekuatan lobi. Pemerintah takut pasti.

Pabrikan tidak takut berhenti produksi setahun meski harus tetap menggaji karyawan. Karyawan rokok terbesar adalah GG sebanyak 34.000. Sedangkan UMK Kediri 1.9jt. Total setahun gaji mereka plus THR 800milyar. Bulatkan menjadi 1T. Duit bos GG sejumlah 133T (per Desember 2018). Tak sampai 1%-nya.

Penyerapan tenaga kerja. Pemerintah kalah telak. Multiplier effectnya bisa nembus jutaan orang. Masak mereka disuruh jadi abang gojek semua?

Kekuatan lobi menjadikan pabrikan bisa mengatur regulasi. Tapi percayalah, mereka gak jahat-jahat banget seperti konglo property reklamasi. Win-win solution. Meski mereka win-nya yang 60%. Ya iyalah. Orang kaya mah bebas.

Aparatur negaranya saja yang malas mikir mengkonversi tenaga kerja rokok ke yang lain. Kediri tanpa GG bisa kolaps seperti kudus kolaps tanpa djarum. Indonesia bisa kolaps tanpa rokok setahun.

Kalian mau kukasih tahu itungan duitnya rokok? Mauuuuuuuu….
Lihat ilustrasi. Itu rokok GG Promild merah. Tarif cukai Rp590 perbatang. Dikali isi 16 batang, maka PT GG menyetor ke negara Rp9.440 perbungkus. Gak peduli rokok itu laku atau tidak karena kertas cukai sudah dibeli. Dan harga rokok ProMild sebungkus adalah Rp17.000. Negara cincai-cincai dapat lebih besar dari GG. Sedangkan GG harus keluar biaya bahan baku, produksi, distribusi, dan iklan.

Trivia: kalau rokok tidak laku atau ditarik karena kadaluarsa, ada praktik mengelupas kertas cukai ditempel ulang di produksi yang baru.

Ini bagian pentingnya.

Pabrikan rokok pintar mengakali aturan cukai. Aku beri gambaran. Sebuah brand rokok dinamai LO Mild diproduksi PT. Peniti. Jenisnya Sigaret Kretek Mesin. Ini contoh/ilustrasi aturan umumnya.

*produksi batang kesatu – kesejuta tarif cukainya Rp200/btg
*produksi batang ke sejutasatu -keduajuta cukainya Rp250/btg
*dst, makin banyak diproduksi tarif cukai perbatang makin tinggi.

Pabrikan gak goblok. Modal 30juta dia bikin anak perusahaan. Bikin brand baru LI Mild, LU Mild, LE Mild. Desain dibuat mirip. Rasa sama persis. Penjualan di area berbeda. Jumlah produksi dibatasi sampai sejuta batang. Mencapai sejuta batang, muncul brand baru. Jangan pakai brand LA Mild, ini milik pabrikan yang bermasalah dengan KPAI itu. Hahahah. Mereka adalah pelopornya. Tarif cukai dihemat milyaran.

Semua pabrikan besar ikut-ikutan. Perokok pasti tahu Neo Mild, Uno Mild, One Mild dan X Mild itu rasanya sama. Beda propinsi tempat jualan. Juga rasa yang sama ada di rokok Talijagat, Bintang Buana dan rokok Sejati. Semua produksi Bentoel. Sekarang semua brand sudah dimatikan. Setelah Bentoel dan Sampoerna diambil alih perusahaan asing, mereka hentikan praktik akal-akal itu. Yang di Kediri dan Kudus teeeeteeeeup dong.

Eh gak ding, aturan cukai sudah dirubah. Bukan per brand, tapi per perusahaan dan anak perusahaan. Bisakah mereka akali lagi? Bisaaaaaaa. Inbox dedek kikik aja kalau ingin tahu.

Bersambung……

 

 

One Response to "Rokok (2)"

  1. Jhony Lubis  19 September, 2019 at 20:21

    Tks infonya, dulu sy pikir cukai rokok tdk bayar dimuka tetapi tunda bayar sampai akhir periode pelaporan cukainya. Apa tdk di cover dgn BG cukai dr perbankan??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.