Artificial Intelligent

Rizky Dwinanto

 

Para teknokrat bicara berapi-api tentang revolusi industri 5.0 era Artificial Intelligent beserta taik kucingnya. Tapi sebaiknya abaikan mereka. Karena kita baru level user.

Artificial Intelligence / Kecerdasan Buatan itu sudah didepan matamu saat ini. Sederhananya kecerdasan buatan adalah sebuah program yang punya kemampuan menerima data, mengolah dan selanjutnya menjadikan program tersebut makin lama makin cerdas.

Bayangkanlah sebuah program bisa membaca dan mempengaruhi pikiran usernya.

Salah satu contoh dari kecerdasan buatan adalah pemrograman Facebook.
Ilustrasinya begini, sejak dulu aku tak pernah memberi like pada foto makanan di FB. Facebook perlahan mempelajari hal itu, maka meski ada 34 temanku secara bersamaan upload masakan, namun takkan ditampilkan di newsfeedku.

Sudah dua tahunan aku tak pernah memberi like atau love pada foto selfie (komitmen atau trauma), maka facebook menjauhkanku dari foto-foto selfie.

Got it?

Jadinya bagaimana?

Dua minggu lalu kubaca tentang status seseorang yang jujur mengenai dirinya sendiri. Dia mengakui tidak bisa berlepas diri dari FB. Pekerjaan rumah beres, urusan bercintanya beres, namun pekerjaan kantornya berantakan.

Yes, dia masih berusaha berbohong. Yang dia sebut pekerjaan rumah beres itu pekerjaan minimalnya. Seharusnya menyetrika butuh tiga puluh menit tapi menjadi satu jam. Tiga puluh menitnya dia curi dari family timenya. Bayinya usia setahun disuruh makan sendiri. Salah satu contoh jahatnya kelakuan ibu karena AI-nya FB.

Selain itu, satu jam untuk menyuci baju dia kompres untuk ke laundry yang butuh 15 menit. Sisa 45 menitnya buat facebookan lagi. Dan di statusnya dia masih nekat menyebut pekerjaan rumahnya sudah beres.

Dan dia mengakui pekerjaan kantornya berantakan. Yang selalu terjadi adalah menunda-nunda waktu. Seharusnya laporan dikerjakan sekarang, tapi nanti-nanti hingga jam kerja habis. Numpuk besoknya. Lalu bilang sama rekannya yang tidak FBan, pekerjaan numpuk. Kenapa waktu terasa cepat berlalu ya?

Semua itu karena apa? AI-AI-nya facebook itu. Yang bikin nyandu.

Jadi biar FB itu mengganggu relasi dunia nyata, menimbulkan konflik dengan pasangan, mencuri family time, mengganggu produktifitas. Sebutlah semua sebagai FB sudah merusak hidupmu. Tapi tetap saja, kamu takkan bisa meninggalkannya.

Well, aku kembali ke dunia nyata dulu. Kapan-kapan saja komentar kalian kutanggapi. Itu kalau masih ingat passwordku dan otakku berhasil dikadali AI-nya FB lagi.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.