Perjalanan Religi (4)

Ninik Atmodipo

 

Artikel sebelumnya:

Perjalanan Religi (1)

Perjalanan Religi (2)

Perjalanan Religi (3)

 

Dua Orang Nenek di Rombonganku

Ada dua nenek-nenek di rombonganku, usia di atas 70 tahun. Yang satu didampingi suami, mereka keturunan Afrika Selatan tinggal di Melbourne. Sangat pintar keduanya. Cethar bahasa Inggris dan langkahnya masih bagus. Saya saja kalah cepat jalannya. Sampai terakhir kita berpisah si kakek masih hafal nama saya. Padahal jarang lho orang bisa pronounce nama saya dengan benar. Tapi kakek dan nenek ini ingat nama saya.

Yang satunya nenek keturunan Lebanon yang tinggal di Sydney sudah lebih 40 tahun tapi tak bisa bahasa Inggris, hanya bisa bahasa Arab. Nenek ini juga gesit sekali. Nenek-nenek tapi jalannya cepat. Pokoknya nenek-nenek yang saya temui hebat semuanya. Malah nenek yang pertama ikutan naik ke Jabar Nur. Naik gunung!

Yang super heboh ini adalah nenek yang tidak bisa bahasa Inggris. Dia diberi hadiah oleh anaknya untuk ikut Umrah First Class. Jangan main-main. Naik pesawatnya aja business class, pakaiannya juga keren-keren. Kacamatanya juga keren habis. Cuman yaitu tadi “ora iso bahasa Inggris”.

Hari pertama di Jerusalem Mahjidil Aqsa setelah sembahyang subuh. Dia berada di belakang. Semua sudah kembali lebih duluan ke hotel. Saya menoleh ke belakang. Ya Allah…dia gak ada temannya. Akhirnya sok “PD” saya nemenin dia ke hotel Holyland. Kami sama-sama satu hotel. Ternyata kami nyasar, alamak. Mana cuman berdua. Dia mengumpat pakai bahasa Arab. “Katanya hotelnya cuman 5 menit dari Mahjidil Aqsa, ini udah 25 menit, kok belum nyampai”.

Harap maklum soalnya tadi berangkat pagi buta, gak lihat jalan. Sekarang pulangnya nyasar. Setelah tanya sana sini, ternyata saya harusnya membelok. Alhasil kita kebablasan. Saya juga membatin “ini tugas tour leader bawa nenek”. Saya kan hanya peserta. Ya sudahlah beramal.

Nenek satu ini lucunya setengah mati. Dia bawa hp top markotop merk nya, model baru pula. Tapi gak ngerti cara nyalainnya. Boro-boro tau wifi. Taunya cuman, anakku nanti mau nelpun. Wah….ladalah….jadi kami berdua yang sibuk nyolokin hp, ngecharge, gantiin passwor di setiap hotel. Menghubungan dia dengan anak-anaknya. Sudah seperti sekretaris pribadinya. Kirim kirim photo untuk anaknya, nganterin belanja. Waktu nganterin belanja, kita ketawa ngakak-ngakak. Bahasa Arabnya keluar tawar menawar. Nadanya seperti ini: “Watini wazaitun….” Belanjaannya dia dua koper super duper paling besar. Kita semua speechless.

Terus nenek ini juga bilang. Setiap kali aku mau duduk di bis. Selalu kalau ada satu bangku kosong, mesti orang bilang “oh…sorry ini untuk biniku atau suamiku”. So what! Saya juga heran kenapa gitu lho! mbok ya pisah sama suami atau isteri untuk memberi tempat duduk untuk si nenek satu ini. Alamak….ada ada saja. Tidak duduk sama suami atau isteri hanya sebentar saja susahnya minta ampun.

Nenek panggil kita Malaysian ladies. Dia gak tau Indonesia itu apa! Banyak sekali cerita tentang dia. Orangnya gaul sekali, meskipun hanya bisa bahasa Arab tapi kami senang ketawa ketiwi dengannya. Kita panggil Dia Ya Habibie, seharusnya Habibtie dalam Bahasa Arab.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.